Bab 163: Jin dan Xia Memulai Perang
Semua orang tahu, setelah sebuah mahakarya puisi yang mengenang masa lalu di tebing merah baru saja menggemparkan dunia, tak disangka, disusul pula dengan kemunculan sebuah sajak kesatria yang mengagumkan. Pemuda ini pasti akan kembali harum namanya di seluruh penjuru negeri.
"Malam ini, sepertinya engkau sekali lagi bertambah satu julukan indah sebagai kesatria muda."
Ucap sang Kaisar Wanita dengan nada datar.
Jiang Fan pada saat itu telah memiliki sedikit rasa mabuk. "Bukankah ini semua yang Engkau inginkan?"
Kaisar Wanita mengangkat mata phoenix-nya untuk menatapnya. "Engkau mengerti?"
Jiang Fan tersenyum pahit. "Apa lagi yang tidak kumengerti? Membongkar identitas-ku berarti Engkau ingin membuat namaku dikenal; perjamuan malam para pejabat istana bahkan bertujuan untuk mengikatku dengan label Da Qin, bagaimana mungkin aku tidak mengikuti keinginan-Mu."
"Lagi-lagi karena belum cukup menikmati hidup?"
"Tentu saja. Aku tahu bahwa datang ke Da Qin pun tidak akan bisa hidup tenang. Selama aku ingin bertahan hidup dengan baik di bawah pengawasan-Mu, tentu harus ada beberapa hal yang membuat-Mu merasa puas."
"Itulah sebabnya engkau menerima semua pemberian dari para pejabat istana."
"Aku tidak boleh menunjukkan sikap pilih kasih."
Kaisar Wanita berkata, "Engkau sangat memahami seni menjadi seorang pejabat."
Jiang Fan tersenym tipis. "Aku tidak berniat menjadi pejabat, ini hanyalah cara untuk menyelamatkan nyawa saja, mohon Yang Mulia jangan terlalu memuji-ku."
Kaisar Wanita berujar, "Engkau membuka diri selapis demi selapis, dan aku melihatnya dengan jelas, tidak perlu terlalu berhati-hati. Aku bukanlah orang yang haus darah."
Apa yang bisa dikatakan Jiang Fan? Apakah dia harus mengatakan bahwa kediaman yang ditinggalinya hari ini, serta pemilik Taman Qinglian yang dimintanya tempo hari, semuanya telah dibantai habis olehmu?
Kaisar Wanita sepertinya membaca apa yang ada di dalam hatinya. "Membeli Kediaman Fanren dan meminta Taman Qinglian, semuanya sengaja ditunjukkan kepada orang lain. Mengantarkan diri ke hadapan-Ku saja belum cukup, engkau bahkan sengaja menempatkan diri di tempat yang sensitif dan penuh kontroversi. Terlalu berhati-hati hingga berlebihan."
Jiang Fan tanpa daya meminum secangkir anggur. "Karena aku tahu, Engkau benar-benar akan membunuhku. Terkadang... aku benar-benar tidak mengerti, apakah urusan dunia dan perasaan tidak bisa dimenangkan bersama-sama?"
Kaisar Wanita terdiam sejenak. "Marga-ku adalah Ying, nama-ku... Wushuang."
Wushuang, arti Wushuang baginya adalah memiliki satu keyakinan teguh. Ini adalah seorang wanita dengan keteguhan hati yang sungguh mengerikan. Tidak heran, mungkin hanya orang seperti inilah yang mampu menyatukan seisi dunia dan segala penjuru.
Keduanya sering kali terjatuh dalam keheningan, sesuatu yang sudah sejak lama dibiasakan oleh Jiang Fan. Ia pun memilih untuk mencari kesibukan sendiri, membawa cangkir angurnya untuk memberikan salam kepada para tamu satu per satu.
Marsekal Tua Meng Ao tampak memerah seluruh wajahnya, menarik Jiang Fan dan meminum tiga cangkir berturut-turut. "Adik Jiang, watakmu sangat cocok dengan orang tua ini. Lain hari engkau harus datang ke kediamanku untuk berbincang!"
"Atas kehormatan yang diberikan Marsekal Tua, Jiang Fan sangat berterima kasih. Hanya saja... apa maksud dari tindakan Anda ini..."
Pandangan Jiang Fan menyipit penuh kecurigaan. "Kelihatan murah hati, tetapi separuh anggurnya tumpah. Bukan sekadar boros, ini adalah tindakan curang."
Meng Ao tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak. "Bocah ini... Baiklah, orang tua ini menghukum diri sendiri dengan tiga cangkir!"
"Tidak bisa begitu, Anda harus menuangkannya sampai penuh. Jika tidak penuh dan tidak dihabiskan, ini tidak masuk akal..."
...
"Yang Mulia Guru Besar, silakan."
Menghadapi Guru Besar ini, Jiang Fan tidak tahu apa yang harus dipikirkan. Meskipun telah melintasi ruang dan waktu, belum tentu orangnya sama seperti di masa lalu, namun kebencian yang terpendam jauh di lubuk hatinya membuat Jiang Fan selalu menolak keberadaan Xu Fu.
Xu Fu meneguk sedikit anggurnya, menatap Jiang Fan dengan senyuman penuh makna. "Tuan Muda Jiang, sebelum datang ke Yangdu, apakah orang tua ini pernah bertemu dengan Tuan Muda?"
Jiang Fan menggelengkan kepalanya. "Belum pernah."
"Kalau begitu, apakah aku pernah menyinggung Tuan Muda?"
Jiang Fan kembali menggelengkan kepala. "Tidak pernah."
"Atau, apakah ada beberapa pandangan orang tua ini yang bertentangan dengan isi hati Tuan Muda?"
Jiang Fan tetap menggelengkan kepala. "Juga tidak ada."
Xu Fu tersenyum tipis. "Kalau begitu, orang tua ini merasa sedikit bingung. Tuan Muda tampaknya menyimpan kewaspadaan yang cukup tinggi terhadapku, entah apa alasannya?"
Orang-orang zaman dahulu memang tidak boleh dipandang remeh. Xu Fu tampaknya sejak pertemuan pertama hingga seterusnya, melalui setiap patah kata atau ekspresi wajah Jiang Fan, telah memahami segalanya di dalam hati.
Jiang Fan hanya menjawab dengan tenang, "Mungkin hubungan antara satu orang dan orang lainnya hanya masalah kecocokan pandangan saja. Banyak hal mungkin hanyalah ilusi semata dari rakyat jelata ini, biarlah waktu yang membuktikan segalanya."
Xu Fu memancarkan kilatan penuh arti di matanya, tidak mendesak lebih jauh, lalu mengelus jenggotnya perlahan dan berkata, "Baiklah, karena sudah berada di Yangdu, kita pasti akan sering berinteraksi. Kata-kata Tuan Muda benar, waktu sendirilah yang akan membuktikan segalanya."
...
Sang Pembantai Kecil.
Jiang Fan berjalan ke hadapannya. Pria itu duduk dengan postur tegak, tidak meminum anggur, bahkan tidak menoleh untuk melihatnya.
"Jenderal Gao, tidak perlu bersikap sekecil itu, bukan..." kata Jiang Fan sambil tersenyum ceria.
"Hari itu di Kota Jile situasinya memang kurang mendukung, dan aku juga bisa dianggap ikut bekerja sama mementaskan drama tersebut. Jika ada pelanggaran, tidak bisakah aku menyampaikan permintaan maaf kepadamu?"
Gao Rong bergeming, tak tergerak sedikit pun.
Jiang Fan merasakan hawa dingin yang memancar dari tubuhnya, lalu mau tidak mau menghela napas. "Berapa banyak orang yang telah kaubunuh hingga mampu mengumpulkan aura pembunuh yang begitu pekat? Selain membunuh, apakah Yang Mulia tidak memiliki hobi lain? Tidakkah kita bisa berteman?"
Gao Rong akhirnya perlahan berdiri, menatap tepat ke dalam matanya dan berkata, "Bukan rakyat Qin, niatmu pasti tidak murni."
Jiang Fan tertegun sejenak. "Akhirnya dia mau berbicara denganku."
Gao Rong tetap tidak meminum anggurnya. "Jangan mencoba menghasut Kaisar Wanita, jika tidak, aku akan memenggalmu!"
Jiang Fan menggelengkan kepala. "Gao Rong, janganlah engkau terlalu tinggi hati."
Ia menyipitkan matanya menatap Gao Rong yang sorot matanya menyempit. "Sekalian kusampaikan satu kalimat kepadamu, untuk memenggal diriku, engkau tidak akan mampu melakukannya."
Setelah berkata demikian, ia meminum sendiri anggur di cangkirnya. Tanpa memedulikan Gao Rong, ia berbalik dan melanjutkan langkahnya untuk memberikan salam kepada para tamu yang lain.
Perjamuan malam yang meriah itu berlangsung hingga jam tiga pagi, dan para pejabat sipil maupun militer baru membubarkan diri dengan puas. Di tengah acara, Kaisar Wanita telah lebih dulu pergi; ia sepertinya tahu bahwa selama dirinya berada di sini, orang-orang ini tidak akan bisa menikmati pesta dengan lepas bagaimanapun juga. Dan kenyataannya memang demikian, begitu ia pergi, perjamuan tersebut baru benar-benar menjadi kacau.
Jiang Fan tidak bisa menahan diri untuk mendesah dalam hati. Para pejabat istana yang biasanya tampak begitu terhormat dan bermoral di siang hari, ternyata tidak lebih dari sekumpulan hantu dan siluman di meja makan.
Pemandangannya sungguh tidak senonoh. Bukan hanya makan hingga kenyang meluber, mereka bahkan membungkus dan mengosongkan seluruh sisa makanan. Yang lebih membuat lidah kelu, saat beres-beres ditemukan bahwa peralatan makan pun berkurang puluhan set.
Lebih parahnya lagi, banyak di antara mereka yang menyukai perabotan milik Jiang Fan, ribut meminta agar dibuatkan beberapa set serupa. Bahkan ada seorang pejabat senior yang hampir saja menggotong sebuah kursi di tempat.
Memasukkan serigala ke dalam rumah!
Tuan Muda Jiang merenung dan mencela dirinya sendiri secara mendalam...
Keesokan paginya, Jiang Fan akhirnya melihat Ding Shao'an yang telah beberapa hari pergi keluar. Pria itu berlari tergesa-gesa kembali dan membawa sebuah berita yang menggemparkan seluruh negeri—
Negara Jin dan Negara Xia telah berperang.
"Sungguh di luar dugaan..."
Bagaimanapun sudut pandangnya dilihat, Negara Xia selalu tampak mengasah pedang untuk menyerahkan ancaman ke arah Wei Utara. Namun kenyataannya justru sebaliknya, Negara Xia dan Negara Jin yang terlebih dahulu menyulut api peperangan. Terlebih lagi, kedua belah pihak telah mengerahkan pasukan berat di perbatasan dengan jumlah total tidak kurang dari tiga ratus ribu prajurit.
"Bawahahan juga merasa sangat terkejut. Negara Xia jelas-jelas merupakan pihak yang paling tidak akur dengan Negara Wei, tidak disangka mereka justru memulai pertempuran terlebih dahulu dengan Negara Jin. Terlebih lagi, Negara Xia bertindak sebagai pihak yang melancarkan serangan ofensif, mengirimkan jenderal besar Zhou Quan memimpin dua puluh ribu pasukan mendesak perbatasan. Negara Jin dengan terburu-buru mengangkat Chu Suining sebagai marsekal, mengerahkan lima belas ribu pasukan bergegas menuju garis depan. Pertempuran besar tersulut dalam sekejap."
"Sebuah keanehan yang luar biasa. Di antara lima negara, Negara Jin menjunjung tinggi corak sastra dan menganut prinsip pemerintahan tanpa pamrih, selama bertahun-tahun selalu menjaga diri sendiri dan tidak ikut campur. Meskipun berbatasan dengan Negara Xia, gesekan di antara mereka sangat jarang terjadi," pikir Jiang Fan sambil merenung. "Mungkinkah ada cerita tersembunyi di baliknya?"
Ding Shao'an berkata, "Konon, pemicu utamanya adalah karena Raja Jin mengingkari janji pernikahan. Sepuluh tahun lalu, ketika Putra Mahkota Negara Xia, Jiang Luo, masih berusia muda, ia telah dijodohkan dengan Putri Sulung Negara Jin, Sima Xuan. Sejak Jiang Luo menginjak usia dewasa, ia telah beberapa kali memohon agar pernikahan tersebut segera dilangsungkan, namun pihak Raja Jin selalu mengulur-ulur waktu dengan berbagai alasan. Hingga kini, baik Jiang Luo maupun Sima Xuan telah berusia di atas dua puluh tahun, jauh melewati usia pernikahan yang wajar. Raja Xia kemudian kembali mengajukan lamaran, namun lagi-lagi ditolak oleh Raja Jin dengan alasan bahwa sang putri telah bertunangan dengan Chu Xiao, putra dari Marsekal Besar Chu Suining. Merasa sangat dihina, Raja Xia seketika memutuskan untuk mengerahkan pasukan besar menekan perbatasan demi menuntut kembali kehormatannya. Di sisi lain, Raja Jin tanpa ragu mengangkat senjata untuk membalas. Saat ini, kedua belah pihak tengah berhadap-hadapan di Xiangzhou."