Bab Tujuh Puluh Lima Bulan Purnama
Su Bai benar-benar ingin segera masuk SMA!
Karena ia yakin saat itu penampilan Jiang Hansu dalam seragam sekolah pasti akan sangat menarik.
Di SMP tempat mereka belajar, memang tidak ada seragam sekolah, tapi SMA unggulan di kabupaten maupun kota pasti memilikinya.
Setelah duduk, Su Bai mengeluarkan lembar soal bahasa Inggris dan mulai mengerjakan tugasnya.
Sejak minggu lalu, frekuensi mereka mengerjakan soal semakin sering. Ditambah lagi dengan soal-soal yang diberikan saat libur, rata-rata dalam seminggu saja mereka harus mengerjakan dua hingga tiga set soal bahasa Inggris.
Pukul tujuh malam, Su Bai mengajak Jiang Hansu masuk ke sebuah restoran hotpot.
“Mahal sekali, lebih baik kita makan seadanya di luar saja,” ucap Jiang Hansu ketika melihat Su Bai memesan banyak sekali makanan, terutama daging.
Makan malam seperti ini bisa menghabiskan lebih dari seratus yuan. Bagi Jiang Hansu, uang sebanyak itu adalah biaya hidup untuk beberapa bulan.
“Kau terlalu lemah. Aku membawamu ke sini untuk memperbaiki kondisi hidupmu,” Su Bai tersenyum, lalu berkata, “Kau adalah calon istriku di masa depan, seseorang yang akan menemaniku sepanjang hidup. Tak mungkin aku membiarkanmu terus-menerus sakit-sakitan, kan? Selain itu, kau sudah membantuku belajar. Jika sebelumnya nilai ujianku hanya cukup untuk masuk SMA nomor sembilan, nanti setelah kau membantuku mengulang pelajaran, mungkin aku bisa masuk banyak SMA unggulan. Itu adalah sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang. Jika SMA nomor satu menawarkan kursi dengan harga puluhan ribu yuan, aku yakin akan banyak orang tua yang rela membayar. Jadi, dibandingkan dengan itu semua, mentraktirmu makan malam bukanlah apa-apa.”
“Lagipula semua menu sudah dipesan dan uangnya sudah kubayar. Tak mungkin kita pergi tanpa makan, kan?” tambah Su Bai.
Su Bai memang khawatir gadis itu menolak, jadi setelah masuk ke restoran tadi, ia langsung ke kasir, memesan semua makanan, dan segera membayarnya.
Kondisi tubuh Jiang Hansu yang lemah memang perlu asupan daging yang bergizi. Su Bai pun berencana mengajaknya makan hotpot setiap minggu. Sayang, sekarang mereka belum bisa tinggal di asrama dan memasak sendiri, kalau bisa, ia ingin sekali memasakkan sup iga untuknya, yang jauh lebih bergizi.
“Hanya kali ini saja, ya.” Semua makanan sudah dipesan, jadi kalau pergi pun akan sia-sia. Tapi kalau lain waktu Su Bai mengajaknya makan di sini lagi, ia pasti tak mau.
Hubungan mereka pun belum sejauh itu, dan meski kelak sudah sedekat itu, Jiang Hansu tetap tidak ingin Su Bai mengeluarkan uang sebanyak ini untuknya.
Bagi Jiang Hansu, yang penting bisa makan kenyang saja sudah cukup, masalah gizi atau tidak, itu bukan hal yang utama.
Su Bai tersenyum dan berkata, “Baiklah.”
Kalau sudah sekali, pasti akan ada kesempatan kedua. Su Bai hanya perlu membayar di awal, maka ia tak perlu khawatir Jiang Hansu menolak makan.
Su Bai mengambil beberapa potong daging dan memasukkannya ke dalam panci mendidih. Setelah matang, ia angkat dan meletakkan daging itu di mangkuk Jiang Hansu.
Mungkin karena masih panas, Jiang Hansu memakan satu potong lalu menjulurkan lidah, “Terlalu panas.”
“Kalau begitu, tiup dulu sebelum makan, jadi tidak terlalu panas,” ujar Su Bai sambil tersenyum.
“Baik.” Jiang Hansu mengambil sepotong daging dengan sumpit, lalu meniupnya perlahan sebelum memasukkannya ke mulut.
Saat ia mengunyah, ia mendongak dan mendapati Su Bai menatapnya lekat-lekat.
Wajah Jiang Hansu langsung memerah, dan setelah itu ia tidak meniup dagingnya lagi saat makan.
Porsi makan Jiang Hansu sangat sedikit. Dari semua makanan yang dipesan Su Bai, lebih dari setengahnya akhirnya masuk ke perutnya sendiri.
Untung saja tubuh Su Bai saat ini juga kurang gizi, kalau tidak, di masa depan, ia tak akan berani makan daging sebanyak ini.
Setelah selesai makan, mereka keluar dari restoran hotpot. Su Bai mampir ke minimarket di sebelah, membeli dua botol yakult.
Minum yogurt setelah makan hotpot baik untuk pencernaan.
Kuah hotpot yang panas dengan bumbu yang asin dan pedas dapat mengiritasi lambung dan usus, sehingga mudah merusak lapisan mukosa pencernaan. Karena itu, minum yogurt setelah makan hotpot dapat melindungi mukosa lambung dan usus.
Yogurt mengandung bakteri asam laktat yang dapat mengasamkan rongga usus, menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk, dan mengurangi produksi racun di usus, sehingga dapat mencegah diare dan sakit perut.
Itu semua adalah pengalaman yang Su Bai dapatkan setelah makan hotpot berkali-kali di kehidupan sebelumnya.
Setelah memberikan sebotol yakult pada Jiang Hansu, Su Bai juga menusukkan sedotan ke botolnya sendiri dan meneguknya. Rasanya asam manis, sangat menyegarkan.
“Baru saja selesai makan, kalau langsung duduk, tidak baik untuk kesehatan. Mari kita jalan-jalan dulu,” kata Su Bai sambil tersenyum.
“Baik,” Jiang Hansu mengangguk pelan.
Musim semi telah kembali, segala sesuatu bangkit menyambut kehidupan.
Angin musim semi di bulan Maret begitu hangat.
Tunas-tunas baru di pohon willow di pinggir jalan sudah mulai tumbuh. Mereka berdua berjalan pelan di koridor di tepi Sungai Wo, diiringi suara katak dan burung musim semi yang bersahutan.
Su Bai berjalan di samping Jiang Hansu, sangat ingin menggenggam tangan kecil gadis itu.
Akhirnya ia benar-benar mengulurkan tangannya.
Tak bisa menahan diri, walaupun sudah mencoba, tetap saja gagal.
Karena itu, daripada menahan, lebih baik mencoba saja.
Namun, saat tangannya baru menyentuh tangan Jiang Hansu, gadis itu terkejut dan menarik tangannya, menjauh dari jari-jari Su Bai.
Wajah Jiang Hansu memerah, ia tak berani lagi berjalan sejajar, dan memilih berjalan setengah langkah di belakang.
Su Bai menoleh dan tersenyum padanya, “Maaf, aku tak bisa menahan diri. Lain kali aku tak akan mengulanginya.”
“Benar-benar tidak akan kulakukan lagi,” kata Su Bai lirih, “Kembalilah berjalan di sampingku, rasanya sangat hangat jika kau ada di sisiku.”
Jiang Hansu berkata pelan, “Aku... aku bisa berjalan di sampingmu lagi, tapi kalau kau sentuh aku lagi, aku akan pulang duluan.”
“Baik,” Su Bai mengangguk sambil tersenyum, “Aku benar-benar tak bisa menahan diri, suasana terlalu hangat, jadi ingin sedikit lebih bahagia. Aku memang terlalu serakah.”
Setelah kejadian sebelumnya, seharusnya ia tak perlu tergesa-gesa.
Tapi, meski pikirannya berkata begitu, setiap kali bersama Jiang Hansu, apalagi hanya berdua, ia selalu ingin melakukan sesuatu padanya.
Mungkin memang sudah jatuh cinta sedalam itu, sampai ke tulang sumsum, kalau tidak, Su Bai tak akan kehilangan kendali seperti sekarang.
Di kehidupan sebelumnya, menghadapi puluhan ribu penonton pun ia bisa tetap tenang, tapi di hadapan gadis ini, ia benar-benar kehilangan kendali.
Benar-benar seperti terkena racun gadis itu, dan yang paling parah, ia justru menikmatinya.
Jiang Hansu pun kembali berjalan di sisinya, dan mereka melanjutkan langkah beriringan di sepanjang Sungai Wo.
Kota kecil yang jauh dari pusat keramaian ini, meski punya banyak kekurangan, langit berbintangnya tetaplah yang paling indah.
Cahaya bulan seputih air, ribuan bintang berkelip menghiasi langit, pemandangan seperti ini, baik di masa lalu maupun sekarang, jarang ditemui di kota-kota besar.
Jika musim panas tiba, di rerumputan pinggir sungai, kau bahkan bisa melihat banyak kunang-kunang menari.
Namun, itu akan menjadi kilauan terakhir. Beberapa tahun kemudian, bahkan Kota Wo pun kehilangan cahaya kunang-kunang.
Banyak orang keluar di malam hari, tapi kebanyakan adalah kakek nenek yang menemani cucu-cucu mereka bersekolah di sini.
Kota Wo adalah kota yang santai, karena selain anak-anak, penduduknya didominasi orang tua.
Anak muda punya cita-cita, dan cita-cita berarti pergi merantau.
Tak jauh dari mereka, sekelompok ibu-ibu menari di alun-alun, lagunya adalah “Cahaya Bulan di Kolam Teratai” dari Legenda Phoenix.
Lagu itu sebenarnya enak didengar, tapi karena terlalu sering diputar, rasanya jadi biasa saja. Lagu memang seperti itu.
...