Bab Seratus Dua Puluh Dua: Memohon Penggaris Suci, Menetapkan Kebenaran Konfusius, Memadatkan Qi dengan Kebajikan, Membentak Tiga Puluh Ribu Cendekiawan!

Sang Suci Sastra dari Xia Raya Pertengahan Juli, saat senja. 13922kata 2026-04-01 10:21:05

Ibu Kota Daxia.
Di luar Gerbang Kota Utara.
Puluhan ribu kaum terpelajar berkumpul di tempat ini.
Mereka mengenakan pakaian berkabung dan membentangkan spanduk, sepenuhnya menunjukkan sikap hendak menuntut pertanggungjawaban. Sebagian orang meratap dan menangis, yang lain mengutuk Gu Jinnian, sementara sebagian besar lainnya hanya memandangi dengan dingin.
Sebab, di atas Gerbang Kota Utara.
Sosok Gu Jinnian tiba-tiba muncul di hadapan pandangan semua orang.
"Itu Gu Jinnian."
"Dialah Gu Jinnian."
"Kalian lihat, Gu Jinnian telah datang."
Seiring awan gelap menutupi kawasan Gerbang Kota Utara, suara-suara perlahan-lahan mulai terdengar. Seseorang melihat Gu Jinnian, lalu menunjuk ke arah gerbang kota sambil berteriak lantang.
Melihat kemunculan Gu Jinnian, kumpulan kaum terpelajar itu seketika menjadi ribut.
Sementara itu, di atas tembok kota, pemimpin pasukan yang bertugas mengerahkan prajurit segera membungkuk memberi hormat kepada Gu Jinnian.
"Yang Mulia Shizi."
"Kami mematuhi titah Baginda Kaisar untuk datang menjaga ketertiban. Yang Mulia sebenarnya tidak perlu datang ke sini, agar tidak tercemar oleh orang-orang picik ini."
Pemimpin pasukan itu juga mengetahui apa yang sedang terjadi dan tidak memiliki kesan baik terhadap kelompok orang tersebut. Oleh karena itu, ia berharap Gu Jinnian tidak terganggu oleh mereka.
"Apakah Baginda memiliki titah yang lain?"
Gu Jinnian memandang orang itu dan bertanya dengan tenang.
"Baginda menyampaikan titah lisan agar kami tidak melukai orang."
Pemimpin pasukan itu membuka suara memberikan jawaban.
"Baik."
"Serahkan urusan ini kepadaku."
Gu Jinnian mengangguk, lalu melangkah maju beberapa langkah dan berdiri di atas tembok tinggi, menatap ke bawah ke arah para kaum terpelajar berbusana berkabung itu.
Sebagian besar kaum terpelajar ini berasal dari Akademi Jiangnan. Pada saat ini, mereka menatapnya dengan pandangan penuh permusuhan, seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup.
Seakan-akan ada dendam kesumat yang begitu besar.
"Gu Jinnian, bayar nyawa itu!"
"Gu Jinnian, kau harus mati!"
"Gu Jinnian, kembalikan nyawa Tuan kami!"
Seketika itu pula, seiring kemunculan Gu Jinnian, berbagai kutukan dan makian pun terdengar. Suara para kaum terpelajar ini sangat kacau, bersahut-sahutan, namun semua orang dapat mendengarkan kemarahan yang terkandung dalam kata-kata mereka.
Serta niat tulus untuk menginginkan Gu Jinnian mati.
"Tring."
Pada saat ini, suara sebuah lonceng berdentang di atas tembok kota, seketika meredam kegaduhan dan kebisingan dari para kaum terpelajar tersebut.
Gu Jinnian melirik sekilas ke arah pemimpin pasukan di sampingnya, lalu perlahan mengucapkan sepatah kalimat.
Seketika itu pula, sang pemimpin menarik napas dalam-dalam, berdiri di atas gerbang kota, dan berteriak lantang.
"Titah Yang Mulia Shizi!"
"Utus sepuluh orang untuk keluar barisan guna berbicara dengannya. Kalian semua tutup mulut dan jangan mempermalukan diri di sini!"
Pemimpin pasukan itu bersuara, menegur keras orang-orang tersebut.
Ucapan tersebut seketika membuat ekspresi para kaum terpelajar itu berubah menjadi kelam.
"Menyuruh kami keluar barisan, maka kami harus keluar? Turunlah ke sini!"
"Sombong sekali! Kau telah memaksa Sun Ru sampai mati, masih berani mengucapkan kata-kata seperti itu?"
"Benar-benar arogan luar biasa. Kami, tiga puluh ribu kaum terpelajar, berkumpul di sini, jika punya nyali, bunuhlah kami semua!"
"Semua, jangan hiraukan dia, teruslah mencaci maki. Aku ingin melihat apakah si Gu Jinnian itu berani bertindak terhadap kami."
Berbagai macam suara bergemuruh. Mereka sama sekali tidak mempedulikan Gu Jinnian. Jika berani, bunuh saja. Kehadiran lebih dari tiga puluh ribu kaum terpelajar di tempat ini memberikan tekanan yang amat luar biasa besar.
Jangankan Gu Jinnian, bahkan perdana menteri istana pun tidak akan berani berbuat sembarangan kepada mereka.
Faktanya, para pejabat sipil dan militer telah lama mengetahui masalah ini, dan mereka juga mengawasinya secara diam-diam. Jika ditemukan situasi yang tidak beres, mereka akan segera turun tangan untuk menghentikannya.
Pada saat seperti ini, Gu Jinnian sama sekali tidak boleh dibiarkan bertindak sembrono. Jika benar-benar membunuh tiga puluh ribu kaum terpelajar ini, akibatnya akan menjadi sangat fatal.
Caci maki yang begitu hebat hingga menutupi langit itu dapat didengar oleh seluruh penduduk di dalam ibu kota.
Menghadapi makian semacam itu, Gu Jinnian tetap bersikap tenang. Ia hanya berpesan kepada pemimpin pasukan di sampingnya bahwa ia tidak ingin membuang tenaga untuk berteriak-teriak, cukup biarkan orang lain yang mewakili dirinya.
Tak lama kemudian, pemimpin pasukan kembali bersuara.
"Titah Yang Mulia Shizi: Kalian semua adalah kaum terpelajar, berkumpul tanpa alasan dan berniat untuk memberontak. Jika tidak mendengarkan didikan, aku akan membuat petisi kepada Baginda Kaisar untuk menjatuhkan hukuman kepada tiga generasi kalian agar tidak boleh memasuki jalur pemerintahan."
Pemimpin pasukan bersuara sambil menatap tajam para kaum terpelajar tersebut, menyampaikan apa yang baru saja dikatakan oleh Gu Jinnian.
Begitu ucapan ini terlontar, orang-orang tersebut seketika terdiam.
Gu Jinnian saat ini menjabat sebagai Komandan Inspektorat, dan petisi yang diajukannya harus diprioritaskan penanganannya oleh Enam Kementerian.
Dengan kata lain, jika kau tidak berbuat salah, Gu Jinnian hanya bisa membuatmu merasa jijik dan muak.
Namun, jika kau benar-benar berbuat salah, maka maaf saja, Gu Jinnian bukan hanya bisa membuatmu muak, tetapi juga bisa membuatmu bernasib sial.
Tiga puluh ribu kaum terpelajar berkumpul tanpa alasan bukanlah perkara kecil. Meskipun mereka dapat memberikan pembelaan dan dalih untuk menuntut keadilan.
Tetapi, apakah keadilan dicari dengan cara seperti ini? Apakah tidak bisa melapor terlebih dahulu? Mohon bertanya, apakah pejabat tingkat kabupaten yang menolak permohonan kalian, ataukah gubernur wilayah yang menolak?
Sepertinya tidak ada yang menolak, bukan?
Bukankah kalian hanya saling mengajak kawan dan berkumpul begitu saja?
Siapa di balik semua ini tidaklah penting, menjatuhkan hukuman atas pelanggaran ini bukanlah masalah besar.
Larangan tiga generasi tidak boleh menjadi pejabat memang sedikit berlebihan, dan Kementerian Ristek serta Kementerian Personalia kemungkinan besar tidak akan menyetujuinya, tetapi melarang mereka menjadi pejabat selama tiga hingga lima tahun bukanlah masalah besar.
Seketika itu pula, orang-orang terdiam sejenak. Di dalam hati mereka sangat jelas menyadari, jika keributan ini terus dilanjutkan, maka bersiaplah mempertaruhkan masa depan mereka sendiri.
Taktik ini sangat kejam, membuat orang-orang marah namun tidak berani melampiaskannya.
"Aku akan maju keluar barisan. Semuanya, jangan berbicara dulu. Gu Jinnian ini ternyata hanya memiliki kemampuan sebatas itu."
"Benar, jangan takut, aku akan maju bersama Kakak Chen."
"Gu Jinnian memang hanya berani bersikap begini. Dia telah memaksa Sun Ru menemui ajalnya, apa lagi yang harus dikatakan? Aku juga ikut bersama Kakak Chen."
Seketika itu pula, orang-orang benar-benar menutup mulut mereka. Beberapa provokator bersuara dan maju ke barisan paling depan untuk berkonfrontasi langsung dengan Gu Jinnian.
Sekitar seperempat jam kemudian, akhirnya sepuluh orang keluar barisan dan tiba di bawah gerbang kota.
Kesepuluh orang itu adalah pemuda-pemuda berbakat. Berdiri di bawah tembok kota, mereka tampak tidak rendah diri namun juga tidak angkuh, mendongakkan kepala menatap Gu Jinnian dengan tatapan yang dipenuhi kemarahan, penghinaan, keangkuhan, serta hawa dingin.
Masing-masing menunjukkan ekspresi yang berbeda.
Di atas tembok kota.
Gu Jinnian melirik sejenak, tatapannya sedikit mendingin. Semula ia berencana pergi untuk bermeditasi memahami Dao, namun ia tidak menyangka insiden semacam ini akan terjadi.
Jika tidak diselesaikan, masalah ini akan terus menjadi beban. Jalan terbaik saat ini adalah memotong kekusutan dengan cepat dan membereskan orang-orang ini.
"Mengumpulkan tiga puluh ribu kaum terpelajar, utarakan maksud kedatangan kalian."
Di atas tembok kota, Gu Jinnian membuka suara, menatap mereka dengan pandangan yang dingin.
"Gu Jinnian, berhenti berpura-pura dungu di sini. Kau telah memaksa Tuan Sun sampai mati, kau pasti tahu betul tentang masalah ini. Katakan, bagaimana kau akan menyelesaikannya?"
"Gu Jinnian, jangan bersandiwara di sini seolah-olah dirimu tidak bersalah. Atas kematian Tuan Sun, bagaimana bentuk pertanggungjawabanmu?"
Mereka bersuara, terutama seorang pria berusia awal puluhan tahun yang mengenakan pakaian berkabung. Berwajah tampan dengan aura bakat yang mengelilingi tubuhnya, saat ini ia menatap Gu Jinnian dengan sorot mata yang menyuarakan kebencian sekaligus kemarahan.
Suaranya adalah yang paling lantang, bertindak sebagai pemimpin kelompok tersebut.
"Apakah Sun Zhengnan sudah mati?"
Gu Jinnian menatap orang itu dengan nada bicara yang tenang.
"Peti mati Tuan Sun masih berada di Akademi Jiangnan. Apa kau ingin kami membawa jenazah Tuan Sun diletakkan di hadapanmu baru kau akan percaya?"
Seseorang berkata dengan penuh amarah.
"Bagus."
"Bagus."
"Bagus."
Mendapatkan jawaban tersebut, Gu Jinnian mengucapkan kata "bagus" sebanyak tiga kali berturut-turut.
Seketika itu pula, hal tersebut membuat orang-orang tertegun sejenak, tidak mengerti apa maksud dari ucapan Gu Jinnian.
"Mati dengan bagus."
"Kaum intelektual munafik seperti ini memang sudah Seharusnya mati sejak dulu."
Namun, perkataan yang dilontarkan Gu Jinnian berikutnya membuat kelompok orang itu seketika mendidih.
"Apa yang kau katakan?"
"Gu Jinnian, apakah kau ini masih manusia?"
"Penghinaan, penghinaan, ini adalah aib yang amat memalukan!"
"Gu Jinnian, bagaimana bisa kau mengucapkan kata-kata seperti itu?"
"Arogan, arogan sekali! Orang arogan seperti apa sebenarnya yang bisa melontarkan ucapan semacam itu?"
Berbagai macam makian meledak.
Semua orang tidak percaya bahwa Gu Jinnian sanggup melontarkan perkataan seperti itu. Ini murni sebuah provokasi, provokasi yang terang-terangan tanpa ditutup-tutupi.
"Tutup mulut!"
Di atas tembok kota, seiring makian orang-orang yang semakin menjadi, suara Gu Jinnian turut menggelegar.
Satu bentakan amarah darinya langsung menenggelamkan seluruh suara orang-orang yang hadir di tempat itu.
"Sun Zhengnan, sebagai seorang Sarjana Agung, tidak dapat membedakan benar dan salah, mengandalkan status seniornya untuk bersikap sewenang-wenang. Setelah kucopot dari kedudukannya sebagai Sarjana Agung, sudah sepatutnya ia merenung dan memperbaiki diri serta memahami jalan para orang suci. Namun, tak disangka ia justru tidak kunjung bertobat, malah menggunakan aksi bunuh diri sebagai sarana untuk memberikan tekanan kepadaku."
"Apakah perkataanku salah? Bukankah orang seperti ini memang mati dengan bagus?"
Gu Jinnian membuka suara.
Terhadap Sun Zhengnan, ia tidak menyimpan niat jahat yang besar, ia hanya merasa orang seperti ini tidak mampu membedakan benar dan salah serta gemar memanfaatkan senioritasnya.
Pencopotan gelar Sarjana Agung yang dilakukannya sama sekali tidak salah.
Ia merasa karakternya sangat apa adanya dan berterus terang, memikirkan apa yang diucapkan dan mengatakan apa yang dipikirkan, serta tidak segan-segan mengkritik tajam apa pun yang dinilainya buruk.
Ia bahkan sempat merasa bangga, menganggap apa yang dilakukannya adalah menjunjung tinggi keadilan.
Namun, jujur saja, tindakan tersebut tidak lebih dari sekadar memanfaatkan senioritas. Jika benar-benar membela kebenaran dan menjunjung tinggi keadilan di dalam hatinya, Gu Jinnian tentu akan menaruh rasa hormat kepadanya.
Namun, saat berada di Akademi Daxia, Sun Zhengnan tidak membedakan hitam dan putih, begitu melihat dirinya langsung melontarkan cacian bertubi-tubi.
Bahkan berniat untuk mempermalukan dirinya secara sengaja.
Apakah itu wujud yang seharusnya dimiliki oleh seorang Sarjana Agung?
Menunggu selama tiga hari lalu merasa marah? Setelah Gu Jinnian muncul, ia juga tidak menunjukkan sikap kurang ajar, bukan? Ditambah lagi dengan permusuhan antara dirinya dan Klan Kong yang telah diketahui oleh seluruh dunia, masalah ini bukanlah soal tidak menghormati Sun Zhengnan, melainkan tidak memberikan muka kepada Klan Kong.
Sun Zhengnan datang bersama Klan Kong demi suatu urusan yang diketahuinya dengan jelas, hanya saja ia tidak mengungkapkannya secara terang-terangan di permukaan.
Secara blak-blakan, seandainya Gu Jinnian menemui Sun Zhengnan dan rombongannya pada hari pertama, hasil akhirnya tidak akan jauh berbeda, yaitu Sun Zhengnan akan menceramahnya dengan kata-kata manis. Dan jika Gu Jinnian tetap bersikeras tidak menyerahkan Artefak Suci, hasilnya pasti tidak akan berubah.
Mereka akan tetap menganggap Gu Jinnian bersikap egois.
Lalu melancarkan kecaman.
Oleh karena itu, orang semacam ini mati adalah pilihan terbaik.
"Gu Jinnian, kau benar-benar seekor binatang!"
Kaum terpelajar di bawah sana berteriak murka, berkeinginan kuat untuk membunuh Gu Jinnian.
"Sun Ru datang berkunjung kepadamu, tetapi kau mengabaikannya begitu saja dan membiarkannya menunggu selama tiga hari. Itu saja sudah keterlaluan, namun hanya karena sedikit perselisihan ucapan, kau mencopot kedudukannya sebagai Sarjana Agung hingga memaksanya bunuh diri. Dan sekarang kau masih berani mengucapkan kata-kata seperti itu di sini!"
"Kau benar-benar bukan manusia!"
Orang itu tampak sangat geram hingga sekujur tubuhnya gemetar saat menunjuk ke arah Gu Jinnian.
Bukan hanya dirinya, puluhan ribu kaum terpelajar di tempat itu semuanya dikuasai oleh kemurkaan. Mereka mengira dengan kehadiran begitu banyak orang, Gu Jinnian akan menunjukkan rasa gentar. Namun di luar dugaan, Gu Jinnian sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, bahkan tetap bersikap arogan seperti biasanya.
Bagaimana mungkin hal itu tidak membuat mereka merasa sangat berang?
"Memaksanya bunuh diri?"
"Aku ingin bertanya kepada kalian, metode pemaksaan seperti apa yang dimaksud?"
"Seluruh kejadian ini, apakah kalian mengetahui awal dan akhirnya secara utuh?"
"Peristiwa apa sebenarnya yang terjadi, apakah kalian mengetahuinya?"
"Pada akhirnya, kalian semua hanyalah mendengar desas-desus dari mulut orang lain, lalu menganggap diri sendiri sedang melakukan tindakan kebenaran, berniat memanfaatkan kesempatan ini untuk mengecamku dan menginjak-injakku ke dalam lumpur demi memuaskan kepalsuan di dalam hati kalian sendiri."
"Apakah perkataanku salah?"
Gu Jinnian memandang orang-orang tersebut sambil melontarkan pertanyaan dengan nada dingin.
Tidak mengetahui apa-apa namun datang mencari masalah. Dari tiga puluh ribu orang lebih ini, sembilan puluh sembilan persennya hanyalah ikut-ikutan secara membabi buta.
Berbicara tentang mencari keadilan.
Berbicara tentang objektivitas?
Sebelum sebuah masalah dipahami secara menyeluruh, kualifikasi apa yang kalian miliki untuk melontarkan opini?
Kalian boleh mengajukan keraguan, itu tidak masalah. Tetapi tanpa memahami masalah secara utuh, kalian sudah menarik kesimpulan secara gegabah. Jika tebakan kalian benar, itu masih lumayan. Lalu, bagaimana jika ternyata salah?
Apakah kalian akan keluar untuk meminta maaf? Apakah kalian akan menyadari kesalahan sendiri?
Hasil akhirnya mungkin hanya akan berupa kalimat, "Oh, ternyata begitu rupanya."
Atau mungkin berdalih, "Meskipun masalah ini adalah kesalahpahaman kami, tetapi kau memang terbukti salah, lagipula kau sebenarnya bisa memberitahu kami dan menjelaskannya dengan tuntas sejak awal, bukankah itu sudah cukup?"
Mengesampingkan fakta yang ada, apakah kau, Gu Jinnian, sama sekali tidak memiliki kesalahan?
Ini adalah perilaku argumen yang sangat khas.
"Konyol, sangat menggelikan."
"Itu adalah pandangan versimu sendiri."
"Jika Yang Mulia Shizi merasa tidak terima, kalau begitu silakan Yang Mulia jelaskan dengan tuntas apa sebenarnya yang telah terjadi."
"Konyol! Tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi, Sun Ru telah mati, dan kau harus bertanggung jawab atas kematiannya!"
"Ucapan yang benar! Persetan dengan apa pun yang dikatakan Gu Jinnian, Sun Ru sudah mati, dan dialah yang dipaksa mati oleh Gu Jinnian. Jangan membawa-bawa kami untuk dijadikan alasan di sini. Yang sedang dibahas sekarang adalah urusanmu, bukan urusan kami!"
"Kami memiliki hati nurani yang bersih, hanya orang berjiwa picik sepertimu yang akan mengira kami memiliki niat tersembunyi."
Suara-suara bergemuruh, ibu kota kembali bergolak.
Sesuai dengan tebakan Gu Jinnian, kelompok orang ini bersikap seolah-olah isi hati mereka telah terbongkar, mulai menyangkal, lalu mengalihkan kembali topik pembicaraan kepada Gu Jinnian.
Hal ini sangat wajar. Sembilan puluh sembilan persen dari mereka datang hanya karena ikut-ikutan, meskipun ada juga yang memiliki tujuan tertentu, yaitu ingin merusak reputasiku agar aku terjerumus ke dalam lumpur dan menjadikannya modal untuk disombongkan di kemudian hari.
Sementara sebagian kecil kelompok lainnya secara sengaja memprovokasi dan mengarahkan opini publik semacam ini demi agenda tersembunyi mereka.
Secara blak-blakan, mereka ingin mencelakaiku.
Ada pihak di balik layar yang mendukung mereka. Siapa pelakunya memang belum jelas, Klan Kong pasti terlibat, tetapi masalah ini jelas tidak semata-mata sesederhana itu.
Mendengarkan suara-suara makian tersebut.
Pemimpin pasukan di sampingnya mau tidak mau mengerutkan kening. Lebih dari tiga puluh ribu orang mencaci maki secara bersamaan, pemandangan ini tentu bukan keributan yang biasa. Meskipun makian itu ditujukan kepada Gu Jinnian dan bukan kepada dirinya, sang pemimpin pasukan tetap merasa sangat memuakkan di telinga.
Jika itu adalah dirinya, dia pasti sudah turun tangan untuk menebas mereka sejak tadi.
"Yang Mulia Shizi, sekumpulan anjing keparat ini sudah tidak bisa diajak bernalar. Biar hamba membawa Anda kembali, dan urusan selanjutnya, serahkan kepada hamba untuk menyelesaikannya."
Pemimpin pasukan itu berbicara, berharap Gu Jinnian mau pergi agar tidak merasa jijik oleh orang-orang tersebut.
"Tidak apa-apa."
Gu Jinnian berkata dengan tenang. Ia melambaikan tangannya dan tetap berdiri di atas gerbang kota, mendengarkan caci maki dari orang-orang itu.
Pada saat yang sama, ia sedang memikirkan sebuah persoalan di dalam benaknya.
Konfuansisme.
Ya, sembari mendengarkan berbagai makian tersebut, di dalam benak Gu Jinnian tanpa sadar terlintas persoalan ini.
Sistem Konfuansisme.
Sistem Konfuansisme terbagi menjadi tujuh tingkat.
Tingkat pertama adalah Membaca Kitab dan Mengumpulkan Qi.
Sesuai dengan namanya, yaitu melalui proses membaca kitab suci, memahami prinsip kebenaran, dan kemudian memadatkan energi bakat (*caiqi*).
Fungsi dari Penggaris Suci Linglong adalah untuk mendefinisikan ulang tingkat dalam Konfuansisme.
Gu Jinnian sebelumnya sempat berpikir untuk merombak total tingkat pertama, bukan sekadar mengumpulkan energi bakat biasa, melainkan memadatkan Qi Kebenaran yang Mulia (*haoran zhengqi*).
Namun setelah dipikirkan kembali, ia merasa tingkat kesulitannya terlalu tinggi.
Tingkat pertama langsung memadatkan Qi Kebenaran yang Mulia, prosesnya akan sangat sulit.
Hal itu niscaya akan memukul jatuh kepercayaan diri kaum terpelajar, serta menjebak Konfuansisme ke dalam dilema. Bagaimanapun juga, terkadang banyak hal tercipta dari perubahan kuantitas yang memicu perubahan kualitas, sehingga pada tahap pertama standarnya tidak boleh terlalu memberatkan.
Dan sekarang, Gu Jinnian pun tidak akan menaikkan tingkat kesulitan tingkat pertama Konfuansisme hanya karena makian dari orang-orang ini.
Namun, ia harus memberikan definisi.
Sebuah definisi yang sesungguhnya tentang Konfuansisme.
Makian demi makian saling bersahutan. Lebih dari tiga puluh ribu orang saling bersahut-sahutan mengucapkan kalimat cacian, berlangsung selama setengah jam penuh.
Dan Gu Jinnian mendengarkannya selama setengah jam pula.
Setengah jam kemudian.
Tenggorokan orang-orang mulai terasa kering, para warga di ibu kota juga mulai merasa mati rasa. Mencaci maki secara terus-menerus selama tiga jam lamanya, sedikit banyak memang terasa agak berlebihan.
"Gu Jinnian, kenapa kau tidak berbicara?"
"Apakah kau takut? Atau merasa bersalah?"
"Terus membisu, apakah karena kau merasa semua ucapan kami benar hingga kau kehabisan kata-kata?"
Suara-suara kembali terdengar, dipenuhi dengan nada dingin.
Namun Gu Jinnian sama sekali tidak mempedulikan suara-suara tersebut. Ia mengangkat tangannya, seketika itu pula Istana Sastra miliknya muncul di belakang punggungnya, dikelilingi oleh bintang-bintang gemilang, dengan lima kereta giok melaju keluar bak iring-iringan kendaraan seorang kaisar yang memimpin ribuan pasukan.
Manifestasi Istana Sastra milik Gu Jinnian itu memicu seruan takjub dari banyak orang.
Kendati demikian, seseorang justru menunjuk ke arah Gu Jinnian dan berteriak murka bagaikan guntur.
"Gu Jinnian, apakah kau juga berniat merampas energi bakat kami?!"
"Kami tidak gentar! Saudara-saudara sekalian, mari kita lihat apakah si Gu Jinnian ini berani melumat habis energi bakat kita!"
"Kami adalah tiga puluh ribu kaum terpelajar, kami tidak percaya seorang diri sepertimu mampu melenyapkannya sampai habis."
"Benar sekali, kau bermimpi bisa menakut-nakuti kami dengan taktik murahan ini."
Mereka meraung marah. Sebagian suara disembunyikan di dalam kegelapan, menyuruh orang-orang berdiri di barisan depan sementara mereka sendiri bersembunyi di belakang.
Namun harus diakui, taktik ini membuahkan hasil, lagipula energi bakat Gu Jinnian pada akhirnya tentu terbatas.
Dan akumulasi energi bakat dari tiga puluh ribu orang jika digabungkan, pastilah bukan sesuatu yang bisa dibersihkan sekaligus oleh Gu Jinnian.
Hanya saja, Gu Jinnian sama sekali tidak berniat menghapus energi bakat mereka. Pertama, jumlahnya memang tidak akan cukup; kedua, orang-orang ini juga tidak layak mendapatkannya.
"Aku, Gu Jinnian."
"Hari ini, aku memohon Penggaris Suci untuk menampakkan wujudnya."
"Mendefinisikan ulang tingkat pertama Konfuansisme."
Di atas Gerbang Kota Utara, Gu Jinnian berdiri dengan tangan ditarik ke belakang punggung. Ia memandang ke arah para kaum terpelajar tersebut seraya berucap demikian.
Ucapan tersebut kontan memicu keheranan di tengah orang banyak.
"Mendefinisikan ulang tingkat pertama Konfuansisme? Apa maksudnya ini?"
"Omong kosong apa yang sedang ia bicarakan?"
"Kenapa aku tidak mengerti? Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan?"
"Apa lagi yang direncanakan oleh Gu Jinnian ini?"
Sebagian besar orang merasa bingung. Mereka hanya pernah mendengar tentang Penggaris Suci Linglong dan sekadar mengetahui fungsi dasarnya untuk melenyapkan energi bakat orang lain, sementara fungsi yang sesungguhnya dari Penggaris Suci itu tidak begitu mereka pahami.
Namun, sebagian kecil orang justru seketika mendapati rona wajah mereka berubah menjadi sangat buruk.
"Dia berniat memodifikasi standar tingkat pertama Konfuansisme, ingin menekan kita dari akarnya."
Seseorang berucap dengan wajah kelam, menebak apa yang ingin dilakukan oleh Gu Jinnian.
Begitu ucapan itu terlontar, seketika memicu kehebohan besar.
"Memodifikasi ulang standar tingkat pertama Konfuansisme? Kualifikasi apa yang dia miliki untuk mengubahnya?"
"Apakah ini kekuatan dari Penggaris Suci?"
"Mengubah standar tingkat pertama Konfuansisme? Penggaris Suci Linglong ternyata memiliki kekuatan sehebat ini? Pantas saja bisa disebut sebagai Artefak Suci."
Orang-orang berseru kagum, merasa sulit mempercayainya, namun fakta terpampang nyata di hadapan mereka, memaksa mereka untuk percaya.
"Jika Gu Jinnian memodifikasinya sesuka hati dan menetapkan aturan yang mustahil diselesaikan, lalu bagaimana? Bukankah kita tidak akan bisa melangkah memasuki jalur Konfuansisme?"
"Gu Jinnian benar-benar keji, dia bahkan menggunakan cara ini untuk memaksa kita tunduk."
"Tingkat Konfuansisme ditetapkan oleh Langit, serta diturunkan secara turun-temurun melalui pemikiran para orang suci dan para leluhur bijak. Sekarang Gu Jinnian justru ingin memodifikasinya secara paksa, sungguh penuh kebencian!"
"Gu Jinnian, apakah kau layak?!"
Seruan makian kembali membahana. Sebagian orang masih diselimuti kemarahan, sebagian lagi merasa ketakutan, sementara yang lain menampilkan ekspresi ngeri. Bagaimanapun juga, tingkat pencapaian Konfuansisme adalah hasil jerih payah yang mereka tempuh dengan susah payah.
Sekarang diberitahu bahwa tingkat itu akan didefinisikan ulang, bagaimana mungkin mereka tidak merasa takut?
"Masalahnya tidak akan terlalu besar. Sekalipun dia mendefinisikannya ulang, dampaknya hanya akan mengenai para generasi pendatang baru, kita tidak akan terpengaruh."
Di saat krusial, seseorang bersuara membongkar sebuah rahasia besar.
Begitu ucapan tersebut keluar, seketika memancing rasa penasaran dari banyak orang.
"Apakah kau yakin kita tidak akan terpengaruh?"
"Jika itu hanya berdampak pada generasi baru, maka itu masih bisa diterima. Tetapi jika hal itu mempengaruhi tingkat kultivasi kita saat ini, maka si Gu Jinnian ini benar-benar pantas mati seribu kali."
"Kurasa kemungkinan itu ada. Bagaimanapun juga, sehebat apa pun kekuatan Penggaris Suci, tidak mungkin kekuatannya tanpa batas, pasti ada batasan tertentu."
Berbagai suara bersahutan. Setelah seseorang mengungkap kelemahan dari Penggaris Suci tersebut, orang-orang pun menghela napas lega untuk sementara waktu.
Jika Gu Jinnian mendefinisikan ulang tingkat pertama Konfuansisme dan hal itu berdampak pada diri mereka, maka itu benar-benar kerugian besar.
Akan tetapi, di atas Gerbang Kota Utara.
Mendengarkan berbagai opini tersebut.
Gu Jinnian memasang wajah tanpa ekspresi.
Penggaris Suci termanifestasi, memancarkan pendar cahaya yang menyilaukan.
Dan pada saat ini pula Gu Jinnian memejamkan matanya, menghadirkan jalan para orang suci di dalam benaknya.
Sekitar seperempat jam kemudian.
Tepat saat Gu Jinnian membuka kedua matanya, Penggaris Suci Linglong bergetar hebat dengan liar.
"Tingkat Pertama Konfuansisme."
"Memadatkan Qi berdasarkan Kebajikan (*De*)."
"Barangsiapa memiliki kebajikan, semuanya dapat mengumpulkan Qi, menjadi Qi Kebenaran yang Mulia."
"Barangsiapa yang tidak memiliki kebajikan, berakhlak busuk, berpikiran sempit, tidak diperkenankan mengumpulkan Qi. Membaca sepuluh ribu kitab pun tidak akan bisa memasuki jalur Konfuansisme."
Gu Jinnian bersuara.
Inilah definisinya mengenai tingkat pertama Konfuansisme.
Orang yang memiliki kebajikanlah yang dapat memadatkan Qi.
Pengertian "memiliki kebajikan" di sini bukan berarti seseorang harus langsung menjadi seorang orang suci, melainkan mampu membedakan cinta dan benci secara jelas, mengetahui bahwa sesuatu itu salah namun tetap nekat melakukannya, atau didorong oleh rasa iri hati tetapi justru mencari-cari alasan untuk menutupi rasa cemburunya demi menyerang atau mencelakai orang lain.
Orang semacam ini tidak memiliki kebajikan.
Baik dia seorang kaum terpelajar.
Atau seorang junzi.
Bahkan seorang tukang sembelih babi sekalipun, asalkan ia memiliki kebajikan, maka ia dapat mengumpulkan Qi, bahkan Qi yang dipadatkan adalah Qi Kebenaran yang Mulia.
Keadilan yang bersemayam di dalam hati.
Sebaliknya, jika tidak memiliki kebajikan, sekalipun ia telah membaca sepuluh ribu buku para orang suci, ia tetap tidak akan pernah bisa melangkah masuk ke dalam jalur Konfuansisme, dan selamanya tidak akan mampu memadatkan Qi Kebenaran yang Mulia.
Kebajikan (*De*).
Adalah hal yang paling utama, tidak peduli apa latar belakang keluarganya, tidak peduli apa latar belakang status sosialnya.
Gu Jinnian memang menaikkan standarnya, namun ia tidak menaikkannya secara sewenang-wenang, melainkan mendefinisikannya berdasarkan perkataan dan perbuatan seseorang.
Begitu ucapan itu dilontarkan.
Penggaris Suci memancarkan suara deru yang mengerikan.
Saat berikutnya, pendar cahaya membubumbung ke langit, menghalau awan dan menembus cakrawala.
Penggaris Suci Linglong melesat naik ke angkasa, seraya memunculkan aksara-aksara kuno berwarna keemasan dari dalam penggaris tersebut. Itulah Dao para orang suci, yang menjelma menjadi aksara-aksara dan membanjiri seluruh langit Ibu Kota Daxia.
Penggaris Suci memiliki roh, ia sedang menilai apakah definisi tingkat Konfuansisme yang ditetapkan oleh Gu Jinnian memiliki cacat atau tidak.
Pada saat ini.
Seluruh pandangan mata terfokus pada Penggaris Suci tersebut.
Setengah seperempat jam kemudian.
Penggaris Suci bergetar sekali.
Seketika itu pula, seberkas cahaya hitam-kuning turun berguguran dari langit, bagaikan sungapan Bima Sakti yang langsung meresap masuk ke dalam Penggaris Suci.
Menyusul kemudian, Penggaris Suci memancarkan miliaran sinar keilahian, di mana gelombang demi gelombang cahaya meresap masuk ke dalam bumi, menandakan pengesahan dari Langit.
Mengakui tingkat definisi yang ditetapkan oleh Gu Jinnian.
"Meskipun Penggaris Suci memiliki kemampuan untuk mendefinisikan tingkat Konfuansisme, hal itu tetap harus disesuaikan dengan situasi yang ada. Apa yang diucapkan oleh Yang Mulia Shizi ternyata sesuai dengan kehendak Langit, sungguh luar biasa."
Di dalam ibu kota, seorang Sarjana Agung bersuara, memuji tindakan yang dilakukan oleh Gu Jinnian tersebut.
"Yang Mulia Shizi tidak bertindak sembarangan akibat caci maki para kaum terpelajar ini. Memadatkan Qi dengan kebajikan, ucapan ini sungguh luar biasa! Kaum terpelajar masa kini berlomba-lomba mengejar kemajuan dengan terburu-buru, hanya tahu cara mengumpulkan Qi melalui bacaan, namun melupakan dua kata: kebajikan. Perbuatan hari ini sungguh sebuah langkah yang luar biasa."
"Jika seseorang tidak memiliki kebajikan, apa lagi yang perlu dibicarakan tentang kultivasi? Apalagi bercita-cita menjadi seorang sarjana Konfusian."
"Memadatkan Qi dengan kebajikan, sungguh definisi yang luar biasa tentang memadatkan Qi dengan kebajikan."
Pada saat ini, berbagai suara pujian membahana di penjuru ibu kota, di mana sejumlah Sarjana Agung melontarkan pujian atas tindakan Gu Jinnian tersebut.
Bagaimanapun juga, hal ini sangat masuk akal dan sama sekali tidak memiliki masalah.
Memadatkan Qi dengan kebajikan.
Namun, tepat pada saat itu pula, dari dalam Penggaris Suci meletupkan gelombang demi gelombang cahaya, di mana setiap pendar cahaya menjelma menjadi miniatur Penggaris Suci dan meresap masuk ke dalam tubuh para kaum terpelajar tersebut.
Bukan hanya mereka, bahkan Gu Jinnian sendiri turut kemasukan sebuah miniatur Penggaris Suci di dalam tubuhnya.
Pendar cahaya itu bertebaran di seluruh penjuru ibu kota. Bukan hanya para kaum terpelajar, seluruh warga biasa turut memperoleh sebuah Penggaris Suci di dalam tubuh mereka.
Penggaris Suci merasuk ke dalam raga.
Segala perbuatan di masa lalu seketika terpantul dengan jelas.
Seketika itu pula, seluruh kaum terpelajar di bawah tembok kota memperlihatkan ekspresi terkejut.
"Kenapa energi bakatku menghilang? Trik apa yang kau gunakan, Gu Jinnian?!"
"Ada apa ini? Kenapa energi bakatku berkurang begitu banyak?!"
"Aku yang berada di tingkat Mengetahui Kesucian dan Menegakkan Sabda, bagaimana bisa mendadak merosot turun ke tingkat Pemupukan Qi?!"
"Apa yang sebenarnya terjadi? Gu Jinnian, tipuan apa lagi yang sedang kau mainkan?!"
Mereka terkejut, melontarkan seruan tanya dengan ekspresi yang sangat panik.
Meskipun mereka bukan Sarjana Agung, mereka tetap sangat menghargai tingkat kultivasi Konfuansisme milik mereka sendiri.
Kini, sebagian besar dari tiga puluh ribu lebih kaum terpelajar itu kehilangan satu tingkat kultivasi mereka, sementara sebagian kecil lainnya kehilangan energi bakat dalam jumlah besar.
Bagaimana mungkin hal itu tidak membuat mereka dilanda kepanikan?
Sementara di dalam kota, beberapa kaum terpelajar turut kehilangan energi bakat mereka, memunculkan rona wajah yang kelam.
Namun sebuah pemandangan yang mencengangkan justru terjadi.
Beberapa orang yang tadinya bukan kaum terpelajar, justru memadatkan seberkas Qi Kebenaran di dalam tubuh mereka, memancarkan pendar cahaya yang lembut.
Hal itu memancing seruan takjub bertubi-tubi.
Energi bakat adalah sesuatu yang diimpikan oleh banyak orang; memiliki energi bakat berarti telah melangkah masuk ke dalam jalur Konfuansisme.
Artinya, mereka telah menjadi kaum terpelajar.
Dan di dalam ibu kota, cukup banyak orang yang secara cuma-cuma mendapatkan energi bakat, bahkan beberapa wanita turut mendapatkannya.
Memancing rasa penasaran dan keterkejutan yang luar biasa.
"Kalian semua, tutup mulut!"
Namun, pada saat ini, sebuah suara yang menggelegar terdengar.
Suara Yang Kai.
Pada saat itu, ia tiba di gerbang utara mengenakan pakaian resmi kenegaraan, menatap kelompok orang tersebut dengan pandangan yang dipenuhi hawa dingin dan penghinaan.
Yang Kai adalah Menteri Ristek, sekaligus Sarjana Agung masa kini. Reputasinya tidak kalah dari Sun Zhengnan, bahkan dalam arti tertentu, kedudukan Yang Kai lebih tinggi daripada Sun Zhengnan.
Semua itu karena ia menjabat sebagai Menteri Ristek, di mana Kementerian Ristek adalah instansi yang membawahi seluruh kaum terpelajar di wilayah Kekaisaran Daxia.
Seiring suara Yang Kai menggelegar, para kaum terpelajar itu tidak berani berteriak-teriak lagi, masing-masing bersikap sangat patuh.
"Ini adalah penghakiman kebajikan oleh Penggaris Suci. Di dalam hati kalian tidak terdapat kebajikan, sehingga di bawah penilaian Penggaris Suci, energi bakat kalian dilucuti."
"Begitu terjadi masalah, kalian langsung berasumsi hal itu adalah perbuatan Yang Mulia Shizi. Apakah mata kalian buta tadi? Tidakkah kalian melihat Penggaris Suci itu juga merasuki tubuh Yang Mulia Shizi?!"
"Memadatkan Qi dengan kebajikan, hampir tidak ada seorang pun dari kalian yang layak memadatkan energi bakat. Hal itu membuktikan bahwa kalian semua tidak berakhlak, hari ini datang berkumpul secara bergerombol, kalau bukan dihasut oleh orang lain, pasti karena berniat jahat."
"Prajurit, sampaikan titahku! Kurung ketiga puluh ribu kaum terpelajar ini di luar kota, catat identitas mereka, dan larang mereka mengikuti ujian kekaisaran selama tiga periode berturut-turut!"
Yang Kai bersuara. Tadi ia juga sempat kemasukan Penggaris Suci di dalam tubuhnya, bahkan kehilangan sebagian kecil energi bakatnya, tetapi jumlahnya tidak banyak sehingga tidak memberikan dampak besar.
Kendati demikian, Yang Kai tidak menyalahkan Gu Jinnian.
Itu adalah masalah pada dirinya sendiri, tidak ada hubungannya dengan Gu Jinnian.
Namun mendengarkan para kaum terpelajar itu kembali berteriak-teriak melontarkan tuduhan kepada Gu Jinnian, ia merasa kesabarannya telah habis dan langsung naik ke atas gerbang kota untuk menegur keras puluhan ribu kaum terpelajar tersebut.
Mendengarkan ucapan Yang Kai, seketika wajah para kaum terpelajar itu menjadi pucat pasi.
Mereka mengira sekalipun Gu Jinnian mendefinisikan ulang tingkat Konfuansisme, hal itu tidak akan mempengaruhi diri mereka, namun tidak menyangka pada akhirnya mereka tetap harus menanggung akibatnya.
Bahkan seluruh kaum terpelajar di ibu kota tanpa terkecuali terkena imbasnya. Untungnya, kaum terpelajar di dalam ibu kota masih menjunjung tinggi nurani, meskipun energi bakat mereka berkurang sebagian, dampaknya tidak terlalu besar.
Dan ini bukanlah hal yang buruk; energi bakat yang dilucuti adalah energi bakat yang seharusnya tidak mereka miliki. Mereka memiliki kesalahan namun masih bisa memperbaikinya, dan di masa depan dengan memadatkan Qi Kebenaran yang Mulia, itulah esensi yang sesungguhnya serta memiliki masa depan tanpa batas.
Tentu saja, alasan lain kemunculan Yang Kai adalah karena ia khawatir Gu Jinnian benar-benar dikuasai kemurkaan dan melakukan tindakan yang tidak semestinya.
Sehingga ia sengaja naik ke atas gerbang untuk melampiaskan kemarahan demi membela Gu Jinnian.
"Yang Mulia Shizi, mendefinisikan ulang tingkat Konfuansisme bagi kaum terpelajar di seluruh dunia, ini adalah jasa kebajikan yang tiada taranya."
"Mulai hari ini dan seterusnya, orang yang tidak berakhlak tidak diperkenankan menginjakkan kaki di jalur Konfuansisme."
"Baik bagi rakyat jelata maupun bagi kelangsungan negara dan bangsa, Yang Mulia Shizi kembali menorehkan jasa yang abadi."
"Terimalah penghormatan dariku."
Pada saat ini, Yang Kai membungkuk dalam-dalam kepada Gu Jinnian.
Tindakan ini bukanlah kepalsuan, melainkan rasa hormat yang muncul dari lubuk hatinya.
Gu Jinnian tidak memanfaatkan perilaku orang-orang tersebut untuk mendefinisikan tingkat Konfuansisme secara sembarangan, sebaliknya ia justru memadatkan Qi dengan kebajikan, yang sangat selaras dengan jalan seorang junzi.
Hanya keluasan pandangan dan kelapangan dada seperti ini saja yang membuatnya merasa harus menaruh rasa hormat.
Dan apa yang diucapkannya bukanlah omong kosong belaka.
Mulai hari ini dan seterusnya, seluruh kaum terpelajar yang belum berhasil mengumpulkan energi bakat harus berkultivasi ulang, mereka perlu memupuk kebajikan terlebih dahulu.
Setelah memiliki kebajikan, barulah mereka dapat memadatkan Qi.
Ini adalah hal yang baik bagi kelangsungan negara dan bangsa.
Di masa depan, baik buruknya seseorang akan menjadi sangat mudah dinilai. Contohnya di dalam Ibu Kota Daxia, beberapa warga biasa justru berhasil memadatkan Qi Kebenaran yang Mulia.
Meskipun jumlahnya tidak banyak, hanya seberkas, hal itu menandakan bahwa orang tersebut memiliki kebajikan. Seorang junzi tahu apa yang harus diperbuat dan apa yang tidak boleh diperbuat.
Memiliki kebajikan berarti menjadi seorang junzi, dan orang seperti itu pasti akan dihormati oleh warga sekitar, mengumpulkan reputasi yang baik, serta menjadi teladan.
Bagi pihak istana kekaisaran, penyeleksian pejabat dapat langsung dinilai melalui Qi Kebenaran yang Mulia. Jika seorang pejabat tidak memiliki kebajikan, maka ia tidak layak memegang tanggung jawab yang besar.
Hal itu dapat menghemat banyak kerumitan dan perdebatan yang tidak perlu.
"Tuan Yang terlalu memuji."
"Saya hanya berbicara apa adanya dari lubuk hati."
Gu Jinnian tidak merasa sombong ataupun berbangga diri. Penggaris Suci yang meresap ke dalam tubuhnya sebenarnya turut melucuti sebagian kecil energi bakat miliknya.
Dirinya pun memiliki beberapa hal yang belum dilakukan dengan sempurna, namun masalah itu tidak besar. Bagaimanapun juga ia bukanlah seorang orang suci, dan setelah memahami situasinya, Gu Jinnian akan melakukan koreksi.
Secara bertahap belajar meneladani para orang suci, itulah hakekat Konfuansisme.
Tidak ada manusia yang sempurna.
Hanya saja, pandangan mata Gu Jinnian kini beralih menatap kelompok orang yang berada di bawah gerbang kota.
Ekspresinya turut mendingin secara total pada saat ini.
"Penggaris Suci ada di sini."
"Hari ini aku mengajukan tiga pertanyaan kepada kalian. Siapa pun yang tidak berani menjawab, akan dilucuti energi bakatnya dan diturunkan menjadi orang biasa yang tak berguna."
"Siapa pun yang memberikan jawaban palsu, dikategorikan sebagai orang yang tidak berbudi, dan akan menerima hukuman dari Penggaris Suci."
Gu Jinnian bersuara.
Masalah ini masih belum berakhir.
Ia mendefinisikan ulang tingkat pertama Konfuansisme bukan sekadar karena waktunya telah matang, melainkan yang lebih utama adalah ia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk melancarkan serangan balik.
Jika tidak, membiarkan kelompok orang ini terus membuat keributan akan membalikkan kebenaran menjadi kebohongan.
Opini publik sangatlah menakutkan, desas-desus mampu melelehkan emas, prinsip ini sangat dipahami oleh Gu Jinnian.
Oleh karena itu, hari ini ia bertekad untuk mengusut tuntas masalah ini.
Bum.
第(2/3)页
Seiring suara Gu Jinnian mereda, Penggaris Suci melayang di luar kota, tepat berada di atas kepala kelompok kaum terpelajar tersebut, memancarkan pendar cahaya yang menyilaukan.
Jika mereka menolak menjawab, energi bakat mereka akan langsung dilucuti. Jika ada yang berani memberikan jawaban palsu, maka mereka akan menerima hukuman berat dari Penggaris Suci.
Pada saat ini, tiga puluh ribu lebih kaum terpelajar itu saling berpandangan, mereka merasa berada di posisi yang serba salah.
Mereka mengira dengan mengerahkan massa yang banyak sudah cukup membuat Gu Jinnian merasa gentar, namun di luar dugaan, di saat-saat krusial Gu Jinnian justru mengeluarkan Penggaris Suci, yang seketika mengubah total situasi.
Penggaris Suci merepresentasikan kehendak para orang suci, merepresentasikan kehendak Langit.
Bagaimanapun cara mereka berdalih atau berdebat, di hadapan kehendak Langit, semuanya tidak lebih rapuh daripada debu.
"Pertanyaan pertama."
"Apakah kalian datang ke ibu kota karena dilandasi rasa iri hati?"
Gu Jinnian membuka suara.
Pertanyaannya sangat tajam dan menohok.
Ia memang berniat mempermalukan kelompok orang ini habis-habisan di hadapan publik. Kaum terpelajar macam apa mereka ini? Tanpa menggunakan cara semacam ini, apakah ke depannya setiap kali terjadi suatu masalah, mereka bisa dengan seenaknya menyebar rumor?
Begitu pertanyaan itu dilontarkan, seketika para kaum terpelajar itu terdiam seribu bahasa, masing-masing memasang rona wajah yang kelam.
Namun, beberapa orang menarik napas dalam-dalam dan memberikan jawaban.
"Kami tidak merasa iri, kedatangan kami murni demi kebenaran!"
Suara-suara bersahutan, tetapi jumlahnya tidak banyak, hanya tersebar dan berjumlah sekitar seratus atau dua ratus orang.
"Majulah melangkah ke depan sebanyak tiga puluh langkah."
Gu Jinnian bersuara, menyuruh orang-orang tersebut untuk maju.
Tanpa membuang waktu, orang-orang itu langsung melangkah maju. Mereka memiliki hati nurani yang bersih dan tidak takut Gu Jinnian akanmengingat identitas mereka lalu menjahili mereka di kemudian hari.
Sementara itu, yang lain turut memberikan jawaban secara diam-diam.
"Iya."
"Sedikit merasa iri."
"Ada rasa iri sebagian."
Jawaban-jawaban semacam itu cukup mendominasi. Meskipun suara mereka pelan, namun karena diucapkan oleh begitu banyak orang, suaranya tetap terdengar riuh.
Para warga mengamati dengan cermat, dan setelah mendapatkan jawaban tersebut, seketika makian meledak bagaikan badai guntur.
"Baguslah, ternyata benar begitu!"
"Iri hati kepada Yang Mulia Shizi, malah datang ke ibu kota berteriak-teriak tidak jelas."
"Sekumpulan hewan keparat ini, apakah mereka masih pantas disebut sebagai kaum terpelajar?"
"Siapa yang melahirkan anak-anak seperti ini, leluhur mereka pasti akan marah hingga mengeluarkan asap dari makam."
"Ini yang dinamakan kaum terpelajar? Benar-benar sekelompok sampah yang memalukan."
Berbagai macam makian membahana, para warga mencaci maki dengan geram. Sebelumnya mereka memang sudah merasa ada yang tidak beres, hanya saja mereka enggan ikut campur karena tidak memiliki bukti.
Yang satu membela argumennya, yang lain mempertahankan pembelaannya.
Kini, dengan dukungan dari Penggaris Suci, apakah mereka merasa iri atau tidak, mereka harus mengakuinya sendiri.
Begitu mereka mengakuinya, tentu saja gelombang makian pedas langsung menyusul.
"Suaranya dibesarkan!"
Di atas Gerbang Kota Utara, suara Gu Jinnian menggelegar bagaikan guntur.
Bukankah tadi suara mereka sangat besar?
Kenapa sekarang masing-masing mendadak menjadi bisu?
Bicaralah!
Berteriaklah!
Kenapa sekarang bungkam?
Seiring Gu Jinnian bersuara, seketika itu pula gelombang suara sahut-menyahut terdengar kembali.
"Aku dikuasai rasa iri."
"Aku sedikit merasa iri."
"Terdapat rasa iri di hatiku."
Suara-suara itu bersahutan.
Dan Penggaris Suci turut bergetar dalam sekejap, memadatkan empat hingga lima ribu pendar cahaya Penggaris Suci yang meresap masuk ke dalam tubuh orang-orang yang memberikan jawaban palsu tersebut.
"Argh!"
"Sakit, sakit, sakit!"
"Sakit sekali!"
Seketika itu pula, jeritan kesakitan bagaikan hantu meraung terdengar. Beberapa orang yang masih mencoba berdusta langsung melengkingkan jeritan kesakitan.
Siapa pun yang berbohong akan dihukum oleh Penggaris Suci, di mana jiwa mereka langsung disiksa, sepuluh kali lebih menyakitkan daripada pukulan penggaris besi pada daging fisik.
"Aku bertanya sekali lagi kepada kalian, apakah kalian datang ke sini karena dilandasi rasa iri hati?"
Gu Jinnian kembali bersuara.
Ia bertekad mengusutnya sampai tuntas.
"Ya, ya, ya, mohon Yang Mulia Shizi mengampuni nyawa kami!"
"Aku mengaku, aku datang memang karena merasa iri."
"Benar, kami iri, kami merasa iri."
Kali ini tidak ada lagi yang berani bertindak sembarangan. Masing-masing kesakitan hingga sekujur tubuh mereka gemetar, dan buru-buru memberikan jawaban jujur.
Benar saja, setelah menerima pelajaran pahit, kelompok orang itu langsung menjadi patuh.
"Pertanyaan kedua."
"Adakah di antara kalian yang mengetahui bahwa aku dijebak dan difitnah, namun tetap sengaja datang untuk memelintir keadaan dan menjatuhkanku?"
Gu Jinnian melanjutkan pertanyaannya.
Namun pada pertanyaan kali ini, sebagian besar orang benar-benar tidak melakukannya.
Mereka tahu bahwa masalah ini pasti tidak sesederhana kelihatannya di permukaan, tetapi mereka sengaja mengabaikannya, meski demikian mereka tidak mengetahui awal dan akhir masalah secara utuh.
Tentu saja, mereka tidak berniat khusus untuk memfitnah dan menjatuhkannya.
"Mohon Yang Mulia Shizi mencerminkan kebenaran. Kami hanya sesaat terperdaya oleh kebodohan dan dikuasai rasa iri, sehingga melakukan perbuatan yang seharusnya tidak kami lakukan."
"Benar, benar, mohon Yang Mulia Shizi sudi memaklumi. Betapa pun kacaunya kami, kami tidak akan bertindak serendah itu."
"Mengetahui Yang Mulia Shizi dizalimi, namun masih sengaja datang untuk memfitnah, perbuatan semacam itu tidak akan sanggup kami lakukan."
Cukup banyak suara yang membela diri.
Sebagian besar dari mereka memang memiliki batas moral itu, motif utama mereka hanyalah rasa kesal dan iri hati, selebihnya sama sekali tidak ada.
Namun, meskipun mayoritas bersikap demikian, sebagian kecil orang justru tampak gemetar sekujur tubuh dengan rona wajah yang pucat pasi.
Kelompok orang ini tidak berani membuka suara.
Namun Penggaris Suci telah bergetar, bersiap untuk diaktifkan sewaktu-waktu.
"Siapa yang menolak menjawab, akan dilucuti energi bakatnya dan diseret ke Markas Lentera Gantung."
Gu Jinnian berucap dengan dingin.
Akhirnya, beberapa orang tidak mampu bertahan lebih lama lagi.
"Mohon Yang Mulia Shizi berkenan mengampuni dosa kami. Saya telah dibutakan oleh pikiran sesat, saya benar-benar bajingan yang tidak tahu diri, mohon Yang Mulia Shizi sudi mengampuni."
Suara pertama terdengar.
Orang itu adalah salah satu dari sepuluh orang yang keluar barisan paling awal. Ia berlutut di atas tanah, memohon ampun kepada Gu Jinnian.
Seiring satu orang membuka suara, gelombang suara pengakuan lainnya menyusul tak lama kemudian.
Jumlahnya ternyata tidak sedikit, jika diamati sekilas mencapai empat hingga lima ratus orang.
Para warga menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, dan pada saat yang sama mereka juga merasa sangat geram di dalam dada.
Mereka tidak takut dengan orang bodoh, yang ditakuti adalah orang yang berhati busuk. Meskipun jumlah orang seperti ini tidak banyak, merekalah provokator yang sengaja memimpin opini publik. Tanpa keberadaan mereka, masalah ini tidak akan berkembang hingga separah ini.
Adapun para kaum terpelajar lainnya, mereka turut merasa tercengang.
Setelah itu mereka pun berbalik memaki, menganggap kelompok orang tersebut sebagai provokator utama yang sengaja berbuat jahat dan memanfaatkan rasa iri di dalam hati mereka.
Bahkan ada beberapa orang yang menuntut Gu Jinnian untuk menjatuhkan hukuman berat kepada para provokator tersebut.
Penggaris Suci tidak menunjukkan reaksi apa pun, yang menandakan bahwa orang-orang itu telah mengakui perbuatannya.
"Pertanyaan ketiga dariku untuk kalian: adakah di antara kalian yang menerima hasutan atau perintah dari Klan Kong?"
Gu Jinnian melontarkan pertanyaan ketiganya.
Begitu pertanyaan itu terlontar.
Seketika suasana menjadi hening seketika.
Banyak orang terkejut hingga terbungkam.
Dua pertanyaan Gu Jinnian sebelumnya masih bisa dimaklumi, tidak lain adalah demi menuntut keadilan.
Namun pertanyaan ketiga ini, mengandung makna yang sangat mendalam dan penuh teka-teki.
Tiga puluh ribu lebih kaum terpelajar itu saling bertukar pandang. Sebagian besar dari mereka memang tidak terlibat.
Namun, memang ada segelintir orang, lebih tepatnya sebagian kecil orang, yang menampilkan rona wajah kurang menyenangkan.
"Aku tidak."
"Aku juga tidak."
"Aku bahkan tidak mengenal orang dari Klan Kong, mustahil bagiku menerima hasutan mereka."
Berbagai suara bersahutan.
Namun, segelintir orang tertentu memilih untuk tetap bungkam tanpa memberikan jawaban.
Jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar sepuluh orang.
"Kenapa kalian tidak menjawab?"
Gu Jinnian berdiri di atas gerbang kota, menatap mereka dengan nada bicara yang dingin.
"Kami... kami menolak menjawab."
"Gu Jinnian, bunuh atau sembelih kami, terserah padamu. Kami tidak terima, dan kami tidak mau menjawab."
"Benar, kami memang tidak terima! Kau menggunakan artefak suci untuk menindas kami, pertanyaan apa pun yang kau ajukan, kami tidak akan menjawabnya!"
Orang-orang itu bersuara menentang.
Rupanya di antara pilihan menyinggung Klan Kong atau menyinggung Gu Jinnian, mereka tanpa ragu memilih opsi terakhir.
Kendati demikian, sikap semacam itu sudah cukup membuat banyak orang menaruh kecurigaan.
Mengapa menolak menjawab?
Tidak lain karena hati nurani mereka sedang merasa bersalah.
Mendapatkan jawaban tersebut.
Gu Jinnian pun dapat menarik kesimpulan di dalam hatinya. Ia sebenarnya sudah menebak hasil ini, sehingga ia tidak merasa murka karenanya.
"Prajurit, tangkap semua orang ini! Jebloskan ke Markas Lentera Gantung, dan interogasi mereka secara paksa untuk mengungkap siapa dalang di balik layar!"
"Adapun ratusan orang ini, saya bebaskan."
"Kalian mungkin tidak tunduk kepadaku, dan itu bukanlah sebuah kesalahan. Tetapi berkumpul membuat keributan, biarlah ini menjadi yang pertama dan terakhir kalinya."
Gu Jinnian berucap. Orang-orang yang memilih bungkam itu langsung ditangkap dan diseret untuk disiksa dengan interogasi tingkat tinggi.
Bisa dibilang ini adalah cara membunuh ayam untuk memberi pelajaran kepada monyet.
Adapun kelompok orang yang memang murni menentang dirinya secara terang-terangan, Gu Jinnian tidak menjatuhkan hukuman.
Tidak tunduk pada diri sendiri lantas harus dihukum? Itulah watak lalim yang sesungguhnya.
Gu Jinnian paham betul di dalam hatinya, bahkan uang kertas berharga pun ada orang yang tidak menyukainya, apalagi dirinya sebagai manusia?
Benar adalah benar, salah adalah salah, pelanggaran harus dihukum sesuai porsinya.
Setelah itu, Gu Jinnian mengalihkan pandangannya kepada mayoritas kaum terpelajar lainnya, mereka yang sembilan puluh sembilan persennya datang hanya karena merasa iri dan ikut-ikutan mencari masalah.
"Adapun kalian."
"Kembalilah ke rumah masing-masing, jalani tahanan rumah selama tiga bulan, salin naskah kitab suci para orang suci sebanyak seribu kali. Kapan pun kalian berhasil menegakkan kebajikan di dalam diri kalian, barulah kalian boleh kembali mengikuti ujian kekaisaran. Aku memberikan kesempatan kepada kalian untuk bertobat."
"Tetapi, jika kalian berani mengulanginya lagi, aku tidak akan menunjukkan belas kasihan sedikit pun."
Hukum tidak dapat diterapkan untuk menghukum orang dalam jumlah banyak sekaligus.
Tiga puluh ribu orang lebih, Gu Jinnian mustahil menghukum semuanya sekaligus. Mengenai usulan Yang Kai untuk mencabut hak ujian kekaisaran mereka selama tiga periode, hukuman itu terlalu berat.
Memang terasa memuaskan, namun hal itu juga akan mendatangkan kebencian dari banyak orang, jadi tidak ada artinya. Memiliki rasa iri adalah hal yang wajar bagi manusia.
Namun, dalam hal menjatuhkan hukuman pun harus ada batasnya.
Jika mereka mampu menegakkan kebajikan, itu adalah hal yang bagus.
Tetapi jika mereka tidak memiliki kebajikan, mereka tetap dilarang mengikuti ujian kekaisaran, bentuk hukumannya tetap sama.
Hanya saja, tindakan Gu Jinnian justru membuat banyak orang merasa terkejut, bahkan para pejabat istana pun ikut merasa heran.
Para kaum terpelajar itu terlebih lagi dibuat terpana.
Mereka mengira bencana besar sedang menanti mereka, namun di luar dugaan Gu Jinnian justru memaafkan mereka.
Seketika itu pula, rasa penyesalan yang mendalam merayap di lubuk hati para kaum terpelajar tersebut.
"Kami merasa malu di hadapan Yang Mulia Shizi, mohon Yang Mulia tenang. Peristiwa hari ini akan kami ingat baik-baik di dalam hati, ke depannya kami pasti akan menegakkan kebajikan dan ketulusan hati."
"Ini semua karena rasa iri kami yang merajai diri, Yang Mulia Shizi benar-benar memiliki kelapangan dada yang agung."
"Kami mengagumi keluasan hati Yang Mulia."
Pada saat ini, mereka mengucapkan kata-kata itu dari lubuk hati yang paling dalam.
Mereka bersuara silih berganti, bukan semata-mata karena lolos dari malapetaka, melainkan karena kelapangan dada dan kebesaran jiwa seperti itu benar-benar membuat mereka merasa kagum dan tunduk.
Bahkan Menteri Ristek Yang Kai yang berdiri di atas tembok kota turut merasa terkejut.
Ia tidak menyangka Gu Jinnian akan bersikap demikian, memadukan ketegasan dan kelonggaran secara seimbang, sungguh sebuah siasat yang luar biasa.
Seketika itu pula, Yang Kai kembali membungkuk hormat kepada Gu Jinnian.
"Yang Mulia Shizi, benar-benar memiliki dada yang seluas samudra."
Pujinya penuh kagum.
Sementara Gu Jinnian menggelengkan perlahan kepalanya, lalu kembali membuka suara.
"Siapa pun yang berasal dari Kediaman Qu, kembalilah dan sampaikan pesan ini kepada Klan Kong."
"Aku akan menempuh perjalanan ribuan mil, menyusuri jalan para orang suci, dan bulan depan aku akan berkunjung ke Klan Kong untuk menghadiri jamuan makan keluarga mereka."
"Segala macam dendam dan perselisihan, akan kita selesaikan satu per satu di jamuan makan Klan Kong."
"Selama rentang waktu ini, jangan mencoba bermain intrik atau kelicikan apa pun, jika tidak, aku tidak keberatan untuk meruntuhkan Klan Kong."
Gu Jinnian berucap.
Sikapnya sangat mendominasi.
Pernyataan yang disampaikan kepada khalayak ramai ini pada dasarnya adalah sebuah tanggapan jarak jauh.
Jamuan makan Klan Kong, ia pasti akan datang.
Hanya saja, ia harus bermeditasi memahami Dao terlebih dahulu.
Mencapai tingkat Mengetahui Kesucian dan Menegakkan Sabda.
Lalu mendatangi kembali Klan Kong.
Tetapi selama rentang waktu ini, ia tidak ingin diganggu, sehingga ia berharap Klan Kong bisa sedikit menahan diri.
Jika mereka masih berani menyebarkan rumor dan membuat keributan semacam ini, ketika ia menginjakkan kaki di Klan Kong nanti, ia sama sekali tidak akan memberikan muka sedikit pun.
----
----
----
----
Bab pertama hari ini sudah terbit, masih ada bab selanjutnya, tetapi aku mau tidur dulu.
Ada tiga hal yang ingin disampaikan.
Pertama, bulan depan, bulan Juli, aku berencana menggenjot peringkat daftar tiket bulanan, jadi aku ingin mengajak para pembaca setia yang ingin mendukung untuk bergabung ke grup VIP.
Nomor grupnya adalah: 879692676. Setelah masuk grup, carilah pengurus grup untuk dipindahkan ke grup VIP. Prosesnya agak merepotkan, tapi mohon dimaklumi.
Kedua, awal bulan Juli aku sudah membuat janji untuk melakukan transplantasi rambut, jadi jadwal pembaruan rutin kemungkinan akan pulih normal pada tanggal 2 atau 3 Juli. Di samping itu, aku ingin bertanya kepada para pembaca yang memiliki pengalaman transplantasi rambut, apakah terasa sakit? Jika terlalu sakit, aku akan mempertimbangkan untuk menundanya dulu, meskipun kepalaku sudah botak dan foto-fotonya pun hasil editan.
Ketiga, akhir bulan sudah tiba, mohon dukungannya dengan tiket bulanan!!!!!!!!!!
7017k