Bab Seratus Tiga Puluh Delapan: Dua Tahun Kemudian
Dua tahun kemudian.
Pagi hari.
Zhen Qing turun dari lantai atas. Melihat orang-orang yang duduk di sofa, ia tersenyum, "Selamat pagi Kakek, selamat pagi Ayah, Ibu."
Dua tahun lalu, ia kehilangan orang yang paling berharga baginya. Tuhan kemudian memberinya keluarga baru. Meskipun selama dua tahun ini, keluarga An memanjakannya bak seorang putri kecil, namun bagian hatinya yang hilang takkan pernah bisa kembali.
"Qing'er sudah turun? Ayo bersiap untuk sarapan!" Sejak menemukan cucunya, kondisi kesehatan dan suasana hati Kakek An membaik.
Kehadiran Zhen Qing membuat keluarga itu kembali utuh dan penuh kebahagiaan.
"Ayah, Ibu, malam ini aku tidak pulang ke rumah ya?" ucap Zhen Qing dengan nada lesu setelah selesai makan.
Malam ini, ia berencana menginap di rumah tempat ia dan Jing Changyou pernah tinggal bersama.
Ayah dan Ibu An saling berpandangan lalu menghela napas. "Ada beberapa hal yang sebaiknya dilupakan. Kau masih memiliki masa depan..."
Zhen Qing menunduk tanpa bicara. Ia tidak bisa melupakan, dan tidak ingin melupakan. Jing Changyou sudah pergi meninggalkannya tepat dua tahun. Jika bukan karena keluarga ini, mungkin ia tidak akan sanggup bertahan hingga saat ini.
Ia tidak pernah menyangka Jing Changyou akan pergi begitu bersih tanpa jejak. Giok dan pakaiannya pun lenyap. Jika bukan karena masih ada sisa-sisa kenangan tentangnya, ia pasti meragukan apakah pria itu benar-benar pernah ada di dunia ini.
Zhen Qing sempat menceritakan perihal Jing Changyou kepada keluarganya. Mereka merasa hal itu sangat sulit dipercaya, namun mereka mempercayainya karena mereka sendiri pernah menyaksikan kejadian-kejadian aneh tersebut.
Begitu keluar rumah, ia berpapasan dengan An Xuyao yang baru saja kembali dari lari pagi. Zhen Qing tersenyum manis, "Kak..."
An Xuyao sangat memanjakannya, membuatnya benar-benar merasakan betapa indahnya memiliki seorang kakak. Ayah, Ibu, dan Kakek juga sangat menyayanginya, memberinya sebuah keluarga yang utuh kembali.
Ia tetap bersikeras menggunakan marga Zhen, beruntung orang tuanya memahami.
"Qing'er mau ke mana? Kakak antar ya!" ucap An Xuyao dengan wajah teduh yang ramah.
"Tidak usah, Kak. Hari ini aku ingin menenangkan diri sendiri," jawab Zhen Qing sambil tersenyum.
An Xuyao menatap punggung Zhen Qing dan menghela napas. Ia tidak tahu kapan adiknya bisa benar-benar bangkit dari masa lalu.
Zhen Qing berjalan menyusuri jalanan dengan tatapan sendu. Ia lebih memilih percaya bahwa Jing Changyou tidak mati, melainkan kembali ke tempat asalnya, kembali ke zamannya.
*Jing Changyou, aku sangat merindukanmu! Sangat merindukanmu!*
Tiba-tiba ponselnya berdering. Zhen Qing mengangkatnya, "Halo..."
"Kau di mana? Jemput aku di bandara!" Suara Niu Mi terdengar. Niu Mi telah menikah dengan Xiao Yan dan dikaruniai seorang putri yang lucu.
"Tapi..." Sebelum Zhen Qing sempat membalas, Niu Mi sudah memutus sambungan teleponnya.
Zhen Qing tidak punya pilihan selain menjemputnya. Sesampainya di bandara, ia baru sadar bahwa ia bahkan belum bertanya jadwal penerbangan Niu Mi. Saat ditelepon, ponselnya tidak aktif. Ia tersenyum getir, menyadari betapa kacaunya pikirannya karena terlalu merindukan Jing Changyou.
Ia duduk di kursi tunggu, pikirannya melayang entah ke mana.
Tiba-tiba, sekelompok pria berpakaian hitam muncul dan membentuk barisan panjang. Sepertinya mereka sedang menyambut seseorang yang sangat penting.
Zhen Qing melirik jam dan memutuskan untuk menunggu di luar.
"Kalian sudah dengar belum? Tiga tahun lalu, putra dari Grup Jing mengalami kecelakaan dan koma karena cedera parah. Dia tidur selama tiga tahun, dan baru saja terbangun belum lama ini. Bukankah itu sebuah keajaiban?"
"Benar. Tuan Muda Jing ini adalah sosok yang luar biasa. Di usia muda, ia berhasil membawa Grup Jing ke puncak kejayaan dengan pengaruh besar di tingkat global. Jika bukan karena kecelakaan itu, Grup Jing pasti akan jauh lebih megah..."
"Betul! Kudengar Tuan Muda Jing sangat misterius. Namanya terkenal namun wajahnya jarang terlihat. Sedikit sekali orang yang pernah bertemu dengannya. Katanya tahun ini dia sudah berusia tiga puluh tahun..."
Saat mendengar marga "Jing", langkah kaki Zhen Qing sedikit terhenti. Namun ketika mendengar usia "tiga puluh tahun", pikirannya yang sempat melantur kembali tersadar.
*Bagaimana mungkin itu dia?*
Zhen Qing mempercepat langkahnya. Ia melihat deretan mobil Rolls-Royce hitam terparkir di depan pintu masuk. Benar-benar orang penting.
"Lihat! Dia keluar!" Terdengar keributan dari arah kerumunan wartawan yang saling berdesakan.
Zhen Qing melirik sekilas. Beruntung ia sudah keluar lebih dulu, jika tidak, ia pasti sudah terinjak-injak.
Dari dalam bandara, seorang pria berjas dengan kacamata hitam keluar dikawal oleh pengawal. Sosoknya tinggi tegap dan memancarkan aura yang kuat sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
Begitu masuk ke mobil, pria itu melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan profil wajah yang sempurna. Mendengar keributan di luar, ia sedikit mengerutkan kening, memancarkan aura dingin yang membuat orang tidak berani mendekat.
Tepat saat itu, ponsel Zhen Qing berdering. Saat ia melihat layar yang menunjukkan nama Niu Mi, ia segera mengangkatnya. Matanya tak sengaja menyapu ke arah mobil Rolls-Royce tersebut. Seketika, matanya melebar dan ia terpaku di tempat.
Profil wajah itu... sama persis dengan Jing Changyou.
*Apakah itu dia? Apakah dia kembali?*
Hati Zhen Qing bergejolak hebat bak banjir bandang. Darah di seluruh tubuhnya seolah mendidih, tak mampu lagi diungkapkan dengan kata-kata.
Pria itu tampak tidak suka dengan kebisingan di luar. Ia menggerakkan jarinya yang ramping untuk menutup kaca jendela mobil, lalu dengan suara berat dan dingin ia berkata, "Jalan."
"You?" Melihat mobil itu mulai bergerak, Zhen Qing melempar ponselnya dan berlari mengejar mobil itu.
Ia sudah kehilangan dua tahun, kerinduan ini hampir melahap jiwanya.
"Jing Changyou, tunggu aku..." Zhen Qing berlari mengejar mobil itu.
Melihat mobil itu semakin menjauh, ia menangis karena cemas. Ia berlari sekuat tenaga. Bahkan jika ia tidak bisa mengejarnya, ia harus tetap mencoba.
"Tuan Muda, di belakang ada..." sopir itu mencoba mengingatkan.
Pria itu tidak menjawab, namun suasana di dalam mobil menjadi lebih dingin. Wajah tampannya membeku. Ia sudah tahu sejak awal ada seorang wanita yang mengejar mobilnya, namun wanita itu memanggil nama yang sepertinya bukan namanya.
Melihat wanita itu tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menyerah, ia tidak bisa menahan diri untuk mengerutkan kening.
Dengan suara berat, ia memerintahkan, "Tambah kecepatannya."
"Baik." Sopir pun memacu mobilnya lebih cepat.
"Jing Changyou, tunggu aku..." Air mata Zhen Qing mengalir deras. Ia tidak mengerti mengapa Jing Changyou tidak memedulikannya.
Pria di dalam mobil terus menatap kaca spion hingga ia melihat wanita itu terjatuh, tangannya terulur ke arah mobil sambil terus meneriakkan sesuatu.
"Jing Changyou..." Zhen Qing tersungkur di tanah, menatap mobil yang kian menjauh dengan pedih, lalu pecahlah tangisnya.
*Apakah aku salah lihat? Jika itu benar-benar Jing Changyou, bagaimana mungkin dia tega mengabaikanku?*
"Jing Changyou! Kembalilah, kumohon! Aku sangat merindukanmu!" Zhen Qing menangis tersedu-sedu. Jika rasa sakit ini begitu menyiksa, ia lebih memilih Jing Changyou tidak pernah datang ke dalam hidupnya.
Tidak ada yang tahu bahwa dua tahun lalu, ia sempat koma selama tiga hari tiga malam di rumah sakit. Saat terbangun dan mengetahui Jing Changyou sudah tiada, rasa sakit itu begitu menyayat hati, begitu dalam hingga ke sumsum tulang.
Tidak ada yang tahu bagaimana ia bertahan selama itu. Berkali-kali ia ingin menyusul Jing Changyou, namun selalu ada suara kekanakan di hatinya yang mengatakan bahwa Jing Changyou akan kembali.
Itulah sebabnya ia sering pergi ke rumah tempat mereka dulu tinggal, menanti Jing Changyou yang mungkin saja akan kembali suatu hari nanti.
*Palsu! Semuanya palsu!*
Semuanya hanyalah kebohongan yang ia ciptakan sendiri. Jing Changyou benar-benar tidak akan kembali. Dia sudah mati, dan hati Zhen Qing pun ikut mati bersamanya.