Bab 13: Faksi Chu
"Para anggota kabinet dan Adipati Xiangcheng ikut aku menuju aula samping, yang lainnya tetap di sini! Tunggu hingga Luo Yangxing dan Wang Zhixin kembali, hanya setelah semuanya jelas baru boleh pergi."
"Paduka, mohon ampun! Hamba telah berbuat salah."
"Paduka, demi jasa nenek moyang hamba, mohon kasihanilah hamba sekali ini!"
Di tengah suara-suara permohonan ampun, Zhu Lian meninggalkan Balairung Huangji.
Sebelum pintu balairung tertutup, ia sengaja berkata pada Li Ruolian, "Li Ruolian."
"Hamba di sini!"
"Kirim orang untuk menjaga tempat ini, berikan makanan dan minuman jika diminta, barang siapa berani meninggalkan tempat tanpa izin, penggal!"
"Hamba akan melaksanakan."
Setelah keluar dari Balairung Huangji, Zhu Lian menarik napas panjang.
Dalam sejarah, kaisar Chongzhen selalu menyalahkan para pejabat atas kemalangannya. Dulu Zhu Lian tak percaya, kini ia benar-benar yakin.
Jika ini masa damai dan makmur, ia mungkin masih bisa menutup mata terhadap korupsi para pejabat. Namun sekarang, di tengah kekacauan perang dan bencana, Dinasti Agung Ming sudah kehabisan darah untuk dihisap. Jika masih terus dihisap, negara akan hancur dan bangsa punah.
Celaka!
Apa yang tak berani dilakukan oleh Chongzhen, aku Zhu Lian yang akan melakukannya!
Orang-orang yang tak berani dibunuh oleh Chongzhen, akan aku bunuh!
Nama buruk yang tak mau dipikul Chongzhen, akan kupikul!
Dinasti Agung Ming yang tak mampu diselamatkan Chongzhen, akan kuselamatkan!
Setelah kegembiraan itu reda, Zhu Lian segera kembali tenang.
Dari dulu, raja memerintah pejabat, pejabat memerintah rakyat. Rakyat menghidupi raja, raja memelihara pejabat.
Kini baik raja maupun rakyat sama-sama miskin, ke mana uang itu pergi, masih perlu dipertanyakan?
Hari-hari ke depan, istana akan menjadi medan perang.
Sepanjang sejarah, kaisar selalu membiarkan pejabat korupsi sampai batas tertentu, ini adalah salah satu cara mengendalikan manusia dalam ilmu pemerintahan.
Manusia pada dasarnya cenderung pada kejahatan.
Ada yang rakus harta, ada yang gemar wanita, ada yang haus kekuasaan.
Tak ada manusia hidup yang tanpa nafsu dan keinginan, hanya orang mati yang tak punya keinginan.
Apakah orang rakus harta benar-benar cinta uang? Tidak, yang mereka sukai adalah proses korupsi itu sendiri.
Soal nafsu wanita, yang ini tak perlu dibahas, lewati saja.
Mereka yang haus kekuasaan pun bukan karena suka kekuasaan, melainkan menikmati rasa dihormati.
Setiap kaisar punya batas toleransi sendiri, sehingga menghasilkan tipe pejabat yang berbeda.
Karena itu, setiap kali kaisar baru naik tahta, pejabat yang berjaya di masa lalu biasanya akan bernasib buruk.
Tak lain karena batas toleransi kaisar baru lebih tinggi.
Penguasa bijak mampu memuaskan sisi kelam para pejabatnya, namun tetap membuat mereka tahu batasan.
Barulah bisa memerintah dengan langgeng.
Kini situasinya berbeda, istana pun berbeda. Demi uang, harus ada pejabat korup yang dijadikan contoh.
Setelah tiba di aula samping, Zhu Lian pertama-tama memanggil Li Banghua secara pribadi.
Belum sempat pintu aula tertutup, Zhu Lian langsung masuk ke inti permasalahan, "Pemberontak sebentar lagi tiba, pasukan penjaga ibu kota kosong, Kementerian Militer harus segera mulai merekrut pasukan!"
"Siap, Paduka. Tapi, perihal uang peraknya..."
"Itu benar-benar ada."
Li Banghua akhirnya bisa bernapas lega.
Ia mendongak menatap Chongzhen, wajahnya memang tenang, tapi hatinya sangat khawatir.
Uang, uang, uang!
Dinasti Agung Ming tak kekurangan apa pun, kecuali uang.
Kini, dengan susah payah uang baru didapat, tapi pemberontak sudah hampir tiba di gerbang kota.
"Paduka, kalau uang sudah ada, bukankah sebaiknya penertiban rumah pejabat ditunda dulu? Penertiban itu hanya bisa memecahkan masalah sesaat, dan itu pun seperti minum racun untuk menghilangkan dahaga! Penertiban saat ini justru akan melemahkan pertahanan kota!"
"Aku tahu batasannya, jelaskan rencana perekrutan pasukan."
Li Banghua berpikir sejenak, lalu berkata, "Rencanaku, pertama-tama, membayar gaji yang selama ini tertunda untuk tiga kamp utama, lalu memberikan lima tael perak sebagai uang pertahanan kota. Pasukan ini memang bukan pasukan elit, tapi setidaknya sudah terbiasa dengan senjata api dan panah, jauh lebih baik dari rakyat biasa."
"Selanjutnya, di seluruh penjuru ibu kota akan didirikan lebih dari seratus pos perekrutan, yang muda dan kuat akan diberi empat tael perak, yang tua tiga tael."
"Bagaimana menurut Paduka?"
Zhu Lian mengangguk lalu menggeleng, "Bagian awal tak ada masalah, tapi syarat perekrutan terlalu berat. Kali ini, syarat perekrutan harus dilonggarkan, siapa pun yang masih bisa mengangkat batu bata boleh direkrut."
Janggut putih Li Banghua bergetar, ia bertanya heran, "Paduka, selama ini perekrutan selalu hanya untuk yang muda dan kuat, syarat Paduka terlalu longgar."
Zhu Lian tersenyum pahit dan menggeleng, "Apa aku tak tahu? Tapi di ibu kota sekarang wabah pes sedang merajalela, jangankan yang muda dan kuat, yang tua, anak-anak, dan wanita yang masih bisa bertempur pun berapa banyak jumlahnya?"
Li Banghua menatap, sorot matanya yang cekung menampakkan perasaan rumit.
Benar, musuh Dinasti Agung Ming bukan hanya pemberontak, tapi juga wabah, bangsa Jian, pejabat korup...
"Akan... akan hamba laksanakan." Li Banghua berlutut menerima perintah, lalu keluar dari aula samping.
Orang kedua yang dipanggil menghadap adalah Qiu Yu.
"Paduka!" Baru saja dipromosikan menjadi Menteri Personalia, Qiu Yu sangat bersemangat, semangatnya membara.
"Siapkan diri, aku ingin mengaktifkan kembali pemeriksaan pejabat di ibu kota."
Pemeriksaan pejabat?
Begitu mendengar kata itu, semangat Qiu Yu langsung surut.
Pemberontak sudah hampir di gerbang kota, para pejabat sipil dan militer seharusnya bersatu mempertahankan kota, mengaktifkan kembali pemeriksaan pejabat di saat seperti ini sama saja dengan memotong tangan sendiri.
Selain itu, hasil pemeriksaan pejabat kini sudah jauh berbeda dari tujuan awalnya.
Sistem pemeriksaan itu sendiri tak salah, tujuannya adalah memberi penghargaan dan hukuman secara adil agar para pejabat menjalankan tugas dengan baik demi pemerintahan negara.
Yang salah adalah para pejabat yang memanfaatkan nama pemeriksaan untuk menyingkirkan lawan politik.
Banyak pejabat yang tak terlibat dalam konflik partai pun, demi menyelamatkan diri, akhirnya terpaksa ikut bersekongkol.
"Paduka... mengaktifkan kembali pemeriksaan pejabat saat ini rasanya kurang tepat?" tanya Qiu Yu dengan hati-hati.
"Kau mengajari aku cara memerintah?"
Qiu Yu langsung berlutut, "Paduka, mohon jangan marah, hamba hanya mengemukakan pendapat."
Zhu Lian tersenyum tipis, "Tentu aku tahu ini bukan waktu yang tepat, makanya aku memintamu bersiap-siap dulu."
Bersiap-siap?
Qiu Yu kebingungan.
Apa yang perlu disiapkan untuk pemeriksaan pejabat? Bukankah hanya menilai promosi dan degradasi berdasarkan kinerja tahunan para pejabat dengan prinsip tertentu?
Semua catatan sudah tersedia di Kementerian Personalia, tak perlu persiapan apa pun.
"Paduka, mohon petunjuk!"
"Selidiki siapa saja yang punya kinerja luar biasa, dan pejabat yang mereka rekomendasikan untuk bertugas di daerah!"
"Setelah semuanya terdata, serahkan daftarnya padaku. Ini penting. Ingat, lakukan semuanya secara rahasia, jangan sampai bocor."
"Pergilah, urusan Kementerian Personalia sangat penting bagi istana, kau harus sangat berhati-hati."
"Hamba akan laksanakan."
Setelah Qiu Yu pergi, yang berikutnya dipanggil adalah Fang Yuegong.
Tugas di Kementerian Keuangan bukan hal mudah.
Kalau mudah, tak mungkin ada lima wakil menteri di sana, hanya kalah jumlah dari Kementerian Militer yang punya empat wakil menteri.
"Fang Yuegong, tahu kenapa aku memilihmu untuk tugas di Kementerian Keuangan?"
Fang Yuegong orang yang cerdas, ia membetulkan topi resminya dan berkata serius, "Paduka punya pandangan tajam, benar-benar seorang penguasa bijak."
Zhu Lian sempat tertegun.
Pujian ini bukan cuma membuat kaisar senang, tapi juga mengangkat harga dirinya sendiri.
Memang, kaum terpelajar itu sungguh punya cara tersendiri.
"Kau tak takut aku menuduhmu bermulut manis dan licik?"
Fang Yuegong membungkuk dalam-dalam, "Seorang penguasa tentu berhati lapang, takkan mempermasalahkan hal sepele dengan bawahannya."
Zhu Lian menunjuk kepala Fang Yuegong, tertawa terhibur.
Setelah menahan tawanya, Zhu Lian membalikkan badan dan bertanya, "Kau berasal dari Huguang?"
"Benar, hamba berasal dari Gucheng, Huguang."
"Huguang..." Zhu Lian bergumam, "Sebagian besar pejabat Huguang adalah anggota Faksi Chu, bukan?"
Fang Yuegong sempat tertegun, lalu tubuhnya terasa dingin dan lututnya lemas.
Dengan diam-diam ia menelan ludahnya, lalu menjawab, "Paduka, sepertinya memang begitu."