Pikiran orang-orang zaman dahulu memang aneh dan sulit ditebak.
"Tidak ada tapi-tapian lagi!" Dengan sekali dorong, dia memaksa Cik Cengkuh duduk di tepi ranjang, menatapinya sampai benar-benar naik ke dipan. Setelah itu, Miao Yinshu baru menurunkan keranjang kecilnya dan segera menghampiri si kecil Xue Er untuk bermain-main dengannya.
Bayi yang baru berumur beberapa hari ini masih belum jelas mirip siapa, maka setiap hari Miao Yinshu selalu berdoa dalam hati, "Semoga mirip pengasuh! Mirip pengasuh! Harus mirip pengasuh!" Ia sungguh berharap bocah kecil itu, saat tumbuh besar, akan mewarisi wajah pengasuh, kalau sampai mirip laki-laki tak tahu budi itu, dia pasti akan jengkel setengah mati.
"Tadi kau ke mana saja? Kenapa pulang selarut ini?" Cik Cengkuh masih saja khawatir melihat gadis muda keluar sembarangan, tak tahan untuk tidak menanyakan ke mana perginya.
Apalagi, setelah salju lebat, meski dua hari ini cuaca cerah dan salju mulai mencair, tanah liat di jalan gunung jadi gembur dan licin. Sedikit saja lengah, tanah longsor bisa membuat orang terjatuh.
"Oh, cuma naik ke bukit sebentar!" jawab Miao Yinshu acuh tak acuh. Satu tangannya yang kecil masih digenggam oleh tangan mungil Xue Er, satu lagi mengeluarkan ginseng dari keranjang. Saat Cik Cengkuh bersiap memarahinya, ia buru-buru memamerkannya, "Pengasuh, coba tebak ini apa?"
Awalnya, ia memang berniat mengalihkan perhatian pengasuh dengan ginseng itu. Namun, siapa sangka cara ini malah tak berhasil. Seketika itu pula, Cik Cengkuh sadar bahwa ginseng seperti itu tak mungkin didapat dari bukit kecil belakang rumah. Matanya langsung memerah, marah bertanya, "Nona, apa kau masuk ke hutan lebat?"
"Pengasuh, jangan marah, ya!" Baik laki-laki maupun perempuan, keduanya tak pernah tahan melihat air mata. Begitu Miao Yinshu melihat air mata Cik Cengkuh menetes tanpa peringatan, ia buru-buru mengambil sepotong kain untuk mengusap air matanya. "Jangan khawatir, aku tidak pergi sendirian, kok. Aku pergi bersama seseorang!"
Syukurlah, Tuhan masih melindunginya. Beruntung ia menolong si bocah laki-laki di tengah jalan, jadi ia punya alasan bagus untuk berkelit. Maaf ya, adik kecil, kakak sudah memanfaatkanmu dua kali! Besok kalau ginseng ini laku dan dapat perak, kakak akan belikan makanan enak untukmu!
Eh, ia baru teringat, bocah itu saja sekali keluarkan uang langsung satu tael perak, mana mungkin peduli apakah dia dibelikan makanan oleh orang lain atau tidak!
"Siapa?" Mendengar ada teman, hati Cik Cengkuh sedikit lega. "Apa Nyonya Zhong?"
"Bukan, tapi Tuan Muda Fei dari rumah kepala dusun!"
"Tuan Muda Fei? Kenapa dia bisa ikut denganmu ke gunung?" Selama tiga belas tahun tinggal di Bukit Sepuluh Li, Cik Cengkuh sudah mengenal semua keluarga di desa, jadi tentu tahu tentang Tuan Muda Fei yang menumpang di rumah kepala dusun.
Namun tetap saja, ada yang membuatnya curiga. Beberapa hari lalu, nona memang bilang menerima hadiah dari Tuan Muda Fei, itu masih bisa dianggap sebagai amal sehari-hari. Tapi hari ini, mengapa dia malah menemani nona ke gunung? Jangan-jangan ada maksud tertentu?
Orang zaman dulu memang berpikiran aneh. Padahal mereka baru anak-anak berumur tiga belas atau empat belas tahun, bertemu dan makan bersama pun mestinya tak ada masalah. Tapi di zaman penuh aturan sopan seperti ini, laki-laki dan perempuan sejak usia tujuh tahun saja sudah tidak boleh duduk bersama. Kini Miao Yinshu yang berusia tiga belas tahun pergi bersama remaja laki-laki, wajar jika Cik Cengkuh jadi penuh curiga.
Ia mengingat-ingat kesan tentang Tuan Muda Fei itu; seorang pemuda yang sangat tampan, tahu cara bersikap dan berbudi pekerti, meski identitas aslinya belum bisa dipastikan, tapi melihat pendidikan dan cara hidupnya selama di rumah kepala dusun, pasti berasal dari keluarga ningrat.