Bab Dua Belas: Menuju Arah Lokasi Pembangunan
Hari ini meskipun tidak perlu pergi berjualan sayur, namun harus sibuk menyiapkan nasi kotak, sehingga Xu An tetap bangun pukul empat pagi. Setelah bangun dan selesai membersihkan diri, ia membawa senter lalu mengayuh sepeda menuju kota.
Saat tiba di pasar grosir di kota, langit baru saja menunjukkan semburat terang, namun suasana pasar sudah sangat ramai. Mengingat-ingat dari kemarin, Xu An pun menemukan area penjualan bahan makanan beku.
Bahan makanan beku memang tidak selezat bahan segar, tetapi semua yang dijual di pasar grosir setidaknya telah memenuhi standar keamanan pangan nasional. Hanya saja, rasanya memang sedikit kurang dibandingkan bahan segar.
"Tunggu, anak muda di sana, ya, kamu yang kumaksud!" Saat sedang memperhatikan mana dari beberapa pedagang ini yang kualitas dagingnya lebih baik, Xu An mendengar suara yang membuatnya refleks menengadah. Seorang pria botak bertubuh kekar dengan tato besar di kedua lengannya sedang menunjuk ke arahnya.
Xu An yakin ia tak mengenal pria itu, jadi ia pun hanya berdiri diam menatapnya.
"Botak Chen, sudah dibilang pakai lengan panjang, tapi kamu tetap saja begini. Gaya begini, siapa yang melihat nggak takut coba?" seru pedagang di sebelahnya sambil tertawa mengejek.
"Aduh, cuaca begini, pakai baju lengan panjang bisa mati kepanasan."
Xu An akhirnya melangkah mendekat, karena di antara pedagang-pedagang tadi, daging milik Botak Chen memang yang paling bagus.
"Aku lihat kamu kemarin, kupikir kamu nggak jadi beli daging di sini, eh, ternyata hari ini datang juga," kata Botak Chen.
"Kenapa Bos kira aku nggak bakal datang?" tanya Xu An sembari mengeluarkan sebungkus rokok Double Happiness, mengambil sebatang dan menyerahkannya.
Botak Chen menerima, menyelipkannya di telinga, lalu sedikit mencondongkan tubuh ke arah Xu An dan berbisik, "Aku lihat kemarin waktu kamu keluar, ada orang kasih kamu selebaran. Habis baca kamu langsung jalan ke sana. Yang ke arah sana itu, sepuluh dari delapan orang nggak pernah balik lagi. Semua silau mata karena uang. Apalagi yang muda-muda, santai banget pikirnya."
Ternyata dia melihat kejadian kemarin. Xu An hanya tersenyum tanpa menjawab, lalu dengan saksama memilih daging babi di lapak itu.
Untuk membuat bakpao daging kukus, sebaiknya menggunakan daging babi yang ada lemaknya, kalau terlalu banyak daging tanpa lemak rasanya jadi kering, kalau terlalu banyak lemak jadi enek. Perbandingan tiga banding tujuh atau dua banding delapan adalah yang terbaik.
Setelah memilih beberapa potong, Xu An memasukkannya ke kantong plastik merah, menimbang kira-kira sepuluh kilogram, lalu menyerahkan pada pemilik lapak untuk ditimbang.
"Sebelas kilo, satu kilo tujuh yuan, total tujuh puluh tujuh yuan."
Xu An mengambil uang dari saku celana, menghitung tujuh puluh tujuh yuan dan menyerahkan, mengambil daging, dan beralih ke bagian perlengkapan rumah tangga.
Seratus kotak makan plastik sekali pakai, tiga puluh lima yuan; seratus mangkuk sup plastik sekali pakai, sepuluh yuan; sumpit sekali pakai lima yuan per seratus pasang; sendok plastik sekali pakai enam yuan per lima puluh buah; kantong plastik transparan enam yuan per seratus buah; total habis enam puluh dua yuan.
Kalau bukan karena neneknya memberinya tiga ratus yuan, dan bukan karena Paman Dongliang menjamin bisa membawa dua puluh orang, Xu An awalnya hanya berniat mencoba sepuluh nasi kotak dulu, kalau laku baru perlahan menambah jumlahnya, tidak langsung belanja sebanyak ini.
Saat keluar, ia melewati lapak barang-barang besi dan melihat tong sup yang biasa dipakai di restoran-restoran. Ia pun tergoda. Dari rumahnya ke lokasi proyek Taman Bunga Purbasari perlu waktu lebih dari sejam, jalannya pun bergelombang, sup bisa saja tumpah. Kalau sup dibawa dalam satu tong, baru nanti di lokasi dipindahkan ke mangkuk, masalah itu tidak ada lagi.
Setelah menanyakan harga, tong itu lima puluh satu yuan. Xu An pun menggigit bibir, namun akhirnya tetap membeli satu.
Semua keperluan hari ini sudah hampir lengkap. Ia membawa semua barang itu ke tempat parkir sepedanya, memasukkan semuanya ke dalam keranjang, lalu mengikat keranjang di jok belakang menggunakan sabuk kait.
Di sela-sela itu, Xu An melihat beberapa orang berjalan ke arah pabrik pengolahan makanan Aman. Usaha di sana ternyata cukup ramai, gumam Xu An dalam hati. Ia pun mengayuh sepedanya pulang ke rumah.
Saat tiba di desa, dari kejauhan ia melihat seseorang dengan becak berhenti di depan rumahnya. Ketika semakin dekat, Xu An mengenali orang itu sebagai Xu Heping.
"Kamu ini, nggak setia kawan, mau usaha aja nggak bilang-bilang. Kalau nggak ketemu Paman Dongliang, aku pasti nggak tahu apa-apa," Xu Heping langsung protes saat melihat Xu An.
"Baru mulai, jadi belum tahu bakal berhasil atau nggak, makanya belum ngajak kamu," jawab Xu An sambil menurunkan sepeda dan mendekat. "Becak dari mana ini?"
"Peninggalan keluarga, sudah lama nggak dipakai, kepikiran kamu mungkin perlu, jadi aku bersihkan semalaman, bisa dipakai kok." Xu Heping menepuk bangga jok becaknya. "Ini jauh lebih bisa diandalkan daripada sepedamu."
Xu Heping datang menawarkan bantuan, tentu saja Xu An tidak menolak. Mereka pun masuk ke halaman rumah dan mulai bekerja sama.
Meski Paman Dongliang baru selesai kerja pukul dua belas, tapi pekerja dengan tugas berbeda di lokasi bisa selesai lebih dahulu, mulai dari pukul setengah sebelas sudah ada yang pulang lebih dulu.
Jadi, Xu An harus sudah tiba paling lambat pukul sebelas di lokasi proyek, kalau lebih lambat, orang-orang sudah makan di luar.
Semua bahan yang perlu diiris, dibumbui, atau dicincang, mulai dikerjakan sejak pukul tujuh hingga delapan pagi. Setelah semua selesai, Xu Kang dan Xu Le yang sudah bangun melihat Xu An dan Xu Heping sibuk, pun tak lagi bermain pasir, malah mengikuti mereka dan terus merengek ingin membantu.
Dua bocah empat tahun itu jelas tidak bisa membantu mencuci atau memotong sayur. Akhirnya mereka disuruh duduk di depan tungku menunggu masakan matang, membantu menyalakan api, barulah mereka diam.
Meski masih kecil, kemampuan menyalakan api mereka sudah jempolan. Xu An bilang perbesar api, mereka bisa perbesar, bilang kecilkan api, mereka juga bisa, lebih canggih dari kompor gas.
Pukul setengah sepuluh, nasi sudah matang dan langsung dimasukkan ke tong sup. Xu An lanjut menyiapkan sup telur tomat di dapur, sementara Xu Heping mulai mengisi nasi dan lauk ke kotak-kotak. Xu Kang dan Xu Le membantu menaruh sumpit dan sendok di setiap nasi kotak yang sudah dibungkus, semuanya berjalan teratur.
Setiap nasi kotak selesai dan dimasukkan ke dua kotak busa besar yang dibawa Xu Heping, satu kotak muat lima belas, pas semua masuk. Tong sup juga sudah dicuci bersih, dikeringkan dengan tisu, lalu diisi sup telur tomat panas yang baru selesai.
Xu An dengan mudah mengangkat dua kotak busa penuh nasi kotak dan tong sup ke atas becak, mengikatnya dengan sabuk, semua persiapan selesai.
Makan siang pun mereka nikmati dengan lauk sisa tadi, tepat pukul sepuluh, Xu An dan Xu Heping bersiap berangkat ke lokasi proyek.
Sebelum berangkat, Xu An merasa ada yang kurang. Setelah berpikir sebentar baru sadar belum membuat papan nama. Ia masuk ke rumah, mengambil kertas karton, menuliskan menu hari ini, dan di bagian atas menulis "Nasi Cepat Saji Keluarga Xu".
Saat Xu An sibuk membuat papan nama, Xu Kang dan Xu Le melihat masih ada setengah ruang kosong di becak setelah nasi kotak dimasukkan, langsung naik ke atas, duduk di belakang, dan tidak mau turun.
Xu An akhirnya mengambil dua topi caping dari dalam rumah, memakaikannya pada mereka, dan menyuruh mereka duduk manis di keranjang.
Dengan satu langkah naik ke pedal, Xu An mulai mengayuh becak di depan, sementara Xu Heping mengikuti dari belakang dengan sepeda, menuju lokasi proyek Taman Bunga Purbasari.