Bab 131: Telah Dipastikan
Kembali di kedai, Xu An menerima pesan dari tempat percetakan bahwa foto-foto tersebut telah dicetak dan dilaminasi, serta sudah bisa diambil.
Sejak kedua anak kecil itu tahu bahwa mereka menerima foto yang dikirimkan oleh Lin Xingyue, mereka merengek kepada Xu An sebanyak delapan ratus kali sehari untuk melihat foto-foto tersebut.
Mereka bahkan sengaja membawa ponsel untuk memperlihatkan kepada Nenek Xu bagaimana mereka bermain di taman hiburan dan wahana apa saja yang mereka naiki.
Namun, Nenek Xu kurang terbiasa melihat layar ponsel. Setelah melihat beberapa kali saja, matanya sudah berkunang-kunang dan kepalanya terasa pusing. Belum juga melihat dua foto, beliau sudah berhenti, yang membuat kedua anak itu sangat kecewa.
Melihat kedua anak kecil itu merasa murung karena hal tersebut, Xu An lantas mengirimkan foto-foto itu ke tempat percetakan dan meminta mereka untuk mencetaknya.
Melirik sekilas ke arah kedua anak yang sedang mendekap ponsel sambil bergumam melihat foto, Xu An diam-diam keluar untuk mengambil foto yang sudah dicetak, lalu berjalan menghampiri Xu Kang dan Xu Le dengan tangan disembunyikan di belakang punggung.
"Kangkang, Lele, Kakak punya hadiah untuk kalian. Coba tebak, hadiah apa ini?"
"Daging!"
"Kue!"
Haduh, rupanya yang satu ingin makan daging, sementara yang satunya lagi ingin makan kue.
"Bukan makanan, coba tebak lagi?" bujuk Xu An dengan sabar. "Ini adalah sesuatu yang sangat, sangat, sangat kalian inginkan, loh!"
Sangat, sangat diinginkan?
Kedua anak itu memiringkan kepala mereka, jari-jari kecil mereka mengetuk dagu sambil berpikir keras. Cukup lama kemudian, mereka bertanya dengan nada ragu-ragu, "Apakah mainan?"
"Bukan," Xu An menggelengkan kepala.
"Apakah baju?"
"Bukan."
...
Semakin menebak, semakin hilang kesabaran keduanya, hingga akhirnya mereka mulai merajuk. Masing-masing memeluk satu lengan Xu An dan menariknya sekuat tenaga, mencoba memaksa tangan Xu An yang ada di belakang punggung untuk ditarik ke depan.
"Tidak bisa menebak ya? Yang tidak bisa menebak harus mencium Kakak satu kali. Cium Kakak satu kali, nanti Kakak beri tahu Jawabannya, bagaimana?" kata Xu An sambil mencondongkan wajahnya ke depan. Namun, yang ia dapatkan justru penolakan yang tegas dan cepat.
Kedua anak itu menjejakkan kaki ke tanah, melengkungkan badan mereka seperti busur panah besar, dan menarik lengan Xu An dengan sekuat tenaga, tetapi Xu An tetap bergeming di tempatnya berjongkok.
Melihat ekspresi kedua anak itu yang semakin cemberut dan bibir kecil mereka yang terkatup rapat membentuk garis lurus, Xu An tahu ia tidak boleh menggodanya lagi. Jika diteruskan, mereka bisa-bisa menangis.
"Baiklah, kalian lepaskan tangan kalian, nanti Kakak tunjukkan hadiahnya, ya?"
Keduanya saling berpandangan, ragu sejenak, lalu dengan setengah percaya melepaskan genggaman mereka. Namun, tangan-tangan kecil itu masih melayang di udara dekat lengan Xu An, seolah bersiap untuk langsung menangkapnya jika ia mencoba kabur.
Hah!
Xu An menghela napas dalam hati. Anak-anak sekarang sudah besar dan tidak mudah dibohongi lagi, bahkan memberikan hadiah pun tidak mempan.
"Tada! Lihat ini apa!" Xu An membalikkan tangannya dan mengangkat dua kantong foto ke hadapan mereka. Mata kedua anak yang tadinya sudah bulat itu kini semakin melebel, dipenuhi rasa tidak percaya.
"Ini..."
"Chup! Chup!"
Sebelum Xu An sempat menyelesaikan ucapannya, Xu Kang dan Xu Le secara bergantian mencium pipi Xu An dengan suara yang nyaring. Mereka bersorak gembira, merebut foto-foto dari tangan Xu An, lalu berlari terbirit-birit menghampiri Nenek Xu untuk memamerkannya.
Wah! Kebahagiaan datang begitu tiba-tiba. Serangan mendadak dari kedua anak itu membuat Xu An tertegun sejenak.
Begitu ia sadar kembali, ia mendengar Nenek Xu sedang bertanya kepada mereka berdua, siapa sebenarnya "Kakak Bulan" yang mereka sebut-sebut itu.
"Kakak Bulan itu super, super cantik!"
"Kakak Bulan juga yang memotret kami!"
"Kakak Bulan..."
Keduanya terus menyebut Kakak Bulan dan memuji Lin Xingyue setinggi langit, membuat hati Xu An terasa asam mendapati pujian itu.
Seketika itu juga, Xu An mengeluarkan ponselnya, menyalakan fitur perekam suara, dan merekam semua pujian yang dilontarkan oleh dua penjilat kecil tersebut.
Jika nanti mereka berdua tidak memujinya seperti ini lagi, maka tidak ada daging! Tidak ada baju baru! Tidak ada hadiah!
Di tengah keributan kecil mereka, sepasang suami istri muda berjalan mendekati pintu Kedai Makanan Cepat Saji Xu sambil menggandeng seorang anak dan membawa sekeranjang bunga. Mereka tampak ragu-ragu saat menengok ke dalam kedai.
"Apakah bertiga mau makan? Masih ada meja kosong di dalam, silakan masuk," sapa Liang Dani yang bertugas melayani tamu, seraya bergegas menyambut mereka bertiga.
Mendengar suara keributan, Xu An menoleh dengan rasa penasaran. Pria yang berdiri di ambang pintu langsung tersaenyum begitu melihat Xu An. "Bos Xu, akhirnya kami menemukanmu!"
Sambil berbicara, pria itu menggandeng kedua orang di sampingnya masuk ke dalam kedai dan mendorong bocah laki-laki kecil ke hadapan Xu An.
"Masih ingat Kakak ini atau tidak? Kakak inilah yang menyelamatkanmu dan membawamu ke rumah sakit."
Bocah lelaki itu sedikit pemalu. Ia melirik Xu An sekilas, lalu bersembunyi kembali di balik pelukan ayahnya, hanya menyisakan sepasang mata yang menatap Xu An dengan penuh rasa ingin tahu.
"Kak Han, bagaimana bisa sampai ke sini?" sapa Xu An dengan nada terkejut.
Saat mengobrol terakhir kali, ia hanya sekadar menyebutkan secara sepintas bahwa dirinya membuka kedai makanan cepat saji di seberang lokasi proyek Perumahan Zijing, tanpa menyebutkan nama kedai ataupun lokasi persisnya. Tidak disangka, mereka benar-benar berhasil mencarinya.
"Anak ini sudah keluar dari rumah sakit, jadi kami membawanya ke sini untuk mengucapkan terima kasih secara langsung kepadamu," kata pria itu sambil kembali mendorong pelan bocah di dalam pelukannya. "Leilei, ucapkan terima kasih kepada Kakak."
"Terima kasih, Kakak!" Kali ini bocah lelaki itu tidak lagi menyembunyikan diri di balik pelukan Kak Han, melainkan beralih menatap dengan rasa penasaran kepada Xu Kang dan Xu Le yang sedang menonton dari samping.
"Mau lihat foto tidak? Kami pergi ke taman hiburan dan mengambil banyak sekali foto, loh!" Xu Le menatap bocah itu selama dua detik. Sifat supel yang sudah mendarah daging membuat langsung mengajak bocah tersebut.
Bocah itu tampak ragu, menoleh ke arah ibunya. Setelah melihat anggukan dari sang ibu, ia dengan malu-malu berjalan mendekati Xu Kang dan Xu Le.
Xu Kang langsung menarik tangan bocah itu, menyodorkan foto dirinya yang sedang tersenyum bodoh ke hadapan bocah tersebut, lalu berkata dengan bangga, "Lihat, orang di dalam foto ini adalah aku!"
Melihat itu, Xu Le tidak mau kalah. Ia memilih foto wajah close-up miliknya sendiri dan menyodorkannya kepada bocah tersebut. "Ini aku!"
Keduanya berebut menyumpalkan foto-foto mereka ke tangan bocah laki-laki itu. Dalam sekejap, kedua tangan kecil bocah itu penuh dengan foto-foto tersebut...
"Kalian sudah makan belum? Kalau belum, mau makan di sini saja? Ada yang ingin dimakan, katakan saja pada saya, nanti saya minta koki di kedai untuk memasaknya," tawar Xu An dengan ramah.
"Tidak perlu, tidak perlu. Kami sudah makan sebelum datang ke sini," jawab sepasang suami istri itu sambil melambaikan tangan menolak. "Kami tadi sempat mencari ke desa, dan warga desa bilang jam segini kalian pasti masih ada di kedai, jadi kami langsung datang ke sini. Kami tidak mengganggumu, kan?"
"Tidak, sama sekali tidak."
Xu An berbasa-basi sejenak dengan mereka. Melihat pria itu tampak begitu tertarik memperhatikan kedai makanan cepat saji tersebut, Xu An lantas mengajak mereka berkeliling meninjau ketiga ruko kedai tersebut.
Saat berkeliling di cabang kedua, pria itu bertanya dengan rasa penasaran, "Apakah ruko bagian ini tidak dibuka untuk umum?"
"Iya, ruko ini khusus digunakan untuk mengolah bahan makanan, memasak, dan membersihkan," jawab Xu An sambil mengangguk.
"Kalau begitu, ruang untuk kedua ruko kalian sepertinya agak kurang, ya."
Hm?
Xu An menoleh menatap pria itu. Tidak ada ekspresi aneh di wajah sang pria, ia tampak benar-benar hanya sedang mengutarakan sebuah kesan.
Apakah dugaannya keliru?
Tepat ketika Xu An meragukan apakah dirinya terlalu banyak berpikir, pria itu melangkah maju, mendekat ke telinga Xu An, dan berbisik pelan, "Sudah diputuskan. Besok diumumkan, lusa mulai disalurkan."
Kantor Departemen Administrasi Swalayan Shengli.
Pada rapat sebelumnya, Lu Shengnan dibebani tugas untuk menyelesaikan masalah kontrak antara Swalayan Shengli dan para petani mitra pemasok.
Usai rapat, Lu Shengnan dipanggil ke ruangan khusus. Ia dipromosikan secara terselubung menjadi manajer umum Swalayan Shengli. Tugasnya bukan hanya menyelesaikan masalah kontrak dengan para petani, tetapi juga membalikkan keadaan Swalayan Shengli agar tidak bangkrut.
Begitu menerima tugas itu, ia menghabiskan waktu dua hari untuk mengurai seluruh rangkaian kejadian. Penyelidikan awal dan hal-hal semacam itu semuanya telah mengikuti prosedur yang benar tanpa ada masalah.
Satu-satunya masalah adalah skandal keamanan pangan yang menimpa Swalayan Shengli, yang menyebabkan kondisi operasional merosot drastis.
Ada pusat perbelanjaan lain di sekitar yang bisa dipilih, dengan variasi barang dan harga yang kurang lebih sama. Dalam situasi kebutuhan yang setara, para pelanggan tentu lebih memilih untuk mengunjungi swalayan lain yang tidak memiliki masalah keamanan pangan.
Di mata Lu Shengnan, tindakan memutuskan kerja sama dengan para petani adalah sebuah keputusan yang sangat bodoh.
Seandainya kerja sama tidak diputus, rekaman bentrokan antara kedua belah pihak yang terekam dalam dokumenter tidak akan pernah terjadi. Apapun nasib Swalayan Shengli nantinya—apakah tutup atau terus berjalan—hal itu tidak akan berdampak pada Grup Qiansheng.
Dalam situasi sekarang ini, pemutusan kontrak secara paksa sesuai prosedur justru membutuhkan biaya ganti rugi yang sangat besar.
Sama-sama harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar, mengapa tidak melanjutkan kerja sama saja?
Lu Shengnan kembali mengambil sebuah laporan. Laporan tersebut berisi hasil investigasi kualitas buah dan sayur yang dihasilkan dari rumah kaca pertanian di Kota Qianhai. Kualitas buah dan sayur tersebut rata-rata lima hingga sepuluh persen lebih baik daripada yang ada di pasaran, bahkan beberapa jenis sayurannya memiliki mutu yang lebih unggul dibandingkan basis pertanian milik Grup Qiansheng.
Rumah kaca pertanian Kota Qianhai mampu menghasilkan produk dengan kualitas semacam itu, lalu mengapa kerja sama harus dibatalkan?
Bukan hanya harus dilanjutkan, tetapi harus dikerjasamakan secara besar-besaran!
Sayuran hasil produksi rumah kaca inilah yang menjadi kunci bagi Swalayan Shengli untuk bangkit dan meraih kemenangan!
"He Ran, hubungi stasiun lokal Kota Hai, katakan bahwa aku memiliki berita eksklusif mengenai Swalayan Shengli dan para petani pemasok rumah kaca, lalu tanyakan apakah mereka tertarik. Ingat, bersikaplah yang sopan, sangat hormat, karena sekarang kitalah yang sedang memohon kepada mereka!"
Kemarin sempat ada kesalahan saat menghitung keuangan. Setelah diingatkan, baru ia sadar bahwa Kedai Makanan Cepat Saji Xu mampu membayar gaji tim Liu Daxi. Bagian itu sudah direvisi dan tim Liu Daxi kini semuanya sudah bergabung...
(Akhir Bab)