Bab 9: Ibu dan Anak
Halaman (1/3)
Harimau yang ganas sekalipun tidak akan memangsa anaknya sendiri. Namun, Shen Zhanan telah terjerumus ke dalam kegilaan. Ia bahkan sanggup menenggak arak hingga mabuk lalu menyerahkan dirinya ke ranjang orang lain. Bagaimana mungkin Jiang Yiqing berani mempertaruhkan harapan bahwa di hadapan seorang anak perempuan, ia masih akan menyisakan sedikit nurani?
Shen Zhanan telah menemukan kelemahan Jiang Yiqing. Dengan sengaja, ia mencambuk putri mereka—Shen Jiangli—di hadapan ibunya. Meskipun anak itu adalah darah dagingnya sendiri, ia sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan.
Shen Jiangli baru berusia sepuluh tahun. Selama sepuluh tahun pertama hidupnya, ia dibesarkan bak putri seorang pejabat daerah, dipuja dan dimanja oleh semua orang, tumbuh dalam kasih sayang kedua orang tuanya. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa dalam semalam ibunya hendak menggantung diri, sementara ayahnya yang selalu lembut dan santun berubah perangai. Ia tak menghiraukan permohonan ampun dirinya maupun ibunya, terus mengayunkan cambuk dalam kegilaan, matanya merah menyala, seolah baru akan berhenti setelah memukulinya sampai mati.
Setiap kali putrinya menjerit, “Ayah, Ibu,” jeritan itu terasa seperti jarum es yang menusuk hati Jiang Yiqing, satu per satu...
Menatap putrinya yang terbaring sekarat di ranjang, pada akhirnya Jiang Yiqing menyerah pada nasib.
Pada hari perpisahan mereka, gadis kecil itu telah memahami apa yang sedang terjadi. Sepasang matanya yang berkaca-kaca menatap Jiang Yiqing, wajah mungilnya pucat pasi. Tubuhnya memang amat lemah karena sakit, tetapi tangan yang mencengkeram lengan baju ibunya tak juga bisa dilepaskan.
“Jiangli,” Jiang Yiqing merasa hatinya tercabik-cabik. Ia mengusap kepala putrinya, menahan isak, lalu berpesan, “Kelak, saat Ibu tidak berada di sisimu, kau harus melindungi dirimu sendiri, mengerti?”
Shen Zhanan mengetuk pintu dengan tak sabar. “Tandu yang dikirim oleh gubernur militer sudah tiba di depan gerbang.”
Melihat Shen Jiangli masih mencengkeram lengan baju ibunya, ia menggelapkan wajah dan memakinya beberapa kali. Namun, gadis kecil itu seolah tuli, sama sekali tidak bereaksi.
Kemudian Shen Zhanan memotong bagian ujung lengan baju itu dan menyeret Jiang Yiqing keluar. Jiang Yiqing terseret sempoyongan. Ketika hampir sampai di gerbang halaman, ia mendengar suara kecil dari belakang, lirih seperti suara anak kucing yang sakit.
“Ibu—”
Sejak hari ketika dicambuk Shen Zhanan, gadis kecil itu jatuh sakit karena ketakutan dan syok. Demamnya tinggi selama berhari-hari. Jiang Yiqing merawatnya siang malam tanpa berganti pakaian, sambil terus membujuknya, hingga demam itu perlahan turun dan nyawanya tak lagi terancam. Namun, gadis kecil yang dahulu manja dan ceria itu tak pernah lagi mengucapkan sepatah kata pun. Sebesar apa pun Jiang Yiqing membujuknya, ia hanya menatap kosong. Ia tidak membiarkan siapa pun mendekatinya selain Jiang Yiqing. Tabib berkata bahwa anak itu mengalami trauma berat.
Jiang Yiqing menoleh. Di antara pandangan yang berkabut air mata, ia melihat gadis kecil kurus itu berlari keluar tanpa alas kaki. Karena takut ibunya menghilang, kedua matanya melekat erat pada Jiang Yiqing. Ia berlari secepat mungkin, tetapi ujung roknya tersangkut dan tubuhnya terjatuh dari tangga...
Gadis kecil yang kurus itu berlutut di tanah dan terus membenturkan kepalanya dengan sekuat tenaga, seolah jika ia melakukannya jutaan kali, masih mungkin terjadi perubahan.
“Ibu, mulai sekarang Jiangli tidak akan sakit lagi. Jiangli akan mendengarkan Ibu dan menjaga dirinya sendiri...”
Dahulu, Jiang Yiqing sering berkata kepada Shen Zhanan, “Jiangli sudah terlalu dimanjakan oleh kita. Ia nakal dan manja. Baru ditegur sedikit saja sudah merajuk.”
Namun, Jiangli yang sekarang begitu penurut. Ia tidak menangis histeris ataupun membuat keributan. Ketika ditanya mengapa ibunya harus pergi, ia hanya berkata, “Ibu juga harus menjaga diri baik-baik... Ibu tunggu saja. Jiangli pasti akan datang menjemput Ibu pulang.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Shen Zhanan tidak lagi memberi mereka kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan. Ia menyeret Jiang Yiqing keluar dari gerbang halaman. Pekarangan itu dalam dan lorong-lorongnya berkelok-kelok. Suara kecil itu menembus dinding-dinding halaman yang berlapis-lapis.
“Ibu harus hidup baik-baik! Jiangli tidak akan membiarkan Ibu menunggu terlalu lama!”
Setelah itu, selama mengikuti Tuan Shen Kedua, sering kali Jiang Yiqing ingin mengakhiri hidupnya. Namun, setiap kali berada di ambang keputusasaan, ia selalu teringat gadis kecil yang berlutut di tanah dan terus memohon agar dirinya tetap hidup.
Dalam keadaan seperti ini, betapa sulitnya seorang ibu dan anak untuk bertemu kembali. Jelas-jelas hal itu nyaris mustahil, tetapi Jiang Yiqing tetap bertahan melewati enam tahun di kediaman Adipati Negara hanya berkat secercah harapan tersebut.
Enam tahun, lebih dari dua ribu siang dan malam. Dalam ingatan Jiang Yiqing, Jiangli masih belum setinggi bahunya, cantik dan lembut, dengan pipi bayi yang menggemaskan serta raut kekanak-kanakan yang polos dan ceria di antara kedua alisnya.
Kini, gadis itu telah tumbuh menjadi seorang perempuan muda yang anggun dan tinggi semampai. Alisnya yang hitam melengkung membawa sedikit kesan terpelajar. Sekilas, ia tampak lembut dan menyedihkan, tetapi ujung alisnya yang sedikit menurun menyimpan ketajaman, memancarkan keteguhan hati.
“Ibu, jangan menangis. Kita sudah bertemu, seharusnya kita bergembira.” Shen Jiangli dengan hati-hati menghapus air mata ibunya, lalu merangkul bahu Jiang Yiqing yang kurus. Ia tersenyum kepadanya. “Ibu, lihatlah. Jiangli sudah besar.”
“Benar. Jiangli Ibu sudah besar, sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik.” Jiang Yiqing menatap gadis di hadapannya dengan rakus. Mata kelabu samar itu sangat mirip dengan miliknya. Warnanya bukan kelabu pucat, melainkan lebih berkabut, seperti tinta yang melebur di dalam air, seolah menyimpan kabut di dalamnya dan akan meneteskan air mata jika sedikit saja didesak.
Menatap putrinya yang tujuh puluh persen mirip dengannya, selain merasa lega, Jiang Yiqing juga diliputi ketakutan yang mendalam.
Kecantikan tanpa kekuasaan sebagai pelindung ibarat seorang anak kecil membawa harta berharga melewati pasar yang ramai. Begitu ada orang yang berniat jahat, belum tentu nasibnya tidak akan berakhir seperti Jiang Yiqing.
Karena itulah, ketika menerima surat dari Shen Jiangli yang mengabarkan bahwa Shen Zhanan telah dipenjara dan kediaman keluarga Shen disita, Jiang Yiqing rela merendahkan diri untuk menyenangkan, bahkan memohon kepada Tuan Shen Kedua agar ia membawa Jiangli masuk ke kediamannya.
Jiang Yiqing mengusap wajah putrinya. “Tenanglah. Tuan Kedua sudah berjanji kepadaku akan mencarikanmu suami yang baik dan dapat diandalkan. Hidup Ibu sudah hancur, tetapi bagaimanapun juga Ibu akan berusaha melindungimu sebaik mungkin.”
Apa pun yang pernah dialaminya, tidak boleh menimpa Jiangli.
“Ibu,” Shen Jiangli menggeleng, “Jiangli tidak mau menikah. Jiangli ingin membawa Ibu pulang.”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Shen Jiangli melihat senyum di sudut bibir Jiang Yiqing membeku. Tatapannya berubah rumit, dan tanpa sadar alisnya berkerut.
“Ibu?”
Tiba-tiba Shen Jiangli teringat kepada Shen Kun—anak Jiang Yiqing dan Tuan Shen Kedua, yang kini telah berusia empat tahun. Kegelisahan membuncah di dalam hati Shen Jiangli. Ia tidak takut menghadapi orang-orang di kediaman Adipati Negara yang sulit ditaklukkan. Yang paling ia takutkan adalah ibunya tidak bersedia pergi bersamanya.
Nada suara Jiang Yiqing mengeras. “Jiangli, kau bukan anak kecil lagi. Jangan mengatakan hal-hal bodoh seperti itu.”
“Ibu tidak ingin pergi dari sini bersamaku?” Suara Shen Jiangli terdengar lirih.
Hati Jiang Yiqing terasa perih. Ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala putrinya.
Sejak menyerahkan diri kepada Tuan Shen Kedua, Jiang Yiqing sudah tahu bahwa dirinya tak lagi memiliki jalan untuk kembali.
“Bisa bertemu lagi denganmu saja sudah membuat Ibu puas. Jiangli, sekalipun ayahmu tidak dipenjara dan masih menjadi pejabat tinggi seperti dahulu, Ibu tetap tidak bisa kembali.”
“Sekarang kau juga sudah tinggal di kediaman Adipati Negara. Tuan Kedua telah mengganti identitasmu. Anggaplah itu sebagai sedikit kompensasi dari Ibu. Lupakan saja semua yang telah berlalu dan jadilah putri keluarga Adipati Negara dengan tenang. Meskipun kedudukanmu tidak sebanding dengan Shen Zhu dan Shen Lin, orang-orang di luar sana tidak akan berani merundungmu. Kau mungkin tidak dapat menikah dengan keluarga kerajaan atau bangsawan besar, dan tidak bisa masuk ke keluarga terpandang, tetapi setidaknya kau masih dapat memilih pernikahan yang baik.”
“Siapa yang menginginkan semua itu?”
Jiang Yiqing telah mengatakan begitu banyak hal, tetapi tidak satu pun menjawab apa yang ingin didengar Shen Jiangli. Ia tak mampu menyembunyikan kegelisahannya.
“Ibu—”
“Aku tidak akan pergi dari sini.” Jiang Yiqing memotong ucapannya. Tatapannya teguh. Melihat Shen Jiangli yang terpaku, tak mampu mempercayai kata-katanya, ia mengulanginya sekali lagi.
“Aku tidak akan meninggalkan kediaman Adipati Negara.”
Halaman (3/3)