Bab 13: Keberangkatan
"Nona, bangunlah." Qing He berbisik membangunkan Shen Jiang Li.
Shen Jiang Li baru saja terlelap sejenak. Dengan perasaan lelah, ia membalikkan tubuh, ingin tidur lebih lama. Namun, itu hanyalah sebuah keinginan sesaat. Detik berikutnya, ia langsung bangkit dan menyingkap selimutnya. Ia tidak memiliki kemewahan untuk bermalas-malasan.
Saat sedang dirias, terlihat dua lingkaran hitam samar di bawah mata Shen Jiang Li.
"Nona mengalami mimpi buruk lagi semalam."
"Samarkanlah dengan bedak," ucap Shen Jiang Li dengan ekspresi datar.
Setelah berganti pakaian mengikuti arahan Ya Lan, Shen Jiang Li menatap pakaian yang tidak murah itu. Bukannya merasa senang, hatinya justru merasa kian berat.
"Mari kita pergi."
Ketika sang majikan dan pelayan tiba di Taman Hui, Nyonya Besar belum bangun. Seorang pelayan kecil mempersilakan mereka masuk dan duduk di ruang samping.
Shen Jiang Li dengan sabar menunggu cukup lama sampai terdengar suara di depan pintu. Tirai tersingkap, dan seorang wanita muda dengan paras rupawan nan lembut melangkah masuk.
Melihat kedatangan wanita itu, Shen Jiang Li segera berdiri dan memberi hormat, "Bibi Ketiga."
Wanita itu adalah istri dari Tuan Muda Ketiga Shen, Zhu Jin Hua. Sama seperti Tuan Muda Keempat Shen, Tuan Muda Ketiga Shen adalah anak dari selir. Karena posisi Adipati Shen dan Tuan Muda Kedua Shen yang lebih diutamakan, keberadaan Tuan Muda Ketiga Shen di kediaman ini hampir tidak terasa. Bahkan istrinya, Zhu Jin Hua, memiliki sifat yang sama rendah hatinya.
Zhu Jin Hua yang pemalu hanya mengangguk pelan ke arah Shen Jiang Li, berkata, "Duduklah," lalu ia duduk diam di samping sambil meminum teh tanpa mengeluarkan suara lagi.
Ruangan itu hening, waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya.
Entah sudah berapa lama berlalu, barulah terdengar suara dari ruang utama. Seorang pelayan kecil masuk.
"Nyonya Ketiga, Nona Li, silakan."
Karena hendak bepergian, Nyonya Besar Shen hari ini telah berdandan dengan saksama. Meski usia telah memakan waktu, ia tetap memancarkan kewibawaan yang tak tergoyahkan, begitu anggun dan mulia.
Ya Lan masuk pada saat yang tepat, "Kereta kuda sudah disiapkan dan menunggu di luar."
"Kalau begitu mari berangkat, lebih cepat lebih baik." Ucapnya, lalu berdiri dengan sedikit dukungan dari Zhu Jin Hua.
Ia melangkah keluar dikelilingi oleh para pelayan.
*Apa kita benar-benar pergi sekarang?*
Shen Jiang Li mengerutkan kening tanpa sadar. Ia akhirnya menyadari mengapa ia merasa ada yang janggal saat menunggu di ruang samping tadi. Cao Yun beserta kedua putrinya tidak hadir, namun Nyonya Besar sudah bersiap untuk berangkat.
Memanfaatkan celah saat Nyonya Besar naik ke kereta, Shen Jiang Li segera bertanya dengan suara rendah kepada Zhu Jin Hua, "Di mana Kak Zhu dan Adik Lin? Apakah mereka tidak ikut?"
"Apakah Nona Li tidak tahu? Nyonya Besar Cao sedang sakit, jadi Kakak Ipar Kedua membawa mereka berdua kembali ke rumah orang tuanya untuk menjenguk."
Shen Jiang Li merasakan firasat buruk, hatinya mulai berjaga-jaga secara diam-diam.
Situasinya saat ini adalah Nyonya Besar pergi bersembahyang dan hanya membawa dirinya sebagai satu-satunya gadis. Mengingat kemarin Ya Lan secara khusus mengantarkan pakaian ini, jelas bahwa Nyonya Besar sangat mementingkan perjalanan ini. Jika dihitung, pakaian ini setidaknya sudah disiapkan sejak awal bulan. Itu artinya, sejak sebulan lalu Nyonya Besar sudah memutuskan untuk membawa dirinya dalam perjalanan ini.
"Li, duduklah bersamaku di satu kereta," suara Nyonya Besar terdengar dari dalam kereta.
Ya Lan memberi isyarat kepada Shen Jiang Li untuk segera naik.
Shen Jiang Li menatap Qing He sejenak, memberi isyarat agar ia tenang, lalu mengangkat ujung gaunnya dan menginjak tangga untuk naik ke kereta kuda.
Di dalam kereta, Nyonya Besar duduk di tengah dengan raut wajah yang lembut. Terlihat jelas bahwa suasana hatinya sedang sangat baik.
Kusir mengayunkan tali kekang, kereta pun bergerak perlahan.
Sejak Shen Jiang Li duduk, tatapan Nyonya Besar terus tertuju padanya dengan senyuman yang hangat.
Shen Jiang Li merasa malu ditatap seperti itu, lalu bertanya dengan suara pelan, "Nenek, mengapa menatap A-Li seperti itu? Apakah ada yang salah dengan tindakan A-Li?"
Nyonya Besar Shen menggeleng pelan, lalu mengulurkan tangannya dengan penuh kasih sayang, "Kemarilah, duduk lebih dekat."
Shen Jiang Li dengan perasaan sungkan bergeser mendekati posisi Nyonya Besar dan meletakkan tangannya di atas telapak tangan yang mulai menua itu.
"A-Li, sudah beberapa waktu kau berada di sisiku. Meskipun kau bukan gadis yang dibesarkan di kediaman Adipati kita, cara bersikapmu jauh lebih baik daripada Nona Lin. Bagaimana mungkin ada yang salah dengan tindakanmu?"
"Tadi Nenek menatapmu seperti itu," ucap Nyonya Besar Shen, berhenti sejenak dengan nada penuh penyesalan, "itu karena Nenek merasa kasihan padamu!"
"Kasihan? Mengapa Nenek berkata demikian?" Gadis itu mengerjapkan matanya, penuh dengan kepolosan dan kebingungan.