56. Bukan Mengandalkan Garis Keturunan, Tapi Sistem
“Hmph, apa hebatnya menjadi murid baru di Hogwarts…” Sambil mengusap kepalanya, Rosyu berjalan menjauh. Ejekan Ginny dan perkataan Ny. Weasley membuat hatinya terasa tidak enak.
Namun Rosyu tidak patah semangat, ia bukan tipe yang mudah menyerah. Walaupun ia tidak memiliki darah penyihir, tak mendapatkan surat penerimaan dari Hogwarts, ia tetap bertekad naik ke kereta ekspres terkutuk itu.
Ia memunculkan sistem di benaknya dan mulai meneliti kolom keahlian.
————
Mata Pelajaran: Sihir
Sihir Cahaya: Lv1 (0/1000)
Sihir Angin: Lv1 (0/1000)
Sihir Tanah: Lv1 (0/1000)
Sihir Api: Lv1 (0/1000)
Sihir Air: Lv1 (0/1000)
Sihir Petir: Lv1 (0/1000)
Sihir Kegelapan (Sihir Hitam): Lv1 (0/1000)
Sihir dan Keterampilan Pendukung Lain: Lv1 (0/1000)
————
Melihat deretan angka (0/1000) yang tak ada habisnya di kolom keahlian, Rosyu menggeleng dan menghela napas. “Tak heran aku ditolak di peron Sembilan Tiga Perempat, dasar sihir pun aku tidak punya, tentu saja tak mungkin berhasil masuk.”
Berdasarkan pengetahuannya tentang peron 9¾, Rosyu memperkirakan bahwa sihir perlindungan yang diterapkan di sana hanyalah sihir tingkat rendah; siapa pun yang punya dasar sihir pasti bisa masuk, tanpa perlu teknik pembobolan khusus.
Dengan pemikiran itu, Rosyu pun membuka hadiah pemula yang ia dapatkan di jagat Harry Potter—500 poin pengalaman umum.
Meski 500 poin itu tak cukup untuk menaikkan satu cabang ke tingkat 2, setidaknya statusnya berubah—seseorang yang bisa sihir tak mungkin lagi disebut manusia fana biasa.
Dengan tenang, Rosyu mengamati cabang-cabang sihir di kolom keahlian, sambil merenungkan cara membagi 500 poin itu. Ia pikir, daripada dibagi rata ke semua cabang, lebih baik difokuskan ke satu bidang saja.
Maka, Rosyu langsung menambahkan 500 poin itu ke cabang pertama—Sihir Cahaya.
Sihir Cahaya: Lv1 (0/1000) — Sihir Cahaya: Lv1 (500/1000)
Di saat yang sama, sebuah pesan muncul dalam benaknya:
Mantra terbuka: Mantra Pemurnian Dewa—dapat menghilangkan sebagian efek negatif pada target.
“Keahlian ini tampak cukup bagus.”
Rosyu tersenyum, lalu berdiri dan menatap ke arah peron 9¾.
Keluarga Weasley sudah masuk, bahkan Ginny kecil pun tak terkecuali, sementara Harry Potter sudah tak tampak, mungkin sudah naik ke kereta.
Melihat waktu, sudah pukul 10:59. Kereta hanya tinggal satu menit lagi berangkat, waktu Rosyu sangat sedikit!
“Aduh!”
Karena terlalu asyik meneliti kolom keahlian, ia hampir saja ketinggalan kereta.
Ia segera berlari menuju peron 9¾, dan melompat di titik pilar batu ketiga.
Kali ini tak ada lagi tembok yang menghadang. Dugaan Rosyu benar, tapi sebuah kekuatan besar seperti menahan ruang di depannya, seolah ia menabrak busa tebal.
“Apakah ini sihir perlindungan peron Sembilan Tiga Perempat?”
Rosyu terkejut, dan tanpa sadar melafalkan mantra Pemurnian Dewa yang baru ia pelajari.
Toh, sebagai penyihir pemula dengan semua keahlian masih di tingkat 1, ia hanya bisa mantra itu saja. Ia bahkan tak punya tongkat sihir, hanya bisa mengandalkan tekadnya.
Segera setelah mantra terucap, Rosyu merasakan tubuhnya dilingkupi kekuatan aneh, hangat seperti cahaya mentari yang menyelimuti seluruh tubuh.
Sekejap kemudian, hambatan di sekelilingnya lenyap. Badannya terdorong ke depan, dan dengan posisi agak miring ia menjejak lantai.
“Berhasil?”
Rosyu hampir tak percaya, lalu segera melihat sekeliling.
Yang tampak di depannya adalah peron yang sepintas biasa saja, namun sebenarnya sangat berbeda. Di belakangnya, loket bertuliskan “Peron 9¾”, dan di rel berdiri sebuah lokomotif uap merah tua yang tengah membunyikan peluitnya—kereta sudah mulai bergerak!
Ia melirik jam, tepat pukul sebelas! Waktu keberangkatan sudah tiba!
Biasanya, para murid baru Hogwarts sudah berada di dalam gerbong, jadi kereta ekspres tak perlu menunggu lebih lama.
“Oh, sialan!”
Rosyu mengernyit, lalu segera berlari mengejar kereta ekspres.
Dengan susah payah berhasil masuk ke peron 9¾, masakan ia harus melewatkan kereta menuju Hogwarts?
Untunglah kereta ekspres belum melaju kencang, dan dengan efek serum prajurit super, kecepatan Rosyu sungguh luar biasa. Di atas peron, ia berubah menjadi kilatan petir, melesat mengejar kereta ekspres Hogwarts!
Para orangtua yang mengantar anak-anak mereka tertegun, terutama Ny. Weasley yang menggandeng Ginny.
“Oh, ya ampun, anak itu sudah gila? Astaga, kenapa ia bisa berlari secepat itu?”
Ginny pun berkedip heran, bertanya pada ibunya, “Tapi, Mama, bukankah dia tadi manusia biasa yang menabrak dinding? Katanya manusia biasa tak mungkin bisa masuk ke peron Sembilan Tiga Perempat?”
“Hah?” Ny. Weasley, yang tak sepeka putrinya, baru sadar setelah Ginny menyinggung hal itu; bocah yang kini mengejar kereta di atas peron, bukankah dia yang tadi menabrak dinding di luar peron 9¾?
“Benar juga, tapi… bagaimana mungkin?”
Ny. Weasley hanya bisa menatap terpana saat kereta ekspres Hogwarts melaju, membawa Rosyu pergi dari stasiun.
——————
Kereta meninggalkan stasiun.
Baru kali ini Rosyu bertindak. Ia sengaja menunggu sampai detik terakhir naik ke kereta, sebab khawatir aksinya yang gila akan menakuti para penumpang yang polos di peron.
Mungkin orang-orang di dunia ini tak terkejut pada sihir, tapi mereka pasti akan tercengang melihat efek serum prajurit super.
Mengejar kereta, bergelantungan, menendang jendela—adegan liar seperti itu jelas bukan bagian dari dunia Harry Potter.
Tepat saat lokomotif merah tua mulai menjauh dari stasiun, Rosyu pun melompat dan berpegangan pada kereta.
Bumm!
Terdengar suara berat dari dalam gerbong, beberapa murid baru menoleh ketakutan, takut terjadi masalah pada kereta sihir.
Sementara Rosyu dengan mantap bergerak ke tengah gerbong, mencari pintu masuk yang tak menarik perhatian, agar ia bisa bergabung tanpa diketahui di antara para murid baru.
Setelah memanjat dua gerbong lagi, ia menemukan jalan masuk yang pas.
Toilet—tempat paling aman untuk menyusup ke gerbong kereta.
Tanpa ragu, Rosyu menendang jendela toilet dari luar dan melompat masuk dengan lincah.
Brak!
Mendarat dengan sempurna, bahkan di atas kereta yang melaju pun ia tetap stabil.
Di saat bersamaan, sistem di benaknya memberi notifikasi:
“Selamat! Anda telah menyelesaikan misi sampingan 1: Naik ke Kereta Ekspres Hogwarts (Nomor Kereta: 5972). Hadiah: 200 poin pengalaman umum, bonus Buff acak selama seminggu.”
“Buff acak yang terpilih: Kecepatan belajar meningkat 30%.”
“Misi sampingan 2 dirilis: Sukses menggunakan satu sihir. Hadiah: 200 poin pengalaman umum, bonus Buff acak seminggu.”
“Senangnya…” Rosyu tersenyum puas, aksi kali ini benar-benar membuahkan hasil melimpah.
Namun saat itu juga, suara jeritan terdengar dari dekat.
“Aaa!!! Siapa kamu?!”
Rosyu menoleh dan melihat seorang gadis cantik berdiri di depan wastafel luar toilet, sedang merapikan pakaiannya. Mata gadis itu berbinar dan wajahnya amat menawan—Rosyu langsung mengenalinya: Hermin Granger.