Bab Dua: Suatu Hari Mendapatkan Harta Karun, Menunggang Sapi Menuju Yanzhou (Bagian Empat Belas)

Satu Pedang Membelah Sembilan Langit Katak Pengembara 2302kata 2026-02-10 02:15:48

Raja Pengemis, Ling Suer, tak kuasa menahan tawanya. Ia mengambil kantong pusaka itu, menelitinya sebentar, lalu berkata, “Kedua belas pedang Benang Merah ini memang punya asal-usul yang tak biasa, sudah sekali ditempa ulang. Namun, sekarang kau belum bisa memakainya. Biar aku segel dan kunci dulu kedua belas pedang Benang Merah ini agar tidak bisa diambil kembali olehnya. Kelak, jika kau sudah menguasai jurus pedang, kau bisa menempanya ulang dengan ilmu inti perguruan kita.” Ling Suer membentuk sebuah mudra, menepukkan tangannya ke kantong pusaka itu, lalu mengembalikannya kepada muridnya.

Wang Chong dalam hati bersorak gembira, mengiyakan dan menerima kantong pusaka itu, lalu kembali menyelipkannya ke dadanya. Dengan benda ini, ia bisa menyembunyikan Cincin Taihao dan Pedang Yuanyang ke dalam kantong pusaka. Tidak pernah ada guru yang akan memeriksa kantong pusaka muridnya.

Wang Chong memang sudah merencanakannya sejak awal. Dengan begini, ia tak perlu lagi khawatir harta curiannya akan ketahuan.

Pendeta Xuanhe pun memuji, “Kau memang punya keberanian dan kecerdikan, menangani semuanya dengan sangat baik.” Sambil memuji Wang Chong, ia teringat pada muridnya sendiri; Mo Huer jelas bukan murid yang mudah diurus.

Dulu Xu Jingyang mendapatkan sebotol Pil Pengganti Tulang Qiankun, dalam dua puluh hari lebih ia sudah membuka delapan meridian aneh dan dua belas meridian utama. Dalam tiga bulan, ia sudah menembus tahap Xiantian dan memasuki ranah Embrio Asal.

Mo Huer pun mendapat pengalaman serupa, juga menelan sebotol Pil Pengganti Tulang Qiankun, namun kemajuannya jauh lebih lambat dari Xu Jingyang, benar-benar menyia-nyiakan barang bagus.

Pendeta Xuanhe, sejak mengambil murid tentu tak pelit membimbing, tapi setiap kali memberi petunjuk pada murid ini, ia selalu dibuat kesal bukan main.

Mo Huer jelas berotak tumpul, namun tak mau rendah hati, selalu mengejar yang tinggi tanpa mau memperkokoh dasar. Jurus pedang dasar Emei saja dipelajarinya serampangan. Kalau bukan karena Pil Pengganti Tulang Qiankun itu, mungkin sepuluh tahun pun belum tentu berhasil menekuni qi, bahkan tiga puluh tahun baru bisa masuk tahap Embrio Asal pun sudah untung besar.

Pendeta Xuanhe memandang Wang Chong dengan perasaan campur aduk, bahkan sedikit iri pada Ling Suer. Dulu Wang Chong lebih dulu masuk Emei, andai saja bukan karena diusir oleh Guru Baiyun, sudah pasti ia yang akan mengambilnya sebagai murid.

Ling Suer tertawa terbahak mendengar itu, lalu berkata pada Xuanhe, “Sebenarnya aku ingin menguji dia dengan urusan ini, tak disangka justru memancing orang dari Gunung Yuntai. Urusan ini sepertinya tak bisa kita serahkan begitu saja!”

Pendeta Xuanhe pun tersenyum tipis, “Memang seharusnya begitu!”

Pendeta tua Yang Zhuozhen baru punya kesempatan bicara, wajahnya masam, “Terima kasih atas bantuan dua saudara. Masalah kecil perguruanku telah merepotkan kalian, sungguh memalukan!” Awalnya ia ingin memancing kemunculan orang di belakang Wang Chong, kini ia tak berani lagi berpikir begitu.

Sebenarnya Yang Zhuozhen sudah lama tahu, buku jimat warisan gurunya terbuat dari benang sutra langit, hanya saja gurunya memang tak mampu menggunakan benang itu untuk menempa pusaka, hanya bisa dijadikan buku jimat sebagai warisan perguruan. Karena itu, ia tak mau memberikannya pada kakaknya, juga tak berani menjelaskan pada Wang Chong, takut hartanya jadi incaran orang.

Pendeta tua itu semula mengira kakaknya paling-paling hanya mengundang beberapa orang bebas dari Tiga Gunung Lima Puncak, tak pernah menyangka akan melibatkan Gunung Yuntai.

Hanya karena perebutan buku jimat dari aliran kecil, mengapa tiba-tiba jadi perseteruan antara Gunung Yuntai dan Emei?

Yang Zhuozhen terjepit di tengah, serba salah, ingin saja menyerahkan buku jimat demi keselamatan diri. Namun kini, jika ia melepaskan buku jimat itu, bagaimana ia akan menjelaskan pada Ling Suer? Terlebih lagi, kini malah melibatkan orang-orang Emei!

Orang luar bisa saja mengira Yang Zhuozhen sengaja memasang perangkap, bersekongkol dengan Emei untuk mencelakai pewaris Gunung Yuntai.

Ling Suer berkata santai, “Di dunia ini masih ada keadilan! Meski murid Gunung Yuntai ingin merebut pusaka orang lain, aku harus turun tangan, meskipun orang lain takut pada Jiu Yan Shangren, aku Ling Suer tidak!”

Yang Zhuozhen mengeluh dalam hati, “Kalau aku serahkan buku jimat itu padamu pun tak apa, kau urus saja sendiri urusanmu!” Meski pikirannya penuh kekhawatiran, ia tak berani membantah Ling Suer, hanya bisa memaksa tersenyum dan mengundang Ling Suer serta Pendeta Xuanhe ke ruang dalam.

Qin Xu, Hu Tian, dan Hu Di semalaman tak juga sadar kantong pusaka mereka hilang.

Baru ketika hari mulai terang, hampir tengah hari, si Tuan Muda Benang Merah ini bangun dengan wajah bahagia, meminta dua gadis melayani mandi dan berpakaian.

Setelah berpakaian rapi, Qin Xu meraba pinggangnya, sedikit terkejut, lalu meraba lebih teliti lagi, hampir saja ia terbawa suasana, namun tetap tak menemukan kantong pusakanya, saat itulah ia benar-benar panik.

Qin Xu pun membongkar seluruh isi kamar, merangkak di lantai mencari setiap sudut, bahkan dua gadis rumah bordil itu ia rebahkan di ranjang, ditelanjangi seperti domba putih, diperiksa satu per satu, namun tetap tak menemukan apa-apa, baru ia yakin kantong pusakanya benar-benar hilang, dadanya pun langsung dilanda kecemasan.

Marah dan kesal, ia menerobos keluar kamar, meninggalkan dua gadis itu tertegun di ranjang, saling berpandangan, dalam hati berpikir, “Ternyata bukan sedang bersemangat, tapi kehilangan apa rupanya!”

Kedua wanita itu sudah sering melihat tamu seperti ini, setiap pagi merasa kehilangan sesuatu—sebagaian besar kehilangan uang yang tak bisa dibawa pulang, sebagian kecil merasa kehilangan kehormatan dan menyesali semalam terlalu bebas, bukan sikap seorang pria sejati.

Urusan seperti itu tentu akan diurus orang lain, kedua wanita itu tak perlu pusing.

Mata Qin Xu memerah, langsung mendatangi kamar Meng Xihang.

Pendeta Meng yang sudah tua itu semalam tidur sendiri, bangun lebih awal pula. Usianya sudah lanjut, ia menjaga kesehatan, tak berani begadang, pagi-pagi sudah sarapan, dan begitu melihat Tuan Muda Qin dengan wajah seperti itu, ia pun terkejut.

Meng Xihang buru-buru bertanya, “Ada apa gerangan hingga Tuan Qin begitu cemas?”

Qin Xu memaki, “Masih bertanya apa yang terjadi? Semalam kau biarkan pencuri tidur di kamarku, kantong pusakaku dicuri, lekas serahkan pencuri kecil itu!”

Qin Xu bukan orang bodoh, begitu kantong pusakanya hilang, ia langsung curiga pada pendeta muda yang tidur bersamanya semalam, dan mendesak Meng Xihang.

Dalam kantong pusaka itu terdapat harta yang ia kumpulkan bertahun-tahun, belum lagi dua belas pedang Benang Merah! Ia sendiri baru di tingkat Tian Gang, mana mungkin bisa menempa pusaka sehebat itu?

Kedua belas pedang Benang Merah itu adalah buatan gurunya, Daoist Chuyun, bahkan sebenarnya milik perguruan Gunung Yuntai, hanya dipinjamkan padanya. Jika sampai hilang, ia pasti akan dimarahi, bahkan bisa diusir dari perguruan.

Pendeta Meng Xihang pun kebingungan, berkata, “Murid itu kau sendiri yang pilih, mana aku tahu apa yang terjadi? Kalau kau mau orangnya, akan kupanggil sekarang juga…”

Baru saat itu Meng Xihang teringat, semalam ia memang agak linglung, sampai lupa siapa murid itu, tak berani menebak, lalu ia memerintahkan semua murid datang.

Meng Xihang memang bukan guru yang tegas, membiarkan murid-muridnya bebas, jadi berita hilangnya kantong pusaka Qin Xu langsung tersebar ke seluruh penginapan.

Pendeta muda yang semalam dipukul pingsan oleh Wang Chong sudah sadar sejak lama. Ia tak tahu apa yang terjadi, juga tak berani bicara. Begitu dipanggil oleh Meng Xihang, dan mendengar berita hilangnya harta penting Qin Xu, jantungnya berdebar-debar, hanya satu pikiran terlintas: “Kali ini aku benar-benar celaka!”