Bab Lima Puluh Delapan: Sepuluh Kali Undian Hadiah Besar (Mohon Suara Rekomendasi!)
Niu Dazhuang berkeliling di dalam kamar Yang Jing. Selain sebuah ranjang, sebuah meja, dan dua kursi, jangankan manusia hidup, seekor induk babi pun tidak ada. Ia bahkan memeriksa dengan saksama bagian bawah ranjang.
Dengan wajah kecewa, Niu Dazhuang keluar dari kamar dan bertanya, “Komandan, di mana istri kami?”
Yang Jing menunjuk ke beberapa karung goni besar di tengah halaman, “Tuh! Istri kalian semua ada di dalam karung itu!”
“Apa? Di dalam karung?” Semua orang tertegun mendengarnya.
Bai Laosan yang gesit segera melangkah ke salah satu karung, membukanya, dan semakin terperangah. Barang-barang aneh di dalamnya memang tidak ia kenal, tapi ia yakin betul, itu sama sekali bukan wanita, bahkan bukan manusia.
Yang Jing mendekat dengan santai, mengambil sebuah boneka tiup model yang sama dengan milik Pangeran Qiao dari dalam karung, lalu membuka bungkus plastiknya.
Ia menunjuk ke lubang pengisian udara pada boneka itu dan berkata pada Bai Laosan, “Tiup. Tiup sampai penuh, maka istrimu siap.”
Benar saja, istri yang Yang Jing bagikan kepada anak buahnya semua adalah boneka tiup. Kalau tidak, dari mana ia bisa mencarikan istri untuk mereka? Untung saja toko sistem sudah terbuka dan stok tersedia, kalau tidak, lima Pangeran Qiao pun tidak cukup dibagi.
Bai Laosan tertegun. Meski boneka di tangan Komandan Yang Jing itu memiliki bagian-bagian penting yang seharusnya ada pada wanita, bahkan juga punya kepala, rambut, dan wajah, tetap saja itu bukan manusia. “Komandan, ini yang kau bagikan jadi istri kami? Dan harus ditiup sendiri?”
Yang Jing menampar kepalanya, “Banyak bicara, cepat tiup sampai penuh! Kau akan lihat keajaiban.”
Meski penuh tanda tanya, Bai Laosan akhirnya menuruti perintah Yang Jing. Ia membuka penutup lubang pengisian, lalu mulai meniup dengan sekuat tenaga.
Sekitar tiga menit kemudian, Bai Laosan akhirnya berhasil mengisi penuh boneka tiup itu di bawah sorotan mata penuh harap rekan-rekannya. Ia benar-benar kelelahan, wajahnya merah padam, napasnya memburu.
Namun, boneka istri itu memang cukup meyakinkan. Selain tidak hidup, semuanya hampir persis seperti manusia, bagian-bagian pentingnya bahkan lebih sempurna. Hanya saja, wajahnya sungguh sulit untuk dipuji.
Yang Jing segera mengingatkan, “Cepat tutup kembali penutupnya, kalau tidak nanti istrimu bocor!”
Bai Laosan buru-buru menutupnya.
Yang Jing bertanya, “Bagaimana? Puas dengan istrimu?”
Bai Laosan hampir menangis, “Komandan, katakan, kau sedang bercanda, kan?”
Tatapan Yang Jing tajam, “Apa aku tampak sedang bercanda?”
Bai Laosan bertanya lagi, “Ini bisa dipakai, Komandan?”
Yang Jing menjawab, “Kenapa tidak bisa? Apa pun yang kau lakukan dengan istrimu sungguhan, bisa kau lakukan dengan istri tiup ini. Satu hal yang harus kau ingat, waktu merokok malam-malam, hati-hati jangan sampai istrimu bocor kena bara rokok.”
Bai Laosan memandang boneka model Pangeran Qiao itu dengan wajah masam, “Komandan, bisa tukar yang lain nggak?”
Yang Jing membentak, “Sudah dikasih istri masih pilih-pilih, sudah lihat wajahmu sendiri belum? Masih berani menolak? Sudah tanya belum apa dia mau sama kamu? Lagi pula, apa ini tidak lebih baik daripada pakai tangan sendiri?”
“Kalau terus mengeluh, kutahu nanti setelah lama di barak, lihat induk babi pun kau bakal ngiler. Lagi pula, istri ini tak bakal ngambek sama kamu, bisa dibawa ke mana-mana, kapan saja bisa dipakai... Sudahlah, itu saja dari aku. Kalau masih tidak puas, silakan pakai tangan sendiri.”
“Jangan, jangan.” Bai Laosan terkekeh malu, langsung mengapit boneka istri di ketiaknya. “Hehehe, malam-malam cukup tiup lilin, toh sama saja.”
Yang Jing menoleh ke anak buah lain, “Bagaimana dengan kalian? Ada yang mau istri tiup?”
Semua mengangguk, bahkan yang tadinya hanya ingin menonton pun akhirnya mengambil satu. Barang baru, siapa tak tertarik?
Tak lama, masing-masing sudah mendapat satu dan mulai meniupnya. Begitu boneka istri sudah penuh, ekspresi mereka satu lebih heboh dari yang lain.
Semula mereka mengira boneka istri Bai Laosan sudah yang paling jelek, ternyata tidak ada yang paling jelek, hanya ada yang lebih jelek. Bahkan ada yang wajahnya sama persis satu sama lain.
Bukan toko sistem tidak menyediakan yang cantik—ada model Bingbing, model Zhilin, semua tersedia. Tapi, kualitas sebanding harga. Satu model Bingbing sama dengan harga sepuluh model Ruhua.
Setelah semua pergi, Yang Jing kembali ke kamar, menutup pintu, dan berbaring nyaman di ranjang. Ia sempat berpikir untuk membeli juga satu boneka istri, tapi akhirnya mengurungkan niat.
Sistem, tampilkan panel atribut!
Nama: Yang Jing
Jenis kelamin: Laki-laki
Usia: 22
Pangkat militer: Mayor
Jabatan: Komandan Batalion Harimau
Level: 5 (19778/100000)
Nilai jasa: 10834 (bisa digunakan untuk belanja di toko sistem)
Kecepatan: 1.8 (normal 1.0)
Kelincahan: 1.9 (normal 1.0)
Kekuatan: 1.9 (normal 1.0)
Kemampuan: Ahli penembak jitu, ahli bahasa Jepang, ahli artileri, ahli bela diri, ahli komunikasi
Misi 1: Belum ada (bisa muncul kapan saja)
Misi 2: Kalahkan tentara Jepang penjajah, hadiah: tidak diketahui, hukuman gagal: tidak diketahui
Yang Jing meneliti panel atribut, lalu berseru, “Aku mau undian!”
Panel atribut menghilang, digantikan oleh mesin undian virtual.
Melihat jumlah undian yang tersisa di pojok kiri atas mesin itu, Yang Jing langsung girang. Sepuluh kali! Ternyata sudah terkumpul sepuluh kesempatan undian!
“Tuan tampan! Sepuluh kali undian berturut-turut punya peluang dapat paket misteri, mau coba?”
Suara sistem terdengar saat itu juga, menggoda seperti serigala tua membujuk gadis kecil.
“Paket misteri?” Hati Yang Jing berdegup kencang, namun segera menenangkan diri. “Sistem, jangan-jangan kau mau menipuku lagi?”
Hening. Sistem tak menjawab.
Yang Jing jadi bimbang. Dengan kelicikan sistem ini, jika ia terus membujuk, Yang Jing pasti akan mengabaikannya. Tapi kali ini sistem diam saja, justru membuat Yang Jing gelisah.
“Sistem, aku mau sepuluh kali undian sekaligus!”
Setelah bergulat dalam hati, Yang Jing menekan tombol undian tanpa ragu.
“Hahaha! Dasar bocah, kau tertipu lagi, kan?” Suara usil sistem itu terdengar lagi.
“Apa?” Beberapa tanda tanya besar muncul di kepala Yang Jing.
“Sistem! Sialan kau, kena tipu lagi aku!”
Belum sempat Yang Jing mengumpat, suara musik latar mesin undian “ciu ciu ciu” sudah berbunyi.
“Deng!—”
“Kereta api berangkat!—”
Sepuluh bola cahaya langsung tersambung, bergerak cepat di layar mesin undian.
Saat itu barulah Yang Jing sadar, sepuluh undian berturut-turut disebut juga “kereta api.”
Hatinya berdebar, sebagai pemain mesin undian yang berpengalaman, ia tahu jika bola cahaya berhenti di posisi “good luck,” kereta api bisa saja benar-benar berangkat.
Ia memejamkan mata, berdoa dalam hati, “Dewa bumi, dewa langit, tolong beri aku hadiah besar...”
…