Bab 75: Pesanan Antar yang Mendebarkan Namun Selamat
Setelah berbincang dengan Lin Jing Tian, kelopak mata Roland terus-menerus berkedut hari ini. Konon katanya, jika kelopak mata kiri berkedut, itu pertanda rejeki; jika yang kanan, pertanda celaka. Sialnya, kelopak mata kanan Roland lah yang berkedut.
Barangkali matanya lelah karena terlalu lama menatap komputer tanpa istirahat, sehingga kelopak matanya sering berkedut. Sambil memikirkan hal itu, Roland memijat matanya sendiri. Setelah beristirahat sejenak, akhirnya rasa tidak nyaman itu pun mereda.
Setelah masalah kelopak mata selesai, kini perutnya mulai lapar. Sejak merasa ada bahaya mengintai dirinya dua hari lalu, Roland sama sekali tak keluar rumah, bahkan untuk makan pun ia hanya memesan makanan lewat aplikasi pengantar.
Roland melirik jam. Ia memperhitungkan, sudah sekitar empat puluh menit sejak ia memesan makanan. Biasanya, makanan sudah sampai dalam waktu itu. Apalagi, kali ini ia juga membeli asuransi ketepatan waktu, jadi kalau kurir terlambat, akan ada kompensasi sesuai standar.
Saat Roland hendak membuka aplikasi pengantar makanan untuk mengecek status pesanannya, tiba-tiba bel rumah berbunyi.
Mungkin pesanannya telah sampai, pikir Roland. Ia keluar dari ruang kerja menuju ruang tamu, bersiap mengaktifkan interkom video untuk membuka pintu utama gedung.
Pada layar interkom, tampak seorang pria dengan topi pet membawa kantong makanan, menunduk menunggu pintu terbuka.
Aneh, hari ini kurirnya tidak mengenakan seragam. Roland merasa curiga, matanya menyipit. Ia mengamati lama-lama, memperhatikan pria itu yang tampak gelisah mondar-mandir dan enggan menoleh ke arah kamera.
Ada firasat bahaya yang samar menggelayuti Roland. Meski bel berbunyi terus-menerus, ia tak juga menekan tombol buka kunci.
Di sela waktu itu, Roland mengecek aplikasi pengantar makanan. Di sana tertera bahwa pesanan sudah lama diterima dan statusnya selesai.
Ada apa ini?
Roland lalu menelpon nomor kurir yang tertera di aplikasi.
"Halo, makanan saya sudah sampai?"
"Belum ya? Tadi saya titip ke tetangga kamu buat diantar ke atas."
"Tetangga saya?"
Roland mendengus kesal. Kurir zaman sekarang benar-benar tidak bisa dipercaya.
Setelah menutup telepon, bel masih terus berbunyi, tapi Roland tidak menggubrisnya lagi. Mana mungkin itu tetangga? Pertama, ia tak pernah berhubungan dengan tetangga. Kedua, kalau benar tetangga, seharusnya dia bisa masuk sendiri, kenapa harus menekan bel rumah Roland berkali-kali?
Lalu, pria bertopi itu sebenarnya siapa?
Saat Roland masih bertanya-tanya, tiba-tiba pada layar interkom, pintu bawah terbuka. Pria bertopi itu ikut masuk bersama penghuni yang membuka pintu.
Roland mulai mondar-mandir, perasaan was-was makin kuat di hatinya.
Tenang, tenang. Pria itu seharusnya baru menunggu lift saat ini.
Ia sempat ingin menelepon Ou Yang Chang Zhi, tapi setelah berpikir, jika rekannya itu pulang sekarang pun, perlu waktu setidaknya setengah jam. Kalau benar bahaya, tentu tidak akan sempat menolong. Maka Roland pun membatalkan niatnya.
Lalu, siapa lagi yang bisa dihubungi?
Benar, pihak pengelola gedung.
Tapi, berapa nomor teleponnya? Roland berusaha mengingat, lalu buru-buru menekan nomor di ponselnya.
Salah nomor. Sial, terlalu percaya diri dengan ingatan sendiri, sampai tidak memasukkan nomor pengelola ke daftar kontak.
Roland mencoba beberapa kali lagi, tetap salah. Matanya mulai perih, ia sedikit putus asa, menelan ludah dan menarik napas dalam-dalam, lalu menekan angka sekali lagi. Akhirnya, kali ini tersambung.
"Halo, di gedung kami ada orang asing masuk, seorang pria menyamar sebagai kurir makanan, mengenakan topi pet."
"Halo, dengan senang hati kami membantu. Bisakah Anda ceritakan lebih rinci?"
"Begini, saya memesan makanan, tapi kurir saya dihadang pria bertopi itu di tengah jalan. Ia mengaku sebagai tetangga saya dan terus menekan bel rumah saya." Melihat petugas pengelola tampak kurang peduli, Roland sengaja mempertegas dengan suara serius dan khawatir, "Saya curiga makanan itu mungkin beracun. Tolong segera kirim seseorang untuk memeriksa!"
Setelah menutup telepon, langkah kaki di lorong terdengar semakin dekat. Roland merasakan ketakutan makin menjadi-jadi. Ia perlahan berjalan ke pintu utama, mengintip lewat lubang kecil di pintu. Pria bertopi itu tiba-tiba mengangkat kepala, matanya merah penuh urat darah menatap tajam ke arah pintu. Roland merasa seluruh bulu kuduknya berdiri.
Dalam hati, Roland berdoa, kenapa belum datang juga, kenapa belum datang?
Pria bertopi sudah berada di depan pintu, langkahnya berhenti, lalu terdengar ketukan keras di pintu, "tok, tok, tok".
Takut terlanjur bersuara, Roland buru-buru menutup mulutnya dengan tangan. Saat ketegangan memuncak, petugas pengelola yang sudah mencium bahaya tiba tepat waktu di depan pintu. Saat pria bertopi hendak mengetuk lagi, para petugas langsung bergerak dan berhasil melumpuhkannya.
Roland mengintip lewat lubang pintu, memastikan situasi sudah aman. Pria bertopi itu telah diamankan oleh petugas. Barulah ia bisa bernapas lega.
Tapi, siapakah pria itu sebenarnya? Wajahnya seperti pernah dilihat.
Setelah berpikir sejenak, Roland tersentak. Bukankah itu pria dari SUV hitam dua hari lalu?
Lalu, mengapa ia terus mengikuti Roland?
Setelah kejadian, pria bertopi itu segera dilepaskan oleh pengelola. Menurut pengakuannya, ia hanya teman si kurir. Karena pesanan terlalu banyak dan takut terlambat, ia membantu mengantarkan makanan. Hal ini juga dikonfirmasi lewat telepon oleh sang kurir. Saat pergi, pria bertopi itu sempat menoleh ke arah Roland dengan tatapan penuh arti.
Selain itu, makanan yang diantar juga tidak beracun. Petugas pengelola pun hanya memberikan peringatan lisan, berharap Roland bisa lebih bijak dalam menyelesaikan masalah dan tidak menyebar berita bohong yang bisa mengganggu pekerjaan pengelola. Sebuah pengumuman juga ditempel di papan pengumuman gedung, mengingatkan penghuni agar tidak membesar-besarkan atau mengarang cerita supaya kejadian serupa tidak terulang.
Akhirnya, peristiwa itu pun selesai. Gelombang ketakutan yang sempat melanda Roland mulai surut.
Namun, di lubuk hati Roland, kegelisahan masih tersisa. Ia merasa ada seseorang yang terus mengawasinya, batu besar di dadanya belum juga terangkat.
Tanpa disadarinya, justru kewaspadaannya hari itu telah sukses menyelamatkan dirinya dari bahaya besar.