Bab 24 Kebahagiaan
Li Yue-an sejatinya adalah penduduk asli Suzhou, namun ia tidak tinggal di dalam kota, melainkan di sebuah desa di bagian utara Suzhou. Kereta lembu menempuh perjalanan selama hampir seharian penuh sebelum akhirnya keduanya tiba kembali di Desa Li. Belum sempat mereka memasuki desa, seorang remaja laki-laki melompat keluar dari semak-semak di pinggir jalan dan berteriak ke arah desa, "Mereka kembali! Mereka kembali! Xiao Chuan sudah kembali!"
Mendengar itu, Li Da segera menegurnya, "Li Xiao-er, beraninya kau memanggil Xiao Chuan begitu saja? Hati-hati kalau aku menghajarmu."
Li Xiao-er segera menyeringai lebar, "Aku lupa karena terlalu gembira, maksudku Tuan Jieyuan. Kakak Xiao Chuan, jangan marah ya."
"Aku tidak marah. Bagaimana kau tahu aku akan pulang hari ini?" tanya Li Yue-an seraya melompat turun dari kereta lembu.
Li Da ikut turun sembari bergumam, "Xiao Chuan, hati-hatilah. Sekarang kau adalah seorang Jieyuan, jika terjadi sesuatu padamu, Ayah pasti akan mengulitiku hidup-hidup."
"Aku tidak tahu, Ayah memintaku berjaga di sini. Begitu melihatmu masuk desa, aku harus memberi tahu mereka. Mereka tidak hanya menyiapkan petasan, tapi juga memanggil rombongan musik gong dan genderang untuk menunggu di desa," ujar Li Xiao-er. Baru saja ia menyelesaikan ucapannya, suara gong dan genderang terdengar bersahutan.
Li Yue-an menatap ke arah gerbang desa dan benar saja, terlihat sekumpulan orang sedang berjalan ke arah mereka. Orang yang memimpin rombongan itu tidak lain adalah ayah dan ibunya.
Melihat Li Yue-an berjalan pergi, Li Da segera mengikutinya. Baru melangkah dua kali, ia menoleh ke arah Li Xiao-er dan berpesan, "Kau ikuti saja kereta lembu itu pelan-pelan di belakang, semua barang ada di atas kereta."
Li Xiao-er segera bertanya, "Kak, apakah kau membawakanku makanan?"
"Sudah kubawakan kue bunga osmanthus, nanti sesampainya di rumah kuberikan," jawab Li Da tanpa menoleh. Susah payah ia menunggu Hei-zi sakit agar bisa mendapatkan kesempatan menemani Li Yue-an mengikuti ujian. Ini adalah kesempatan yang ia rebut dengan susah payah. Sekarang Li Yue-an telah berhasil meraih gelar Jieyuan, tentu saja ia merasa punya andil, jadi ia harus ikut menampakkan diri.
Tak lama, Li Yue-an tiba di gerbang desa. Ia menghampiri kedua orang tuanya, menyibakkan ujung jubahnya, lalu berlutut, "Ayah, Ibu, Xiao Chuan pulang."
"Bagus, bagus, bagus," Zhou Xin-ya mendorong suaminya, "Ayah, cepat bantu Xiao Chuan berdiri."
Li Shou-cheng yang sedang tenggelam dalam tatapan penuh kekaguman dari anggota klan lainnya, sedikit terhuyung karena didorong. Ia segera membungkuk dan membantu putranya berdiri, seraya tertawa lebar, "Bagus sekali, Xiao Chuan. Ayahmu ini tidak berguna, tak disangka bisa melahirkan putra sehebat dirimu. Jika Kakek Buyutmu masih hidup, dia pasti akan melompat kegirangan dari tempat tidurnya."
Kakeknya dulu pernah menjabat sebagai pejabat di istana, namun sayang, ia dan ayahnya tidak terlalu berbakat. Ayahnya masih lumayan, meski kemampuannya biasa saja, setidaknya ia tekun hingga akhirnya berhasil meraih gelar Juren. Sayangnya, kegiatan belajar yang keras merusak kesehatannya, tak lama setelah lulus ia pun meninggal. Ia sendiri lebih parah, meski berusaha keras, ia bahkan tidak pernah berhasil meraih gelar Xiucai. Oleh karena itu, setelah kakeknya pensiun, ia diperintahkan membawa seluruh keluarga kembali ke kampung halaman. Tak disangka, tak disangka, putranya ternyata sangat berbakat, kini ia pun bisa dipanggil dengan sebutan Tuan.
Sambil berpikir demikian, ia mengayunkan lengan bajunya dengan bersemangat dan berkata kepada pengurus di belakangnya, "Li Zhong, bagikan uangnya."
Li Zhong yang sudah bersiap segera mengangguk pada dua pelayan di belakangnya. Tak lama kemudian, kepingan uang tembaga dilemparkan ke udara.
"Wah, ada uang! Ayo ambil uangnya!" teriak anak-anak dengan gembira.
Setelah mengobrol sebentar dengan ibunya, Li Yue-an dipanggil oleh para tetua klan untuk berbicara. Li Shou-cheng tidak ikut, ia justru dengan bangga memamerkan putra bungsunya kepada anggota klan lainnya. Sementara itu, Li Da sibuk dicecar oleh ayah dan paman-pamannya mengenai pengalamannya di Prefektur Suzhou. Singkatnya, semua orang sangat bahagia.
Setelah keramaian berlangsung cukup lama, mereka hendak masuk ke desa. Sang Bupati yang mendengar kabar tersebut juga datang berkunjung, membuat suasana kembali sibuk. Ketika orang-orang akhirnya bubar, hari sudah gelap.
Begitu Li Yue-an sampai di rumah, Zhou Xin-ya segera menariknya, "Xiao Chuan, kau pasti lelah, kan?" Setelah itu, ia melotot ke arah Li Shou-cheng, "Kau juga, kenapa tidak mencegahnya? Xiao Chuan masih muda, kenapa membiarkannya minum begitu banyak?"
Li Shou-cheng menunduk karena merasa bersalah, "Hari ini kan hari bahagia, lain kali tidak akan terjadi lagi. Lagipula, Xiao Chuan sudah tidak kecil, minum sedikit tidak apa-apa. Nanti kalau sudah masuk dunia birokrasi, tidak punya ketahanan terhadap alkohol itu berbahaya."
"Nanti ya nanti, sekarang dia harus sedikit minum. Kau juga, lihat perut buncitmu itu, sudah tidak bisa dikecilkan lagi," ujar Zhou Xin-ya sambil melirik.
Li Shou-cheng secara refleks menarik perutnya, berusaha membuatnya tampak lebih kecil. Tingkah lakunya yang jenaka membuat Li Yue-an tertawa.
Zhou Xin-ya baru teringat lagi pada putranya, "Yue-ping, cepat bantu Xiao Chuan masuk ke kamar untuk istirahat."
"Aku tidak perlu dibantu," Li Yue-an tersenyum sembari menepis tangan kakaknya.
Melihat itu, Li Shou-cheng berkata dengan penuh iri kepada Zhou Xin-ya, "Entah dia mirip leluhur yang mana, mabuk tapi gayanya seperti tidak mabuk, kenapa bakat itu tidak diturunkan padaku?"
Zhou Xin-ya mencubitnya, "Jadi begini caramu mencoba membodohiku, ya?"
"Sakit, sakit, Xin-ya, lepaskan, masih ada Yue-shan di sini," seru Li Shou-cheng meringis.
Li Yue-shan tertawa melihat ibunya mendisiplinkan ayahnya, ia sama sekali tidak berniat untuk pergi. Hingga akhirnya Zhou Xin-ya melotot ke arahnya, barulah ia pergi dengan enggan.
Baru saja sampai di kamar, istrinya, Zhou Yue-er, menyambutnya, "Kenapa baru pulang? Aneh sekali, kau ternyata tidak mabuk."
"Ayah tidak memaksaku menggantikan Xiao Chuan minum kali ini, dia sendiri yang banyak minum," ujar Li Yue-ping sembari mengelus perut buncit istrinya. Dalam hati ia berharap, semoga anaknya kelak bisa sehebat adik laki-lakinya.
Zhou Yue-er rupanya berpikiran sama, "Aku sudah bilang pada Ibu, nanti kalau anak ini lahir, biarkan adik ipar sering menggendongnya, supaya tertular kecerdasannya. Ibu bilang memang seharusnya begitu."
Li Yue-ping menimpali, "Jangan berharap terlalu tinggi, yang penting anak ini selamat dan sehat. Dalam beberapa generasi ini, hanya Kakek Buyut dan Xiao Chuan yang bisa seperti itu."
Zhou Yue-er mengangguk, "Aku tahu. Oh ya, adik ipar sudah cukup umur, apakah Ibu sudah bicara padamu gadis seperti apa yang akan dinikahkan dengannya? Pasti dari keluarga terpandang, kan? Nanti bagaimana aku sebagai kakak ipar harus bersikap?"
Li Yue-ping menjawab, "Kau lupa? Kakek sudah menjodohkan Xiao Chuan sejak kecil. Jangan cemas berlebihan. Ayah sudah bilang, setelah Xiao Chuan menikah, keluarga akan dibagi. Nanti kita tinggal di rumah tua menjaga Ayah dan Ibu, kita tidak tinggal serumah, jadi apa yang kau khawatirkan? Lagipula, Ibu adalah bibi kandungmu sendiri, apa yang kau takutkan?"
"Lalu kita tidak ikut ke Jinling?"
"Tidak, menurutku Suzhou sudah cukup baik. Hidup di Jinling itu sangat sulit. Tabungan keluarga kita tipis, kita tidak boleh membebani Xiao Chuan."
Zhou Yue-er mengangguk, "Tidak pergi juga tidak apa-apa. Tapi, apa kau tahu siapa gadis yang dijodohkan dengan adik ipar? Sejak dia meraih gelar Jieyuan, banyak orang yang bertanya padaku soal pernikahannya."
Li Yue-ping menjawab, "Aku samar-samar pernah dengar Ayah menyebutnya sekali. Ayah bilang orang itu sekarang sudah tiada. Entah kenapa, setelah orang itu meninggal, keluarganya tidak mengirim kabar duka kemari. Saat kita tahu, dia sudah dimakamkan, dan gadis dari keluarga itu sudah pergi ke Jinling untuk tinggal bersama keluarga kakek dari pihak ibunya. Rencana Ayah adalah menunggu Xiao Chuan pergi ke Jinling nanti, biar dia sendiri yang bertanya. Jika gadis itu masih berminat, kita akan menikahkannya. Jika tidak, kita anggap saja tidak pernah ada perjodohan."
Zhou Yue-er bertanya, "Apakah mereka sudah bertukar tanda ikatan?"
Li Yue-ping menggeleng, "Ayah bilang hanya bertukar benda kenang-kenangan."