Bab Dua Puluh Satu: Tumor Beracun
“Tuan, Lin Kong sedang dalam perjalanan ke sini. Ini adalah data yang baru saja aku kumpulkan dan analisis, berisi semua orang yang dua hari terakhir ini pernah berhubungan dengan para petinggi, dan seluruhnya terekam oleh pengawasan Anda.” Gadis muda berseragam polisi itu mengulurkan tangan maya, seketika berkas-berkas video bermunculan di sebuah komputer di sampingnya.
Chu Xiaobai mengangguk pelan. “Otak pusat itu tidak memiliki kesadaran, hanya beroperasi dengan program mandiri. Sekarang tambahkan satu program wajib: setiap data yang mencurigakan harus langsung dilaporkan padamu.”
“Baik, Tuan.” Gadis polisi itu mengangguk patuh.
Chu Xiaobai duduk di depan komputer, mulai membuka satu per satu video itu, menelitinya dengan saksama. Pada awalnya, ia mengira hanya satu orang petinggi yang tahu bahwa ia bisa mengabaikan aturan otak pusat. Namun setelah dipelajari, ia pun berkeringat dingin.
Sebab, orang-orang yang telah diberi tahu oleh para petinggi itu ternyata tak hanya segelintir. Hanya dengan melihat beberapa video singkat, sudah ada lebih dari dua puluh orang yang terlibat. Di antaranya ada keluarga para petinggi, juga bawahan mereka...
Untungnya, orang-orang itu tampaknya menyadari betapa seriusnya masalah ini, sehingga belum menyebar lebih luas. Setidaknya, inilah satu-satunya hal yang bisa disyukuri saat ini. Jika berita itu sampai tersebar ke seluruh pengungsi, mustahil bagi Chu Xiaobai untuk melakukan pembersihan. Ia hanya bisa melarang siapa pun keluar-masuk tempat perlindungan, dan itu tentu bencana baginya.
Tak lama suara lembut gadis polisi itu terdengar, “Tuan, Lin Kong sudah tiba dan menunggu di luar.”
Chu Xiaobai mengangguk. “Baik, simpan dulu proyeksi itu, lalu buka pintu ruang kendali utama, biarkan dia masuk.”
“Siap, Tuan.” Gadis itu segera menarik kembali proyeksi 3D-nya, dan pintu ruang kendali utama perlahan terbuka.
“Xiaobai, ada urusan apa kau memanggilku?” Lin Kong masuk ke ruang kendali utama, mendekati Chu Xiaobai dan bertanya dengan heran.
Chu Xiaobai mengangguk pelan. “Ada sesuatu yang perlu kau bantu lakukan untukku. Aku sendiri tidak bisa melakukannya secara terang-terangan. Hanya jika kau yang turun tangan, aku bisa tenang. Duduklah dulu, setelah aku selesai mengelompokkan data, akan kuberikan padamu.”
Lin Kong mengangguk dan menarik kursi, duduk. “Baik, kalau ada apa-apa, kau tinggal bilang saja. Aku bersedia melakukan apa saja untukmu.”
Chu Xiaobai tidak menjawab lagi, hanya mempercepat penelitiannya atas setiap video yang telah dianalisis gadis polisi itu.
Waktu terus berlalu. Ruang kendali utama sunyi senyap, Lin Kong hanya diam memperhatikan deretan layar pengawasan di depannya, tanpa mengganggu Chu Xiaobai.
Hingga lewat pukul tiga dini hari, Chu Xiaobai akhirnya menghela napas pelan, lalu mencetak satu daftar nama. Ia memegang daftar tipis itu dengan sorot mata berkilat.
Di daftar itu, tertera lebih dari tiga ratus nama—ada perempuan, anak-anak, juga para petinggi. Arti daftar ini jelas jauh melampaui sekadar daftar nama.
“Masalah ini melampaui dugaanku. Sungguh tak kusangka begitu banyak petinggi tak bisa menjaga rahasia, apakah mereka kira dengan begitu bisa memegang peluang untuk mengancamku?” Mata Chu Xiaobai berkilat, amarah di hatinya membara.
“Urusan ini sedikit di luar kemampuanmu. Tunggu sebentar, aku akan panggil Lu Yan ke sini.” Chu Xiaobai melirik Lin Kong, lalu menempelkan telapak tangan pada alat verifikasi di sampingnya. “Sampaikan perintahku: panggil Lu Yan ke ruang kendali utama. Jangan umumkan, ini perintah rahasia.”
Segera suara dingin otak pusat terdengar, “Identitas terverifikasi, Chu Xiaobai, Kepala Tertinggi Tempat Perlindungan 111. Perintah dapat dilaksanakan. Perintah rahasia telah dikirimkan kepada Kepala Satuan Investigasi, Lu Yan.”
Tak lama, suara lantang Lu Yan pun menggema, “Kepala Chu, ada urusan apa? Sampai perlu perintah rahasia segala?”
Pintu ruang kendali utama memang sengaja tidak ditutup oleh Chu Xiaobai, sehingga Lu Yan bersama Qin Xiao langsung masuk.
Chu Xiaobai melirik Qin Xiao yang berada di belakang Lu Yan tanpa berkata banyak. Lu Yan tentu bukan orang bodoh, jika disebut ini perintah rahasia Chu Xiaobai, namun ia tetap membawa Qin Xiao, itu berarti Qin Xiao benar-benar bisa dipercaya.
“Ada sesuatu yang ingin aku tugaskan padamu.” Chu Xiaobai ragu sejenak. “Tapi mungkin kau tidak akan terlalu rela?”
Lu Yan mengibaskan tangan besarnya dengan wajah gagah yang sedikit tak sabar. “Apa-apaan ini? Bukankah sudah pernah kubilang, asalkan kau urus makananku nanti, aku tak perlu lagi makan daging serangga asam itu, atau cairan nutrisi hambar itu. Jadi, apapun yang kau perintahkan, pasti kulakukan! Ada apa, katakan saja.”
“Aku ingin semua orang dalam daftar ini tidak boleh hidup sampai besok pagi.” Wajah Chu Xiaobai sedingin es. “Bisakah kau lakukan?”
Lu Yan menerima daftar itu dengan santai, sekilas memandangnya, namun detik berikutnya ia terbelalak. “Apa? Kenapa banyak sekali? Membunuh para petinggi itu aku paham, tapi kenapa keluarga mereka juga tak luput? Lalu orang-orang ini, sepertinya tak ada hubungan dengan para petinggi, kenapa juga harus dibunuh?”
Chu Xiaobai menutup mata sejenak, wajahnya tetap tenang. “Salahkan saja para petinggi itu yang tak bisa menjaga rahasia, mereka memberitahu keluarga soal kemampuanku menembus aturan otak pusat. Sementara yang tampaknya tak berkaitan itu, keluarga mereka tanpa sadar telah membocorkan hal ini pada orang lain. Untungnya, sampai sekarang belum tersebar. Aku hanya tanya satu hal, bisa atau tidak?”
Jika yang terlibat bukan orang-orang yang begitu berpengaruh, bahkan sampai ada yang berkekuatan tingkat enam, Chu Xiaobai tak akan repot-repot memanggil Lu Yan, cukup Lin Kong saja. Namun kini sudah melampaui kemampuan Lin Kong, dan Chu Xiaobai sendiri pun tak bisa turun tangan langsung, apalagi jumlahnya sangat banyak. Kalau ia sendiri yang turun tangan, pasti menimbulkan kehebohan.
Kalaupun ada yang melihat Lin Kong dan Lu Yan, mereka hanya akan mengira orang-orang itu telah melakukan kejahatan berat, sehingga mereka dihukum mati secara diam-diam. Namun bila Chu Xiaobai sendiri yang terlihat, dampaknya sangat berbeda, pengaruhnya akan sangat buruk. Ia berbeda dengan Lin Kong dan Lu Yan—mereka hanya petinggi, sedangkan ia adalah Kepala Tertinggi.
Wajah Lu Yan sempat berubah, lalu ia mengangguk tegas. “Baik, akan kulakukan. Tapi membunuh sebanyak itu mudah, bagaimana dengan mayat-mayatnya? Jumlahnya terlalu banyak.”
Chu Xiaobai menggeleng. “Jangan khawatir soal itu, aku akan memerintahkan otak pusat untuk mengawasi kalian. Kalian hanya perlu membunuh, soal mayat biar otak pusat yang mengirim robot untuk mengurusnya.”
“Baik, aku akan berangkat sekarang. Hanya saja, jika Xiang Er tahu soal ini...” Raut muka Lu Yan sedikit ragu. “Dengan tabiatnya, aku khawatir...”
“Aku sendiri yang akan menjelaskannya padanya. Aku yakin, ia akan mengerti.” Chu Xiaobai menutup mata dengan ekspresi perih.
Bila harus membunuh orang-orang ini tanpa rasa apa-apa, itu jelas bohong. Namun ia sangat sadar, orang-orang ini adalah bom waktu, sekali saja kemampuannya membobol aturan otak pusat tersebar, bukan hanya dirinya yang terancam, seluruh tempat perlindungan bisa lenyap kapan saja.
Ia bukan seorang pembunuh sadis, namun ada hal-hal yang tak bisa dihindari. Peristiwa delapan anggota dewan kemarin sudah memberinya pelajaran berharga. Ia tak ingin lagi karena belas kasih atau kelalaiannya menimbulkan bencana besar yang tak terbayangkan.
Ia bukan lagi Chu Xiaobai yang dulu, sendirian dan tak berarti. Kini setiap tindak-tanduknya menyangkut nyawa ribuan manusia di tempat perlindungan. Tanggung jawab sebagai pelindung tidak memberinya ruang untuk berbelas kasih, tak boleh ada sedikitpun keraguan!
Ia sangat paham, sekali saja ia ragu, lalai, atau berbelas kasih, seluruh penghuni tempat perlindungan akan ikut tenggelam bersama dirinya, dilumat habis oleh gelombang zaman.
Jika memotong tumor dalam tubuh dapat menyelamatkan hidup, siapa yang mau membiarkannya terus tumbuh sampai merenggut nyawa? Chu Xiaobai pun demikian. Tumor itu tetap bagian dari tubuh, memang terasa sakit saat disingkirkan, tapi setidaknya hidupnya bisa diselamatkan.
Inilah tragedi seorang pemimpin. Sejak Chu Xiaobai menjadi Kepala Tertinggi Tempat Perlindungan 111, seluruh nasib dan nyawa orang-orang di sana berada di pundaknya. Ia telah ditakdirkan hanya bisa melangkah hati-hati di tengah badai zaman. Sekali saja salah langkah, ia akan tersapu habis tanpa sisa.
Di hadapan nyawa banyak orang dan segelintir orang, ia hanya bisa mengorbankan yang sedikit demi menyelamatkan yang banyak. Ini bukan soal benar atau salah, tapi soal bertahan hidup.