Kenangan Masa Lalu 2
Qiu Yuan dan Qiu Ping sama-sama mengintip ke dalam ruangan dengan sangat hati-hati, suara batang kuas yang patah tadi membuat mereka berdua ketakutan.
“Kau yakin informasimu benar? Jangan bicara sembarangan,” bisik Qiu Ping memperingatkan, sambil menunjuk ke arah Yang Fengche yang berada di dalam kamar.
“Kapan aku pernah menyebar kabar bohong?” si Mulut Besar mendengus tak senang, merasa otoritas informasinya dipertanyakan. “Selama ini, bukankah setiap kabar yang kubawa selalu yang paling akurat?”
Qiu Ping mengangguk keras. Kini kenyataannya memang sudah jelas: kabar kenaikan peringkat yang tertunda dari awal musim gugur hingga musim dingin sungguh di luar dugaan semua orang, tindakan guru benar-benar sulit dipahami.
Qiu Yuan mengusap rambut di pelipisnya. Ia membuka mulut, namun tak tahu harus berkata apa. Meski ia kini memahami betapa langka dan berharganya peringkat delapan, dirinya sendiri mungkin seumur hidup takkan pernah sampai ke tingkat itu, sehingga ia pun tak bisa benar-benar merasakan hal yang sama.
Itu seperti orang biasa berpenghasilan enam juta sebulan, mendengar kabar seorang miliuner bangkrut dan terlilit hutang miliaran. Secara logika mungkin tahu itu masalah besar dan pantas disayangkan, tapi tetap saja sulit untuk sungguh-sungguh berempati pada situasi terlilit utang semacam itu.
“Jadi, kau pasti akan segera mengumumkan rahasia besar ini ke mana-mana, ya?” tanya Qiu Yuan sambil menyelipkan tiga keping perak ke tangan si Mulut Besar. Itu sudah jadi aturan tak tertulis: tiga orang pertama yang menerima informasi berharga dari si Mulut Besar harus memberikan imbalan, dan jumlahnya turun dari tiga keping hingga satu keping.
Mereka yang menerima kabar berikutnya pun biasanya memberi beberapa keping tembaga sebagai tanda terima kasih.
Kenapa tak takut orang berhutang? Ada dua alasan: pertama, mereka semua murid dari perguruan yang sama, sering bertemu, tak perlu menipu demi uang receh. Kedua, si Mulut Besar sangat cerdik; ia akan lebih dulu menyampaikan kabar yang berkaitan dengan murid tertentu pada orang-orang yang tepat. Seperti hari ini, karena berita itu berkaitan erat dengan Yang Fengche dan Mou Tian, ia pun memastikan mereka berdua ada di tiga penerima pertama, agar urusan uang lebih mudah.
“Kau takkan kewalahan sendiri? Biar aku bantu,” Qiu Yuan tertawa kecil. Dibanding suasana depresif dalam ruangan, ia kini merasa salju di luar jauh lebih ramah. Saat ini ia ingin cepat-cepat pergi. “Tentu saja aku tak akan mengambil uangmu, aku cuma bantu antar.”
“Aku juga ikut! Tiga orang menyebarkan informasi pasti lebih efisien!” Qiu Ping mengacungkan tangan, juga ingin segera mengakhiri kunjungan hari ini—tempat ini benar-benar tak nyaman untuk berlama-lama.
Tepat saat itu, tatapan Qiu Yuan dan si Mulut Besar mendadak membeku, atau tepatnya, mereka terpana melihat Yang Fengche.
Sebelum ia sempat berbalik, Yang Fengche sudah melangkah mantap melewati mereka. “Kalian pergilah menyebar kabar, aku akan menemui guru.”
Ketiganya merasa tegang. Dalam keadaan seperti ini, kalau Yang Fengche tiba-tiba mengamuk, itu pun tak akan terlalu mengejutkan.
“Hanya soal kesempatan saja. Mou Tian memang berbakat dan punya kemampuan,” ucap Yang Fengche, entah kepada siapa, atau sekadar bicara pada diri sendiri. “Aku tak keberatan, bahkan mendukungnya.”
“Aku hanya ingin mengunjungi guru sebentar. Kalian boleh menyebarkan kabar ini, tapi jangan dilebih-lebihkan, apalagi memutarbalikkan fakta.” Setelah mendapat anggukan terburu-buru dari mereka, Yang Fengche dikelilingi awan putih, dan saat awan itu buyar, ia pun lenyap entah ke mana.
“Tapi jelas sekali dia hanya sedang berusaha menahan diri... Dua kalimat barusan seperti dipaksa keluar dari sela-sela gigi,” pikir Qiu Ping, namun ia hanya menyimpannya dalam hati. Ia merasa kasihan pada Yang Fengche; sebelum hasil diumumkan, ia benar-benar menaruh kepercayaan pada Yang Fengche.
“Baru juga dengar berita, sudah begitu seru, kan? Sudahlah, aku harus segera menyebarkan kabar, kalau terlambat, bayaran yang kuterima makin sedikit!” Si Mulut Besar tertawa puas. “Kalian berdua tadi katanya mau bantu tanpa imbalan, jadi...”
“Siapa juga yang mau bantu kau, sobat! Ngaco!” cibir Qiu Ping, segera menjauh. Adiknya juga langsung mengikutinya. Tadi mereka berniat membantu hanya agar bisa menjauh dari Yang Fengche, sekarang tentu saja mereka tak mau repot-repot.
...
Markas Besar Jurang Badai Salju terdiri dari tujuh gunung tinggi, masing-masing menjulang hingga ribuan meter. Dari puncak gunung, bisa melihat kabut yang menyelimuti lereng.
Guru mereka tinggal di puncak gunung tertinggi di antara tujuh itu... dan Mou Tian juga tinggal di sana. “Mou Tian memang lebih sering berhubungan dengan guru dibanding aku, jangan-jangan...” Yang Fengche sempat berpikir, lalu buru-buru menepis pikiran tak sopan itu, menggoyangkan kepala untuk mengusir bayangan gelap.
Salju turun semakin lebat. Butir-butirnya yang semula kecil kini sebesar bulu angsa, memenuhi langit dan menutup pandangan.
Dengan pikiran yang sudah kacau, melihat “kemacetan” di depannya membuat Yang Fengche makin tak sabar. Ia mengayunkan tangan, lapisan awan di langit seketika terbelah seperti kain yang disobek.
Sebagai penyelaras energi jalur Jurang Badai Salju tingkat tujuh, ia sudah punya kemampuan mengendalikan cuaca dalam batas tertentu. Jika sudah mencapai tingkat delapan, bahkan layak menjadi pengatur cuaca satu negara kecil-menengah.
Wilayah yang ia lewati pun terbebas dari awan, otomatis juga dari salju. Sedikit banyak itu membuat suasana hatinya membaik, meskipun ia sendiri tak tahu kenapa ia merasa begitu murung. Bukankah ia sudah berulang kali berkata bahwa Mou Tian memang pantas menang, dan ia akan menerima kekalahan dengan lapang dada? Lalu, kenapa sekarang ia begitu tak tenang, seolah ingin mendesak jawaban dari seseorang?
Langkahnya melambat, pikirannya jadi bimbang. Tidak! Yang bisa ia terima hanya jika kalah dalam adu kemampuan yang jujur dan terbuka, bukan seperti sekarang—semuanya samar, Mou Tian diduga main belakang... tapi benarkah begitu? Ia tak bisa memastikan, yang jelas ada sesuatu yang aneh dan harus ia pastikan sendiri. Langkahnya pun kembali dipercepat.
Sebuah gumpalan awan membungkus tubuhnya. Ia kembali menggunakan kemampuan teleportasi jarak pendek.
Gunung tempat guru tinggal agak berjauhan dari enam gunung lainnya, dan sangat khas: sepanjang tahun diselimuti badai dan hujan deras, langit di atas puncak penuh awan hitam aneh, kilat menyambar berkali-kali dalam hitungan detik.
Agar murid-murid tak terganggu suara petir, guru mereka dengan penuh perhatian menambah lapisan segel peredam suara, sehingga seluruh pemandangan jadi seperti kilat yang menyambar dalam diam, menimbulkan kesan aneh dan misterius.
Bagi orang-orang dalam radius puluhan kilometer, tempat itu sungguh menggetarkan. Di sanalah kekuatan langit diperlihatkan, menggambarkan betapa dahsyat dan liar Jurang Badai Salju.
Hanya segelintir murid senior yang tahu, badai dan hujan deras itu muncul sejak lima tahun lalu, saat guru mereka naik ke tingkat sepuluh dan tak mampu lagi sepenuhnya mengendalikan kekuatan yang bocor dari dirinya.
Ia tak lagi menggunakan teleportasi jarak pendek, karena di wilayah Jurang Badai Salju energi sangat tak stabil. Teleportasi bisa saja tersesat, bahkan membawanya langsung ke tengah badai. Meski ia cukup kuat untuk tak langsung tercabik-cabik, tetap saja risiko terluka berat sangat besar.
Suara angin yang meraung menggantikan deru salju. Yang Fengche didorong mundur oleh hembusan angin dari depan, kekuatan tingkat tinggi yang bocor menekan dirinya, membuatnya sulit untuk tak bertekuk lutut. Dengan susah payah, ia menahan diri agar tetap bisa melangkah.
Ia sadar, badai kali ini jauh lebih hebat dari biasanya! Apakah guru sengaja membuatnya, tak ingin ditemui?
Pembuluh darah di dahi dan leher Yang Fengche menonjol, wajahnya sedikit terpuntir, ia mengerahkan seluruh tenaga untuk mendekati kediaman guru!
Rumah Mou Tian sangat dekat dengan guru, hanya beberapa ratus meter, juga ada beberapa murid lain yang tinggal di sekitar sana. Ia tak peduli Mou Tian ada atau tidak, langsung melangkah ke arah bangunan tinggi mewah di puncak gunung, bak istana.
Bangunan itu setinggi sekitar sepuluh meter, beratap bulat, berkali-kali disambar petir namun tetap utuh dan dalam beberapa detik petir itu lenyap.
Yang Fengche menaiki anak tangga hendak mengetuk pintu. Dua murid lain yang sedang sibuk dekat rumah guru hanya mengangguk sekilas, tak bereaksi lebih jauh.
Dari ekspresi mereka, Yang Fengche yakin mereka sudah tahu segalanya. Tatapan mereka pun mengandung sedikit belas kasihan... Darahnya mendidih, namun ia buru-buru menahan diri. Toh mereka tinggal sangat dekat dengan guru, wajar bila tahu lebih dulu. Buat apa juga mempermasalahkan itu.
Ia terus melangkah masuk, semua pemandangan yang biasanya membuatnya kagum—lukisan megah, awan tipis di dalam ruangan, suasana menekan seluruh bangunan—kini tak lagi ia pedulikan.
Ia langsung menuju tempat biasa guru berada: kamar tidur.
Sejak guru mereka naik ke tingkat sepuluh, kondisi mentalnya sering tak stabil dan harus menyeimbangkan diri dengan tidur. Lama-lama jadi kebiasaan, hingga delapan dari sepuluh kali mereka datang, guru pasti sedang tidur.
Baru sampai depan pintu kamar, ia mendengar suara percakapan di dalam, jelas itu suara Mou Tian dan guru!
Akhirnya Yang Fengche tak bisa lagi menahan diri. Wajahnya tegang, ia mengetuk pintu. Begitu diizinkan, ia pun masuk.
Mou Tian seperti biasa mengenakan pakaian putih, wajahnya menampakkan senyum tak serius, duduk santai dan nyeleneh di kursi sandar dengan kaki terjulur sembarangan.
Biasanya gaya seperti itu hanya membuat Yang Fengche ingin menepuk jidat, kini malah membuatnya muak. Ia pun melemparkan tatapan jijik, meski hanya sepersekian detik sebelum dialihkan.
Guru mereka tampak muda, mengenakan jubah biru, tinggi lebih dari satu delapan puluh sentimeter, rambut putih panjang tergerai, dagunya berjanggut putih, wajahnya tanpa kerut sedikit pun. Ia punya aura ramah, sulit dipercaya bahwa pemimpin tertinggi jalur Jurang Badai Salju justru sama sekali tak mirip orang pemarah.
Guru dan Mou Tian tengah berbincang, namun berhenti begitu Yang Fengche masuk. Ia sendiri bukan tipe yang suka menguping di luar pintu—baginya itu penghinaan.
“Kau sudah datang?” Guru berambut putih itu melambaikan tangan, mempersilakan ia mendekat. “Kau ke sini untuk...”
“Tak ada apa-apa, aku hanya ingin melihat-lihat,” ujar Yang Fengche tanpa bergerak dari tempatnya. Kedua kakinya terasa seperti diisi timah, bahkan untuk melangkah pun terasa berat. “Sekalian... mengucapkan selamat pada Mou Tian.” Ia berusaha memasang wajah santai, namun kata-katanya seperti keluar dengan susah payah.
“Terima kasih, beberapa hari lagi aku akan traktir kalian, kita ajak beberapa teman dekat turun gunung untuk makan besar bersama,” kata Mou Tian sambil tertawa, entah benar-benar tak peka pada suasana, atau memang tak peduli. “Aku sendiri tak menyangka bisa naik tingkat, ya begitulah...”
Kata-katanya membuat urat darah di mata Yang Fengche makin jelas, tapi Mou Tian tak sadar, malah terus bicara tentang hidangan mewah yang akan ia traktir!
“Ehm... Kenaikan peringkat sebesar ini memang pantas dirayakan. Begitu kabar tersebar, semua pasti datang membawakan hadiah.” Sambil bicara, ia melirik guru, ingin menangkap sesuatu, tapi tak ada apa-apa. Guru tak menunjukkan sedikit pun rasa kasihan atau penyesalan, ia memang memilih Mou Tian. “Walau guru biasanya melarang kami saling memberi hadiah, dibilang terlalu materialis, tapi kali ini berbeda. Semoga guru mengizinkan kami merayakannya bersama.”
Melihat guru mengangguk setuju, hatinya seperti disayat, tak ada lagi ruang untuk harapan... Ia benar-benar tidak terpilih.
“Waduh... kalau harus terima hadiah, repot juga, harus basa-basi pada semua orang, beberapa nama saja aku sudah lupa!” Mou Tian bersungut-sungut di kursi, tapi karena guru sudah setuju, ia pun mengalah. “Tapi kalau aku benar-benar lupa nama seseorang dan dia marah, guru harus bantu aku menengahi.”
“Itu urusanmu sendiri.”
“Tidak bisa, aku payah dalam pergaulan, lidahku kaku, makin dijelaskan makin mereka marah!”
Keduanya tertawa bersama. Sementara itu, Yang Fengche sama sekali tak tersenyum. Ia merasa dirinya mendadak sangat jauh dari mereka, sampai tak mungkin lagi berbagi suka duka.
“Karena guru sehat-sehat saja dan Mou Tian akan naik tingkat, aku pun tenang.” Ia membungkuk hormat. “Ada urusan yang harus kuselesaikan, aku permisi dulu.”
Guru hanya mengangguk pelan, tak berkata apa-apa. Setelah ia benar-benar keluar, beberapa saat kemudian barulah Mou Tian menghela napas panjang, memastikan Yang Fengche sudah pergi jauh. “Ia benar-benar sangat ingin naik tingkat, ya.”
Guru hanya merapikan janggutnya, tak menjawab.
“Tak apa-apa kita tak memberitahu dia yang sebenarnya?” Mou Tian mengubah posisi duduknya, meski tetap tampak malas. “Apa ia takkan bertindak nekat... eh, maksudku bukan nekat berbuat hal bodoh, tapi mungkin saja melakukan sesuatu yang sulit dikendalikan?”
“Mungkin saja.”
“Lalu kenapa tak kita beritahu saja?”
“Ada dua alasan. Pertama, ini memang harus dirahasiakan, terlalu dini mengumumkan malah mengacaukan suasana. Kedua, kau pun sangat mengenal Yang Fengche,” jawab guru, cukup sampai di situ.
“Ia orang yang sangat bangga. Kalau tahu kebenarannya, ia pasti takkan setuju,” Mou Tian tersenyum lepas, tak lagi ragu.
“Dengan hasil ini, kau tidak merasa marah?”
“Tidak,” jawab Mou Tian tegas tanpa ragu, matanya menyipit santai, seolah berbaring di tempat yang nyaman.
“Sama sekali tidak?”
“Bukankah awalnya aku yang secara tak sengaja mendengar percakapan guru dengan utusan dari Elemental, lalu aku sendiri yang mengajukan diri? Aku tak menyesali keputusan yang kuambil.”
“Bagaimana kalau aku bilang, sejak awal aku memang lebih condong memilihmu untuk tugas ini?”
Mou Tian tertegun, beberapa detik baru bisa membuka mulut. “Tetap tidak. Aku memang seharusnya sudah mati, waktu usia enam tujuh tahun sudah layak mati kelaparan.”
“Guru yang menyelamatkanku, membimbingku hingga kini begitu kuat, bahkan memberiku kesempatan naik ke tingkat delapan.” Ucapannya seperti menyentuh bagian paling lembut di batinnya, matanya penuh kehangatan.
...
Pada hari yang ditentukan untuk kenaikan peringkat, seluruh puncak gunung meriah. Semua yang sudah mencapai tingkat enam berkumpul di kamar Mou Tian, membantu mengatur segala proses yang rumit. Mereka yang sebelumnya merasa tak enak hati pada Yang Fengche kini larut dalam sukacita. Momen sebesar ini memang langka seumur hidup, apalagi Yang Fengche sendiri sudah menerima kenyataan, jadi buat apa mereka terus mengeluh?
Kamar Mou Tian dipenuhi orang, selain para saudara seperguruan juga jajaran pimpinan dari organisasi bawahan Jurang Badai Salju, serta organisasi sekutu seperti Lingkaran Aneh, Mimpi Kacau, Elemental, dan Harta Karun Tukang juga mengirim utusan dengan banyak hadiah.
“Aduh... Sebenarnya aku tak terlalu memperhatikan hadiah, mau mahal atau murah bagiku sama saja, tapi ini...” Mou Tian tersenyum kecut, menunjuk hadiah utusan Lingkaran Aneh: sebuah lingkaran putih dari mutiara setinggi orang dewasa.
“Kalian Lingkaran Aneh sepertinya memang tak bisa lepas dari lingkaran, apa-apa selalu berbentuk lingkaran!” Begitu Mou Tian selesai bicara, utusan organisasi lain tertawa serempak.
Utusan Lingkaran Aneh adalah pria setengah baya bertampang seperti monyet, suara tawanya melengking, dua gigi depannya menonjol. Wajahnya tak menarik, tapi sangat mudah diingat.
“Tuan Mou, Anda jelas tak tahu betapa berharganya hadiah ini, ini murni dari mutiara!” ujar utusan Lingkaran Aneh dengan nada kesal dan logat kental, sambil mencibir.
“Eh, aku kan tak bilang tak suka, juga tak bilang tak berharga! Jangan sampai kau pulang dan menuduhku meremehkan Lingkaran Aneh,” kata Mou Tian terkekeh. “Kalau pun kau mau menyebar rumor, aku sih tak apa, mukaku tebal, tapi jangan seret nama Jurang Badai Salju!”
Candaan Mou Tian dan ekspresi utusan Lingkaran Aneh yang kikuk kembali mengundang tawa.
Menjelang tengah hari, semua prosesi dan basa-basi selesai. Kini waktunya acara utama.
Mereka beriringan seperti naga panjang menuju kediaman guru.
“Guru kalian lama sekali tak muncul, sedang sibuk apa?” tanya utusan Lingkaran Aneh.
Mou Tian tahu ia sedang menyelidiki kondisi organisasi, berusaha mengetahui keadaan guru. Tentu saja Mou Tian tak mau terjebak. “Sibuk apa? Tentu saja menyiapkan replika untuk kenaikan tingkat. Karena urusan kenaikanku, beliau sampai tak bisa menjamu kalian, maaf sekali!”
Ia dengan cerdik memutar balik percakapan, membuat pertanyaan sang utusan jadi sekadar keluhan karena guru tak keluar menyambut, hingga si utusan pun terdiam, mukanya memerah dan memucat silih berganti.
Semakin mendekati paviliun guru, semua orang mulai merasakan sensasi seperti tersengat listrik, jiwa diguyur hujan, dan dingin menggigil. Semua tahu, itu energi dari replika kenaikan tingkat.
Tugas Mou Tian berikutnya adalah menyatu dengan replika itu, benar-benar menguasainya, barulah kenaikan tingkat dinyatakan sah. Ya, alasan tingkat delapan begitu langka sebenarnya karena replika itu yang langka, dan satu replika hanya bisa digunakan satu orang. Cara lama menaikkan tingkat berulang dengan banyak replika tingkat rendah tak berlaku lagi.
Di saat itulah, seseorang diam-diam meninggalkan rombongan. Ia mengenakan jubah, menggunakan alat dari jalur Mimpi Kacau hingga berhasil menghilang tanpa jejak.
Orang itu adalah Yang Fengche.