Bab Delapan Belas: Pertaruhan Terakhir
“Apa-apaan ini?”
Kapten Murai Kojiro adalah komandan garis depan dalam operasi kali ini. Ketika ia melihat asap tebal tiba-tiba membubung dari posisi pertahanan pasukan lawan, ia tertegun sejenak. Namun, seolah menyadari sesuatu, ia tiba-tiba berteriak lantang, “Sial! Pasukan Cina keparat itu mau mundur dan melarikan diri! Percepat serangan! Serbu! Serbu!”
Sekejap saja, para serdadu Jepang mempercepat langkah mereka ke depan.
Saat para prajurit pertahanan melemparkan granat asap, Yang Jing sudah mengganti seragamnya dengan seragam tentara Jepang.
Di masa perang yang membara seperti ini, mendapatkan seragam tentara Jepang amatlah mudah.
Sebelumnya, di Desa Xiaohuang, Yang Jing sudah mengambil seragam Jepang yang sesuai dengan postur tubuhnya, dan selalu ia simpan untuk situasi mendesak seperti sekarang.
Saat ini, akhirnya seragam itu berguna.
Angin gunung bertiup kencang dari arah depan, membuat Yang Jing bergidik dan pikirannya jadi lebih jernih.
Setelah tenang, ia sedikit menyesal.
Bisa-bisa ini adalah akhir hidupnya.
Tapi sekarang, semuanya sudah terlanjur. Tak ada lagi jalan mundur.
Sudahlah, hidup atau mati, siapa takut!
Dengan tekad bulat, Yang Jing langsung menyelinap masuk ke dalam kepulan asap.
Karena pasukan Jepang mempercepat serangan, kendaraan tank mereka pun segera melewati area penuh asap.
Yang Jing menggunakan suara deru tank sebagai petunjuk dan perlahan-lahan mendekatinya.
Dengan visibilitas yang sangat rendah dan dirinya mengenakan seragam Jepang, tak ada seorang pun yang memperhatikan keberadaannya.
Setibanya di sekitar tank, Yang Jing menengok ke kiri dan kanan. Melihat tak ada siapa-siapa, pasukan Jepang seperti anjing liar yang sedang bernafsu, semuanya menerobos ke depan.
Tanpa membuang waktu, ia mengeluarkan satu bungkus dinamit seberat 20 kilogram dari ruang penyimpanan pribadinya, menarik pemicunya, lalu melemparkannya ke bawah tank Jepang itu.
Setelah itu, Yang Jing melompat ke kiri dengan sekuat tenaga.
Sebuah ledakan dahsyat mengguncang, nyala api yang menyilaukan mata menerobos asap, membubung tinggi dari bawah tank Jepang, gelombang kejut yang sangat besar membuat tank itu terangkat dari tanah dan jatuh dengan keras kembali ke tanah.
Semua tentara Jepang di dalamnya tewas seketika, rantai roda dan pelat baja tank hancur berantakan.
“Pemberitahuan sistem: Selamat kepada pengguna, satu tank musuh telah dihancurkan, memperoleh satu senapan mesin berat Maxim, 10.000 butir peluru; nilai jasa +300, pengalaman +300.”
“Pemberitahuan sistem: Selamat kepada pengguna, pencapaian ‘Pura-pura Hebat dengan Nyawa’ telah diraih, hadiah khusus satu paket Yunnan Baiyao Super (dapat mempercepat penyembuhan luka luar).”
Peringatan persahabatan: Pura-pura hebat itu berisiko, harap pengguna berhati-hati.
“Pemberitahuan sistem: Selamat…”
…
Ledakan menggelegar itu langsung membuat pasukan Jepang panik dan kacau balau.
Sementara itu, Yang Jing meredam keterkejutan dan kegembiraannya, lalu melangkah pelan menuju kendaraan lapis baja di sebelah.
Kali ini, ia diam-diam mengeluarkan satu botol molotov, menyalakannya, lalu melempar dengan tangan kanan. Botol molotov itu berputar dua kali di udara, lalu masuk tepat ke lubang atap kendaraan lapis baja Jepang yang masih berjalan.
“Arrgh!”
“Arrgh! Yamete!”
Yang Jing tak sempat mendengarkan jeritan pilu para serdadu Jepang di dalam, ia segera berlari ke kendaraan lapis baja terakhir.
Dengan cara yang sama, ia menyalakan satu lagi botol molotov dan melemparkannya ke dalam.
Tak lama, ia melihat seorang tentara Jepang yang terbakar, menjerit kesakitan, berusaha keluar dari atap kendaraan.
Melihat Yang Jing, tentara yang terbakar itu seperti melihat harapan, berusaha memeluknya sambil berteriak minta tolong dengan suara tak jelas.
“Pergi sana!”
Yang Jing kaget dan segera menghindar, serta menepuk-nepuk percikan api di tubuhnya.
Setelah itu, tentara Jepang itu jatuh ke tanah, berguling-guling beberapa kali, lalu diam tak bergerak.
Pada saat itu, pasukan Jepang sudah benar-benar kacau dan panik, mereka pun tak tahu apa yang terjadi, sehingga serangan mereka pun terhenti.
Murai Kojiro datang ke sisi tank, memandang tank yang kini hanya tinggal rongsokan, wajah tuanya berubah biru keunguan karena emosi, lalu berseru dengan marah, “Sial! Siapa yang bisa memberitahuku apa yang terjadi?
Kenapa tank yang bagus-bagus ini bisa hancur?”
Malapetaka tak berhenti di situ, tak lama ia juga menerima kabar bahwa dua kendaraan lapis baja lainnya hancur.
Saking marahnya, si komandan Jepang tua itu nyaris pingsan.
Sementara itu, Yang Jing memanfaatkan kekacauan itu. Dengan prinsip ‘serang saat lawan lemah’, ia diam-diam melemparkan beberapa granat ke kerumunan musuh, lalu bergegas mundur ke posisi semula.
Setelah kembali ke posisinya, Yang Jing segera berganti ke seragam polisi, lalu dengan merunduk ia mendekati Yao Ziqing dan berkata, “Kakak, tugas sudah kulaksanakan. Tank dan kendaraan lapis baja Jepang sudah semua aku hancurkan!”
“Kendaraan lapis baja juga hancur?”
Yao Ziqing bertanya dengan heran, sebab ia hanya mendengar satu ledakan besar tadi.
“Kedua kendaraan lapis baja itu, aku bakar dengan molotov!”
“Oh, begitu rupanya!”
Yao Ziqing mengangguk-angguk setuju.
Wakil komandan Hou Zhengyu yang ada di samping mengusulkan, “Komandan, sekarang pasukan Jepang sudah kacau balau. Memang jumlah kita tak sebanyak mereka, tapi jika kita kumpulkan kekuatan dan tembakan, peluang menang masih ada!
Kesempatan tak datang dua kali. Kalau kita tunggu sampai mereka sadar, sudah terlambat!”
Yao Ziqing memandang ke arah medan yang asapnya perlahan menghilang, berpikir sejenak, lalu menggertakkan gigi dan setuju dengan usulan Hou Zhengyu. Dengan suara tegas ia memerintahkan, “Sampaikan perintahku, semua pasukan, serang!”
Sesaat kemudian, setelah perintah disampaikan, sepanjang garis pertahanan ratusan meter itu terdengar teriakan lantang yang tak henti-henti.
Setelah itu, lebih dari 60 orang bersenjata senapan mesin ringan dan pistol semi-otomatis berbaris rapi, menembakkan senjata mereka, dan menjadi gelombang pertama serangan balasan yang sangat ganas terhadap Jepang.
Meski banyak perwira dan prajurit dari peleton penjaga dan batalion ketiga yang gugur, senjata-senjata mereka telah lebih dulu diamankan dan dibagikan pada pasukan pertahanan.
Kemudian, lebih dari 200 serdadu lain pun tak mau kalah, mengangkat senapan dengan bayonet terpasang, lalu bergabung dalam barisan penyerang.
Untuk membakar semangat, Yao Ziqing sendiri ikut memimpin serangan balik, didampingi ajudan dan wakil komandan.
Bahkan bagian logistik dan koki juga ikut meramaikan barisan serangan balasan.
Bahkan 23 anggota polisi Baoshan yang awalnya penakut, kini berhasil dibujuk oleh Yang Jing untuk ikut bertempur.
Serangan balasan yang tiba-tiba ini benar-benar membuat pasukan Jepang kelabakan!
Pertama, mereka sama sekali tak menyangka orang Cina yang biasanya dianggap pengecut kini berani melancarkan serangan balik.
Kedua, tembakan gelombang pertama begitu dahsyat. Lebih dari 30 senapan mesin dan 30 pistol semi-otomatis menebar peluru tanpa henti, benar-benar di luar dugaan Jepang.
Menghadapi tembakan dari begitu banyak senjata otomatis, pasukan Jepang yang sudah kacau itu benar-benar tak mampu bertahan.
Dalam waktu singkat, lebih dari 200 orang mereka tumbang.
Korban terus berjatuhan, akhirnya sisa pasukan Jepang kehilangan nyali, berbalik dan lari, bahkan lebih cepat dari saat mereka datang.
…