Kesadaran Diri (8000)
Melihat paras cantiknya yang dingin, ia pun berkata, "Siapa kamu, dan apa maksudmu?"
"Tuan muda saya adalah kawan Nona Miao, jadi saya dan Nona Miao juga kenalan!" Liu Yun menatap Yan Yue dari atas ke bawah, lalu berkata, "Karena Nona Miao ingin pergi, kurasa Nona ini sebaiknya tidak memaksa Nona Miao untuk tinggal, biarkan saja ia pergi bersama saya! Lagipula, kurasa kamu bukan sekadar sakit biasa, melainkan menderita luka parah!"
"Omong kosong!" Karena titik lemahnya ditebak, tatapan Yan Yue semakin menggelap. Dengan wajah cantik yang menegang dingin, ia pun berkata dengan marah, "Aku tidak peduli siapa kamu, siapa tuan mudamu, atau apa hubunganmu dengan Nona Miao. Singkatnya, selama junjunganku belum mengizinkannya pergi, maka siapa pun tidak boleh membawanya pergi secara sembarangan, termasuk dirinya sendiri!"
Usai berkata demikian, pandangan Yan Yue kembali tertuju dingin kepada Miao Yinshu.
Miao Yinshu sendiri sedang terkejut mendengar perkataan Liu Yun bahwa Yan Yue bukan sakit melainkan terluka. Namun, melihat ekspresi wanita itu saat ini, hatinya justru semakin dipenuhi kebingungan. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Yan Yue ini? Bukankah ia tadinya begitu ingin agar dirinya segera pergi? Kenapa sekarang malah keluar untuk menghalangi? Jangan-jangan ia takut jika dirinya pergi, ia tidak bisa memberikan penjelasan kepada Ye Feiran?
"Heh! Keberanian gadis kecil ini lumayan juga, rupanya kamu berniat menahan orang secara paksa!" Liu Yun sama sekali tidak marah. Sembari tetap memasang senyum di wajahnya yang sangat kontras dengan wanita itu, ia berkata, "Kalau begitu, aku ingin melihat bagaimana caramu mencegah Nona Miao pergi!"
Setelah berkata demikian, Liu Yun menarik tangan Miao Yinshu, bersiap pergi secara terang-terangan.
Melihat hal itu, Yan Yue tiba-tiba bergerak. Kakinya melangkah dengan cepat untuk menghalangi jalan mereka berdua, lalu melayangkan serangan kilat ke arah punggung tangan Liu Yun yang sedang memegang Miao Yinshu.
"Aduh! Gadis kecil ini ternyata benar-benar bisa bela diri!" Dengan mata yang jeli dan tangan yang cekatan, Liu Yun menarik Miao Yinshu berputar untuk menghindari telapak tangan Yan Yue, lalu berkata dengan nada seolah-olah khawatir, "Gadis kecil, kurasa sebaiknya kamu tidak memaksakan diri! Pertama-tama, tindakanmu menahan orang secara paksa ini sudah salah. Kedua, kamu jelas bukan tandinganku. Belum lagi luka di tubuhmu saat ini yang bahkan belum sembuh, kurasa kamu sama sekali tidak cocok untuk menyerang orang separah ini!"
"Banyak bicara!" Yan Yue sama sekali tidak mendengarkannya. Serangannya meleset, namun ia langsung menyusul mereka lagi, menggigit bibir bawahnya dengan tekad bulat untuk menghalangi kepergian Miao Yinshu.
"Cih, cih, cih! Tak disangka ternyata kau gadis yang keras kepala!" Bagaimana mungkin Liu Yun membiarkannya merebut kembali Miao Yinshu? Sambil terus berbicara tanpa henti, ia menarik Miao Yinshu menghindar ke kiri dan ke kanan. Jelas sekali bahwa ia jarang sekali bertemu dengan gadis yang begitu menarik, hingga ia merasa sangat menikmati permainan itu.
Miao Yinshu yang ditarik berputar hingga merasa pusing sangat ingin mengatakan bahwa meskipun luka dalamnya sudah jauh membaik, ia tetaplah manusia biasa yang tidak tahan diperlakukan seseram ini.
Namun, begitu ia membuka mulut untuk bersuara, tiba-tiba ia merasa pandangannya berkunang-kunang. Tangan Liu Yun di lengannya tiba-tiba terlepas begitu saja, dan punggungnya langsung membentur dada bidang yang kokoh.
Sejoli tangan yang hangat namun lembut mencengkeram bagian atas lengannya dengan kuat, menstabilkan tubuhnya yang hampir kehilangan keseimbangan.
Kemudian, seiring dengan getaran tipis yang dirasakan di punggungnya, sebuah suara yang lembut dan tenang terdengar dari atas kepalanya, "Kalian ini membuat keributan!"
Suaranya tidak keras, tetapi jelas sangat berwibawa. Jangankan Yan Yue, bahkan Liu Yun pun sempat tertegun hingga menghentikan tawanya. Ia menatap tangannya sendiri yang kini kosong dengan rasa curiga, lalu beralih memandang Ye Feiran yang berada di belakang Miao Yinshu, merasakan sedikit kejengkelan sesaat!
Dia—bahkan tidak tahu bagaimana caranya Ye Feiran menepis tangannya dari lengan Miao Yinshu!
"Tuan!" Melihat Ye Feiran, Yan Yue yang wajahnya tampak lebih pucat dari sebelumnya berdiri dengan hormat di tempatnya, menundukkan kepala tanpa bersuara.
"Kamu, jangan salahkan mereka. Aku merasa tubuhku sudah jauh membaik dan ingin pulang!" Miao Yinshu dengan jelas melihat darah gelap yang merembes di kedua sisi lengan baju Yan Yue. Mengingat ucapan Liu Yun tadi, tampaknya wanita itu benar-benar terluka.
Namun, Yan Yue hanyalah seorang pelayan di halaman bagian dalam, bagaimana bisa ia terluka?
"Hm!" Ye Feiran merespons dengan suara rendah. Nada suaranya tidak menunjukkan rasa senang maupun marah, dan tidak diketahui apakah ia sedang menjawab untuk tidak menyalahkan Yan Yue dan Liu Yun, atau menanggapi niat wanita itu yang ingin pulang.
Ia juga tidak berani mendongak untuk melihat ekspresinya, karena takut melihat wajah yang marah. Bagaimanapun juga, melihat situasi seperti ini, sudah pasti bisa ditebak bahwa ia pasti berniat pergi tanpa pamit kepada pria itu, sementara Yan Yue bertindak menghalanginya atas perintah pria tersebut, hingga situasi saat ini pun terjadi!
"Aku akan mengantar mu kembali ke kediaman! Mawar sudah menyiapkan kereta kuda!" Tanpa diduga, Ye Feiran tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menahannya, melainkan hanya mengucapkan kalimat yang begitu datar.
"Ha?" Hatinya mendadak terasa nyeri tanpa alasan. Miao Yinshu menundukkan kepala dengan rasa kecewa, lalu menjawab pelan, "Baik!"
Apakah pria itu memang berniat mengantarnya pulang hari ini? Betapa konyolnya, ia tadinya mengira pria itu enggan melepaskannya, makanya ia meminta Tabib Gu berbohong? Ternyata semua ini hanyalah kegeerannya sendiri?
Liu Yun di samping, setelah sedikit mereda rasa jengkelnya, tentu tidak melupakan pesan tuannya. Ia segera sadar dan berkata, "Pangeran Kelima, karena Anda telah menyetujui Nona Miao untuk kembali ke kediamannya, biarkanlah saya yang mewakili untuk mengantarnya kembali ke Kediaman Miao. Bagaimanapun, hubungan tuan muda saya dengan Nona Miao terbilang sangat dekat, jadi tidak perlu merepotkan—"
"Karena Nona Miao dibawa ke kediamanku oleh Pangeran ini, maka sudah sewajarnya jika Pangeran ini sendiri yang mengantarnya pulang!" Suara dingin itu sama sekali tidak menyisakan keraguan, tegas hingga membuat orang tidak bisa menolak.
Hanya Miao Yinshu yang bisa merasakan sensasi nyeri tipis yang menjalar di kedua lengannya. Telapak tangan pria itu sedang mengerahkan sedikit tenaga, hampir membuatnya kesakitan!
Dan dia, yang tadinya ingin berkata seperti Liu Yun agar tidak perlu merepotkan Pangeran Kelima untuk mengantar, pada akhirnya kata-kata itu tertahan di tenggorokan dan tidak diucapkannya.
"Ayo pergi, Nona Miao!" Suara yang beralih ditujukan kepada Miao Yinshu itu melunak dengan jelas. Tenaga di tangannya mereda dan terlepas, sementara satu telapak tangannya diturunkan, dan satu telapak tangannya yang lain yang seputih giok justru merangkul bahunya, mendekapnya seraya melangkah maju!
"Heh!" Liu Yun yang tertegun sejenak melepaskan dua tawa kering. Pandangannya secara sengaja maupun tidak menyapu ke arah atap rumah, lalu mengangkat bahu dengan pasrah. Ia pun melangkah mengikuti di belakang Ye Feiran dan Miao Yinshu.
Yan Yue yang tertinggal di tempat kini memiliki wajah yang semakin pucat. Kedua tangannya yang mengepal erat memperlihatkan keengganan dan kemarahan di dalam hatinya, namun ia hanya bisa berdiri terpaku menyaksikan Ye Feiran melindungi Miao Yinshu, hingga sosok keduanya yang saling merapat itu perlahan menjauh sampai akhirnya menghilang di tikungan koridor.
Ia menunduk untuk melihat lengan bajunya yang ternoda darah di kedua sisi, lalu menarik bibirnya dengan senyum getir. Pada akhirnya, ia tetap tidak mampu tersenyum dengan bebas. Dengan bahu yang terkulai lemas, ia kembali ke kamarnya sendiri untuk mengobati lukanya.
Sementara itu, di atas atap yang menjulang tinggi, seorang pria berpostur tegap dan tampan perlahan menegakkan tubuhnya. Pandangannya tertuju pada pintu kamar tempat Yan Yue menghilang, lalu mengikuti sosok Ye Feiran dan kawan-kawan untuk waktu yang cukup lama. Setelah itu, dengan sedikit sentuhan ujung kakinya, ia melesat beberapa kali dan dengan cepat menghilang di antara deretan bangunan.
Kereta kuda melaju dengan perlahan. Miao Yinshu duduk tenang di kursi dalam gerbong, dengan bulu mata yang merendah dan pandangan tertunduk. Namun, kedua tangan yang terkepal erat di balik lengan bajunya justru menunjukkan bahwa ia saat ini sama sekali tidak setenang kelihatannya.
Ye Feiran duduk di hadapannya, bersandar di dekat jendela, menopang dagunya dengan satu tangan sementara tangan yang lain diletakkan di atas paha, mengetuk-ngetuk jemarinya secara tanpa sadar.
Keduanya tidak saling bertukar pandang maupun berbicara sepatah kata pun. Di dalam gerbong begitu senyap hingga yang terdengar hanya deru roda kereta yang menggiling permukaan jalan, serta keramaian suara manusia di jalanan.
Entah sudah berapa lama kesunyian itu berlangsung, Miao Yinshu yang hatinya bergolak hebat akhirnya tidak tahan lagi dan bersuara, "Repotkan Pangeran Kelima untuk mengantarku ke Hua Hao Yue Yuan terlebih dahulu!"
"Tidak boleh!" Tanpa diduga, Ye Feiran langsung menolak keputusannya mentah-mentah.
"Kenapa tidak boleh?" Miao Yinshu seketika merasa marah. Ia mendongak dan menatap tajam ke dalam mata pria itu, merasakan gelombang rasa sedih dan dirugikan yang tak bertepi langsung menyeruak di dadanya. Pria ini bukanlah Fei Yunyi; Yunyi tidak pernah sekalipun menentang kehendaknya, selalu menuruti dan mengalah padanya.
Dia...
Dadanya terasa nyeri seketika. Pada akhirnya, ia tidak sanggup terus menatap wajah familier itu sambil mengenang segala hal tentangnya, sehingga Miao Yinshu kembali menurunkan pandangannya dengan cepat.
Ye Feiran mengamati seluruh rangkaian gerakannya, menghela napas dalam hati, lalu berkata dengan lembut, "Meskipun lukamu sudah jauh membaik, Tabib Gu tetap berpesan agar kamu masih harus beristirahat dengan tenang selama beberapa hari. Jadi, kamu tidak boleh memaksakan diri pergi sibuk di toko demi kesehatanmu!"
"Aku..." Ternyata pria itu mengkhawatirkan luka di tubuhnya. Kemarahan Miao Yinshu langsung mereda, sementara hatinya kembali diliputi kegetiran. "Aku hanya ingin pergi melihat-lihat, tidak akan melakukan apa-apa!"
Sekalipun ia ingin bekerja, Bibi Cui dan yang lainnya pasti tidak akan membiarkannya bergerak.
"Orang-orang yang kau bawa sangat bisa diandalkan. Operasi bisnis di toko berjalan dengan sangat baik, tidak jauh berbeda dari saat kau berada di sana, jadi kau tidak perlu khawatir! Hari ini lebih baik kita langsung kembali ke kediaman saja!" Meskipun nada suara Ye Feiran terdengar datar, perkataannya jelas menunjukkan perhatian besar yang ia berikan kepada Hua Hao Yue Yuan.
"Kamu..." Miao Yinshu bukanlah orang bodoh. Ia tentu saja menangkap maksud di balik perkataan pria itu, dan dengan terkejut mendongak untuk menatapnya. "Apakah kamu sering pergi ke Hua Hao Yue Yuan?"
Bagaimana bisa dia—melakukan hal seperti itu? Bagaimana bisa ia, dengan statusnya yang begitu tinggi bagai awan di langit, memberikan perhatian kepada toko kecil miliknya yang tidak berarti apa-apa? Perhatian yang begitu manis ini justru akan membuatnya terperosok ke dalam jurang yang tak bertepi!
Pandangannya kembali berkabut. Miao Yinshu tidak pernah menyangka bahwa dirinya bisa begitu rapuh pada suatu hari nanti. Di hadapan pria ini, ia bisa meneteskan air mata kapan saja, entah itu karena rasa sedih, rasa terima kasih, ataupun karena pikiran-pikiran lainnya...
Ia tidak ingin, dan juga tidak boleh! Namun, di hadapan pria ini, ia justru menunjukkan kelemahan tanpa daya.
Apakah karena terlalu lama meninggalkan Yunyi? Apakah karena hidup dalam ketidakpastian setiap hari hingga membuat hatinya menjadi rapuh? Ataukah sebenarnya ia memang orang yang lemah dan tidak berdaya, hanya saja ia selalu berpura-pura tegar setiap hari hingga kini ia tidak lagi mampu mengendalikan kerapuhannya sendiri?
Matanya yang berkabut tidak mampu melihat dengan jelas segala sesuatu di hadapannya. Ia membuka matanya lebar-lebar, tidak ingin air mata itu meluncur turun dengan begitu rapuhnya. Namun, ketika bayangan yang buram itu perlahan mendekat, ia justru seolah terpesona dan perlahan menutup kelopak matanya, membiarkan dua baris air mata hangat meluncur jatuh, menelusuri pipinya yang mulus dan menetes ke kerah bajunya.
Ia samar-samar mendengar helaan napas ringan dari pria itu. Jarak helaan napas tersebut begitu dekat hingga terasabingkas di depan hidung, begitu dekat sampai-sampai ia bisa merasakan embusan napas hangat pria itu yang sedikit memburu menyapu wajahnya.
Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria itu, atau mungkin sebenarnya ia tahu dengan jelas dan menantikan apa yang bisa pria itu lakukan. Namun, ia memilih membiarkan bulu matanya bergetar ringan tanpa membuka matanya sama sekali.
"Kau tahu tidak, air mata mu ini bisa membuat hati orang melunak, bahkan membuat orang merasa sangat iba!" Bisikan parau terdengar dekat di telinga. Wajah mungilnya kini digenggam dengan lembut oleh sepasang telapak tangan hangat, seolah-olah sedang memegang harta karun yang langka di dunia. Ibu jari yang halus mengusap perlahan di pipinya, menyapu sisa-sisa rasa dingin setelah panasnya air mata.
Miao Yinshu merasa rongga dadanya mendadak melewatkan satu detukan, sebelum akhirnya ia membuka kelopak matanya perlahan dengan bulu mata yang bergetar.
Mata yang baru saja menangis itu tampak jauh lebih jernih dari biasanya. Pandangannya langsung beradu dengan sepasang mata berbintang yang berada tepat di hadapannya.
Mata pria itu jernih dan bersih, berpendar memancarkan cahaya menyilaukan bagaikan bintang di langit malam, seolah mampu menyedot seluruh jiwa seseorang ke dalamnya.
Wajahnya tetap putih bersih hingga memicu rasa iri. Di bawah jarak yang begitu dekat seperti ini, ada ilusi seolah wajah itu hampir transparan.
Alis pedangnya yang melengkung naik hingga ke pelipis, bulu matanya yang lentik dan lebat menyerupai dua bilah kipas kecil yang berkelebat, mengait sehelai rambut ikal yang tergerai di dahi, terjerat bersama seolah enggan untuk berpisah.
"Jangan... menatapku seperti itu..." Bibirnya yang kemerahan dan berukuran pas tiba-tiba bergerak, mengeluarkan suara rendah yang menyiratkan semacam siksaan tertahan. Tatapan matanya bahkan tiba-tiba menggelap beberapa bagian, sementara sorot matanya yang terang benderang bagaikan gugusan bintang tiba-tiba berubah menjadi kolam dalam yang tidak berdasar, menyimpan bahaya yang siap menelan seseorang hingga ke dasarnya.
"Eh?" Ia terpesona, seolah-olah ingin mencari perbedaan antara wajah pria itu dengan seseorang di masa lalu, tanpa menyadari bahaya yang kian mendekat. Ia bereaksi dengan lambat dan melontarkan sebuah tanda tanya.
Kebingungan dan sikapnya yang tanpa pertahanan membuat hati serta dorongan naluriah pria itu tidak lagi mampu dikendalikan. Secara tiba-tiba, ia menundukkan kepala, bersiap untuk merebut bibir merahnya yang memikat...
"Prrrrt—" Terdengar suara ringkikan panjang dari luar saat Mawar menghentikan laju kereta kuda. "Tuan, Kediaman Menteri Miao sudah tiba!"
Bibir mereka baru saja bergesekan, bahkan belum sempat merasakan manisnya sensasi yang mendebarkan itu, terpaksa harus dihentikan karena faktor dari luar. Kilatan rasa jengkel dan penyesalan melintas di dasar mata Ye Feiran, namun ia hanya bisa menatap penuh cinta pada bibir yang baru saja dikecup sekilas itu, lalu perlahan menarik jarak darinya dan berkata dengan lembut, "Sudah sampai!"
Sudah sampai? Apa yang sudah sampai?
Miao Yinshu tampak masih melayang pikirannya ke tempat lain dan tidak langsung bereaksi. Namun, saat melihat sudut bibir pria itu yang perlahan terangkat naik, wajahnya seketika merona merah padam. Kesadarannya langsung kembali—ia sudah sampai di rumah!
Senyuman di sudut bibir Ye Feiran semakin mengembang. Ia berkata dengan suara rendah sekali lagi, "Jangan terburu-buru, tenangkan diri dulu!"
Jika ia tidak menenangkan diri terlebih dahulu, maka wajah cantiknya yang begitu merah merona itu, sekalipun dijelaskan bahwa mereka tidak melakukan apa-apa, sepertinya tidak akan ada seorang pun yang mempercayainya.
Tentu saja, ia juga memiliki cara jitu sendiri untuk mengulur waktu. Terdengar ia bersuara lantang kepada Mawar di luar, "Mawar, aku lupa belum membeli beberapa hadiah. Datang berkunjung ke kediaman Menteri Miao dengan tangan kosong akan terasa sedikit tidak sopan, kembalilah sebentar ke jalanan untuk membelikan beberapa hadiah!"
Mawar di luar sempat tertegun sejenak. Ia membatin dalam hati, tuannya ini jelas-jelas mengantar Nona Miao pulang, dan bahkan berbuat kebaikan besar tanpa mengharapkan imbalan, kenapa sekarang malah harus repot-repot membawakan hadiah untuk berkunjung? Eh, eh! Kenapa rasanya ada beberapa rahasia di dalam sana yang begitu menarik hingga membuat orang tidak sabar ingin mengoreknya?
Wah, wah! Laporan yang akan ia berikan kini bertambah satu nilai lagi!
Pangeran Kelima secara pribadi mengantar Miao Yinshu pulang ke kediaman, dan bahkan membawa banyak hadiah untuk berkunjung. Suasana di Kediaman Miao seketika mendidih menjadi begitu meriah bagaikan wajan yang meletup-letup.
Miao Jing甫 secara alami maju sendiri untuk menyambut tamu agung tersebut. Nyonya Tua, Nyonya Miao, dan Nyonya Huang menyambut bersama dengan pakaian resmi lengkap, bahkan Miao Miao pun diseret oleh ibu kandungnya untuk terus menemani di sisi mereka.
Hanya Nyonya Miao, yang tampak jauh lebih kuyu selama beberapa hari terakhir ini, yang tidak sempat menyambut Ye Feiran karena terlalu cemas menemani Miao Yinshu kembali ke kamarnya. Sepanjang perjalanan, ia bertanya ini dan itu karena takut putrinya akan meninggalkan gejala sisa apa pun.
"Ibu, aku sudah tidak apa-apa, Ibu jangan khawatir!" Miao Yinshu yang dipapah kembali ke kamarnya dengan sangat hati-hati oleh Nyonya Miao benar-benar merasakan ketulusan kasih sayang seorang ibu untuk pertama kalinya. Inilah reaksi paling nyata dari seorang ibu, bukan?
Tidak ada alasan lain, semata-mata hanya demi kesehatan anaknya!
"Kalau tidak apa-apa, kenapa kamu bisa memulihkan diri di Kediaman Pangeran Kelima begitu lama? Kalau tidak apa-apa, kenapa Pangeran Kelima sendiri yang mendatangkan tabib kekaisaran untuk tinggal di kediaman guna merawatmu?" Di balik wajah Nyonya Miao yang kuyu tersimpan kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. Ia memaksa putrinya berbaring di atas ranjang agar bisa merasa tenang. "Shu'er, jujur pada Ibu, apakah tubuhmu benar-benar sudah tidak ada masalah? Perlu kita panggil tabib lagi untuk memeriksa?"
"Ibu, kalau begini rasanya Ibu meragukan kemampuan medis tabib istana!" Miao Yinshu tertawa tak berdaya, namun ia hanya bisa menuruti perintah untuk berbaring agar tidak membuat ibunya semakin cemas.
"Bukan meragukan, Ibu hanya merasa khawatir! Katakan, bagaimana bisa kau tertabrak kereta kuda begitu saja?" Nyonya Miao membantu merapikan selimut Miao Yinshu, lalu mengusap wajah putrinya. Merasakan rona wajah putrinya yang sudah jauh lebih baik daripada dirinya sendiri, barulah ia merasa sedikit tenang. "Lagi pula, Pangeran Kelima juga mengirim orang untuk menyampaikan kabar bahwa kereta kuda yang menabrakmu itu telah ditinggalkan oleh pemiliknya, jadi orang yang menabrak tidak dapat ditemukan. Ayahmu bilang, pelonco jahat itu pasti takut ditangkap dan dijebloskan ke penjara, makanya ia lebih rela merelakan kereta kudanya!"
"Begitukah?" Ternyata pria itu secara diam-diam juga menyelidiki pelaku tabrak lari tersebut.
Hatinya mendadak terasa manis. Mengingat pria itu bukan hanya mengkhawatirkan kesehatan tubuhnya, tetapi juga memedulikan Hua Hao Yue Yuan, dan bahkan mengerahkan segenap tenaga untuk mencari pelangi pelaku penabrakan, wajahnya pun kembali terasa panas tanpa alasan.
Dan rona merah yang tidak wajar di wajah Miao Yinshu itu sontak membuat Nyonya Miao waspada. Ekspresi yang tadinya penuh kekhawatiran itu seketika berubah, dan suaranya pun merendah dengan keseriusan saat bertanya, "Shu'er, selama hari-hari pemulihanmu di Kediaman Pangeran Kelima, apakah ada sesuatu di antara kalian..."
Melihat perubahan air muka ibunya, Miao Yinshu merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia buru-buru meluruskan kesalahpahaman itu. "Ibu, hal apa yang sedang Ibu bayangkan?"
"Shu'er, bukan maksud Ibu ingin menebak-nebak sembarangan, tetapi di dunia ini gosip sangatlah kejam, dan nama baik seorang wanita adalah segalanya!" Nyonya Miao berkata dengan ekspresi muram. "Shu'er, apa pun isi hatimu, katakan saja terus terang kepada Ibu. Meskipun Ibu belum tentu bisa membantumu banyak, tapi kau adalah daging dari dagingku sendiri, Ibu tentu tidak akan mencelakai dirimu!"
Nyonya Miao berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Jika kau dan Pangeran Kelima memiliki perasaan tertentu satu sama lain, Ibu bukannya ingin menentang! Hanya saja, yang ingin Ibu katakan padamu adalah, Pangeran Kelima adalah keturunan keluarga kekaisaran. Meskipun ia baru kembali ke ibu kota untuk mengakui leluhurnya selama setengah tahun ini, ia tetaplah adik kandung Kaisar, dan Ibu Suri saat ini sangat menyayangi putra dari saudari kandungnya sendiri. Oleh karena itu, urusan pernikahannya pasti tidak bisa diputuskan oleh dirinya sendiri."
Mengusap wajah Miao Yinshu dengan penuh rasa sayang bercampur rasa bersalah, Nyonya Miao menampakkan kesedihan yang pekat dan ketidakberdayaan di matanya. "Tetapi kau, jelas-jelas adalah putri kandung Ibu dan Ayahmu, namun karena terlahir sebagai kembar naga dan phoenix yang paling ditabukan di Dinasti Cangyi, sekarang meskipun kau sudah kembali ke kediaman, kau hanya bisa hidup dengan menyandang status sebagai anak dari kerabat jauh. Hubunganmu dengan dia, jika ingin merajut jalinan pernikahan, sepertinya mustahil bisa terwujud! Shu'er, apakah kau mengerti maksud Ibu?"
Miao Yinshu tidak langsung menjawab perkataan Nyonya Miao, melainkan tenggelam dalam pikirannya sendiri: Benar juga! Pria itu adalah keturunan bangsawan kekaisaran, naga di antara manusia yang berada jauh di atas awan. Bagaimana mungkin ia bisa terlibat dengan seorang wanita berlatar belakang tidak jelas yang bahkan tidak bisa mendapatkan pengakuan leluhurnya sendiri?
Heh! Sepertinya takdir membawanya ke dimensi waktu yang asing ini bukanlah sebuah berkah, melainkan sebuah ujian penderitaan untuknya!
Tersenyum getir, Miao Yinshu dengan cepat menarik kembali pikirannya dari rasa kehilangan yang melanda. Ia menarik sudut bibirnya dengan senyum kaku dan berkata kepada Nyonya Miao, "Ibu, lihat ke mana perginya pikiran Ibu! Pangeran Kelima hanya menyelamatkanku karena rasa keadilan, dan karena lukaku mengenai organ dalam serta tulang di perut yang ikut mengalami kerusakan, makanya ia berbaik hati hingga tuntas dengan membiarkanku memulihkan diri di kediamannya. Orang semulia dirinya tidak mungkin menaruh perhatian apa pun padaku, dan aku pun tahu diri, sama sekali tidak akan memikirkan hal-hal yang mustahil itu! Ibu tidak perlu khawatir!"
Nyonya Miao menghela napas pelan. Jelas sekali ia tidak mempercayai kata-kata putrinya, tetapi melihat putrinya sudah memahami inti permasalahannya, ia pun tidak mendesak lebih jauh dan mengangguk. "Asalkan kau tahu batasan itu! Waktu makan siang hampir tiba, Ayahmu dan Nyonya Tua demi berterima kasih kepada Pangeran Kelima sepertinya berniat menahan Pangeran Kelima untuk bersantap bersama. Ibu pergi ke dapur dulu untuk melihat apakah perlu menambahkan beberapa lauk kecil! Shu'er, katakan apa yang ingin kau makan, Ibu akan memasaknya sendiri untukmu!"
"Ibu, aku makan apa saja boleh! Menyambut Pangeran Kelima dengan baik adalah hal yang utama, kita tidak boleh membuat orang merasa bahwa kita tidak tahu cara membalas budi!" Pada saat seperti ini, selera makan apa lagi yang tersisa di hatinya? Miao Yinshu merasa mempertahankan senyuman saja sudah terasa sangat berat.
"Hm! Kalau begitu Ibu akan pergi membuatkan sup ayam untukmu!" Nyonya Miao kembali menghela napas dalam hati. Menyadari bahwa kata-katanya telah menanamkan pengaruh di hati Miao Yinshu, ia tidak banyak bicara lagi. Berpesan agar putrinya beristirahat dengan baik, ia pun melangkah keluar.
"Hah—" Menghela napas panjang, hati Miao Yinshu benar-benar terasa sesak. Ia merasa udara di dalam kamar saat ini begitu pengap hingga membuatnya kesulitan bernapas. Pikirannya melayang, lebih baik ia masuk ke dalam ruang spasial untuk melihat-lihat saja, sekalian mengurus padang rumput. Begitu Zhong Qi dan yang lainnya tiba di ibu kota, hewan-hewan peliharaan di dalam sana baru bisa keluar untuk melihat dunia luar.
Tangannya baru saja menyentuh giok dan hendak merapalkan mantra untuk masuk, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Siapa?" Sembari buru-buru menarik kembali tangannya, Miao Yinshu menoleh ke arah luar. Di balik daun pintu kayu berukir tembus pandang, terbayang dua siluet bayangan, satu tinggi dan satu pendek.
"Kakak, ini aku dan Pangeran Kelima!" Suara Miao Miao yang terdengar cadel terdengar dari luar pintu. Rupanya si gemuk kecil yang suka makan itu sedang menyumpal sesuatu di dalam mulutnya. "Ayah bilang makan siang belum siap, jadi aku disuruh mengajak Pangeran Kelima untuk berkenalan dengan halaman Kakak! Kakak, kami masuk ya!"
Sela berbicara, Miao Miao bahkan tidak menunggu persetujuan Miao Yinshu, ia langsung mendorong pintu hingga terbuka. Sambil melompat-lompat riang ia masuk ke dalam, dan di belakangnya tentu saja adalah Ye Feiran yang berpostur jangkung, mengenakan jubah brokat berikat pinggang giok, dengan postur tubuh anggun bagaikan batu giok.
Miao Yinshu buru-buru bangkit duduk di atas ranjang. Baru saja ia hendak menurunkan kakinya ke lantai, Miao Miao sudah menggigit kue di tangannya dengan suara samar-samar yang tidak jelas, sementara kedua tangannya langsung mencegahnya turun ke lantai, memaksa agar ia tetap berbaring beristirahat.
Miao Yinshu memutar bola matanya dengan pasrah, lalu berkata kepada anak itu, "Die'er, aku sudah tidak apa-apa, lukaku juga sudah sembuh total, tidak perlu terus berbaring untuk istirahat lagi!"
Tadi ia terpaksa mengalah demi kekhawatiran Nyonya Miao, namun kini ia dan Ye Feiran sama-sama tahu bahwa lukanya sudah sembuh sebagian besar. Memintanya untuk terus berpura-pura sakit dan berbaring di hadapan pria itu adalah hal yang tidak sanggup ia lakukan.
Bukannya ia bersikap dibuat-buat; sewaktu di kediaman pria itu, ia memang berbaring setiap hari bahkan menguasai kamar dan tempat tidur pria tersebut. Akan tetapi, saat itu ia benar-benar terluka dan terpaksa melakukannya, ditambah lagi Tabib Gu yang menakut-nakutinya dengan kebohongan selama beberapa hari untuk memaksanya berbaring.
Namun sekarang, ia sudah kembali ke rumahnya sendiri, di kamar tidurnya sendiri. Lukanya pun sudah jauh membaik, jika ia masih berpura-pura sakit dan berbaring, rasanya akan terlihat tidak masuk akal, dan dikhawatirkan malah akan menjadi bahan tertawaan pria itu.
Lagi pula, keamanan di Kediaman Pangeran Kelima sangat ketat, terutama di halaman utamanya di mana orang yang keluar masuk hanyalah Mawar, Yan Yue, dan Tabib Gu. Para pelayan lain sama sekali tidak tahu bahwa ia telah menguasai kamar tuan mereka.
Namun, situasi di kediamannya sendiri berbeda. Jika ia tidak salah tebak, Miao Jing甫 tampaknya justru berharap agar berita Pangeran Kelima memasuki kamar putrinya itu menyebar ke seluruh penjuru ibu kota. Para pelayan di Kediaman Miao pasti sedang mengamati interaksi mereka secara sembunyi-sembunyi saat ini.
Tentu saja ia bukanlah tipe wanita yang takut namanya tercemar. Akan tetapi, perkataan Nyonya Miao tadi toh tetap meninggalkan pengaruh di dalam hatinya. Jika memungkinkan, setelah hari ini, ia rela membereskan perasaan yang tidak seharusnya dimiliki itu dan menjadi orang asing selamanya dengan pria di hadapannya ini.
"Mmm..." Miao Miao tetap menolak dan mendorongnya dengan tenaga yang begitu kuat hingga membuat Miao Yinshu tidak siap. Seluruh tubuhnya terhuyung jatuh ke belakang di atas ranjang, berbaring telentang dengan posisi yang tampak begitu canggung, sementara organ dalamnya terasa sedikit nyeri, sepertinya luka yang belum sepenuhnya sembuh itu sedang melancarkan protes kecil.
"Die'er!" Miao Yinshu melontarkan teguran pelan dengan ekspresi tak berdaya, dan di saat yang sama tawa rendah Ye Feiran terdengar di dekat telinganya.
"Kamu masih tertawa!" Miao Yinshu bangkit kembali, memutuskan untuk tidak berdebat lagi dengan Miao Miao. Ia langsung merosot masuk ke dalam selimut, lalu memiringkan kepalanya untuk menatap tajam ke arah wajah tampan berseri bak mega senja itu.
Ye Feiran meredam suaranya, namun guratan senyum di antara alisnya masih tidak bisa disembunyikan. Ia berkata dengan lembut, "Nona Miao juga bermaksud baik untukmu, ikuti saja perkataannya, untuk apa kau harus mendebatnya!"
Sembari berbicara, ia melangkah mendekat. Tatapan matanya sempat terpaku sesaat di bagian perut bawah Miao Yinshu, lalu dengan sangat cepat kembali beradu pandang dengannya seraya bertanya penuh perhatian, "Apakah tadi terluka?"
"Tidak!" Miao Yinshu menjawab dengan tegas; ia sama sekali tidak ingin tertangkap basah dalam kesempatan apa pun oleh pria ini.
Mata pria ini benar-benar sangat tajam. Ia jelas hanya merasa tidak nyaman sesaat saja, tapi entah bagaimana bisa langsung disadari olehnya.
"Begitukah?" Nada suara pria itu menyiratkan kecurigaan yang tidak ditutup-tutupi, namun ia tidak memperpanjang masalah itu dan hanya mengangguk kecil. "Jika tidak apa-apa, baguslah!"
Sementara itu, si pelaku utama yang hanya tahu makan bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang berbicara dalam sandi rahasia. Dengan polosnya ia mengalihkan pandangan bolak-balik di antara keduanya dan berkata, "Nenek bilang, kalau melihat kalian sedang asyik mengobrol, aku boleh pergi! Kakak, Pangeran Kelima, apakah kalian ini sedang asyik mengobrol?"
"Ha?" Miao Yinshu seketika merasa puluhan gagak melintas di atas kepalanya. Perasaan tak berdaya yang begitu pekat langsung mengepung dirinya. Sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh Nenek dan Ayahnya itu?
Ujung alis Ye Feiran terangkat naik. Jelas sekali ia juga merasa cukup terkejut bahwa Nyonya Tua memberikan pesan seperti itu kepada Miao Miao. Namun, ia rupanya tidak menyangka gadis gemuk yang hanya tahu makan ini dengan polosnya mengucapkan kalimat tersebut secara terang-terangan, sungguh membuat orang merasa geli sekaligus dilema.
Kendati demikian, karena keluarga gadis ini tampak senang melihat kedekatan mereka, bagaimana mungkin ia tega menolak? Bukankah itu berarti ia terlalu tidak tahu diuntungkan?
Maka, pemuda setampan giok itu pun tersenyum tipis bagaikan tiupan angin musim semi, lalu berkata, "Jika Nona Miao ada urusan lain yang harus diurus, silakan lakukan saja!"
"Sibuk! Aku sibuk! Aku tentu saja sangat sibuk!" Miao Miao mengulang kata 'sibuk' sebanyak tiga kali, dengan penekanan yang semakin meningkat di setiap katanya. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah Nenek telah berjanji bahwa jika ia membawa orang masuk ke kamar Kakak dan melihat mereka 'asyik mengobrol', ia akan dianggap menuntaskan tugas dengan sukses, dan setelah itu ia bisa pergi makan makanan lezat!
"Baiklah, baiklah! Pergilah, pergilah!" Miao Yinshu kembali memutar bola matanya dengan pasrah. Supaya anak itu tidak lagi melontarkan kata-kata yang mengejutkan di kemudian hari, membiarkannya pergi adalah pilihan terbaik.
"Baiklah! Kalau begitu aku pergi ya! Pangeran Kelima, saat waktu makan tiba, aku akan datang menjemputmu lagi!" Usai meninggalkan kalimat itu, Miao Miao melenggang pergi dengan langkah riang gembira seolah telah menyelesaikan misi pentingnya.
"Um, Pangeran Kelima, anak itu terkadang memang sering mengucapkan hal-hal yang mengejutkan dan tidak tahu saringan kata. Mohon jangan dimasukkan ke hati ya!" Sebagai kakak dari saudari yang tidak tahu aturan itu, Miao Yinshu merasa tetap harus memberikan penjelasan untuk meredakan kecanggungan.
Ye Feiran melangkah santai menuju meja di samping. Menyibak jubahnya, ia duduk dan menggerakkan bibirnya tipis-tipis, namun hanya melontarkan dua patah kata yang sederhana: "Feiran!"
"Eh?" Miao Yinshu sempat kebingungan dan tidak langsung menangkap maksudnya. Ia menatap dengan pandangan kosong ke arah postur anggun pria itu yang duduk tenang di kursi.
"Kita sudah tinggal serumah selama sepuluh hari penuh, memanggilku Pangeran Kelima bukankah terasa terlalu asing? Lebih baik kau memanggilku Feiran, dan aku akan memanggilmu Yinshu, bagaimana?" Meskipun kalimat itu diucapkan dalam bentuk pertanyaan, namun kesungguhan di balik ekspresinya menyiratkan ketegasan yang tidak membantah.
Pria ini, di balik penampilan luarnya yang tenang dan dingin, ternyata menyimpan jiwa yang begitu dominan dan teguh.