Bab Seratus Dua Puluh Delapan: Aku Lagi-lagi Tidak Bisa Mencegahnya
Setelah menyikat gigi dan mencuci muka, mereka berdua kembali untuk berganti pakaian.
Saat Jiang Hansu keluar dari kamar dengan gaun panjang berwarna putih serta sepatu kets putih, Su Bai benar-benar terpana. Gaun panjang berbahan linen yang dipadukan dengan sepatu putih itu membuat sosoknya tampak jauh lebih murni dan anggun. Jepit rambut berbentuk kupu-kupu berwarna biru kehijauan menyematkan rambut hitamnya yang indah. Saat ini, Jiang Hansu benar-benar terlihat sangat cantik.
Tatapan Su Bai yang tanpa ragu-ragu membuatnya menunduk karena malu. Namun, rasa malu itu justru menambah kesan manis pada dirinya.
"Aku ingin memelukmu," ucap Su Bai. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah maju dan memeluknya. "Mulai sekarang, sering-seringlah memakai gaun putih. Aku suka melihatmu memakainya, tapi kalau pergi ke luar, jangan pakai rok pendek, pakai saja gaun panjang. Kalau tidak, aku akan cemburu," goda Su Bai sambil mengusap hidung gadis itu.
"Aku... aku juga tidak suka memakai rok pendek," bisik Jiang Hansu pelan. Ia tidak akan pernah mau memakai rok yang terlalu pendek hingga memperlihatkan paha.
"Boleh saja suka, tapi hanya boleh memakainya untukku saat di rumah," canda Su Bai.
"Tidak mau," sahut Jiang Hansu sambil mengerutkan hidungnya dengan gemas.
"Ya sudah kalau tidak mau, ayo kita memasak," kata Su Bai.
"Hm." Jiang Hansu mengangguk, lalu bertanya, "Kita masak apa hari ini?"
Karena bisa memasak sendiri di rumah, mereka sepakat untuk mulai menyiapkan sarapan di rumah juga.
"Masih ada kacang kedelai fermentasi di kulkas dan sisa potongan daging babi. Kita cincang dagingnya, potong beberapa cabai, lalu tumis bersama kacang kedelai itu. Roti tanpa ragi dimakan dengan tumis kacang kedelai rasanya sangat lezat, sudah lama sekali aku tidak memakannya. Aku yang akan menumis kacang, kau yang menguleni adonan," ujar Su Bai.
"Aku bisa melakukannya sendiri," kata Jiang Hansu.
"Memangnya kau mau melakukan semuanya sendiri?" Su Bai memprotes. "Tadi malam kita hanya makan semangkuk pangsit, sekarang aku lapar sekali. Kalau kau harus menguleni adonan sekaligus menumis kacang, kapan selesainya? Lagipula, jangan bilang kau masih ingin menjadi pembantu pribadiku saja?"
Jiang Hansu mengerucutkan bibirnya lalu bertanya, "Memangnya kau bisa memasak?"
"Oh, Hansu kecil, jangan meremehkanku! Kalau aku tidak bisa memasak, mana mungkin aku bisa membuka restoran?" tanya Su Bai balik. "Cepatlah menguleni adonan. Rumah ini adalah tanggung jawab kita berdua. Tidak ada alasan bagiku untuk membiarkanmu memasak sendirian. Lagipula, aku sendiri suka memasak dan sering melakukannya di rumah sejak kecil. Kau tidak boleh merampas hobiku ini, kan?" Su Bai mencubit pipi gadis itu dengan lembut.
"Baiklah," jawab Jiang Hansu mengangguk.
Ia mengambil baskom dan menyendok tepung dari kantongnya. Mempertimbangkan nafsu makan Su Bai, ia menambahkan satu sendok lagi. Kemudian, ia menuangkan air dan mulai menguleni adonan. Roti tanpa ragi tidak memerlukan pengembang; cukup dipotong menjadi bentuk persegi panjang lalu dikukus hingga matang. Roti tipis yang disajikan dengan tumis kacang kedelai adalah sarapan paling lezat di daerah mereka.
Adonan yang menggunakan ragi disebut adonan hidup, sedangkan yang tidak menggunakan ragi disebut adonan mati. Saat Jiang Hansu sedang menguleni adonan dengan tangan putihnya yang lembut, Su Bai pun mulai beraksi. Ia mencincang daging babi menjadi potongan kecil dan memotong beberapa cabai hijau. Setelah menyiapkan bawang merah, bawang putih, dan jahe, Su Bai menyalakan kompor dan memanaskan minyak.
Begitu minyak panas, ia memasukkan bumbu tumis dan menambahkan sedikit gula pasir. Setelah mengaduknya, ia memasukkan daging dan cabai, lalu menambahkan sedikit penyedap rasa. Saat daging sudah matang, ia memasukkan kacang kedelai fermentasi ke dalam wajan. Akhirnya, hidangan yang bisa disimpan untuk beberapa hari itu pun jadi. Kacang kedelai itu sendiri sudah asin karena proses pengawetan, jadi tidak perlu menambahkan banyak garam, justru harus ditambah sedikit gula untuk menyeimbangkan rasa asinnya.
Su Bai memindahkan tumisan itu ke piring kecil dan meneteskan sedikit minyak wijen. Rasanya sangat lezat. Jika ada roti atau bakpao sekarang, ia pasti sudah melahapnya. Ia menoleh dan melihat Jiang Hansu telah selesai menguleni adonan dan mulai menggilingnya menjadi lembaran besar, lalu memotongnya menjadi belasan bagian persegi panjang.
Su Bai menyalakan kompor yang lebih besar, menuangkan air, dan memasukkan ubi jalar. Setelah itu, ia meletakkan kukusan di atasnya dan menata potongan adonan milik Jiang Hansu di sana. Begitu air mendidih, roti tanpa ragi yang sudah lama ia idamkan akan siap.
Sepuluh menit kemudian, uap mengepul dari tutup panci. Su Bai mematikan api dan membuka tutupnya dengan kain lap. Aroma harum roti dan ubi jalar langsung menyeruak.
"Ayo makan," ajak Su Bai.
"Hm." Jiang Hansu, yang baru saja membersihkan halaman, masuk ke dapur. Melihat Su Bai sudah mengeluarkan roti, ia pun mengambil dua mangkuk bubur encer—atau lebih tepatnya, sup ubi jalar.
"Biar aku saja, hati-hati panas," ujar Su Bai mengambil alih mangkuk dari tangan gadis itu. Ia mengambil gula pasir dan menaburkannya ke mangkuk Jiang Hansu, sementara ia sendiri lebih suka menikmati rasa asli sup ubi jalar tanpa tambahan gula.
Jiang Hansu duduk di kursi, menatap tumis kacang dan roti di depannya, lalu beralih ke sup ubi jalar yang sudah diberi gula. Ia tertegun sejenak. Ia tidak pernah membayangkan momen seperti ini, dan ketika hal itu benar-benar terjadi, ia merasa ingin menangis.
Ia tidak memiliki banyak kerabat. Orang yang benar-benar menyayanginya di dunia ini mungkin hanya ibunya. Kakek dan neneknya, meski tidak mengatakannya secara langsung, pada dasarnya masih menganut paham patriarki. Terlebih lagi, ada desas-desus bahwa ayahnya pergi merantau karena kecewa ibunya melahirkan anak perempuan, bukan laki-laki. Meski kedua orang tua itu tidak memperlakukannya dengan buruk demi menjaga nama baik, sindiran-sindiran yang mereka ucapkan di belakang sering kali sampai ke telinga Jiang Hansu.
"Kenapa tidak dimakan?" tanya Su Bai melihatnya melamun.
"Oh," Jiang Hansu menarik napas panjang, lalu mengambil roti dan menyantapnya dengan tumis kacang.
"Bagaimana?" tanya Su Bai dengan gugup. "Kalau tidak enak, kau tetap harus bilang enak, kalau tidak aku akan marah," ancamnya bercanda. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar memasak untuk gadis itu, meski hanya hidangan sederhana.
"Tidak enak," ucap Jiang Hansu sambil mengerucutkan bibir.
"Bagaimana bisa?" Su Bai bingung, padahal menurutnya rasanya sudah sangat pas.
"Pfft," Jiang Hansu tertawa kecil. "Aku hanya bercanda."
Melihat Jiang Hansu yang tertawa lepas, Su Bai ikut tersenyum. "Kau sangat cantik."
Jiang Hansu mengerjapkan mata dan membalas, "Kalau cantik, lihat saja sepuasmu. Aku tidak akan melarangnya."