Bab 22: Kembali ke Rumah Masa Kecil
Orang yang setia pada profesi yang dicintainya, selalu penuh semangat, bahkan saat Tahun Baru pun tak terkecuali.
Baru saja lewat tanggal dua Imlek, homestay keluarga Ouyang Changzhi sudah mulai menerima tamu.
Berdiri di depan jendela, Roland mengerutkan lehernya, menghangatkan kedua tangannya sambil melirik ke luar ke arah apa yang terjadi di bawah. Melihat tamu yang datang makin banyak, beberapa di antaranya bahkan secara tak sengaja melemparkan pandangan ingin tahu ke arahnya, ia segera membalikkan badan, berjalan ke sofa, lalu duduk di samping Ouyang Changzhi yang sedang membaca buku.
“Saat Tahun Baru pun ada begitu banyak tamu, apa orang-orang ini tidak perlu tinggal di rumah untuk bersilaturahmi?”
Berbicara soal silaturahmi, Ouyang Changzhi jadi teringat, selama bertahun-tahun ini, ia belum pernah pergi ke rumah Roland untuk bersilaturahmi. Maka ia pun menanggapi, “Benar juga, mumpung Tahun Baru, bagaimana kalau kita pergi ke kampung halamanmu, bersilaturahmi pada orang tuamu?”
Roland pun berpikir sejenak. Memang sudah bertahun-tahun ia tak pulang, dan dalam hatinya merasa sudah seharusnya ia pergi menziarahi ibunya.
“Baiklah, kapan kita berangkat?”
Ouyang Changzhi terkejut, ia hanya asal bicara, tak menyangka Roland benar-benar setuju.
“Bisa saja, bagaimana kalau hari ini?”
“Hari ini? Ya, tidak apa-apa.”
“Kalau begitu aku akan bilang pada papa dan mama, sekalian bersiap-siap.”
Sambil menuruni tangga, Ouyang Changzhi berpikir, sejak kenal Roland di SMP, ia memang belum pernah ke rumahnya.
Pertama kali ia mendengar kabar tentang keluarga Roland adalah saat kuliah. Saat itu Ouyang Dan diam-diam sedang mengejarnya, dan setelah ia menolak dengan tegas, Ouyang Dan pun langsung berkata, “Dia perempuan yang tidak bersih, tidak cocok untukmu!”
Melihat Ouyang Changzhi sama sekali tak terpengaruh, Ouyang Dan pun buru-buru mengarang cerita tentang hubungan Roland dengan ayah tirinya.
“Itu benar, Changsun Wu dengar dari orang lain, semua orang di kampung halamannya tahu.”
“Tolong jangan sebarkan fitnah!”
“Itu benar. Bukankah dulu Changsun Wu juga suka padanya? Setelah tahu soal ini, dia pun menyerah.”
“Aku bisa pastikan padamu sekarang, sama sekali tidak ada hal seperti itu. Karena aku tetangganya, urusan keluarganya aku lebih tahu daripada kalian, jadi mulai sekarang, tolong jangan sebarkan fitnah lagi!”
Melihat sikap Ouyang Changzhi yang yakin dan penuh keyakinan, Ouyang Dan langsung diam, karena ia sendiri pun tak tahu, apakah gosip yang didengarnya itu benar atau tidak.
Sesungguhnya, saat itu Ouyang Changzhi benar-benar tidak tahu apa-apa tentang keluarga Roland.
Sekarang ia teringat kembali, penolakannya terhadap Ouyang Dan mungkin memang bermula sejak saat itu.
Begitu mendengar bahwa mereka akan pulang ke kampung halaman Roland bersama-sama, ayah dan ibu Ouyang langsung sibuk menyiapkan beberapa oleh-oleh khas buatan sendiri, beserta sekeping teh Pu’er yang sudah lama disimpan.
Roland menolak dengan halus, namun ayah dan ibu Ouyang yang hangat dan ramah tetap bersikeras agar Roland menerimanya.
“Meski teh ini tak sebaik yang asli dari daerah Moklin, tapi bagaimanapun juga, ini tanda kasih sayang kami.”
Ucapan ibu Ouyang yang tanpa sengaja itu membuat wajah Roland tiba-tiba berubah.
Melihat perubahan wajah Roland, ibu Ouyang buru-buru menambahkan, “Beberapa hari yang lalu aku dan ayahmu ke daerah Moklin untuk menghadiri acara pertukaran asosiasi homestay, sekalian menyebut soal kamu. Tak disangka, Ketua Fu yang memimpin acara itu ternyata kenal kamu, katanya kamu anak yang baik, dari kecil rajin dan giat belajar.”
“Terima kasih tante selalu mengingatku, tapi kedua orang tuaku sudah tiada.”
“Bawa saja, siapa tahu bertemu tetangga atau teman lama, sudah lama tak bertemu, membawa buah tangan pasti lebih baik.”
“Kalau begitu… baiklah.”
“Pulanglah sebentar, aku dan pamanmu tunggu kalian di rumah.”
“Baik, tante, paman, sampai jumpa.”
“Hati-hati di jalan.”
Kampung halaman Roland dan Ouyang Changzhi hanya berjarak sekitar seratusan li, naik mobil dua jam sudah sampai.
Tempat ini, seolah sudah sangat jauh darinya. Kenangan yang perlahan pudar, seperti film yang pernah ditonton namun terlupakan, satu demi satu hilang. Kalau saja tidak menginjakkan kaki lagi di tempat ini, mungkin ia pun nyaris takkan mengingat bahwa dulu pernah berlabuh, berakar, bertunas, dan tumbuh di sini.
Kalaupun pernah ada dirinya di tempat ini, mungkin hanyalah dirinya yang lain, yang sama persis. Sosok yang di jalan kehidupan berikutnya, membiarkan kenangan pahit menghantam ingatan seperti meteor, penuh luka, derita yang membekas seumur hidup; sosok yang menolak setiap jengkal tanah, setiap manusia, setiap tatapan mata dari tempat ini; sosok yang meski menolak namun tetap terpaksa bertahan hidup, hanya bisa menggantungkan harapan pada bayangan masa depan.
Ia masih ingat, dirinya yang dulu, sejak punya keinginan untuk pergi dari sini, setiap kali menatap fajar pagi seolah memandang masa depan yang jauh memanggilnya.
Tak disangka, kini setelah pergi, dirinya kembali lagi hari ini.
Tanpa terasa bertahun-tahun berlalu, Roland melangkah masuk ke rumah itu lagi, dan mendapati di depan altar ibunya, kini telah bertambah sebuah papan nama mendiang Luo Gang.
Melihat foto di altar, Ouyang Changzhi terperanjat, “Tak kusangka, kamu sangat mirip dengan ibumu, benar-benar mengejutkan!”
“Ya, sejak kecil tetangga-tetangga sudah bilang, aku mirip ibuku.”
Sedangkan dalam foto, Luo Gang tersenyum memandang kedatangan mereka.
Roland menyalakan dupa dan lilin untuk sembahyang, dalam cahaya redup yang berkelap-kelip, wajah Luo Gang yang selalu tersenyum itu malah tampak agak aneh dan menakutkan.
Senyuman itu muncul, seolah membawa segala ketakutan yang terkubur dalam laut ingatan naik ke permukaan.
Roland mulai gelisah, lalu berkata pada Ouyang Changzhi, “Sudah, ayo kita naik ke atas.”
Ouyang Changzhi dengan khidmat kembali membungkuk, berkata, “Ini pertama kalinya aku menziarahi orang tuamu, harus benar-benar hormat.”
Setelah selesai, Ouyang Changzhi mengikuti Roland berkeliling rumah. Rumah itu kosong, di mana-mana dipenuhi debu, udara lembap dan bau busuk, jelas sudah lama tak dihuni.
Naik ke lantai dua, di sanalah kamar utama. Ouyang Changzhi melihat sekeliling.
“Tak ada yang menarik.”
Tiba-tiba Roland yang berdiri di belakangnya berkata, membuat Ouyang Changzhi terkejut dan segera melangkah mundur, lalu berkata, “Jangan tiba-tiba bicara dari belakangku, benar-benar menakutkan.”
“Baik, aku tahu, memang sudah lama tak ditinggali, suasananya agak menyeramkan.”
Perlahan, Roland berjalan masuk ke kamar itu, berdiri beberapa saat di depan jendela kayu tua, lalu membuka kelambu yang penuh debu, dan berkata pelan, “Ibuku dulu, meninggal di tempat tidur ini.”
“Maaf, membuatmu teringat hal yang menyedihkan. Oh ya, mana kamarmu?”
“Ayo, di lantai tiga.”
Setelah berkata begitu, Roland menarik Ouyang Changzhi naik ke lantai tiga.
Di sisi kiri lantai tiga, ada sebuah kamar yang pintunya terbuka, di dalamnya penuh dengan boneka dan mainan, namun karena lama tak dihuni, semuanya berdebu.
Ouyang Changzhi mengira itu kamar Roland, lalu berkata, “Ternyata waktu kecil kamu suka boneka ya?”
“Tidak suka.” Setelah berkata demikian, Roland membawa Ouyang Changzhi ke kamar lain, dan membuka pintu, “Yang tadi kamar Luo Mingzhu, kamarku di sini.”
Jika dibandingkan dengan kamar Luo Mingzhu, kamar Roland tampak sangat sederhana, nyaris tanpa perabotan, hanya ada sebuah ranjang kecil, sebuah meja, dan sebuah kursi. Di atas meja berserakan buku-buku pelajaran lama dengan lapisan debu yang tebal.
Sebenarnya, bukan hanya semua perabotan yang berdebu, ruangan itu sendiri juga penuh debu.
Secercah sinar matahari masuk menembus jendela, dalam cahaya redup itu, debu-debu halus bergetar seperti kawanan serangga kecil, berkeliaran tanpa henti bagai arwah gentayangan, menerpa mata, hidung, mulut, dan setiap pori-pori kedua tamu yang masuk. Ditambah lagi, karena terlalu lama tak ditinggali, ruangan itu lembap dan pengap, menghasilkan bau aneh yang membuat mereka sesak napas.
Roland menutup mulut dan hidungnya, batuk pelan, lalu berkata, “Sejak lulus SMP aku hampir tak pernah pulang, jadi kamarku pun jarang dibereskan.”
“Ya, aku ingat waktu itu kamu mondok, hampir selalu di sekolah.”
“Setelah lulus SMP, aku pernah bertengkar dengan ayahku. Menurutnya, perempuan tak perlu berpendidikan tinggi, cukup sekolah keperawatan saja, tak perlu SMA dan kuliah. Tapi aku tetap melawan kehendaknya, diam-diam kuliah SMA.”
Roland asal saja mencari alasan untuk menjelaskan hubungan keluarganya yang selama ini dingin.
“Aku dulu sangat mengagumimu, bisa sambil kerja sambil sekolah demi bayar biaya sekolah.”
Ekspresi Roland datar saja, Ouyang Changzhi pun tak ingin melanjutkan topik itu. Bertahun-tahun ia tak pulang, kini saat ia kembali, sang ayah pun sudah tiada. Dalam keadaan begini, pasti hatinya sangat sedih.
Ouyang Changzhi berjalan ke jendela, bersiap membukanya agar udara luar masuk dan menghilangkan bau di kamar.
Saat membuka jendela dan menengok ke bawah, ia melihat ada sebidang tanah kosong di belakang rumah, penuh dengan gulma dan tanaman pacar air, tumbuh liar tak terkendali.
Melihat Ouyang Changzhi tertegun, Roland tersenyum, “Benar, itulah benih pacar air yang dulu aku pinjam darimu. Tak kusangka pacar air itu tumbuh subur, sekarang sudah sebanyak itu.”
“Andai bukan untuk menanam pacar air, tempat itu cocok sekali untuk kebun sayur.”
“Begitukah? Kalau kamu bilang begitu, aku juga merasa cocok.”
“Hanya saja kalau mau untuk kebun sayur, pacar air itu harus dipindahkan. Karena pacar air mengandung zat pemicu kanker, zat itu tidak menguap langsung, tapi meresap ke dalam tanah. Jika menanam sayur di tanah itu, dalam jangka panjang bisa menyebabkan kanker.”
“Oh, begitu ya?” Roland memiringkan kepalanya berpikir sejenak, lalu berkata datar, “Aku jadi ingat, waktu aku meminjam benih darimu dulu, kamu juga bilang begitu, makanya aku suruh ayahku jangan menanam sayur lagi.”
“Punya anak seperti kamu, ayahmu benar-benar beruntung.”
Ouyang Changzhi teringat dulu Roland meminjam benih pacar air hanya untuk membuat ramuan mengobati rematik ayahnya, dan ia pun merasa kagum atas bakti Roland pada keluarganya.