Bab Sembilan Puluh Lima: Syarat
“Beberapa rumah makan memang memerlukan,” ujar Han Su yang tengah berbincang.
“Hei, Han Su, ngomong-ngomong soal rumah makan, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Bagaimana kalau aku rekomendasikan pekerjaan untukmu?” Su Bai tiba-tiba tersenyum.
“Pekerjaan apa?” Han Su mengerutkan hidung mungilnya, lalu bertanya.
“Kau masih ingat warung mi Putih Su yang pernah kita datangi dulu? Aku kenal baik pemiliknya. Minggu lalu kudengar mereka sedang mencari kasir, gajinya empat juta sebulan. Kalau kau berminat, bisa kubantu rekomendasikan. Dengan hubunganku dengan pemiliknya, merekomendasikan seseorang sepertimu pasti sangat mudah,” kata Su Bai sambil tersenyum.
Empat juta rupiah, di Kota Pusaran, angka itu sangat menggiurkan.
“Empat juta? Mana mungkin?” Han Su bertanya dengan terkejut.
Tahun lalu, saat liburan musim panas, ia pernah bekerja di restoran, mencuci piring dan gelas, sebulan hanya dapat sedikit di atas sejuta.
“Kenapa tidak mungkin? Kau juga tahu betapa ramainya warung mi mereka. Jadi kasir di sana tidak mudah, makanya gajinya juga lebih tinggi,” jelas Su Bai.
“Waktu itu kita ke sana, bukankah sudah ada kasirnya?” tanya Han Su.
“Putih Su punya empat warung mi di daerah ini. Yang butuh kasir itu di cabang barat, dekat SMA Satu. Kebetulan di sana memang sedang kosong posisi kasir,” jawab Su Bai.
“Tapi... aku harus pulang dulu menemani ibuku beberapa waktu,” ujar Han Su ragu.
Empat juta sebulan, godaan itu jelas membuat hatinya goyah.
Hanya saja, waktunya bersama sang ibu dalam setahun sangatlah sedikit. Kebanyakan waktu ia habiskan di sekolah, dan jika nanti SMA sudah pindah ke kota, mungkin satu semester baru bisa pulang sekali.
Karena itu, ia ingin memanfaatkan liburan musim panas ini untuk lebih banyak menemani ibunya.
“Tidak apa-apa, kasir yang di sana juga masih butuh waktu sebelum keluar. Kau bisa di rumah dua minggu dulu, baru mulai kerja. Pas banget waktunya,” kata Su Bai.
“Kau tadi bilang mereka belum ada kasir di sana, kan?” Han Su kembali mengerutkan hidungnya, lalu bertanya, “Kau... jangan-jangan kau hanya mengada-ada?”
“Han Su, menurutmu aku ini penipu?” Su Bai berkata agak kesal, “Kalau kau tidak mau, ya sudah. Banyak kok teman sekelas kita yang sedang cari kerja musim panas ini. Kalau kau tak berminat, aku bisa rekomendasikan orang lain.”
“Aku... aku mau,” jawab Han Su cepat.
Kesempatan sebagus ini, mana bisa dilewatkan!
Lagi pula, Su Bai bukan tipe yang suka berbohong untuk hal semacam ini.
Toh, kalaupun menipunya, Su Bai tak akan dapat untung apa-apa!
“Huh,” Su Bai mendengus dingin. “Baru sekarang mau? Sudah terlambat!”
Gadis kecil ini, firasatnya benar-benar tajam.
Padahal Su Bai merekomendasikannya ke warung mi Putih Su, sebenarnya bukan benar-benar ingin Han Su jadi kasir.
Pertama, Su Bai sendiri merasa sayang. Kedua, ia ingin mengajak Han Su jalan-jalan selama liburan musim panas ini.
Liburan setelah ujian masuk SMA sangat panjang, mereka baru mulai sekolah tanggal satu September. Su Bai ingin memanfaatkan waktu itu untuk memperbaiki kesehatan Han Su.
SMA nanti ada pelatihan militer. Dengan kondisi tubuh Han Su yang sekarang, jelas tak akan sanggup menjalaninya.
Sebenarnya alasan sebanyak itu dan berbagai dalih hanyalah karena Su Bai tak sanggup berpisah dua bulan dari Han Su.
Dua bulan.
Itu enam puluh hari, seribu empat ratus empat puluh jam, delapan puluh enam ribu empat ratus menit, lima juta seratus delapan puluh empat ribu detik.
Bagaimana mungkin Su Bai sanggup menahan rindu?
“Jangan, jangan begitu!” Han Su buru-buru menarik lengan bajunya.
“Aku ini penipu!” Su Bai menepis tangannya.
“Jangan jahat padaku!” Han Su hampir menangis.
Membayangkan uang sebanyak itu harus hilang dari genggaman, rasanya sungguh menyakitkan bagi Han Su.
Empat juta sebulan, kalau dua bulan jadi delapan juta.
Delapan juta. Ia bisa memberikan enam juta pada ibunya, dan menyisakan dua juta untuk membelikan hadiah bagi Su Bai.
Ia tahu ulang tahun Su Bai tanggal sembilan belas September.
Selama beberapa bulan ini, Su Bai sudah mengeluarkan banyak uang untuknya.
Ia memang belum bisa membalas semuanya, tapi setidaknya bisa mengembalikan sebagian.
Nanti kalau sudah punya penghasilan tetap, ia akan mengembalikan semuanya perlahan.
Apa pun hubungan mereka di masa mendatang, Han Su tidak ingin bersama Su Bai hanya karena uang.
Setelah semua utang terbayar, hubungan mereka akan setara.
Jika suatu saat Su Bai menyukai orang lain, ia pun bisa pergi dengan kepala tegak, karena tak lagi berhutang apa pun.
Su Bai pernah bilang tak ingin ia berutang budi pada siapa pun, namun justru pada Su Bai-lah Han Su paling tak ingin berutang budi.
Walaupun Su Bai hidup dua kali, ia takkan pernah berpikir seperti itu.
Gadis-gadis yang pernah ditemuinya di kehidupan sebelumnya, tak satupun yang merasa canggung menerima hadiah dari pacar sendiri.
Mana ada seperti Han Su, yang bahkan setelah menerima hadiah masih ingin membalas?
Pada dasarnya, Han Su memang kurang rasa aman. Semakin kuat getaran di hatinya, semakin takut ia akan ditinggalkan Su Bai.
Jika suatu hari mereka menikah, segala utang dan budi akan lenyap, sebab mereka sudah jadi keluarga.
Tapi kalau di tengah jalan harus berpisah?
Uang yang sudah dikeluarkan Su Bai untuknya, meski Su Bai tak minta kembali, Han Su pasti tetap ingin mengembalikannya.
Jika kau menipuku, aku akan memutuskan segalanya dengan bersih, lalu pulang dan sendiri menelan luka.
Itulah Han Su.
Ia keras kepala, menjaga harga diri, dan sensitif.
Gadis seperti itu, sangat langka di dunia.
Kalau suatu saat kau bertemu, dan belum mampu menjamin kebahagiaannya seumur hidup, jangan pernah melukai hatinya.
Karena gadis seperti itu, laksana kristal: indah, tapi sangat rapuh.
Begitu dikhianati dan disakiti, mungkin akan hancur berkeping-keping.
Sejak dulu, wanita cantik sering kali bernasib malang, dan kebanyakan nasib buruk itu karena mempercayai orang yang salah.
“Kapan aku pernah jahat padamu? Bukankah kau sendiri yang bilang aku penipu? Kalau aku penipu, kenapa masih mencariku?” tanya Su Bai dengan wajah datar.
“Maaf, maafkan aku...” Han Su buru-buru meminta maaf.
“Kalau minta maaf saja bisa menyelesaikan masalah, untuk apa ada polisi?” tanya Su Bai lagi.
“Jadi... kau mau apa?” tanya Han Su.
“Kau harus setuju satu syarat dariku,” ujar Su Bai.
“Apa? Tidak! Tidak mau!” Han Su menggeleng cepat.
Ia berpikir sejenak, lalu mundur beberapa langkah.
Su Bai hanya bisa terdiam.
“Kepalamu itu isinya apa sih? Syarat ini tidak ada hubungannya dengan pikiranmu yang aneh-aneh itu,” Su Bai berkata tak sabar.
“Lalu apa?” tanya Han Su.
“Sesuatu yang sangat sederhana. Bukankah kau ingin membalas budi? Aku bantu kau dapat kerja, nanti kau juga bantu aku satu urusan,” jelas Su Bai, “Tenang saja, bukan hal yang berlebihan. Kalau kau merasa tak sanggup, bisa kau tolak juga nanti.”
“Itu harus kau tepati,” kata Han Su.
“Tentu, aku janji,” sahut Su Bai.
“Baik, sementara aku setuju. Tapi ingat, kalau syaratmu aneh-aneh, aku tak hanya menolak, tapi juga tak akan peduli padamu lagi,” ancam Han Su sambil mempoutkan bibir mungilnya.
Su Bai hanya bisa menghela napas, “Aku tak ada niat melanggar hukum!”
“Di rumahmu ada telepon?” tanya Su Bai.
“Ada,” angguk Han Su.
“Nanti kau catat nomor ponselku. Kalau sudah siap berangkat, hubungi aku. Aku akan bicara pada pemilik warungnya,” ujar Su Bai.
“Baik, baik,” angguk Han Su.
Melihat anggukan itu, Su Bai pun merasa lega.
Dengan syarat ini, nanti ia bisa mengajaknya jalan-jalan atas nama tugas dari bos.
Han Su seharusnya tak bisa menolaknya, karena ia pegawai dan Su Bai bosnya!
Kalau mau membangkang, tunggu jadi nyonya bos dulu.
...