Bab Lima Puluh Sembilan: Sepuluh Undian Sial yang Menjebak
Sekitar tiga puluh detik kemudian, musik latar mesin slot berhenti, digantikan oleh suara petasan meriah, persis seperti suasana pesta pernikahan.
"Notifikasi sistem: Selamat! Keberuntungan Anda meledak hari ini, Anda mendapatkan satu topi hijau model terbaru yang super keren."
"Pesan hangat, kalau mau hidup lancar, harus ada sedikit warna hijau di kepala."
"Notifikasi sistem: Selamat! Anda mendapatkan satu meriam antitank Jerman 37mm lengkap dengan satu peti peluru."
"Notifikasi sistem: Selamat! Anda mendapatkan satu botol racun tikus super mematikan."
"Notifikasi sistem: Selamat! Anda mendapatkan satu senapan semi otomatis M1 Garand beserta seratus butir peluru."
"Notifikasi sistem: Selamat! Anda telah menyelesaikan undian sepuluh kali berturut-turut, dan mendapat satu paket hadiah misterius."
"Hanya segini?"
Yang Jing benar-benar kebingungan. Ditambah hadiah undian sepuluh kali, ternyata cuma lima macam hadiah. Ada apa ini.
Suara sistem yang menyebalkan muncul lagi, "Anak bodoh, seiring kenaikan level karakter, peluang menang juga akan menurun."
"Level satu peluang menang 90%, level dua 80%, level tiga 70%, dan seterusnya."
"Tapi, semakin tinggi level, kualitas hadiah juga makin bagus."
"Oh, begitu," Yang Jing mengangguk paham, tapi segera merasa ada yang janggal, "Tunggu, waktu undian pertama saja aku masih level tiga, sudah dapat satu meriam Italia. Sekarang, dari hadiah-hadiah ini, mana yang lebih hebat dari meriam itu? Racun tikus atau topi hijau? Lagi pula, aku sekarang baru level lima, peluang menang harusnya lima puluh persen, tapi dari sepuluh undian hanya dapat empat hadiah?"
"Anak bodoh, peluang itu namanya juga 'peluang'! Lagi pula, undian pertama pasti dikasih rasa manis sedikit. Hahaha!" Sistem itu tertawa mengejek.
Yang Jing sampai gemas, ingin sekali memukuli sistem brengsek itu dengan batu bata.
Tak puas, ia pun membuka paket hadiah misterius.
"Demi dewa, kalau kali ini dapat barang jelek lagi, lebih baik aku minum racun tikus saja daripada hidup begini!"
Detik berikutnya, suara petasan meriah kembali terdengar. Yang Jing sampai merinding, suara itu sudah membuatnya trauma.
"Notifikasi sistem: Berita besar! Selamat, Dewi Keberuntungan sedang menaungi Anda. Anda mendapatkan satu set Buku Panduan Pelatihan Prajurit Modern."
Akhirnya, untuk pertama kalinya Yang Jing tersenyum puas, "Akhirnya juga, sistem brengsek ini ada benarnya."
Buku ini adalah panduan pelatihan prajurit abad dua puluh satu, jauh lebih maju dari buku pelatihan yang ada saat ini, sangat berguna pada masa sekarang.
Setelah itu, Yang Jing melirik ruang penyimpanan pribadinya.
Wow! Setelah pertempuran di Baoshan, ruang pribadinya sudah penuh sesak. Segala macam makanan, minuman, perlengkapan, semua ada.
Terutama satu peti besar rokok He Tian Xia, membuat Yang Jing menelan ludah saking ngilernya.
Rokok kelas wahid, dulu jangan harap bisa beli rokok Baisha kelas atas, bahkan yang standar saja, hanya setahun sekali saat hari raya baru bisa beli dua bungkus. Sehari-hari, paling cuma hisap rokok murah dua ribuan sebungkus.
Satu-satunya yang disesalkan, perlengkapan senjata agak kurang, dan sebagian besar hanya senjata infanteri dari era Perang Dunia Kedua.
Andai saja ada pesawat atau tank, pasti lebih hebat.
****
Keesokan harinya.
"Tok tok tok, tok tok tok..."
Yang Jing terbangun setengah sadar, mendapati hari masih gelap, ia pun menggerutu, "Sialan, siapa yang ngetuk pagi-pagi begini?"
"Komandan, ini saya," suara Ma Haifeng terdengar dari luar.
Yang Jing yang masih mengantuk bangkit, membuka pintu sambil bertanya, "Malam-malam begini, ngapain ganggu-ganggu saya?"
"Hehe, Komandan, sebentar lagi juga sudah pagi." Ma Haifeng celingukan memastikan tak ada orang lain, lalu tersenyum malu, "Saya dengar tadi malam Anda membagikan istri karet buat anak-anak jaga?"
Yang Jing bukannya menjawab, malah balik bertanya, "Kenapa, kamu juga mau satu?"
Ma Haifeng mengangguk semangat, "Komandan, Anda sendiri tahu beratnya jadi tentara. Tiga tahun jadi prajurit, babi betina pun kelihatan cantik seperti Diao Chan, apalagi... hehe..."
Yang Jing menunjuk beberapa karung di tengah halaman, "Tuh, semuanya di situ, ambil saja satu."
"Siap!" Ma Haifeng dengan gembira memilih satu, model mirip Feng Jie, dan sesuai petunjuk Yang Jing, ia mulai memompa angin ke dalamnya.
Setelah selesai, Yang Jing menepuk kepala Ma Haifeng dengan buku "Panduan Pelatihan Prajurit Modern", "Selama beberapa waktu ke depan, meski kompi kita tak ada tugas tempur, latihan tetap wajib. Tugas melatih prajurit, saya serahkan padamu sepenuhnya. Ini ada buku panduan latihan, pelajari baik-baik. Dan bilang pada anak-anak, siapa yang berlatih tekun dan hasilnya memuaskan, boleh ambil satu istri karet dari saya."
Buku panduan itu sudah disunting oleh Yang Jing agar tak ketahuan berasal dari masa depan.
"Siap!" Ma Haifeng menerima tugas dengan senang hati, lalu pergi sambil memeluk boneka karet itu gembira.
****
Hari-hari berikutnya, Yang Jing menjalani waktu yang santai dan menyenangkan.
Atasan tak memberi tugas, sistem pun tak mengeluarkan misi baru.
Semua urusan pelatihan prajurit sudah diserahkan kepada Wakil Komandan Ma Haifeng, sehingga Yang Jing benar-benar jadi komandan lepas tangan.
Selain inspeksi rutin harian, waktu lainnya bebas ia gunakan sesuka hati.
Patut dicatat, demi kemudahan latihan, markas Kompi Macan Perkasa kini dipindahkan dari Kota Jiading ke sebuah pegunungan dua puluh li di luar kota.
****
Setengah bulan kemudian.
Setelah menjalani pelatihan intensif modern selama beberapa waktu, para prajurit Kompi Macan Perkasa sudah sangat berbeda dari sebelumnya.
Pukul delapan pagi, di lapangan latihan, para prajurit berbaris rapi, tubuh tegap seperti tombak.
Tatapan mereka tajam dan penuh aura pembunuh, layaknya segerombolan serigala. Dalam cahaya pagi, mereka berdiri diam menunggu inspeksi dari Komandan Yang Jing.
Beberapa saat kemudian, ditemani Wakil Komandan Ma Haifeng dan Komandan Peleton Pengawal Ma Tong, Yang Jing berjalan gagah naik ke podium di depan lapangan.
Seragam militernya yang baru membuatnya tampak semakin berwibawa dan gagah.
Menghadap para prajurit, Yang Jing mengedarkan pandangannya, lalu mengangkat pengeras suara dan berseru keras, "Saudara-saudaraku, teriakkan dengan lantang, apa nama pasukan kita?"
"Kompi Macan Perkasa Nomor Satu di Dunia!"
"Kompi Macan Perkasa Nomor Satu di Dunia!"
"Kompi Macan Perkasa Nomor Satu di Dunia!"
Teriakan mereka menggema tinggi, penuh semangat dan kebanggaan.
Yang Jing memandang para prajuritnya yang gagah, berjalan mantap dan berkata lantang, "Kata orang, seribu hari memelihara tentara, satu hari digunakan berperang. Tapi, Kompi Macan Perkasa kita, seribu hari memelihara tentara, seribu hari digunakan berperang. Selama serdadu Jepang belum angkat kaki dari tanah air kita, pasukan kita akan melawan mereka sampai titik darah penghabisan!"
"Kompi Macan Perkasa sapu bersih musuh! Kompi Macan Perkasa sapu bersih musuh! Bunuh, bunuh, bunuh!"
Saat Yang Jing mengangkat tangan kirinya, lapangan latihan langsung hening.
"Ingatlah, kejayaan Kompi Macan Perkasa hari ini adalah hasil pengorbanan ratusan prajurit kita di medan tempur Baoshan, bertempur mati-matian melawan serdadu Jepang! Bahkan Komandan lama kita, Yao Ziqing, gugur di Kota Baoshan! Kalian harus selalu ingat para pahlawan yang rela gugur demi negara dan kehormatan!"
"Siap! Siap! Siap!"
Sorak gempita para prajurit menggema, suara mereka membahana memenuhi lapangan latihan.
****
Catatan: Kemarin ada empat dermawan yang rela berbagi rejeki, saya sangat senang, dan terima kasih juga untuk semua saudara yang telah memberikan vote. Jangan lupa terus beri vote dan dukungan ya!