Bab Dua Belas: Sampai Di Sini Saja
"Kemarin siang saya sudah bilang kalau hari ini akan ada pemeriksaan buku latihan, tapi sampai sekarang masih banyak yang belum selesai mengerjakannya. Kalau kalian saja tidak menganggap buku kalian penting, maka harus ada hukuman. Siapa saja yang namanya saya panggil, sekarang juga turun dan belikan buku latihan, satu soal yang belum dikerjakan berarti beli satu buku. Saya ingin tahu apakah kalian akan kapok atau tidak. Tugasnya hanya sedikit, sudah diberi waktu satu hari pun masih tidak selesai." kata Han Cheng.
"Li Ke, tiga soal."
"Han Mingxin, tiga soal."
"Jia Ping, dua soal."
"Cheng Lidong, lima soal."
"Wang Hai, satu soal."
"Duan Yan, satu soal."
"Zhao Zi, dua soal."
Mendengar ucapan Han Cheng, mereka langsung mengambil kartu makan dan turun ke bawah untuk membeli buku latihan.
"Wang Wei, dua puluh lima soal."
"Mu Weishan, dua puluh satu soal."
"Sun Feng, sembilan belas soal."
"Zhang Xiang, dua puluh soal."
...
"Su Bai, tujuh puluh enam soal!"
Begitu Han Cheng selesai membacakan sebelas nama terakhir, semua siswa di bawah panggung menoleh kepada Su Bai.
Mereka tahu, setelah ini pasti akan ada tontonan menarik.
Setelah Han Cheng selesai membaca daftar nama, Su Bai dan yang lain pun berdiri.
Yang menarik, satu baris di kelas berisi sepuluh orang, terbagi dua lajur. Di lajur yang diperiksa Jiang Hansu, hanya Su Bai seorang yang berdiri. Sementara di lajur yang diperiksa Gao Yuan, sepuluh orang di dua baris paling belakang semuanya berdiri.
Selain Su Bai, kesepuluh orang ini tadinya mengira yang akan memeriksa tugas mereka adalah Jiang Hansu, sehingga seperti biasa mereka tidak mengerjakan tugas. Baru setelah tahu yang memeriksa adalah Gao Yuan, mereka panik dan buru-buru menyalin, namun meski sudah mengejar soal pilihan ganda dan isian singkat, tetap saja masih banyak soal aplikasi yang belum selesai disalin.
Ini masih mending karena Gao Yuan memeriksa dengan lambat, sehingga mereka sempat menyalin soal pilihan ganda dan isian singkat.
Kalau yang memeriksa secepat Jiang Hansu, masing-masing pasti masih punya lebih dari empat puluh soal yang belum dikerjakan.
Su Bai dan yang lain hanya berdiri, tapi tidak ada tanda-tanda akan turun membeli buku latihan.
Namun, Han Cheng tidak langsung mengurus Su Bai dan kawan-kawan, melainkan menoleh ke satu siswa lain.
"Zhou Xiaohui, buku latihan baru beberapa hari dibagi sudah hilang, saya rasa kamu tidak perlu ikut pelajaran ini lagi, keluar dan berdiri di luar sampai buku latihanmu ketemu. Kalau tidak ketemu, jangan masuk pelajaran saya lagi." ujar Han Cheng.
Setelah urusan Zhou Xiaohui selesai, Han Cheng baru menoleh ke Su Bai dan kelompoknya, para pembangkang sejati di kelas.
Sebenarnya, saat Jiang Hansu dengan marah masuk kantor dan menyerahkan daftar nama itu, Han Cheng juga sempat pusing.
Sebelumnya setiap kali Gao Yuan memeriksa tugas siswa, tidak pernah mencantumkan nama Su Bai, apa dia tidak tahu? Dia tahu, bahkan bukan cuma dia, semua guru mata pelajaran di kelas dua belas, kecuali guru Bahasa dan Sejarah, tahu betul Su Bai memang tidak pernah mengerjakan tugas.
Hanya saja mereka semua memilih tutup mata, karena Su Bai benar-benar tidak bisa diatur.
Bukan karena Su Bai akan melawan jika dimarahi, tapi karena nilai Bahasa dan Sejarah Su Bai selalu di peringkat atas kelas. Dulu mereka juga pernah mencoba menasihati, ingin membimbing Su Bai agar nilainya di semua pelajaran naik.
Bagaimanapun, jika dua mata pelajaran bisa ia kuasai, mengapa pelajaran mereka nilainya buruk? Apa mereka tidak sehebat guru Bahasa dan Sejarah?
Setiap guru merasa tidak terima, ingin Su Bai juga berprestasi di pelajaran mereka, membuktikan bahwa mereka tidak kalah hebat.
Maka, waktu kelas dua SMP, hampir setiap hari Su Bai dipanggil ke kantor guru untuk dinasihati.
Tapi anak itu sangat cuek, apapun yang dinasihatkan masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tidak berpengaruh sama sekali.
Akhirnya, para guru pun menyerah. Setelah itu, apapun yang Su Bai lakukan di kelas, selama tidak mengganggu, tidak ada yang menegur.
Saat Han Cheng melihat Su Bai tidak mengerjakan 76 soal, ia tahu urusannya bakal rumit.
Kalau tidak dihukum, peraturan yang ia buat jadi tidak berlaku, dan wibawanya jatuh.
Bagaimanapun, yang lain saja harus beli satu buku untuk satu soal yang belum dikerjakan, kenapa Su Bai tidak?
Apa guru pun pilih kasih pada yang lemah?
Tapi kalau Su Bai tetap harus beli buku sebanyak itu, jelas Su Bai tidak akan mau menyerahkannya.
Bukan hanya Su Bai, beberapa siswa bandel lain juga pasti tidak mau.
Lihat saja Sun Feng, Zhang Xiang, Mu Weishan, siapa di antara mereka yang bukan pembangkang?
Han Cheng juga heran, bagaimana bisa Jiang Hansu, siswa cerdas itu, tiba-tiba cari masalah dengan Su Bai?
Han Cheng berpikir sejenak, lalu berkata, "Soal kalian yang belum dikerjakan terlalu banyak, saya juga tidak akan memaksa kalian menebus semuanya sekaligus. Besok sudah libur, kalian pasti juga tidak punya uang sebanyak itu untuk beli buku. Jadi kali ini, masing-masing dihukum sepuluh buku dulu. Kalau tugas berikutnya masih belum selesai, akan saya jumlahkan dengan yang sebelumnya."
Setelah itu Han Cheng berkata lagi, "Sekarang, semuanya turun beli buku latihan."
Ia mengambil buku, siap menjelaskan soal yang Su Bai tulis di papan pada pelajaran sebelumnya.
Han Cheng merasa keputusannya sudah tepat, sepuluh buku per orang, masih dalam batas kemampuan mereka, dan wibawanya tetap terjaga.
Sebenarnya, saat Han Cheng bilang hanya sepuluh buku, Sun Feng, Zhang Xiang, dan yang lain sudah siap menerimanya. Mereka pun hendak turun membeli buku.
Namun saat itu, Su Bai angkat bicara.
Dengan tenang ia berkata, "Pak Han, menurut saya hukuman beli buku seperti ini sebaiknya cukup sampai di sini saja, dan ke depannya tidak perlu diadakan lagi."
Suara Su Bai tidak keras, tapi kelas sangat hening, sehingga kata-katanya terdengar jelas dan mengejutkan semua orang.
Sun Feng, Zhang Xiang, Mu Weishan, dan yang lain malah gembira, langkah mereka yang hendak turun pun terhenti.
Wajah Han Cheng langsung menggelap, penuh amarah dan keterkejutan.
Selama bertahun-tahun mengajar, ini pertama kalinya ada siswa yang berani menentangnya di kelas, bahkan meminta agar hukuman beli buku dihentikan.
Di kota kecil ini, gajinya sebulan hanya dua-tiga juta, tapi dari hasil hukuman beli buku selama setengah semester, ia bisa mendapat tambahan sejuta.
Jadi, mana mungkin ia menghentikan hukuman itu?
Lagi pula, jika siswa tidak mengerjakan tugas, bukankah wajar diberi hukuman?
Guru lain memang menghukum fisik, ia tidak mau, karena itu tidak beradab. Ia mengganti dengan hukuman beli buku, apa salah?
Namun Su Bai, yang sudah matang dan punya pendirian, tidak berhenti sampai di situ.
"Pak Han, karena Anda pernah mengajar saya, saya masih memanggil Anda guru. Tapi sebagai guru, mana mungkin mencari uang dari siswa yang kebanyakan juga dari keluarga tidak mampu? Anda memang mencari uang itu sulit, tapi orangtua kami juga tidak kalah sulitnya mencari nafkah. Setiap sen juga hasil kerja keras. Jangan bilang Anda tidak tahu, kursus yang Bapak adakan saat libur, buku latihan yang dijual pun berasal dari hukuman pada kami, apa kami tidak tahu?"
"Jadi, berhentilah, Pak Han. Jalan ini tidak akan membawa kebaikan. Jika Bapak tetap bersikeras, beberapa tahun lagi teknologi makin canggih, taraf hidup meningkat, mungkin saja ada siswa yang membongkar tindakan Bapak di internet saat pelajaran. Saat itu, kalau nama sekolah Yuhua masuk daftar trending buruk di aplikasi tertentu, pasti akan gawat."
"Usia Bapak juga sudah tidak muda. Tidak seperti saya, kalau di-bully netizen, saya masih kuat menahan tekanan. Tapi kalau kasus Bapak tersebar ke forum-forum, dan ada banyak orang yang punya prinsip menyorotinya, bisa-bisa karier Bapak hancur. Karena manusia butuh harga diri, pohon butuh kulit, saya tahu Bapak juga sangat menjaga nama baik."