Bab Lima Puluh Tujuh: Kakak Akan Membantumu, Cukup Sediakan Makan
Setelah sibuk di toko hingga pukul lima sore, Xu An baru mengayuh becak motor pulang bersama adik laki-laki dan perempuannya. Seusai makan malam, ia membantu membersihkan tubuh nenek, memastikan adik-adiknya sudah mandi, lalu mencuci bersih pakaian yang sudah dipakai. Ketika semua selesai, jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Masih ada satu jam sebelum waktu tidur. Xu An mengeluarkan kursi goyang dan berbaring di bawah pohon kelengkeng. Ketika menengadah, ia baru menyadari buah kelengkeng di atas kepalanya telah matang. Beberapa hari ini ia terlalu sibuk keluar-masuk hingga tidak memperhatikan hal itu.
Besok harus meluangkan waktu untuk memetik semua buah kelengkeng itu. Kalau sampai turun hujan, bisa-bisa semua buah rusak.
Malam ini, ia ingin menikmati waktu santai dengan bermain ponsel dan merasakan kembali sensasi berselancar di dunia maya yang sudah lama tidak ia nikmati.
Baru saja ia mengeluarkan ponsel dari saku, suara raungan mesin sepeda motor terdengar semakin dekat, lalu berhenti tepat di depan rumahnya. Setelah itu, terdengar ketukan di pintu halaman.
Sudah jam delapan malam, siapa yang datang mencarinya?
Xu An bangkit dengan rasa penasaran untuk membuka pintu. Ternyata yang datang adalah Lin Xuyang.
“Mau ngobrol sebentar,” kata Lin Xuyang sambil mengangkat kantong plastik bening di tangannya, yang di dalamnya berisi beberapa kaleng bir.
Xu An mengangguk dan mempersilakan tamunya masuk, lalu mengambilkan satu kursi.
‘Krek,’ dua kaleng bir dibuka bersamaan.
Xu An menyesap perlahan, aroma manis gandum langsung menyeruak di mulut, cairan dingin mengalir turun ke lambung, membuat tubuhnya bergidik kedinginan.
Nikmat sekali!
Setelah menenggak satu kaleng bir dalam beberapa tegukan, barulah Lin Xuyang membuka suara.
“Kasus keracunan makanan di proyek Taman Bunga Kertas sudah diputuskan pengadilannya. Pelaku utama rata-rata dihukum lebih dari tiga tahun, sisanya antara beberapa bulan hingga setahun, ada juga beberapa yang benar-benar tidak tahu apa-apa dan dibebaskan tanpa syarat.”
Xu An tidak paham kenapa Lin Xuyang malam-malam datang hanya untuk membicarakan hal-hal seperti ini. Namun, ia bisa merasakan suasana hati Lin Xuyang sedang tidak baik. Mungkin ia hanya ingin mencari seseorang untuk bercerita, dan Xu An kebetulan orang yang tepat.
Xu An membiarkan Lin Xuyang berbicara sesukanya tanpa banyak menanggapi, hanya sesekali menyesap bir, mengangguk, dan mengeluarkan suara-suara ringan tanpa makna.
Lin Xuyang terus berceloteh entah tentang apa saja. Mungkin ia menganggap Xu An hanya pedagang kaki lima, jadi tidak masalah jika ia tahu hal-hal seperti ini. Atau mungkin karena ia sudah mabuk, arah pembicaraannya pun perlahan mengarah pada latar belakang kasus keracunan makanan itu.
“Tapi sampai sekarang, sumber sebenarnya dari makanan-makanan itu belum juga ditemukan. Yang kami temukan hanya satu sarang, dan supaya tidak menakut-nakuti mereka, kami belum bertindak. Sarang itu juga sangat tenang, sekian lama tidak ada pergerakan apa-apa.”
Tiba-tiba, genggaman Xu An pada kaleng birnya mengencang. Bir yang masih penuh tumpah membasahi celananya.
Dengan tergesa-gesa, ia menepuk-nepuk celananya untuk menghilangkan bekas bir, tapi rasa lengket itu membuatnya tak nyaman. Ia pun masuk ke dalam rumah untuk mengganti celana.
Barusan ia seperti mengerti apa yang dimaksud Lin Xuyang. Sarang yang dimaksud sepertinya adalah Perusahaan Pengolahan Makanan Anxin.
Belakangan ini, saat mengambil barang dari Chen Botak, tempat itu selalu ramai pembeli. Dulu, di jam dua atau tiga siang, jarang sekali ada orang.
Kalau bukan karena Chen Botak sengaja menyisakan daging bagus untuknya, mungkin Xu An hanya bisa mendapatkan sisa-sisa saja.
Xu An sempat bertanya pada Chen Botak kenapa usahanya tiba-tiba laris. Chen Botak menjelaskan—selain Perusahaan Pengolahan Makanan Anxin, ada beberapa toko kecil yang lebih berani dan juga menjual makanan mendekati masa kedaluwarsa.
Makanan mendekati masa kedaluwarsa adalah makanan yang masih dalam masa aman konsumsi, tapi hanya tersisa setengah bulan atau bahkan beberapa hari sebelum batas habisnya. Karena kasus keracunan makanan di Taman Bunga Kertas, pengawasan makanan jadi lebih ketat. Para pedagang kecil itu takut tertimpa masalah, jadi mereka sekarang belanja bahan makanan di pasar grosir.
Ditambah lagi, waktu di Kecamatan Beitun ia pernah melihat bos Perusahaan Pengolahan Makanan Anxin bertemu dengan pegawai dari Grup Qiansheng, dan tahun depan Grup Qiansheng juga mengalami masalah pangan.
Jika benar sarang yang dimaksud Lin Xuyang adalah Perusahaan Pengolahan Makanan Anxin, maka kemungkinan besar sumber makanan itu berasal dari Grup Qiansheng.
Setelah kembali ke halaman, Xu An melihat semua bir yang dibawa Lin Xuyang sudah tandas. Pria itu tergeletak mabuk di kursi goyang.
Lin Xuyang tadi datang naik motor, sekarang sudah mabuk begitu, jelas tidak mungkin dibiarkan pulang naik motor.
Namun, di rumah Xu An pun tidak ada ruang kosong untuk menampungnya. Masa harus membiarkan dia tidur di kursi goyang?
Saat Xu An bingung, ia teringat pada Xu Heping.
Dulu, ketika Zhou Qi ragu-ragu karena jarak yang jauh, Xu Heping pernah bilang di rumahnya ada kamar kosong.
Kalau Zhou Qi bisa, Lin Xuyang juga pasti bisa.
Xu An pun menelpon Xu Heping. Keduanya bersama-sama menggotong Lin Xuyang yang mabuk berat ke rumah Xu Heping.
Orang ini benar-benar tak kuat minum, dua tiga kaleng sudah mabuk berat. Kalau memang begitu, kenapa tidak minum di rumah saja, habis minum langsung tidur.
Setelah susah payah mengurus Lin Xuyang, Xu An menutup lampu dan hendak pulang. Sebelum menutup pintu, entah kenapa ia berbisik pada Lin Xuyang, “Kalau Perusahaan Pengolahan Makanan Anxin memang sarangnya, coba selidiki Grup Qiansheng, siapa tahu ada hasilnya.”
Xu An berdiri di ambang pintu cukup lama, memastikan tidak ada reaksi dari Lin Xuyang, lalu menutup pintu dan berpamitan dengan Xu Heping.
Lin Xuyang benar-benar mabuk, tidak ada adegan tiba-tiba membuka mata setelah Xu An pergi.
Namun, ucapan Xu An tetap membekas di benaknya. Dalam mimpi, ia bermimpi menemukan rahasia Grup Qiansheng, lalu dikejar-kejar oleh mereka.
Bahkan adik perempuannya ditangkap dan dijadikan sandera, jika ia tidak mau bergabung, adiknya akan dibuat sengsara antara hidup dan mati.
Ketika Xu An kembali ke halaman, waktu sudah menunjukkan pukul delapan empat puluh. Ia ingin memanfaatkan sisa dua puluh menit sebelum tidur untuk bermain ponsel, tapi lagi-lagi pintu diketuk.
Tampaknya, malam ini memang bukan waktunya berselancar di dunia maya.
Kali ini, yang muncul di balik pintu adalah putri Xu Guosheng—Xu Lili.
Ia sepertinya baru selesai mandi, masih harum sabun, di tangan masih menggenggam handuk untuk mengeringkan rambut.
“Kak Lili, kapan kamu pulang? Sudah malam begini, ada urusan apa?”
“Tadi siang baru sampai. Begitu sampai, dengar-dengar dari ayah dan ibu kalau kamu buka usaha kecil. Aku ke sini cuma mau tanya-tanya saja,” jawab Xu Lili santai sambil melangkah masuk ke halaman dan langsung duduk di kursi goyang.
Xu An membiarkan pintu halaman terbuka, lalu duduk di bangku kecil yang tadi diduduki Lin Xuyang.
“Hanya usaha kecil-kecilan, sekadar cari uang tambahan,” Xu An mencoba mengalihkan pembicaraan dengan nada ringan.
Xu Lili meliriknya, lalu mengalihkan topik pada soal pendaftaran kuliah, dengan nada sedikit licik, “Setahuku nilai kamu selalu bagus. Sekarang sudah pertengahan Juli, kamu sudah isi formulir pendaftaran? Daftar di mana? Biar aku bantu pertimbangkan.”
Di kehidupan sebelumnya, apakah Kak Lili pernah bertanya soal hasil ujian masuk perguruan tinggi padanya?
Pernah, tapi waktu itu sudah mendekati tahun ajaran baru. Ia datang menanyakan persiapannya, bahkan membantu mengecek barang bawaan agar tidak ada yang terlupa.
Bahkan ia menyelipkan lima ratus yuan ke dalam koper, yang baru diketahui Xu An saat membereskan barang di asrama.
Kenapa kali ini ia datang lebih awal untuk menanyakan soal ujian masuk perguruan tinggi?
Xu An tidak mengerti, tapi ia juga tidak berani bilang pada Xu Lili kalau ia tidak berencana kuliah.
Begitu ia bilang tidak mau kuliah, besok pasti seluruh warga desa yang masih bisa jalan bakal datang menasihati dan membujuknya.
Xu An pun memilih tiga nama universitas dari yang pernah disebut Lin Xuyang, lalu berpura-pura itulah pilihannya untuk mengalihkan pembicaraan.
Sepanjang penjelasan Xu An, ekspresi Xu Lili tetap penuh teka-teki, membuat Xu An bingung.
Setelah mendengar jawabannya, Xu Lili mengangguk santai. Tiba-tiba, matanya berkilat, mendekat dan berbisik, “Lapak nasi kotakmu butuh orang? Kak Lili bantuin deh, asal dikasih makan sudah cukup!”
Apa?
Ada orang yang mau membantu gratis?
Benarkah keberuntungan sedang berpihak?
Tentu saja harus diterima!