Bab Enam: Menewaskan Bangau di Awan dengan Satu Jari
Tak lama kemudian, seseorang membuka gerbang kuil dan mempersilakan Lu Zhi masuk, lalu membawanya menemui kepala kuil. Kepala Kuil Yuxu adalah seorang pendeta tua dengan rambut dan janggut serba putih serta berjanggut kambing. Setelah bertemu Lu Zhi, ia terlebih dahulu menanyakan nama dan asal-usul Lu Zhi secara singkat. Setelah memastikan bahwa identitas Lu Zhi tidak bermasalah dan bahwa dia bukan penjahat yang menyamar sebagai pendeta Tao, kepala kuil kemudian memerintahkan seorang murid untuk mengantarnya ke kamar tamu kuil.
“Saudara Tao, silakan beristirahat di sini. Jika ada yang kau perlukan, jangan ragu memanggilku,” ujar murid itu.
Lu Zhi membalas dengan sopan, “Terima kasih atas keramahanmu.”
“Oh, ya. Hampir lupa,” ujar murid Kuil Yuxu ketika hendak pergi, seolah baru teringat sesuatu. Ia mengingatkan Lu Zhi, “Di halaman kecil paling kiri kuil ini, ada seorang tamu agung yang tinggal di sana. Jika tak ada urusan, sebaiknya jangan sembarangan ke sana agar tidak menyinggung beliau.”
Tamu agung? Pasti yang dimaksud adalah Dao Baifeng. Lu Zhi tentu saja mengangguk menyetujui. Tujuannya di sini hanya menunggu kedatangan Duan Yu; ia memang tak berminat pada urusan lain.
Tak lama, hari pun benar-benar gelap. Selama itu, hanya ada satu orang yang datang mengantarkan makanan untuknya, dan selebihnya Lu Zhi tidak keluar kamar sama sekali.
Malam berlalu tanpa kejadian berarti.
Keesokan paginya, setelah menyelesaikan latihan rutinnya, Lu Zhi mencari kepala kuil Yuxu untuk mengajaknya berdiskusi tentang Tao.
Kepala kuil tidak merasa aneh. Mengingat para pendeta Tao yang berkelana memang kerap mencari teman untuk duduk bersama, berdiskusi, memperluas wawasan dan pemahaman tentang Tao. Kepala Kuil Yuxu juga pernah berkelana di masa mudanya, persis seperti Lu Zhi.
Mereka duduk di pendopo dalam kuil, sambil menikmati teh dan bercakap tentang Tao.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan keras di gerbang kuil, disertai teriakan. Kepala kuil Yuxu tidak menguasai ilmu bela diri dan usianya sudah lanjut, sehingga tidak bisa mendengar dengan jelas, namun Lu Zhi mendengarnya dengan sangat jelas. Itu adalah suara Duan Yu yang meminta pertolongan.
Akhirnya tiba juga.
Kepala kuil hendak berdiri dan memeriksa keadaan, namun tiba-tiba seorang pendeta perempuan melesat cepat seperti angin keluar dari kuil.
“Kepala kuil, ada penjahat yang membuat keributan di luar. Biar aku yang mengurusnya. Kepala kuil cukup menutup rapat gerbang dan memastikan para murid tidak keluar,” ujar pendeta perempuan itu, lalu langsung melompat keluar dari kuil.
Pendeta perempuan itu tak lain adalah ibu Duan Yu, Dao Baifeng. Dengan kepandaian bela dirinya yang tinggi, ia tentu sangat awas dan dari kejauhan bisa mendengar suara anaknya meminta bantuan. Khawatir dan cemas, ia pun segera keluar untuk menolong putranya tercinta, Duan Yu.
“Aduh, sungguh malapetaka. Di siang bolong begini, ada penjahat berani-beraninya membuat ulah di depan Kuil Yuxu...” Kepala kuil tua itu menghela napas, lalu menoleh ke arah Lu Zhi. “Saudara Tao, sebaiknya kau juga ikut bersembunyi di dalam, supaya tidak terkena bencana tanpa sebab.”
Lu Zhi hanya tersenyum menolak kebaikannya.
“Tenang saja, kepala kuil. Jika aku bisa berkelana dari Gunung Wudang sampai ke sini, tentu aku punya kemampuan untuk melindungi diri. Justru penjahat yang membuat keributan itu, aku ingin melihatnya. Jika memungkinkan, aku pasti akan bertindak dan mengembalikan ketenangan bagi Kuil Yuxu.”
Selesai berkata demikian, tanpa menunggu jawaban kepala kuil, Lu Zhi sudah melompat ringan, melewati tembok tinggi kuil, dan mendarat dengan gesit di depan gerbang kuil.
Di tanah lapang di depan sana, beberapa sosok sedang bertarung. Seorang pria jangkung kurus dengan senjata berbentuk cakar aneh sedang dikeroyok beberapa orang. Pria itulah Yun Zhonghe, anggota terakhir dari Empat Penjahat Besar.
“Pendeta Qingzhi?!”
Terdengar suara terkejut dari samping, Lu Zhi menoleh dan melihat Duan Yu menatapnya dengan wajah penuh keheranan.
“Ternyata Saudara Duan. Benar kata pepatah, dunia ini sempit. Tak kusangka kita bertemu lagi di sini,” kata Lu Zhi dengan santai.
Duan Yu tidak curiga sedikit pun, hanya memaksakan senyum dan menyapanya, lalu kembali memusatkan perhatian pada situasi pertarungan dengan wajah tegang.
Yun Zhonghe, yang memang terkenal sebagai penjahat licik di dunia persilatan, meski dikeroyok banyak orang, tetap belum juga kalah. Ia terus berputar mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, membuat lawan kesulitan.
“Saudara Duan, pria jangkung kurus itu, bukankah Yun Zhonghe dari Empat Penjahat Besar?” tanya Lu Zhi, berpura-pura tidak tahu, sambil mendekat ke sisi Duan Yu.
Duan Yu mengangguk setengah sadar, “Memang dia penjahat itu.”
“Kalau begitu, kebetulan sekali. Penjahat cabul ini akhirnya bertemu denganku.”
Duan Yu sempat heran, belum sempat bertanya, tiba-tiba ia melihat cahaya bening seperti jari yang padat menembak keluar dari sampingnya, menembus udara hingga tampak bergetar, lalu tepat mengenai dada Yun Zhonghe!
Bugh!
Seketika tubuh Yun Zhonghe terhuyung, darah menyembur dari dadanya! Ia terpaku di tempat, menunduk menatap lubang berdarah di dadanya dengan tatapan tak percaya. Mulutnya terbuka, seolah ingin bicara, namun darah mengalir deras dari mulutnya dan ia pun roboh, tak bernyawa.
“Apa?!” Duan Yu langsung menoleh ke arah Lu Zhi, terkejut, “Pendeta Qingzhi, kau membunuh Yun Zhonghe!”
Lu Zhi menatapnya dengan heran, “Penjahat cabul dan bejat seperti itu, bukankah membunuhnya justru melegakan hati banyak orang?”
Duan Yu mengangguk, “Eh... memang benar juga.”
Ia hanya terkejut, Yun Zhonghe yang begitu garang, ternyata dengan mudah tewas hanya dengan satu jari Lu Zhi. Bukan hanya Duan Yu, para pendekar yang bertarung melawan Yun Zhonghe juga jauh lebih terkejut. Duan Yu sendiri memang belum belajar bela diri secara resmi, jadi tak paham betapa hebatnya itu.
Namun Dao Baifeng dan keempat pengawal jelas tahu, membunuh Yun Zhonghe semudah itu bukan perkara mudah!
Yun Zhonghe memang terkenal buruk di dunia persilatan, tapi kemampuannya tidak bisa diremehkan. Di seluruh negeri, ia termasuk pendekar tangguh, kalau tidak, ia tak mungkin bisa bertahan hidup setelah melakukan begitu banyak kejahatan.
Namun pendekar sehebat itu, bisa mati hanya karena satu jari!
Meski ilmu terbaik Yun Zhonghe adalah meringankan tubuh, dan memang tindakan Lu Zhi tadi sedikit mirip serangan tiba-tiba, tapi mampu membunuh Yun Zhonghe hanya dengan satu jurus tetap bukan kemampuan orang biasa.
Yang lebih mengejutkan, Lu Zhi berdiri hampir sepuluh tombak jauhnya dari arena itu! Dari jarak sejauh itu, ia mengirim tenaga dalam lewat jari dan membunuh Yun Zhonghe—ilmu dan tenaga dalam pendeta muda itu sungguh luar biasa!
Selain itu, meski mereka tidak melihat jelas jurus yang digunakan Lu Zhi, arah jari yang dipancarkan sangat mirip jurus keluarga kerajaan Dali, Satu Jari Matahari.
Namun mereka tidak berani memastikan, sebab seluruh keluarga kerajaan Dali memang mempelajari jurus itu, tapi belum pernah ada yang bisa memancarkan tenaga sejauh Lu Zhi, hingga sepuluh tombak.
Bahkan Kaisar Baoding, Duan Zhengming, yang dikenal memiliki penguasaan Satu Jari Matahari paling tinggi, tenaga jarinya pun tak sanggup menembus jarak lebih dari satu tombak.
Kematian Yun Zhonghe membuat suasana menjadi hening beberapa saat.
Semua orang menatap Lu Zhi, mata mereka berkilat-kilat, pikiran mereka bergolak. Namun bagaimana pun mereka mengingat-ingat, tak ada yang tahu siapa sebenarnya Lu Zhi di dunia persilatan.
“Pendeta, terima kasih atas bantuanmu membunuh Yun Zhonghe,” ujar salah satu pengikut keluarga Duan sambil memberi hormat.
Lu Zhi hanya mengangguk ringan, seolah yang dilakukannya hanyalah hal sepele.
“Aku hanya kebetulan lewat. Jika bertemu penjahat yang merugikan dunia persilatan seperti ini, aku memang takkan membiarkannya. Jadi tak perlu berterima kasih, aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”
“Pendeta Qingzhi sungguh berjiwa ksatria!” Duan Yu pun memuji, mendekat dan berbincang dengan Lu Zhi.
Setelah itu, semua berjalan seperti yang Lu Zhi perkirakan. Setelah tahu ia hendak mengunjungi Biara Tianlong di Dali, rombongan Duan Yu dengan hangat mengajaknya bergabung dan berjanji akan mengenalkannya pada para biksu agung di Biara Tianlong.