Bab Dua Puluh Sembilan: Kakak Tidak Mendapat Uang, Maka Tidak Ada Daging untuk Dimakan
Sesampainya di depan rumah, begitu mendorong pintu gerbang, Xu An langsung melihat dua bocah kecil yang sedang cemberut. Kedua anak itu, saat melihat Xu An masuk, bukannya menyambut, malah meliriknya dengan kesal, lalu dengan wajah penuh kecewa kembali bermain dengan tumpukan pasir di tanah.
Ada apa ini?
Xu An mencoba mengingat-ingat, hari ini dia tak memaksa mereka belajar menulis, juga tak memaksa minum susu yang mereka tidak suka, kenapa tiba-tiba marah begini?
Xu An meletakkan wajan besi di pojok, lalu berjalan mendekat dan berjongkok di samping kedua bocah itu.
"Bisa kasih tahu Kakak, kenapa kalian marah?"
Keduanya langsung membalikkan badan, hanya memperlihatkan punggung kecil yang gemuk pada Xu An.
"Kalau kalian tidak bilang sama Kakak, Kakak tidak tahu kenapa kalian marah, lho."
Dua kepala kecil itu saling mendekat, lalu berbisik-bisik dengan suara yang sengaja dikeraskan agar Xu An bisa mendengar.
"Kita kasih tahu kakak nggak, ya?"
"Nggak mau ngomong sama Kakak."
"Tapi Kakak kan bodoh, kalau nggak dikasih tahu dia nggak bakal ngerti."
"Ah, jadi kita harus kasih tahu Kakak?"
Setelah bisik-bisik sebentar, akhirnya mereka sepakat, dua kepala kecil itu pun menoleh memandang Xu An.
"Kakak, sudah lama Kakak nggak main sama kita, pagi-pagi jualan juga nggak ngajak kita, kita cuma bisa main sendiri."
Semakin lama bicara, makin terlihat sedih, wajah mereka mengerut seperti bakpao.
Xu An mengingat-ingat, memang sudah setengah bulan ini, setiap pagi sebelum fajar sudah sibuk sendiri. Bahkan setelah pulang dari jualan, di rumah masih banyak urusan yang harus dikerjakan.
Sayur mayur di kebun butuh disiram dan dipupuk, rumput liar harus dicabut, dan harus dibuatkan penyangga untuk tanaman rambat. Halaman rumah masih berupa tanah, kalau hujan tidak bisa dilewati, jadi harus diratakan. Sampah dapur, perabotan masak, semua harus dibersihkan, dicuci, dan dijemur. Belum lagi harus memikirkan harga sayur sekarang, menu apa yang akan dimasak besok, dan bagaimana menekan biaya serendah mungkin.
Setelah semua urusan itu selesai, yang tersisa untuk Xu Kang dan Xu Le hanya waktu belajar dan sedikit waktu ngobrol sebelum tidur.
Menyadari hal itu, Xu An merasa bersalah.
Hidup kembali ke dunia ini tujuannya memang untuk menjaga mereka tetap di sisi, lebih banyak menemani dan merawat mereka.
Tapi kenyataannya, dia malah sibuk seharian, dua bocah kecil itu jadi terabaikan.
Xu An memeluk bahu kecil mereka, lalu berkata dengan nada membujuk, "Bagaimana kalau mulai sekarang, setiap minggu Kakak luangkan satu hari khusus buat main sama kalian, ya?"
"Seminggu itu berapa hari, Kak?"
"Tujuh hari."
"Tujuh hari, satu, dua, tiga, empat, lima... banyak banget, satu tangan aja nggak cukup buat ngitung."
"Kakak, boleh nggak satu, dua, tiga, tiap tiga hari main sama kita satu hari?"
"Kalau tiap tiga hari Kakak main sama kalian satu hari, Kakak nggak bisa cari uang. Nggak bisa cari uang, nggak ada uang beli daging. Nggak beli daging, kalian nggak bisa makan daging, lho."
Daging!
Mata dua bocah itu langsung berbinar, lalu mereka bingung harus pilih main ke luar atau makan daging.
Akhirnya, dengan sangat berat hati, mereka meniru gaya orang dewasa, menarik napas panjang.
"Baiklah, Kakak kerja yang rajin supaya kita bisa makan daging."
Anak-anak memang mudah lupa. Tadi sedih, kini sudah semangat lagi.
"Kakak, hari ini kita main ke mana?"
Hmm, main ke mana ya? Xu An menatap sekeliling halaman, akhirnya pandangannya tertuju pada tumpukan kayu bakar di samping dapur.
Setelah setengah bulan bekerja, tumpukan kayu itu yang tadinya setinggi orang dewasa, kini hanya setinggi betis.
Dia ingat, di samping rumah Paman Guosheng ada sebidang tanah kosong, penuh rumput liar yang cocok dijadikan kayu bakar. Sedikit lebih jauh, ada hutan bambu, bisa juga sekalian mengumpulkan daun bambu dan batang kering.
"Bagaimana kalau main ke hutan bambu samping rumah Paman Guosheng?"
"Setuju!" Mereka hanya ingin main ke luar, soal ke mana tidak masalah.
Xu An menyuruh mereka ganti baju yang tidak mudah kotor, lalu dia memasukkan wajan ke dapur, mengambil sebilah sabit, dua tali rami ke dalam saku, dan membawa satu karung pupuk di tangan.
Setelah siap, Xu An menuju pintu kamar, ingin tahu sudah sejauh apa mereka mengganti baju.
Ternyata, Xu Le sedang berusaha memasukkan celana lewat kepala. Sudah dicoba berkali-kali tidak bisa, dia pun kesal dan mengeluarkan suara-suara lucu penuh emosi.
Xu Kang sedikit lebih baik, baju sudah terpakai, hanya saja terbalik. Mungkin merasa lehernya tercekik kerah, dia terus memegangi kerah baju, tak berani melepas. Satu tangan lagi memegang celana, kaki kecilnya bergerak-gerak, tangan itu pun ikut bergerak, sudah lama mencoba tetap belum bisa mengenakan celana.
Dua bocah bodoh.
Xu An masuk ke kamar dengan senyum geli, membantu mereka memakai baju yang benar.
Tanah kosong di samping rumah Paman Guosheng dulunya adalah rumah tua. Pemiliknya sudah lama merantau keluar negeri, rumah itu tak berpenghuni hingga akhirnya ambruk saat badai.
Rencananya, keluarga itu ingin membangun ulang rumah, agar anak cucu punya tempat kembali, jadi tanah itu dibersihkan.
Tapi entah kenapa, setelah dibersihkan, tak ada lagi kelanjutan, akhirnya tanah itu dibiarkan kosong dan dipenuhi semak.
Semak itu sebenarnya lebih mirip perdu, batangnya lurus, hanya satu batang utama, tanpa cabang. Setelah kering, mudah sekali terbakar, apinya besar, sangat cocok untuk kayu bakar.
Xu An membawa dua anak itu ke jalan kecil di antara tanah kosong dan hutan bambu. Dia mengingatkan mereka, tidak boleh main di tepi sungai, juga tidak boleh ke jalan raya di luar. Setelah itu, dua bocah itu langsung masuk ke hutan bambu, bermain petak umpet.
Xu An mulai menebas rumput liar dengan sabit, sekali tebas langsung roboh satu rumpun.
Pekerjaan ini lumayan melegakan, tapi pinggang lumayan pegal.
Ketika Xu An sedang sibuk, dua pasang tangan kecil yang kotor mengulurkan beberapa buah kecil ke depan matanya.
"Kakak, makan buah!"
Xu An memperhatikan, ternyata buah leunca, bisa dimakan.
Karena tangannya penuh, Xu An membuka mulut, meminta mereka memasukkan buah itu.
Setelah itu, mereka sepertinya merasa permainan ini seru, berkeliling mencari leunca matang. Setiap dapat dua atau tiga, mereka kembali, meminta Xu An membuka mulut, lalu satu per satu memasukkan buah ke mulutnya.
Xu Kang cukup penurut, setiap kali membawa buah leunca matang berwarna hitam keunguan, rasanya asam manis segar.
Xu Le, sebaliknya, suka iseng. Kadang-kadang dia sengaja memasukkan leunca hijau yang masih mentah, membuat Xu An meringis kecut, tapi Xu Le malah tertawa cekikikan dan lari.
Setelah beberapa lama, entah karena semua leunca sudah dipetik atau mereka bosan, dua anak itu lama tidak muncul, juga tidak terdengar suara ribut mereka.
Anak-anak yang tiba-tiba diam, pasti sedang berbuat nakal.
Xu An meluruskan punggung, pandangannya mencari-cari, akhirnya menemukan mereka di bawah rumpun bunga kembang sepatu di tepi sungai.
Dua bocah itu memetik bunga kembang sepatu, menempelkan bagian bawah bunga ke mulut lalu mengisap keras-keras.
Setelah itu, bunga langsung dilempar ke tanah, di sekitarnya sudah banyak kelopak bunga berserakan.
"Xu Kang, Xu Le!"
Mereka mendengar suara panggilan Xu An, menoleh sebentar, bukannya takut malah memetik lagi satu bunga, lalu berlari kecil menghampiri Xu An.
"Kakak, coba, manis!"
Tanpa sadar, Xu An pun mengisap, bagian bawah bunga kembang sepatu memang ada madu, rasanya manis.