Bab 119: Aku Akan Mengganti Langit untuk Kalian
Halaman (1/3)
“Sejarah selalu saja begitu mirip…” Jiang Fan tiba-tiba bergumam tanpa juntrungan. Kemudian ia berkata, “Dengan semangat menelan ribuan li bagaikan harimau, menjadikan rakyat di seluruh dunia sebagai bidak catur, memang sudah sepantasnya Qin Agung menyatukan dunia. Semoga kau menaklukkan wilayah yang luas, menyatukan ukuran roda kereta, menyamakan tulisan, dan menciptakan zaman keemasan bagi bangsa.”
“Menyatukan ukuran roda kereta, menyamakan tulisan… zaman keemasan bangsa…” Mata sang Permaisuri memancarkan cahaya tajam. “Ucapanmu benar-benar sesuai dengan keinginanku. Segala macam standar yang kacau di dunia ini harus diseragamkan. Suku-suku asing yang berantakan itu juga harus tunduk kepada bangsa Hua yang agung. Pada akhirnya, di seluruh dunia, hanya kau, seorang nelayan, yang benar-benar memahami diriku. Sayang sekali…”
Jiang Fan melambaikan tangannya. “Tidak ada yang perlu disayangkan. Aku bukan orang yang tepat untuk itu. Terlebih lagi, aku tidak ingin namaku tercatat dalam riwayat Kaisar Pendiri di masa depan.”
Sebab, seharusnya aku memang tidak pernah ada di dunia ini, pikir Jiang Fan dalam hati.
Ying Wushuang tidak mengetahui apa yang dipikirkannya, tetapi ia menunjukkan minat yang sangat besar pada satu istilah.
“Kaisar Pendiri? Bagus. Membuka awal bagi sepuluh ribu generasi, menjadi kaisar bagi seluruh dunia. Aku… akan meraih jasa yang melampaui zaman dan membuat namaku dikenang sepanjang masa!”
Jiang Fan menghela napas panjang dalam hati. Kaisar terbesar sepanjang sejarah! Dunia yang berbeda, tetapi begitu mirip. Entah apakah Naga Leluhur itu pernah membayangkan bahwa akan ada seekor Fenghuang Leluhur yang memandangnya dari kejauhan, terpisah oleh ruang dan waktu.
Dengan sang Permaisuri berkuasa, mungkinkah sejarah di ruang dan waktu ini menyimpang, lalu memasuki masyarakat matriarkal?
Pikiran Jiang Fan melantur tak pada tempatnya.
Ying Wushuang tiba-tiba mengangkat kepala dan menatap kejauhan. “Yang seharusnya datang akan segera tiba. Ayo pergi. Selama tujuh hari ini, semakin jauh kita bersembunyi, semakin baik.”
“Delapan Beruang Gunung Hitam dan Perkumpulan Layar Hitam kuserahkan kepadamu. Kumohon perlakukan mereka dengan baik.”
Ying Wushuang berkata, “Selama kau belum mati, aku tidak akan menerima mereka.”
Jiang Fan menjawab, “Kalau begitu, setelah aku mati, kumohon kau mengurus mereka dengan lebih baik.”
“Jasa dan pangkat harus diraih di medan perang. Aku tidak akan memberi perlakuan khusus.”
Jiang Fan tersenyum. “Sejak awal, mereka semua sudah kau izinkan untuk digunakan. Bagaimana kau hendak memanfaatkannya adalah urusanmu. Namun, setelah mendengar ucapanmu itu, aku merasa bisa pergi dengan tenang.”
Ia berpikir sejenak, lalu mengeluarkan sebuah lencana dari balik bajunya. “Sepertinya ini milikmu. Kukembalikan kepadamu.”
Ying Wushuang menerimanya dan mengamatinya. Tiba-tiba, ia menjulurkan satu jari yang ramping. Dengan kukunya, ia menggores sebuah lingkaran di bagian tengah lencana itu. Ajaibnya, bagian tersebut langsung tercungkil. Ia menyimpan kepingan bundar di tengahnya, lalu melemparkan lencana berlubang itu kepada Jiang Fan.
“Untukmu.”
Jiang Fan ternganga. Ini apa? Lencana berlubang? Tiba-tiba rasa sedih yang tak jelas menyergapnya. Rasanya benar-benar seperti hatinya telah dicungkil.
“Kau… tidak ada hal lain yang ingin kau tanyakan kepadaku?”
Ying Wushuang menatapnya. “Kota Kebahagiaan Tertinggi? Cucu Mahkota? Atau utusan Kunlun yang turun ke dunia? Sekalipun kutanyakan, kau juga tidak akan menjawab.”
Jiang Fan tersenyum. “Lihat? Bukan hanya aku yang memahami dirimu. Kau juga sangat memahami diriku.”
“Sayangnya, jalan yang kita tempuh berbeda.”
“Kelak kau akan mengerti… Ngomong-ngomong, bukankah jam saku itu seharusnya dikembalikan kepadaku?”
Ying Wushuang berkata dengan suara dingin, “Kita sudah melangsungkan upacara pernikahan. Dalam hidup ini, hanya sekali itu aku menikah.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Jiang Fan menghela napas tanpa daya. “Aku sudah menduganya.”
“Selain itu…” tiba-tiba ia berkata, “kau masih berutang satu cincin kepadaku.”
Jiang Fan tertegun sejenak, lalu dengan kesal menggaruk rambutnya. “Tidak belajar dari pengalaman. Anggap saja saat itu aku mabuk dan bicara sembarangan…”
“Enyah!” kata Ying Wushuang tanpa basa-basi.
“Baiklah… Shaoan, kita harus pergi. Belok ke selatan. Kita harus memutari medan perang.”
“Terus maju.”
Ying Wushuang berjalan lurus ke depan. “Bagaimana mungkin pria milik Ying Wushuang memutar jalan?”
Sungguh mendominasi. Sungguh angkuh!
Jiang Fan pun merasakan darah panas mengalir ke kepalanya.
Benar juga. Sekalipun hanya pernah menjadi prianya selama sehari, ia tetaplah prianya.
“Shaoan, kendalikan kereta!”
“Siap melaksanakan perintah Tuan Muda!”
Sebuah kereta kuda yang sangat biasa, ditemani sang Permaisuri yang melayang di udara, melaju lurus menuju medan perang yang penuh darah dan daging beterbangan. Pemandangan itu sungguh tidak selaras dengan sekelilingnya.
Mereka menerobos masuk ke tengah-tengah pasukan yang tak terhitung jumlahnya. Ke mana pun mereka lewat, para penunggang kuda hitam menyingkir. Dalam jarak sepuluh zhang, pasukan musuh seolah dicabik-cabik oleh energi pedang yang memenuhi langit. Bahkan tidak ada mayat yang tersisa untuk membuat kereta itu berguncang, sebab mereka semua telah meledak menjadi debu.
Jiang Fan begitu terkejut hingga tak mampu berkata-kata. Inilah kekuatan Ying Wushuang yang sesungguhnya. Permaisuri Qin Agung itu bukan hanya memiliki kecerdasan yang tiada banding, kekuatan tempurnya pun mengguncang langit dan bumi.
Nama Wushuang benar-benar pantas disandangnya!
Tiba-tiba, di tengah pasukan yang tak terhitung banyaknya, Ying Wushuang berhenti melangkah.
“Akhirnya mereka datang. Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini.”
Setelah berkata demikian, ia berseru ringan, “Pedang!”
Seberkas cahaya putih seolah datang dari luar langit, lalu jatuh ke tangannya.
“Akan kubukakan jalan untukmu. Pergilah sendiri.”
Setelah berkata demikian, ia menebaskan pedangnya dengan santai. Kerumunan manusia sepanjang seratus zhang di hadapannya terbelah oleh tebasan itu, membentuk jalan selebar tiga zhang. Pasukan musuh ketakutan. Mereka hanya bisa menyaksikan kereta kuda yang begitu biasa itu melaju perlahan melewati mereka. Tak seorang pun berani melangkah melewati batas.
Kereta itu semakin jauh. Tatapan Ying Wushuang beriak sesaat, tetapi segera kembali tenang. Ia mendongak menatap langit yang jauh, sorot matanya setajam kilat.
“Para makhluk langit, kalian menghalangi urusan dunia fana. Kalau begitu, akan kuberi kalian langit yang baru!”
Gemuruh dahsyat terdengar dari belakang. Ruang kosong antara langit dan bumi seolah bergetar. Ding Shaoan mencengkeram tali kekang erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Seluruh tubuhnya basah kuyup seperti baru disiram air. Ia tidak tahu bagaimana bisa sampai sejauh ini. Ia hanya bersyukur bahwa dirinya ternyata tidak pingsan.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Ia ingin menoleh ke belakang.
Namun Jiang Fan berkata, “Jangan menoleh lagi…”
Suaranya terdengar agak aneh. Ding Shaoan tidak tahu apakah Jiang Fan sedang berbicara kepada dirinya sendiri atau kepadanya. Namun pada akhirnya ia tidak menoleh. Kereta itu terus melaju menuju kejauhan.
Di kaki langit, seberkas petir membelah langit dan bumi. Awan hitam seolah tersobek. Seberkas cahaya langit tiba-tiba menembus turun, menyerupai miliaran anak panah tajam—begitu menyilaukan, begitu penuh semangat kehidupan…
“Jadi… kau adalah suami sang Permaisuri…”
Ding Shaoan membiarkan kereta itu berjalan tanpa tujuan. Dengan tangan gemetar, ia membuka kendi arak, lalu menenggaknya dua kali.
Jiang Fan duduk di sisi lain, juga memegang sebuah kendi. Wajahnya tampak agak lesu.
“Bisa dibilang begitu. Bagaimanapun juga… dia tidak akan menikah lagi.”
Ding Shaoan kembali meneguk arak.
“Kau sangat takut kepadanya?” tanya Jiang Fan.
Tangan Ding Shaoan masih gemetar. “Takut. Takut setengah mati. Bagaimana mungkin aku tidak takut kepada seseorang yang mampu melawan langit? Kau tahu tidak, lukisan wajah sang Permaisuri bukan rahasia. Saat itu, ketika melihat wajahnya, aku hampir mati ketakutan. Sial, keberuntungan macam apa yang membawaku sampai sejauh ini…”
Jiang Fan meliriknya. “Hanya bisa dikatakan, itu keberuntungan yang luar biasa besar—atau kemalangan yang juga luar biasa besar.”
Ding Shaoan seolah teringat sesuatu. “Pantas saja hari itu kau berkata kepada Nangong Xin bahwa dia mungkin adalah kusir paling beruntung di dunia. Saat itu kau sudah tahu bahwa dia adalah sang Permaisuri, bukan? Atau sejak menemukan lencana itu, kau sudah mulai menduganya?”
Jiang Fan tertawa getir. “Tahu atau tidak, apa bedanya? Bukankah pada akhirnya aku tetap terjun ke dunia persilatan ini? Kalau dipikir-pikir, sungguh seperti kesurupan.”
“Kesurupan? Orang sepertimu juga bisa mengalaminya? Aku bukan orang seperti kalian. Mungkin seumur hidup aku tidak akan pernah memahami apa yang sebenarnya kalian pikirkan. Namun…”
Ia menoleh dan memandang Jiang Fan. “Aku selalu merasa bahwa kau pantas menjadi pasangan sang Permaisuri. Dan hanya kau.”
Jiang Fan menyandarkan satu lengannya di sisi kereta. Dengan tangan yang lain, ia memegang kendi dan mengetukkannya perlahan pada bibir kusen kereta, sambil bersenandung melodi aneh yang belum pernah didengar Ding Shaoan.
“… entah ini karena kesurupan…”
“… entah ini jodoh dari kehidupan sebelumnya…”
“… tetapi semua itu kini tak lagi penting…”
…
Halaman (3/3)