Bab Delapan Puluh Lima: Sekali cangkul terayun, kepala terpisah dari badan
Seorang gadis mengayuh sepeda dengan penuh tenaga di jalan raya, sambil menggerutu sepanjang perjalanan.
"Xu Heping dan Xu An, kalian berdua benar-benar menyebalkan, terutama Xu Heping, ada masalah tidak bilang langsung, malah suruh aku tanya sendiri. Tanya gimana coba! Xu An di rumahnya bahkan nggak ada telepon, apa aku harus kirim pesan lewat mimpi?"
Dulu dia pernah ke Desa Xu, jadi dengan mudah dia menemukan rumah Xu An. Berdiri di depan gerbang halaman, ia mengetuk pintu dengan keras.
"Xu An, aku Gu Wen. Kamu di rumah nggak? Kalau di rumah, tolong bukain pintunya."
Xu An yang sedang berbaring di bawah pohon kelengkeng, setengah tertidur, tengah bermimpi dirinya duduk di kantor, dokumen bertumpuk tanpa henti diletakkan di atas mejanya, baru selesai satu, sudah muncul tiga sampai lima lagi, seperti tidak ada akhirnya...
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba membangunkannya dari mimpi buruk pekerjaan itu, membuatnya sempat linglung sejenak.
Gu Wen?
Bukankah dia sudah menetap di ibu kota? Kenapa tiba-tiba datang mencarinya?
Pikiran itu hanya muncul sekejap, lalu Xu An langsung sadar sepenuhnya dari pengaruh mimpi. Sekarang adalah liburan musim panas setelah ujian masuk perguruan tinggi, Gu Wen juga belum berangkat ke ibu kota untuk kuliah, jadi wajar saja kalau dia datang mengunjunginya.
Xu An mengangkat tangan, mengusap sudut mulutnya memastikan tak ada air liur, lalu berjalan ke depan gerbang dan membukanya.
Di luar berdiri seorang gadis berambut pirang kusam, kulit agak gelap, berkacamata hitam besar, persis seperti Gu Wen dalam ingatannya.
"Di rumah saja lama banget bukain pintu, kamu sama Xu Heping ada apa sih? Ngobrolnya lancar, begitu kutanya soal kamu, langsung nggak digubris. Kalian dua sahabat karib lagi bertengkar ya?"
"Ada perlu apa mencariku?" Xu An tidak menjawab pertanyaan Gu Wen, langsung menanyakan maksud kedatangannya.
"Wali kelas mau mengumpulkan semua jurusan yang kita pilih buat kuliah. Rumahmu nggak ada telepon, jadi aku..."
Derin... Derin...
Ponsel di saku Xu An tiba-tiba berdering, memotong ucapan Gu Wen.
Xu An mengeluarkan ponsel, melirik panggilan masuk, nomor asing, sepertinya pesanan makanan.
Dengan tatapan meminta maaf pada Gu Wen, Xu An berjalan ke kursi malas, menutup laptopnya, lalu menekan tombol terima panggilan.
"Halo, ini Xu's Fast Food, apakah Anda ingin memesan makanan?"
"Baik, empat porsi nasi kotak, tiga lauk daging babi kukus sayur asin, satu daging rebus pedas, dikirim ke Studio Desain Dunia Baru, jam sebelas empat puluh. Baik, sudah tercatat. Terima kasih atas pesanannya."
Sejak Xu An mengeluarkan ponsel, mata Gu Wen langsung membelalak.
Dia! Xu An! Ternyata punya ponsel! Tapi tidak juga gabung grup kelas!
Xu Heping yang menyebalkan itu juga tidak bilang ke aku! Sampai aku harus kepanasan di bawah terik matahari datang ke sini!
Begitu Xu An menutup telepon, Gu Wen langsung mengulurkan ponselnya ke depan wajah Xu An, berkata dingin, "Tambah aku sebagai teman, nanti aku masukkan kamu ke grup kelas."
Xu An tertawa kecil menutupi rasa canggung, lalu dengan cekatan mengajukan permintaan bergabung grup kelas. Gu Wen mengambil kembali ponselnya, mengoperasikan sebentar, di sisi Xu An langsung muncul notifikasi berhasil ditambahkan.
"Berapa nilaimu di ujian masuk perguruan tinggi? Daftar ke kampus mana saja?" tanya Gu Wen sambil sibuk dengan ponselnya.
"548," Xu An berdeham pelan, "Aku daftar Universitas Pendidikan Negeri kita."
"Wah, kamu sama Li Xindong daftar kampus yang sama, bisa-bisa nanti jadi teman satu kampus."
Xu An tidak asing dengan nama Li Xindong. Di kehidupan sebelumnya, setiap reuni kelas ia selalu datang, hanya saja selalu diam, mendengarkan teman-teman lain berbagi cerita hidup.
Ternyata dulu dia juga daftar Universitas Pendidikan Negeri, tapi kenapa akhirnya tidak jadi kuliah? Apa gagal karena nilainya kurang?
"Berapa nilai ujian Li Xindong?" Xu An penasaran.
"536, asalkan batas nilai tahun ini tidak berubah banyak, pasti lolos."
Tahun 2012, batas nilai masuk Universitas Pendidikan Negeri adalah 524. Nilai Li Xindong jelas sudah cukup, kenapa di kehidupan lalu dia tidak jadi kuliah?
"Kamu sekarang kerja paruh waktu ya? Tadi kudengar ada telepon soal pesanan makanan, jadi customer service?"
"Ya," Xu An mengangguk, tidak menjelaskan lebih lanjut.
"Banyak juga teman kelas kita kerja paruh waktu, yang aku tahu aja ada tujuh atau delapan. Tapi kamu yang paling santai, di rumah saja bisa dapat uang," Gu Wen menggoda Xu An sebentar, lalu berkata, "Li Xindong itu ikut teman-teman kelas lain kerja di pabrik kota sebelah, eh malah ditipu, ada masalah kecil langsung dipotong gajinya, kerja sebulan lebih, akhirnya cuma dapat seribu."
Hal ini dulu pernah diceritakan Xu Heping pada Xu An, sesudahnya Li Xindong sepertinya kesal dan keluar, lalu ikut warga desa mencari ikan di laut.
Gu Wen dan Xu An sempat ngobrol sebentar lagi, setelah tahu restoran cepat saji tempat Xu An kerja masih butuh pegawai, Gu Wen tampak berpikir sebelum pergi.
Di sisi lain, di pantai berlumpur timur.
Li Xindong baru pulang dari kota sebelah dua hari lalu, lalu ikut para paman di desa menangkap ikan tembakul.
Ikan tembakul liar harganya mahal, biasanya satu kilo bisa laku empat puluh sampai lima puluh ribu, kalau musim perayaan bisa sampai seratus ribu per kilo.
Harga setinggi itu membuktikan, menangkap ikan tembakul bukan perkara mudah.
Li Xindong membawa jaring di tangan kiri, ember plastik putih dan cangkul di tangan kanan, berjalan di atas lumpur.
Begitu melihat lubang bundar di lumpur, Li Xindong langsung menutup salah satu lubang dengan jaring, lalu menginjak lubang lain yang terbuka.
Dengan tekanan kaki, biasanya ikan tembakul akan meloncat keluar bersama semburan air, masuk ke dalam jaring.
Tapi seringnya, air sudah muncrat, ikan tembakul tak tampak, terpaksa harus dicangkul.
Warna ikan tembakul mirip lumpur, jadi saat menggali harus benar-benar hati-hati, supaya tidak terbelah dua. Ikan yang mati atau terluka tidak ada harganya.
Saat hampir dapat seekor, ikan tembakul meloncat keluar, sayangnya tepat ke arah cangkul Li Xindong, langsung terpotong dua.
Li Xindong langsung merasa patah hati.
Ikan tembakul ini beratnya dua ons! Sudah terbelah dua, cuma bisa dimakan sendiri, tak bisa dijual, rugi besar!
Ah!
Li Xindong menghela napas, memasukkan ikan yang terpotong ke ember, mengambil batu, menutupinya dengan lumpur, lalu duduk di atasnya.
Ia mengambil botol air dari ember, meneguk dua kali, lalu memeriksa hasil tangkapan tiga jam terakhir.
Di dalam ember ada sekitar dua puluh ekor ikan tembakul, yang berbobot dua ons hanya tiga ekor, sisanya kecil-kecil, total kurang dari satu kilo.
Tapi sebagai pemula, hasil ini sudah lumayan.
Ia mengelap tangan di baju, lalu hati-hati mengeluarkan ponsel yang dibungkus plastik.
Baru saja menyalakan ponsel, ia melihat pesan dari ketua kelas, Gu Wen.
‘Tempat kerja paruh waktu Xu An masih butuh pegawai, kalau kamu berminat bisa tanya dia, di grup kelas ada, namanya Xu’s Fast Food.’
Xu’s Fast Food, nama apa itu?
Li Xindong mencari nama Xu An di grup kelas, membuka ruang chat sementara.
‘Xu An, aku Xindong, kata ketua kelas tempat kerjamu masih cari pegawai paruh waktu ya?’
Setelah mengantar Gu Wen pergi, Xu An kembali berbaring di bawah pohon kelengkeng, memejamkan mata.
Begitu mendengar notifikasi pesan, Xu An langsung meraih ponsel dan melihat pesan dari Li Xindong.
Baru saja bicara pada Gu Wen soal lowongan di restoran, eh, Li Xindong langsung menghubungi, cepat juga.
‘Benar, masih butuh kurir pengantar makanan, setiap kotak nasi yang diantar dapat upah lima ratus perak, jam kerja dari jam sebelas siang sampai dua sore, gaji harian, dapat makan siang gratis dari restoran.’
‘Kurir pengantar makanan itu apa?’
‘Pelanggan pesan lewat platform, restoran akan siapkan nasi kotaknya, lalu kurir akan mengantarkannya ke pelanggan, itu namanya kurir makanan.’
Setelah Xu An menjelaskan panjang lebar, Li Xindong akhirnya paham.
Tapi dia ingat restoran cepat saji biasanya hanya kirim ke pelanggan sekitar, paling banyak dua puluh atau tiga puluh kotak sehari, paling hanya sepuluh ribu, jadi niatnya tidak besar.
Namun setelah melihat jam kerjanya hanya tiga jam siang hari.
Jam segitu matahari terik, kalau cari ikan tembakul bisa pingsan kepanasan.
Tak bisa cari ikan, kirim makanan pun dapat sepuluh ribu dan makan siang, lumayan juga!
‘Oke, besok aku ke restoran, alamatnya di mana?’
‘Jalan Zijing Selatan, Xu’s Fast Food, jangan lupa bawa KTP, datang sebelum setengah sepuluh, makan dulu baru berangkat bagi makanan.’
‘Siap.’
Li Xindong memasukkan ponselnya, minum air putih lagi, lalu kembali melanjutkan usaha menangkap ikan tembakul.