Peri Lebah Kecil
“Nyonya, jangan khawatir. Setelah naik ke dipan, tubuhku jadi lebih hangat, dan sekarang aku sudah jauh lebih baik!” ucap Cik Su dengan senyum lemah, sembari mengusap air matanya dengan asal. “Untung saja Anda dan Tuan Fei kembali tepat waktu, kalau tidak, semua barang-barang yang Anda beli dengan susah payah pasti sudah dirusak oleh mereka! Nanti, kita harus berterima kasih dengan baik pada Tuan Fei!”
“Ya, tentu saja! Sekarang, Cik Su, istirahatlah sebentar lagi. Tuan Fei sudah pergi memanggil tabib untuk Anda. Aku akan keluar sebentar membereskan barang-barang yang ada di luar!” Miao Yinshu memang khawatir kalau ayah dan anak tak tahu malu itu akan kembali lagi, jadi lebih baik segera memasukkan semua barang ke dalam. Kalau tidak, sekarang dia sendirian tak akan mampu melawan mereka.
Untungnya, Liu Dacai sudah ketakutan setengah mati, dan Liu Xiaojun sedang dikejar oleh ayahnya, jadi untuk sementara mereka tidak terpikir untuk kembali menyerang. Keduanya pun sudah menghilang entah ke mana.
Setelah bersusah payah menyeret sekarung beras dan sekarung tepung ke dapur, tabib satu-satunya di desa pun tiba, dibawa oleh Fei Yunyi. Setelah memeriksa nadi dan menuliskan resep obat, tabib itu mengatakan tidak ada masalah serius, asal beristirahat dengan baik semuanya akan baik-baik saja. Ucapan itu membuat semua orang merasa lega.
Tentu saja, demi menenangkan Cik Su dan memberinya asupan yang bergizi, juga sebagai ungkapan terima kasih pada Fei Yunyi, Miao Yinshu memasak makan siang yang lezat. Ketiga orang dewasa dan si bayi kecil pun makan bersama dengan suasana yang hangat dan meriah.
Selesai makan, Fei Yunyi berpamitan karena tak enak berlama-lama, dan ia berjanji pada Miao Yinshu bahwa ia akan mendesak kepala desa agar segera membantunya menemukan sebidang tanah di kaki bukit yang baik, supaya mereka bisa cepat-cepat pindah rumah dan dia pun merasa lebih tenang. Tentu saja, kalimat terakhir hanya ia simpan dalam hati, tanpa diketahui Miao Yinshu.
Setelah mencuci piring dan memastikan Cik Su serta si kecil sudah tidur, Miao Yinshu buru-buru masuk kembali ke ruang penyimpanan rahasianya untuk merawat tanaman obat. Semua bahan yang dibutuhkan untuk resep tabib tersedia lengkap di dalam ruang itu, sehingga ia tak perlu repot pergi ke kota untuk membeli obat.
Setelah mengumpulkan semua tanaman obat, mencabuti rumput liar, menyiram tanaman, dan memberi makan ikan, Miao Yinshu hendak melihat-lihat ke peternakan. Namun, dari sudut matanya, ia melihat seekor makhluk kecil yang tidak biasa sedang bermain-main di atas forsythia yang sedang berbunga.
“Aneh, bukankah itu Lebah Kecil QQ dari peternakan? Kenapa bisa sampai ke sini?” Begitu ia berbicara, makhluk kecil itu seolah mengerti dan segera terbang mendekatinya, berputar beberapa kali di sekelilingnya, lalu kembali ke bunga forsythia yang sedang bermekaran.
“Jangan-jangan dia sedang menyerbuki bunga?” Pikiran itu melintas di benaknya, dan ia pun terkejut mendapati bahwa si kecil memang sedang menaburkan serbuk sari.
Karena saat ini hanya forsythia yang sedang berbunga, lebah kecil itu pun dengan cepat menyelesaikan tugasnya, mengepakkan sayap, membersihkan kaki-kakinya yang mungil, lalu terbang dan hinggap di kepalanya untuk beristirahat.
“Ternyata kamu tadi bersembunyi di kepalaku sejak dari peternakan, makanya bisa terbawa ke sini!” Tawa pun pecah dari bibir Miao Yinshu. Tak disangka, ruang rahasianya kini semakin menyenangkan. Bahkan binatang pun bisa hidup dengan baik di dalamnya. Ia benar-benar merasa Tuhan masih memperhatikannya.
Saat ia melihat kembali forsythia yang telah diserbuki, data panen menunjukkan jumlahnya bertambah sepuluh lagi. Benar-benar harta karun! Berarti ke depannya ia harus rajin masuk ke ruang rahasia. Saat musim bunga tiba, Lebah Kecil QQ bisa sangat membantu.
Setelah masuk ke peternakan dan mengunjungi hewan-hewan di sana, bercengkerama sejenak, memberi mereka makan rumput, barulah Miao Yinshu keluar dengan perasaan puas.