Bab 38: Warung Internet Era Baru
Mengingat kembali ekspresi bingung Jiang Hansu barusan, Su Bai hampir tak bisa menahan tawa. Kadang-kadang, ia memang ingin sekali menggodanya! Rasanya sama seperti saat duduk di kelas dua SMP dulu, setiap kali melewati gadis itu, ia selalu terdorong melakukan sesuatu agar diperhatikan. Semua itu, tentu saja, karena rasa suka.
Karena suka, seseorang bisa saja melakukan hal-hal yang tampak bodoh. Mungkin, bertahun-tahun kemudian saat mengenang masa itu, semua akan terasa konyol. Namun, pada saat itu, semuanya terasa menyenangkan. Masa remaja memang penuh dengan kebodohan dan kepolosan, lalu ketika dewasa, saat mengingatnya, tanpa sadar sudut bibir pun akan mengulas senyum.
Setelah turun dari gedung sekolah, Su Bai tidak langsung kembali ke asrama, melainkan mengikuti para siswa pulang sekolah keluar dari gerbang. Ia tidak pergi ke tempat lain, melainkan membeli dua kotak mi goreng di luar, lalu langsung menuju Warnet Era.
Uang memang tak pernah lepas dari hidup, namun setelah terlahir kembali, Su Bai tidak berniat buru-buru mencari uang. Sebab, waktu masih panjang dan di kota kecil ini ia masih berstatus siswa kelas tiga SMP, kebutuhan uang pun belum terlalu mendesak. Hanya saja, kejadian di kedai Su You Shi membuatnya sadar bahwa ia mesti mulai memikirkan cara mencari uang, lebih baik lagi jika bisa mendapatkannya lebih awal sebagai cadangan untuk keadaan darurat.
Siapa tahu jika suatu saat sakit, masa harus meminta uang pada orang tua lagi? Setelah terlahir kembali, Su Bai benar-benar tidak tega melakukan itu. Lagi pula, jika hasil ujian masuk sekolah menengah tidak memuaskan, dan hanya kurang beberapa poin untuk masuk SMA 14 Guocheng, dengan uang pun ia masih bisa membeli nilai. Jadi bagaimanapun caranya, Su Bai harus mulai mencari uang.
Di saat seperti ini, jika ingin menghasilkan uang tanpa modal besar, hanya ada satu jalan: menjadi joki game. Tentu saja bukan di server nasional, karena pada masa itu pemain League of Legends di server nasional masih sangat sedikit, apalagi untuk urusan joki. Mengandalkan joki di server nasional tak akan menghasilkan banyak. Namun, berbeda dengan server Amerika, masa itu justru merupakan waktu terbaik untuk menjadi joki.
League of Legends sudah rilis di server Amerika sejak 2009, jadi di Eropa dan Amerika saat ini sangat populer.
Di kehidupan sebelumnya, Su Bai saat itu hanyalah seorang pemain jalanan berperingkat tinggi di server nasional. Mendapat order joki saja sudah bagus, ia bahkan tak pernah terpikir bermain di server Amerika. Namun, di kehidupan kali ini, Su Bai tahu banyak pemain profesional di server Amerika mencari uang sebagai joki, bahkan sebagian besar pemain profesional dalam negeri pun berlomba-lomba meraup keuntungan di sana.
Tahun 2012, dunia e-sports di Tiongkok masih sangat suram, gaji pemain profesional bahkan hanya satu dua juta. Tanpa bermain di server luar negeri, mereka hampir tak bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2014 saat League of Legends sangat populer di dalam negeri, hanya dengan menjadi joki sudah cukup untuk menghidupi banyak studio dan pemain profesional.
Pada masa itu, menjadi joki benar-benar seperti tidur sambil menghasilkan uang. Tak usah bicara tentang pemain profesional yang hanya menerima order peringkat tinggi, asal punya kemampuan setara Diamond, joki di peringkat rendah sudah bisa menghasilkan puluhan juta sebulan—dan itu pada tahun 2014!
Dari awal 2014 hingga akhir 2015, di masa kejayaan League of Legends, itulah periode emas bagi para joki profesional. Pada tahun 2014, saat Su Bai mengikuti liga tingkat A, ia sebenarnya sudah berhenti menjadi joki dan lebih memilih menjual akun, terutama akun peringkat Raja.
Saat itu, sebuah akun Raja biasa di server Ionia sudah bisa dijual seharga lima hingga enam puluh juta, sedangkan dua akun yang dijual Su Bai di server Elektrik Satu, masing-masing laku hingga tujuh puluh juta. Menjelang akhir 2014 hingga akhir 2015, berbagai platform streaming bersaing sengit memperebutkan streamer League of Legends, seperti Douyu. Asal ID streamer diberi embel-embel Douyu dan mampu mencapai peringkat Raja sebelum penutupan musim, masing-masing akan mendapat bonus seratus juta, bahkan peringkat pertama nasional bisa mendapat bonus hingga ratusan juta.
Sambil membawa dua kotak mi goreng yang baru dibelinya, Su Bai melangkah masuk ke Warnet Era.
Warnet Era terletak di Plaza Era, baru beroperasi setahun, untuk mesin dan interior saja sudah menghabiskan hampir dua miliar. Bisa dibilang, ini warnet terbaik di Guocheng. Terdiri dari dua lantai, di tiap lantai atapnya dihiasi lampu warna-warni yang terus berkelap-kelip. Begitu masuk, suasananya lebih mirip klub malam ketimbang warnet.
Di dalam warnet, sofa, sekat, AC, hingga tanaman hias, semuanya serba lengkap. Begitu Su Bai masuk, udara hangat dari pintu putar langsung menyapanya. Setelah seharian diterpa angin dingin di luar, kehangatan ini terasa begitu nyaman.
Warnet ini milik keluarga teman sekelas Su Bai, namanya Tang Wei, salah satu dari sedikit siswa di Yuhua yang berasal dari keluarga berada.
Ayah Tang Wei sudah lama membuka bisnis warnet di Guocheng, dulunya juga seorang maniak game. Selama bertahun-tahun, berkat bisnis warnet, keluarganya pun jadi makmur. Total penghasilannya selama bertahun-tahun sudah sekitar empat hingga lima miliar. Di Guocheng, empat sampai lima miliar sudah termasuk keluarga papan atas.
Tang Wei sendiri putus sekolah sejak kelas dua SMP. Sebenarnya, alasan ia berhenti sekolah juga ada hubungannya dengan Han Cheng. Han Cheng tahu keluarganya kaya, jadi ia cek pekerjaan rumah Tang Wei secara khusus. Begitu menemukan ada puluhan soal yang belum dikerjakan, Han Cheng menyuruhnya membeli buku tulis. Namun, setelah keluar, Tang Wei langsung pulang ke rumah dan tak pernah kembali ke sekolah.
Menurutnya, “Biarpun gue berhenti sekolah, gue nggak sudi jadi celengan buat Han Cheng yang tua bangka itu.”
Su Bai kadang merasa aneh, kenapa di sini banyak sekali nama yang ada unsur “Wei”-nya, baik Wei, Wei lain, maupun Wei yang lain. Dan mereka rata-rata punya kesamaan: nilai jelek dan berbadan gemuk. Terutama soal nilai, Su Bai belum pernah menemukan yang bernama Wei dan nilainya bagus di sekitarnya.
Begitu Su Bai masuk, Tang Wei yang duduk di meja resepsionis langsung menyapanya.
“Kak Bai, kenapa Sabtu kemarin nggak datang? Padahal gue mau minta diajarin main LOL,” sapa Tang Wei sambil tersenyum.
Sebenarnya, Su Bai mulai bermain League of Legends juga karena diajak Tang Wei. Sejak kecil terbiasa dengan komputer, Tang Wei sudah mencoba banyak game, mulai dari World of Warcraft, DOTA, hingga akhirnya jatuh cinta pada League of Legends. Setelah itu, selama belasan tahun, ia hanya fokus pada game ini. Ia tipe pemain yang kemampuan pas-pasan, tapi kecanduan berat.
Su Bai sendiri mulai main League of Legends seminggu setelah server nasional dibuka untuk umum atas ajakan Tang Wei. Namun hingga akhir 2011, Su Bai sudah menembus 2000 poin, sementara Tang Wei masih berkutat di 1200 poin saja.
Pada musim S1 dan S2, League of Legends belum mengenal sistem peringkat, yang digunakan adalah poin rank. Jika dikonversi ke sistem peringkat klasik setelahnya, maka 1200 poin setara dengan Bronze atau Silver, sedangkan 2000 poin milik Su Bai sudah bisa menembus pertandingan papan atas, karena pada saat itu, 2200 poin sudah masuk lima puluh besar nasional.
“Sabtu kemarin aku pulang kampung, Wei. Bantu nyalain komputer dong,” kata Su Bai.
“Mau main semalaman? Kalau iya, nggak usah nunggu jam sepuluh, sekarang juga bisa gue setel,” balas Tang Wei.
“Nggak usah, cukup tiga jam aja.” Su Bai menjawab. Sudah tidak muda lagi, tak bisa seperti dulu main semalaman di warnet. Lagi pula, besok masih ada pelajaran.
“Siap,” jawab Tang Wei.
...