Bab Lima Puluh Tujuh: Penyerbuan ke Puncak Cahaya
Lu Zhi menatap Yang Xiao dan yang lainnya sejenak.
“Benar, akulah Lu Qingzhi.”
Mendapat jawaban dari Lu Zhi, Yang Xiao kembali berkata, “Terima kasih atas pertolonganmu, Pendekar Lu. Namun, bolehkah aku tahu... apa yang hendak kau lakukan terhadap kami?”
Saat ini, para pendekar dari berbagai aliran sudah bersatu menyerang Puncak Terang Agama Ming. Maka, meski Lu Zhi turun tangan menyelamatkan mereka dari tangan Cheng Kun, di hati Yang Xiao dan yang lain tetap timbul sedikit kewaspadaan terhadap Lu Zhi.
Melihat Lu Zhi tak menjawab, Yang Xiao pun melanjutkan, “Barangkali Pendekar Lu juga telah mendengar apa yang dikatakan Cheng Kun tadi? Semua ini adalah tipuan busuknya. Ia sengaja menempatkan Agama Ming di hadapan permusuhan seluruh aliran, berniat menumbangkan kami.”
“Permusuhan antara Agama Ming dan berbagai aliran pun banyak dipicu oleh fitnah dan adu domba dari dia...”
Yang Xiao berusaha meyakinkan Lu Zhi, berharap dapat meredakan pertikaian antara para aliran dan Agama Ming. Namun sebelum ucapannya selesai, Lu Zhi langsung menyela.
“Soal itu aku sudah lama tahu, bahkan jauh lebih jelas darimu. Maka, Yang Xiao, tak perlu lagi berbicara soal keadilan dan kebenaran padaku.”
“Aku tak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk mencelakai kalian. Namun...” Lu Zhi memandang Yang Xiao, “Aku hanya ingin bertanya padamu satu hal. Kau bilang, dendam antara Agama Ming dan berbagai aliran kebanyakan hanyalah salah paham, hasil adu domba Cheng Kun...”
“—Lalu bagaimana dengan pendekar wanita Ji Xiaofu dari Emei? Apakah itu juga ulah Cheng Kun?”
Mendengar itu, wajah Yang Xiao seketika berubah suram, matanya menampakkan kenangan, penyesalan, dan akhirnya keputusasaan yang dalam.
“Soal itu... memang aku yang bersalah padanya. Juga, aku telah mengecewakan pendekar besar Yin Liting dari Wudang.”
“Aku tak punya alasan membela diri. Jika Pendekar Lu ingin membalaskan dendam pamannya, aku bersedia menanggung mati!”
“Hanya satu permohonanku, semoga Pendekar Lu bersedia menyampaikan kebenaran tentang tipuan Cheng Kun kepada seluruh aliran, berusaha meredam malapetaka besar ini. Jika tidak, bila perang benar-benar pecah antara para aliran dan Agama Ming, pasti akan banyak pertumpahan darah, dan semua hanya memperkuat rencana si penjahat!”
Lu Zhi memandang Yang Xiao dalam-dalam, tak tahu apakah ia benar-benar tulus bersedia menerima hukuman mati, atau justru sengaja bersikap seolah-olah demi mengubah keputusan Lu Zhi.
Namun Lu Zhi tak peduli apa pun yang dipikirkan Yang Xiao. Ia hanya berkata, “Pendekar Ji Xiaofu telah meninggal dunia beberapa tahun silam karena penyakit, dan pamanku, Yin Liting, datang ke Gunung Kunlun kali ini memang untuk menuntaskan urusan dengamu.”
“Tiga hari lagi, pamanku akan menunggumu di lembah barat Puncak Terang, dua puluh li dari sini.”
Tiga hari itu adalah waktu yang Lu Zhi berikan agar Yang Xiao bisa memulihkan diri.
Lu Zhi memang tak berniat membalaskan dendam pamannya, apalagi menangkap Yang Xiao untuk dibawa ke hadapan pamannya. Ia tahu, apa pun yang dilakukannya bukanlah yang diinginkan pamannya. Jika ia benar-benar melakukannya, itu justru penghinaan bagi sang paman.
Pamannya adalah lelaki sejati yang hanya menginginkan duel secara adil. Ia tak mau menggunakan cara licik, dan hanya ingin bertarung secara terbuka dengan Yang Xiao, hidup atau mati ditentukan nasib.
Setelah berkata demikian, Lu Zhi tak mempedulikan orang-orang Agama Ming lagi. Ia langsung mengangkat tubuh Cheng Kun yang pingsan di tanah, dan berkelebat kembali masuk ke lorong rahasia.
Lu Zhi menatap Xiao Zhao yang menunggu di mulut lorong, mengangguk padanya, lalu berkata, “Xiao Zhao, ayo, kita harus turun gunung sekarang.”
“Perkirakan waktunya, mungkin sekarang para pendekar dari berbagai aliran sudah siap menyerbu Puncak Terang. Sudah waktunya mengungkapkan tipu muslihat Cheng Kun itu pada mereka.”
Mereka pun pergi, meninggalkan para anggota Agama Ming saling berpandangan di dalam aula.
“Jadi... Lu Qingzhi benar-benar tak peduli pada kita?”
“Lalu, kau mau bagaimana? Mau dia menghunus pedang dan membunuh kita semua, atau berharap dia menyalurkan tenaga dalam untuk menyembuhkan luka-luka kita, para ‘penyembah sesat’ ini?”
“Tapi, apa maksud anak itu sebenarnya? Melihat caranya, ia tampaknya tak berniat bermusuhan dengan Agama Ming. Kalau iya, mestinya tadi dia sudah membantai kita semua... menurutmu, bagaimana, Leng Qian?”
Leng Qian, yang tertinggi ilmunya di antara Lima Pendekar Bebas Agama Ming, juga yang paling tenang dan cerdas di antara mereka. Meski ucapan tak banyak, set