Bab Dua Puluh Dua: Penilaian (Bagian Akhir)
Halaman 1 dari 3
“Menarik. Dalam setengah tahun, Vila Gunung Seribu Hasta merekrut dua gelombang pengawal pedang. Tampaknya vila itu memiliki rencana besar. Kalau tidak, hal ini sulit dijelaskan.”
Syu Ci berjalan mengikuti arus orang sambil berpikir. Mungkin ia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menyusup masuk. Sungguh, dewi keberuntungan sedang berpihak kepadanya.
“Datang satu per satu. Jangan berdesakan.”
Di kaki Gunung Seribu Hasta, beberapa orang berpakaian putih dan membawa pedang panjang di pinggang menerima pendaftaran di sebuah tanah lapang. Setelah mendaftarkan diri, Syu Ci dan yang lainnya berdiri berjajar.
“Karena kalian ingin memasuki Vila Gunung Seribu Hasta, urusannya tidak sesederhana itu. Kalian harus mengikuti ujian. Sekarang, siapa pun yang namanya kupanggil, maju ke depan.”
Di antara beberapa orang dari Vila Gunung Seribu Hasta, seorang pria berjanggut lebat menyapu pandangan ke seluruh peserta. Matanya memancarkan sedikit penghinaan sekaligus rasa iba.
“Ding Sanhu.”
“Hadir.”
Seorang pria bertubuh kekar segera melangkah maju setelah mendengar namanya. Melihat otot-otot di tubuhnya, besar kemungkinan ia telah berlatih ilmu pengerasan tubuh.
“Serang aku.”
Pria berjanggut itu berkata kepada Ding Sanhu.
Ding Sanhu jelas bukan orang yang suka banyak bicara. Ia segera memasang kuda-kuda dan menyerang lawannya.
Halaman 1 dari 3
Halaman 2 dari 3
Namun, langkah pria berjanggut itu begitu ringan. Setiap kali, ia selalu menghindari serangan Ding Sanhu dengan tepat.
Seolah-olah telah menebak serangan berikutnya, pria berjanggut itu kehilangan minat. Ia melompat mengelak ke kiri dan kanan, lalu mendekati sisi tubuh Ding Sanhu sebelum melancarkan tendangan beruntun yang menghantam pinggangnya.
Ding Sanhu seharusnya terlempar seperti yang dibayangkan semua orang, tetapi hal itu tidak terjadi. Ia hanya mundur beberapa langkah. Memanfaatkan kesempatan itu, ia menangkap kaki pria berjanggut tersebut, lalu memutarnya tiga ratus enam puluh derajat dan melemparkannya.
Di udara, pria berjanggut itu berputar dua kali penuh sebelum mendarat dengan mantap.
“Baik, cukup. Kau lulus. Berdirilah di sana.”
Ding Sanhu menyeringai dan mengepalkan tangan sebagai tanda terima kasih. Ia tahu, jika pertarungan sungguh-sungguh terjadi, dirinya pasti bukan tandingan lawan. Bagaimanapun, sejak awal hingga akhir, pria itu bahkan tidak mencabut pedangnya. Semua orang tahu, ilmu pedanglah keahlian terkuat Vila Gunung Seribu Hasta.
“Berikutnya, Yue Kong.”
Seorang pria yang tampan dan berpenampilan menawan keluar dari barisan setelah mendengar namanya.
“Saya berasal dari keluarga Yue di Kota Wuning, Jiangdong. Mohon Kakak Senior Meng He dari Vila Gunung Seribu Hasta memberi petunjuk.”
“Jadi kau berasal dari keluarga Yue di Kota Wuning. Bagaimana? Ketua keluarga Yue akhirnya rela membiarkanmu keluar?”
Ternyata nama pria berjanggut itu adalah Meng He. Ia tampaknya mengenal keluarga Yue dari Kota Wuning, bahkan mengenal ayah Yue Kong. Sebelum Yue Kong sempat menjawab, ia melanjutkan, “Selesaikan ujianmu dulu, baru kita berbincang mengenang masa lalu. Jangan sampai menghambat peserta lain.”
Halaman 2 dari 3
Halaman 3 dari 3
Meng He berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung, memberi isyarat agar Yue Kong menyerang. Yue Kong pun tidak bersikap sungkan. Kipas besi di tangannya adalah senjatanya. Kipas itu bergerak seolah-olah merupakan tangan keduanya; beratnya seperti tak terasa, sementara gerakannya begitu beragam dan memukau.
Kali ini Meng He juga mengeluarkan senjata. Ia menggunakan sarung pedangnya untuk bertarung melawan Yue Kong, tetapi tetap tidak mencabut pedang di dalamnya.
Meskipun tidak mencabut pedang dan hanya menggunakan sarungnya, kekuatan Meng He kali ini jauh lebih besar dibandingkan saat bertarung tanpa senjata. Yue Kong tak mampu bertahan lebih dari dua puluh jurus sebelum akhirnya kalah. Perlu diketahui, saat itu Meng He hanya menggunakan tingkat kekuatan yang sama dengan Yue Kong, yakni tingkat ahli kelas dua.
Walaupun kalah, permainan kipas yang diperagakan Yue Kong tadi terlihat sangat gagah. Ditambah wajahnya yang tampan dan halus, ia berhasil memikat banyak perempuan yang menonton. Mereka berseru kagum dan kecewa, seakan-akan ingin segera maju untuk menghibur Yue Kong.
Meng He tampaknya cukup puas dengan penampilan Yue Kong dan menyuruhnya berdiri di samping Ding Sanhu.
Setelah itu, para peserta maju satu per satu untuk mengikuti ujian. Tanpa terkecuali, semuanya dikalahkan oleh Meng He. Sebagian dipersilakan berdiri di sisi Ding Sanhu, sementara yang lain pergi dengan wajah tertunduk dan langkah lesu.
Syu Ci menyadari bahwa pada kenyataannya, siapa pun yang telah mencapai tingkat ahli kelas dua atau lebih akan diterima. Mereka yang diusir semuanya berada pada tingkat ahli kelas tiga.
Namun, di antara para peserta ujian itu, tidak seorang pun mencapai tingkat ahli kelas satu. Hal itu memang masuk akal. Para ahli kelas satu telah menjadi kekuatan inti berbagai perguruan besar di dunia persilatan. Pada dasarnya, mereka semua telah memiliki nama dan reputasi. Bagaimana mungkin mereka bersedia menjadi pengawal pedang?
“Berikutnya, Syu Shaoqiang.”
Setelah mendengar namanya, Syu Ci melangkah maju. Ia telah memutuskan untuk menggunakan nama samaran agar dapat menyusup ke vila. Jika memakai nama Syu Ci, ia khawatir akan ketahuan sehingga mengganggu rencananya. Bagaimanapun juga, setelah pertempuran di luar Lembah Tanpa Risau, namanya sudah cukup dikenal di dunia persilatan.