137. Tamu dari Istana Keabadian (Bagian Ketiga)
Pria bertubuh kekar itu melontarkan kata-kata yang tidak sopan, bahkan Coulson yang berwatak sabar pun berubah air mukanya.
"Siapa kalian? Untuk apa kalian datang kemari?"
"Kau tidak berhak mengajukan pertanyaan kepada kami!" seru pria kekar itu dengan suara berat, kapak di tangannya sudah terayun ke udara.
"Coulson, hati-hati!"
Black Widow, yang berdiri di belakang Agen Coulson, bereaksi dengan sigap. Ia menerjang maju dan melayangkan tendangan ke arah perut pria kekar itu. Serangannya menyasar titik vital, namun pria itu sedikit pun tidak berniat menghindar.
Faktanya, ia justru melangkah maju menyongsong Black Widow.
Tendangan Black Widow tepat mengenai sasaran, namun ia merasa seolah sedang menendang bongkahan batu yang keras.
"Kau harus lebih bertenaga, sayang!"
Pria kekar itu mencibir, lalu berbalik dan menebaskan kapaknya ke arah Black Widow.
Black Widow melompat menghindar, sehingga kapak itu membelah mobil S.H.I.E.L.D. hingga menjadi dua bagian!
"Ya Tuhan!" Coulson terkesiap, "Apakah orang ini monster?"
"Dia bukan monster, dia adalah orang Asgard," suara Luo Xiu terdengar dari samping, "Meskipun mereka gegabah, mereka tidak berniat jahat."
"Jangan menyerang, Thor baik-baik saja. Dia hanya ditempatkan di sini untuk sementara, kami tidak menyakitinya," seru Luo Xiu buru-buru.
Tak lama kemudian, sebuah suara penuh semangat terdengar dari lorong: "Volstagg! Hogun! Fandral! Sif!"
Mendengar suara itu, keempat sosok berpakaian aneh tersebut segera menunjukkan wajah gembira. Mereka menoleh ke arah sumber suara dan melihat Thor keluar dari lorong.
Sebenarnya, S.H.I.E.L.D. tidak membatasi kebebasan Thor; ia hanya tinggal di ruang isolasi karena kondisi fisiknya. Kini, setelah mendengar suara teman-teman lamanya, ia segera berlari keluar.
"Thor, kau baik-baik saja?" tanya Volstagg si pria kekar dengan suara lantang.
"Tentu saja, aku baik-baik saja," jawab Thor sambil tertawa, namun kemudian ia mengerutkan kening, "Hanya saja kekuatan dewaku telah hilang, dan aku tidak bisa mengangkat Mjolnir."
"Lantas bagaimana bisa kau bilang baik-baik saja? Jelas sekali kondisimu sangat buruk!" ujar Volstagg dengan nada murung, "Asgard kini juga sedang dalam keadaan kacau."
"Apa yang terjadi dengan Asgard?" Thor segera menjadi tegang.
"Bapak Para Dewa telah jatuh ke dalam tidur panjang, dan Loki si bajingan itu telah mengambil alih pemerintahan... Sekarang dia menjadi penguasa Asgard, dan sepertinya dia tidak berniat menjemputmu kembali!" ucap Volstagg dengan penuh kebencian.
"Jangan menyalahkannya, Volstagg. Pengasinganku adalah perintah Ayah," kata Thor dengan nada rendah, "Lagi pula, Loki lebih cerdas dariku. Dia akan menjadi penguasa yang baik."
"Sama sekali tidak! Loki adalah seorang munafik yang licik!" seru wanita berotot di antara keempat orang itu. Luo Xiu mengenali wanita tersebut sebagai Sif.
"Hei, jangan bicara begitu tentang adikku. Dia tidak licik," tegas Thor.
"Matamu telah dibutakan olehnya, Thor!" sahut Sif dengan tajam, "Sejak Bapak Para Dewa mengumumkan bahwa kau yang akan mewarisi takhta, dia sudah menaruh dendam padamu! Dia jelas merasa dirinya yang seharusnya menjadi raja masa depan Asgard! Kecemburuan telah membuatnya mengabaikan persaudaraan kalian; dia justru berharap kau diasingkan selamanya!"
Hogun mengangguk dan berkata, "Benar, Thor. Loki bukan orang yang bisa diremehkan. Menurutku, dia sama sekali tidak berniat membiarkanmu kembali karena dia sangat terobsesi dengan takhta. Selain itu, kurasa dia diam-diam bersekongkol dengan para Raksasa Es dari Jotunheim. Tidur panjang Bapak Para Dewa pun kemungkinan besar ada hubungannya dengan dia..."
"Cukup! Jangan diteruskan! Itu tidak mungkin! Loki tidak akan berkhianat, apalagi menyakiti Ayah kita!" teriak Thor.
Di matanya, Loki selamanya adalah adik yang selalu mengikuti di belakangnya; mungkin nakal, namun tidak akan pernah berkhianat.
Namun, Tiga Pejuang Asgard dan Sif melihat dengan objektif. Mereka jelas tidak menganggap Loki layak dipercaya. Perdebatan mereka membuat suasana menjadi canggung dan senyap.
Pada saat itu, Agen Coulson maju untuk menengahi, "Jadi... tidak ada yang berniat memperkenalkan diri?"
Thor mengangguk cepat sambil menunjuk ketiga pria itu, "Mereka adalah saudara, rekan seperjuangan, sekaligus sahabatku—Tiga Pejuang Asgard: Fandral, Hogun, dan Volstagg."
Kemudian ia menunjuk wanita berotot itu, "Dia Sif, juga rekan seperjuangan dan sahabat karibku."
Setelah itu, Thor menunjuk ke arah Coulson dan kawan-kawan, "Mereka ini dari S.H.I.E.L.D., sebuah organisasi misterius di Midgard."
"Oh, Anda salah paham. Kami tidak misterius. Faktanya, kami tidak pernah berusaha menyembunyikan keberadaan kami..." sahut Agen Coulson dengan terburu-buru.
Namun, tidak ada yang peduli dengan penjelasannya. Mereka hanya mengangguk ala kadarnya kepada Agen Coulson.
"Thor, Asgard membutuhkanmu. Kami tidak bisa menerima pemerintahan Loki," ucap Hogun dengan tulus, "Faktanya, dia sedang menghancurkan Asgard."
"Kembalilah, Thor. Pulanglah ke tanah kelahiranmu," bujuk Fandral dengan sungguh-sungguh.
"Aku tidak bisa kembali. Aku diasingkan ke Midgard. Tanpa izin Ayah, aku tidak bisa pulang," Thor menunduk, "Terlebih lagi, aku sudah kehilangan kekuatan Dewa Petir dan hanyalah manusia biasa. Bahkan jika aku kembali ke Asgard, aku hanyalah sosok lemah yang tidak berarti..."
Thor menghela napas panjang.
***
Di saat yang bersamaan.
Di Asgard yang jauh.
Loki sedang diam-diam mengawasi setiap gerak-gerik Thor.
Perjalanan terakhirnya ke Bumi membuatnya sangat frustrasi. Ia tidak pernah menyangka bahwa manusia biasa yang tidak berarti di Bumi mampu menguasai sihir ruang. Penghinaan itu membuatnya semakin murka, dan kebenciannya terus menumpuk.
Kini, setelah melihat Tiga Pejuang Asgard dan Sif diam-diam pergi mencari Thor tanpa sepengetahuannya, kemarahan Loki benar-benar meledak.
"Akulah pewaris sah Asgard! Bukan kakakku yang tidak berguna itu! Beraninya kalian! Kalian berani melanggar perintahku! Jika begitu, aku akan membuat kalian mati di negeri asing!"
Sambil berucap demikian, Loki mengayunkan tongkatnya dan memanggil satu set zirah yang memancarkan cahaya perak!
Zirah Odin—Sang Penghancur!
Dibuat dari logam sihir khas Asgard, Uru, zirah ini dapat mengeluarkan sihir api yang sangat kuat.
Odin pernah mengenakannya dalam berbagai pertempuran dan meraih gelar sebagai Pelindung Sembilan Dunia. Selama bertahun-tahun Odin tidak berperang, Zirah Penghancur hanya diam membisu menjaga gudang harta karun Asgard.
Namun, begitu Sang Penghancur kembali ke medan perang, ia menjadi senjata pemusnah massal. Dengan hanya mengandalkan Tiga Pejuang Asgard, Sif, dan Thor yang kehilangan kekuatan dewanya, mustahil bagi mereka untuk melawan Sang Penghancur.
"Aku memerintahkanmu sebagai penguasa Asgard, lenyapkan para pengkhianat itu..." Loki mencibir sambil memberi perintah pada Sang Penghancur, "Bunuh Sif, Volstagg, Fandral, Hogun... Bunuh semua orang Midgard bodoh yang ada di sana... Dan terakhir, bunuh... Thor untukku!"
Pada saat ini, Loki telah dibutakan oleh kekuasaan, serta oleh kebencian, rasa sakit hati, dan ketidakpuasan.
Bukan hanya karena Odin menetapkan Thor sebagai putra mahkota, tetapi juga karena Loki telah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya—bahwa ia adalah anak yang diadopsi oleh Odin dari Laufey, pemimpin Raksasa Es Jotunheim.
Ayah bukanlah ayah kandung, saudara bukanlah saudara kandung. Ia yang tumbuh di Asgard ternyata adalah keturunan dari musuh bebuyutan Asgard, para Raksasa Es...
Kini, Loki telah kehilangan jati dirinya.
Satu-satunya hal yang bisa ia andalkan adalah kekuasaan—takhta Asgard yang ia peroleh melalui kelicikannya. Jadi, ia tidak akan menyesal meski harus membunuh Thor dan memaksa Odin tetap dalam tidur panjangnya!
Mulai saat ini, ia akan menjadi satu-satunya pewaris Odin—satu-satunya pewaris yang tidak memiliki ikatan darah sedikit pun dengan Odin.