Bab Lima Puluh Dua: Mengapa, tidak boleh?
Di musim dingin, sup telur asam sangat cocok untuk menghangatkan perut. Setelah meneguk setengah mangkuk, Su Bai melihat Han Su kedinginan belum juga mencicipi supnya, sebab rambut di kedua pelipisnya terlalu panjang. Setiap kali ia menunduk, helaian rambut itu jatuh menutupi wajah, sehingga sampai sekarang setetes sup pun belum masuk ke mulutnya.
Su Bai pun mengulurkan tangan, membantu menyibakkan seluruh rambut di sekitar telinganya, lalu tersenyum, “Begini saja sudah cukup.”
Han Su tidak berkata apa-apa, kedua tangan mungilnya memegang mangkuk, menunduk menikmati sup panas yang mengepul. Dengan bantuan Su Bai menahan rambut, kali ini tak ada rambut yang menghalangi, setengah mangkuk sup asam pun mengusir sebagian besar hawa dingin dari tubuhnya.
Setelah menghabiskan supnya, Han Su meletakkan mangkuk dan berkata, “Sungguh merepotkan, seharusnya sudah lama dipotong.”
“Kau mau potong rambut panjangmu?” tanya Su Bai dengan alis berkerut.
“Ya.” Han Su mengangguk, “Dulu aku memelihara rambut panjang hanya untuk dijual.”
“Kalau aku bilang aku suka rambut panjang, tidak ingin kau potong, bagaimana?” tanya Su Bai.
Han Su menggigit bibir, tak menjawab. Sebenarnya, ia sendiri tak tahu harus menjawab apa.
“Kalau kau potong, aku tak mau lagi sama kamu,” ancam Su Bai.
“Aku kan bukan milikmu,” Han Su mengangkat kepala dan menjawab.
“Bagiku, sejak lama kau sudah jadi milikku,” kata Su Bai.
“Nanti kau boleh merapikan ujungnya, tapi jangan dipotong. Kalau kau potong, mungkin saja aku benar-benar berpaling ke orang lain,” katanya lagi.
“Itu kan justru bagus,” Han Su menjawab pelan.
“Serius,” Su Bai menatapnya sambil tersenyum.
“Aku juga serius,” Han Su berpaling.
“Haha.” Su Bai tersenyum tipis, tak menggoda lagi, lalu berkata, “Bu, tolong hitung semua makannya.”
Tiga mangkuk mi kering sembilan ribu, dua mangkuk sup telur asam empat ribu, ditambah sepuluh ribu untuk daging anjing, totalnya dua puluh tiga ribu.
Su Bai berpikir sejenak, lalu mengeluarkan semua koin logam dari saku celananya yang sedari tadi berisik sepanjang perjalanan.
“Astaga, kok bisa banyak sekali koinnya?” melihat Su Bai mengeluarkan segenggam koin, istri pemilik warung pun terkejut.
“Tadi waktu habis mandi, aku main mesin jackpot dan menang, sepanjang jalan bunyinya nyaring sekali,” jawab Su Bai.
Ketika Su Bai dan Han Su berjalan di bawah payung tadi, Han Su beberapa kali hampir bertanya apa yang ada di kantong Su Bai.
“Kamu hebat juga, anak saya main mesin itu tak pernah menang,” kata istri pemilik warung sambil tertawa.
“Mungkin aku lagi beruntung saja,” sahut Su Bai sambil tersenyum.
Setelah membayar, mereka berdua keluar dari warung mi.
Para murid sudah libur, guru pun libur, bahkan kakek penjaga gerbang pun entah ke mana menghilang.
Setelah kembali ke kelas, mereka mulai mengerjakan tugas bahasa Inggris, hanya saja tugas mereka berbeda.
Pak wali kelas memberi tugas kepada siswa lain berupa latihan di buku kerja bahasa Inggris, sementara untuk Su Bai, tugasnya adalah mengerjakan dua lembar soal ujian bahasa Inggris.
Kedua lembar soal itu adalah ujian akhir semester kelas satu, diambil dari kelas satu oleh wali kelas—masing-masing untuk semester pertama dan kedua.
Jika tidak menghitung minggu pertama saat baru masuk, maka dua minggu ini Su Bai sudah menuntaskan semua materi bahasa Inggris kelas satu.
Sebenarnya, materi kelas satu itu lebih banyak yang di semester dua. Beberapa bulan pertama Su Bai sekolah di Yuhua, nilai bahasa Inggrisnya sangat bagus, dan materi semester satu juga tak banyak, jadi selama dua minggu ini yang ia pelajari kebanyakan memang materi semester dua.
Su Bai duduk di sebelah Han Su, tepat di bangku Gong Qing. Ia mencium wangi segar sampo di rambut Han Su yang baru selesai mandi, lalu mulai mengerjakan soal.
Dua lembar soal memakan waktu cukup lama, hingga pukul dua siang barulah Su Bai selesai.
Setelah mengerjakannya, Su Bai meletakkan soal di depan Han Su dan tersenyum, “Ketua kelas, bisakah kau membantuku mengoreksi?”
Han Su mengangguk, mengambil pensil lalu menghitung nilai kedua lembar soal Su Bai. Setelah selesai, ia berkata, “Cukup bagus.”
Setiap lembar soal bernilai seratus lima puluh, dan Su Bai mendapatkan nilai di atas seratus sepuluh untuk keduanya. Untuk seseorang yang hanya belajar dua minggu, hasil ini memang sudah tergolong baik.
Namun, hanya bisa dibilang baik, sebab Han Su sendiri jika mengerjakan soal seperti ini bisa nyaris sempurna.
“Hanya seratus sepuluh? Kukira bisa dapat seratus dua puluh atau seratus tiga puluh,” kata Su Bai agak kecewa melihat nilainya.
Saat menulis tadi ia begitu percaya diri, benar-benar berbeda dengan saat ujian dulu yang sering tak mengerti soal. Ia pikir dapat seratus tiga puluh itu mudah saja.
Han Su berkata, “Jangan sombong dan jangan tergesa-gesa. Kau menulis terlalu cepat, banyak bagian tak sempat diperiksa ulang, itu tidak baik dalam ujian. Coba lihat soal isian di lembar ini, yang seharusnya mudah malah kau jawab salah. Kalau nanti kau lebih teliti, nilaimu pasti bisa naik banyak.”
Setelah berkata begitu, Han Su melanjutkan, “Dulu aku juga pernah mengalami hal yang sama waktu mengerjakan soal, tepatnya saat ujian akhir semester dua kelas dua. Saat itu soal matematika sangat mudah, aku yakin akan dapat nilai sempurna, jadi setelah selesai aku hanya memeriksa soal cerita di belakang, tidak memeriksa bagian depan. Waktu hasil keluar, beberapa orang dapat nilai sempurna, tapi aku tidak. Biasanya saat soal sulit, hanya aku yang sempurna, tapi kali itu aku hanya dapat seratus empat puluh sembilan, karena salah satu soal isian dijawab sembarangan.”
Su Bai terdiam.
Ini semacam pamer prestasi? Namun bagi Han Su, ini memang bukan pamer, melainkan kenyataan.
Beberapa tahun terakhir, nilai matematika Han Su selalu sempurna, kecuali pada ujian akhir semester dua itu.
Jujur saja, soal matematika saat itu memang mudah, bahkan Su Bai pun dapat lima puluh tiga.
Memang setiap ujian akhir tahun, soal dibuat mudah, tujuannya jelas: agar siswa dapat nilai tinggi supaya orangtua merasa anaknya berprestasi di sekolah.
Ini trik lama yang sering dipakai sekolah. Yuhua masih mending, dulu waktu Su Bai SD di perguruan silat kota, saat ujian akhir, tidak ada guru yang mengawasi, semua anak bisa dapat sembilan puluh atau seratus.
Setelah menerima lembar soal, Su Bai kembali memeriksa bagian yang salah. Beberapa memang karena tak sempat dicek ulang dan ceroboh.
Selain itu, masih banyak yang belum ia pahami, jadi ia menunjuk bagian yang sulit dan meminta Han Su menjelaskan. Han Su pun dengan sabar menerangkan satu per satu.
Soal-soal sulit itu, setelah dijelaskan Han Su, akhirnya menjadi jelas bagi Su Bai.
“Kong Zi pernah berkata, berteman dengan orang baik seperti masuk ke taman bunga anggrek—lama-lama terbiasa dengan keharumannya. Kalau saja sejak dulu aku duduk di sebelahmu, mungkin niliku sudah lama bagus,” ujar Su Bai sambil mengelus dagu dan tersenyum. “Jadi setelah ujian bulan depan, aku putuskan bertukar tempat dengan Gong Qing, duduk di sampingmu, supaya bisa ikut-ikutan pintar. Pepatah kuno bilang, dekat dengan yang baik jadi baik, dekat dengan yang buruk jadi buruk. Aku kalau terus duduk di samping Xu Lin, nilainya pasti tak akan naik-naik.”
“Tapi tokoh Dinasti Song, Zhou Dunyi, pernah bilang bunga teratai tumbuh dari lumpur tapi tak ternoda, jadi duduk di mana bukan masalah. Kalau kau benar-benar ingin belajar, orang lain tak bisa mempengaruhimu, kecuali semangat belajarmu itu cuma omong kosong,” balas Han Su tergesa-gesa setelah mendengar Su Bai ingin duduk di sampingnya.
“Kalau begitu, menurutmu, kisah ibu Mengzi tiga kali pindah rumah juga tidak ada gunanya?” Su Bai tertawa.
“Sudahlah, bicara panjang lebar juga tak ada artinya. Aku cuma ingin duduk di sampingmu. Kenapa, tidak boleh?” Su Bai bertanya dengan wajah serius.
“Kalau begitu, dari tadi bilang saja,” Han Su mengerucutkan bibir dan berkata pelan.
…