Bab 21: Sama Sekali Tidak Perlu
Melihat dirinya sudah bicara panjang lebar namun sang kakak hanya menanggapi sesekali, Nyonya Song akhirnya terdiam. Hanya di tempat inilah ia bisa mencurahkan isi hatinya. Di tempat lain, ia harus selalu menjaga wibawa sebagai nyonya rumah. Setelah menerima teh yang disodorkan Li Jingyao, ia berkata dengan tulus, "Hidup Kakak memang jauh lebih tenang."
Li Jingyao terkekeh sinis, "Tenang apanya? Itu hanya tampak luarnya saja. Aku terlalu malas mengurus urusan rumah tangga, kalau tidak, aku tidak akan membiarkan menantu keenam yang memegang kendali keuangan."
Nyonya Song mengangguk, "Benar juga, mata tak melihat, hati pun tak pusing. Oh ya, bagaimana dengan lamaran untuk Yanyuan? Sudah ada kepastian?"
Li Jingyao menggeleng, "Aku justru sedang pusing memikirkan hal itu. Omong-omong, bagaimana dengan gadis bernama Yuwei itu?"
"Orang tuanya sudah tiada, dia tidak punya kedudukan di klan. Saat tahu aku akan kembali, dia memohon padaku. Aku merasa kasihan, jadi aku membawanya pulang, pikirku bisa jadi teman bicara. Kau tahu sendiri, aku selalu mendambakan seorang anak perempuan," ujar Nyonya Song ringan.
Setelah mengetahui sikapnya, Li Jingyao tidak lagi merasa sungkan, "Beberapa hari lalu aku bertanya pada Yanyuan, dia ternyata ingin menjadikan Yuwei sebagai istri. Pikirku, dia tidak pantas menjadi istri utama, tapi kalau sekadar selir, bolehlah. Bagaimana kalau kau tanyakan padanya? Jika dia bersedia, dia hanya perlu menunggu."
Nyonya Song berkata acuh tak acuh, "Tidak perlu ditanyakan lagi, dia pasti senang. Dulu di klan, dia hampir dinikahkan dengan seorang sarjana. Aku sudah mencari tahu, pria itu sangat cerdas dan pasti bisa lulus ujian tingkat provinsi, tapi gadis itu bersikeras menolak. Mungkin karena dia merasa keluarga pria itu miskin. Namun dengan latar belakangnya yang yatim piatu, jika ingin masuk ke keluarga terpandang, satu-satunya jalan hanyalah menjadi selir. Dia cukup beruntung bertemu Yanyuan, apalagi ada dukungan dari Kakak, hidupnya kelak tidak akan buruk."
Li Jingyao menyanjungnya, "Semua berkat dirimu, kalau tidak, mana mungkin dia mendapatkan kesempatan seperti ini."
Nyonya Song tertawa, "Aku berkata begitu bukan berarti dia serakah, siapa sih yang tidak ingin menikah dengan orang baik? Aku justru tidak suka tipe yang pura-pura tidak menginginkan apa pun. Tidak ada orang yang benar-benar tidak menginginkan sesuatu, mereka hanya takut atau tidak mampu mendapatkannya saja."
Setelah makan, Nyonya Song pulang sendirian, namun ia meninggalkan Song Yuwei di kediaman keluarga Ning. Katanya, biarlah gadis itu bermain di sana selama dua hari, nanti akan ada orang yang menjemputnya.
Song Yuwei sangat senang dan menetap di kediaman Ning Yanfeng dengan ceria. Sore harinya, mereka sebenarnya sudah berjanji untuk mengunjungi Yang Wanzhao untuk merayakan rumah barunya. Namun sayang, hujan turun dan udara mendadak menjadi dingin, membuat Ning Yanyu dan yang lainnya membatalkan rencana. Pada akhirnya, hanya Song Yuwei yang tetap pergi.
Setibanya di Paviliun Qiyun, Song Yuwei menatap halaman yang luas itu dan berkata dengan iri, "Halaman ini luas sekali, dan kau tinggal sendirian di sini, bisa mengatur segalanya sesuka hati. Tidak seperti aku..." Suaranya mengecil di akhir kalimat.
Yang Wanzhao memahami kesulitannya namun tidak tahu harus menghibur bagaimana, jadi ia berpura-pura tidak mendengar dan berkata, "Kalau kau suka, sering-seringlah kemari."
Song Yuwei mengerucutkan bibir, "Setelah sampai di Jinling, baru aku tahu aturan di sini begitu banyak. Aku ingin sering kemari, tapi takutnya tidak bisa."
Yang Wanzhao menghela napas dalam hati. Baru beberapa hari saja, pantas ia merasa gadis itu sudah berubah.
Song Yuwei bergumam sendiri, "Aku sudah bersiap, tapi tak menyangka persiapanku jauh dari cukup."
Yang Wanzhao merasa belum cukup dekat dengan Song Yuwei untuk berbagi rahasia, jadi ia hanya terdiam dan menyuguhkan teh.
Melihat Yang Wanzhao tidak menanggapi, wajah Song Yuwei tampak kecewa. Namun, ia segera menyembunyikannya dan mengganti topik, bertanya tentang kehidupan Yang Wanzhao setelah masuk ke kediaman. Saat mengetahui bahwa Yang Wanzhao tidak hanya tinggal di paviliun sendiri, tetapi juga mengatur semua urusan dan pengeluarannya sendiri, ia merasa semakin iri. Ia pun ingin begitu, namun kondisinya tidak memungkinkan. Ia bukannya tidak punya uang sama sekali, tapi jumlahnya tidak seberapa, dan ia pun merasa sayang untuk mengeluarkannya. Nyonya Song juga tidak mengizinkannya. Makan dari tangan orang lain berarti harus menuruti kemauan orang lain, ia pun terpaksa menelan rasa kesal. Namun, dibandingkan tinggal di kampung halaman di mana siapa pun bisa menginjak-injaknya, ia sama sekali tidak menyesal ikut ke Jinling.
Saat keduanya sedang berbincang, Caiqin berlari masuk dan mengatakan bahwa Li Ruzhen telah datang.
Yang Wanzhao dan Song Yuwei segera berdiri dan menyambutnya.
"Tadi aku melihat Kakak Yuwei berjalan ke arah sini. Mumpung hujan sudah reda, aku pun terpikir untuk datang menjenguk," ujarnya. Ia kemudian menunjuk pot krisan yang dibawa pelayannya, "Ini hasil rawatanku sendiri, kuberikan untuk Kakak Yang."
"Terima kasih, aku sangat menyukainya." Yang Wanzhao meminta Yang Lan menyimpannya, lalu mengajak mereka masuk ke dalam.
Song Yuwei dengan canggung berkata, "Aku datang terburu-buru dan tidak membawa apa pun, nanti akan kubalas lain kali."
Yang Wanzhao tersenyum, "Tidak perlu sungkan."
Li Ruzhen menggandeng tangan Song Yuwei, "Kakak Yuwei, apa yang dibicarakan Kakak Sulung padamu tadi di dalam?"
"Tidak ada apa-apa, dia mendengar aku suka membaca, jadi dia menunjukkan koleksi bukunya padaku," jawab Song Yuwei dengan senyum tipis.
Li Ruzhen menghela napas, "Kalau tidak mau cerita ya sudah, tidak perlu membodohiku dengan alasan itu. Kalau benar begitu, kenapa kalian menutup pintu rapat-rapat?"
Song Yuwei tersenyum canggung tanpa menyahut.
Melihat Song Yuwei bungkam, Li Ruzhen beralih bertanya pada Yang Wanzhao, "Kakak Yang, kenapa kau memberikan pelayan pribadimu kepada Bai Zhi?"
"Dia melakukan kesalahan, aku menghukumnya, dan tidak berniat mempertahankannya lagi. Karena dia sendiri yang ingin pergi ke tempat Bai Zhi, aku pun menuruti keinginannya," jelas Yang Wanzhao singkat.
Li Ruzhen berkomentar, "Sifatmu terlalu lembut. Kalau itu pelayanku, aku tidak akan peduli soal perasaan atau apa pun. Bai Zhi itu juga keterlaluan, Kakak Sepupu sudah berbaik hati menolongnya, tapi dia malah menjebak Kakak Sepupu dan sampai nekat gantung diri, sungguh memalukan."
Yang Wanzhao menatapnya dengan heran, apakah hal seperti ini pantas dibicarakan?
Song Yuwei bertanya dengan wajah cemas, "Siapa itu Bai Zhi?"
Li Ruzhen menjawab, "Gadis kampung yang ditolong Kakak Sepupu di jalan." Melihat Yang Wanzhao menggelengkan kepala ke arahnya, ia langsung menyesal, "Jangan ceritakan ini pada siapa pun, kalau sampai ibuku tahu aku yang mengatakannya, aku pasti dimarahi habis-habisan." Meski berkata begitu, ia lebih khawatir jika Nyonya Besar mengetahuinya. Jika hal ini sampai merusak lamaran Ning Yanyu, ia tidak akan punya tempat lagi di rumah ini.
Song Yuwei berkata dengan sungguh-sungguh, "Tenang saja, aku tidak akan bicara pada siapa pun."
"Syukurlah, syukurlah. Aku menganggapmu orang dalam makanya aku berani bicara. Jangan sampai bocor, meski kepada sepupu-sepupu di keluarga Song sekali pun," Li Ruzhen masih merasa cemas. Ia kini sangat menyesal mengapa dirinya begitu ceroboh bicara di depan orang luar.
Setelah Song Yuwei berjanji sekali lagi, barulah Li Ruzhen merasa tenang. Ia sudah tidak berminat berlama-lama, lalu menyuruh pelayannya mengecek di luar. Setelah mendengar hujan sudah reda, ia pun pamit pergi.
Setelah Li Ruzhen pergi, Song Yuwei berkata pada Yang Wanzhao, "Apakah Kakak Yang juga menganggapku orang luar? Kenapa tadi kau menggeleng pada Adik Zhen?"
Yang Wanzhao menjawab dengan lelah, "Ada hal-hal yang lebih baik tidak diketahui daripada diketahui. Siapa pun yang menyebarkannya, semua orang yang tahu akan menjadi tersangka. Kita berdua tidak punya sandaran, tentu harus lebih berhati-hati dibanding yang lain."
"Kau bisa mengatakan hal ini padaku, berarti kau tidak menganggapku orang luar. Aku pun ingin dekat denganmu. Bolehkah aku bertanya satu hal pribadi, menurut Kakak Yang, bagaimana jika aku menikah dengan Kakak Sepupu?" tanya Song Yuwei tak tertahankan.
Yang Wanzhao: "?"
Sama sekali tidak perlu!