Bab 32: Memakan Ular
Orang bilang, sekali digigit ular, sepuluh tahun takut pada tali sumur. Ketakutan Zhen Qing pada ular sudah meresap hingga ke tulang.
“Tenang, ular itu tidak punya taring, sudah dicabut, tidak beracun dan tidak akan menyakitimu,” ucap Jing Changyou menenangkan Zhen Qing dengan suara lembut.
Pikiran Zhen Qing perlahan menjadi jernih. Taringnya sudah dicabut? Apakah ini ulah Niuni lagi?
Tatapannya menjadi dingin. “Di mana kau menemukan ular itu?”
“Saat aku mandi, ada lubang di lantai, ular itu keluar dari situ.” Jing Changyou teringat bagaimana ular itu merayap keluar dari saluran pembuangan saat ia sedang mandi.
Karena pernah mengalami kejadian sebelumnya, ia tak berani sembarangan bertindak. Ia menjepit ular itu di bagian lehernya dan baru sadar ular itu memang tidak beracun.
Setelah mendengar penjelasan itu, Zhen Qing makin yakin ini pasti ulah Niuni. Niuni pasti ingin menakutinya saat ia mandi, tapi yang terjadi justru kebalikannya—ular itu muncul saat Jing Changyou mandi.
Sungguh keterlaluan, dulu Zhen Qing masih bisa bersabar, tapi kali ini Niuni sudah kelewatan, meski ular itu tidak beracun.
Ia memang sangat takut pada ular. Jika tiba-tiba ada ular muncul saat ia mandi, ia tak bisa membayangkan seperti apa jadinya.
“Sebenarnya, semakin kita takut pada sesuatu, semakin harus kita hadapi, supaya tidak mudah ditakut-takuti lagi,” kata Jing Changyou, seolah menebak asal-usul ular itu.
“Mengatakan memang mudah!” Zhen Qing merengut. Sewaktu ia berumur delapan tahun, ia pernah digigit ular. Kalau saja kakeknya tidak segera mengisap racunnya, mungkin ia sudah...
Jadi ia memang sangat takut pada ular.
Niuni itu tidak hanya bisa membawa tikus, bahkan ular pun bisa dicari, benar-benar hebat.
Melihat Jing Changyou dengan tenang memasukkan ular ke dalam kotak, barulah Zhen Qing merasa lega. “Buang saja!”
“Kenapa? Ular ini bisa dimakan!” Jing Changyou memandang Zhen Qing tanpa ekspresi. “Jika kau memakannya, mungkin setelah itu tak akan terlalu takut lagi. Lagi pula, bisa membuat orang yang mempermainkanmu jadi malu sendiri.”
Padahal memang itu ular yang tidak beracun.
“Apa?” Zhen Qing melongo, memakan ular? Ia sama sekali tidak pernah terpikir, apalagi berani mencobanya. Ia tahu memang ada banyak orang yang makan daging ular karena nilai gizinya tinggi dan juga ada manfaat pengobatannya.
“Heh...” Zhen Qing tersenyum paksa, “Makan ular? Kau tahu cara mengolahnya?”
“Hmm...” Jing Changyou menatap Zhen Qing dengan serius.
“Kalau mau makan, makanlah sendiri! Aku tidak mau!” Begitu teringat ular, Zhen Qing langsung merinding.
Jing Changyou tersenyum tipis dan mengulurkan tangan. “Pinjam ponselmu sebentar.”
“Mau apa?” Zhen Qing memeluk ponselnya erat-erat. Jangan-jangan dia mau iseng lagi!
“Mau cari sesuatu,” jawab Jing Changyou dengan serius.
“Mau cari sesuatu? Kau bisa menggunakannya?” Zhen Qing mengangkat ponselnya, ragu.
Bukankah dia orang dari zaman dulu?
“Hmm…”
Zhen Qing berkedip, membuka kunci layar, lalu menyerahkan ponselnya kepada Jing Changyou, jelas-jelas wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya.
Jing Changyou menerima ponsel itu, mencari aplikasi pencarian, lalu dengan kaku mengetik “cara mengolah daging ular”, membacanya sekilas, dan mengembalikan ponsel kepada Zhen Qing.
Zhen Qing dari awal hingga akhir hanya bisa melongo. Saat melihat Jing Changyou mengetikkan kata-kata itu dengan huruf latin, ia benar-benar terperangah.
Bukankah Jing Changyou orang dari masa lampau? Kenapa bisa...
“Kau... kau...”
“Beberapa hari ini, aku sudah belajar banyak hal dari dunia ini,” Jing Changyou mengangkat alisnya.
Zhen Qing menatap Jing Changyou dengan tak percaya. Apakah ia salah dengar?
Ia buru-buru mencari secarik kertas bekas, menulis beberapa suku kata, lalu mengambil selembar koran dan menyodorkannya di depan Jing Changyou untuk dibaca.
Tak disangka, Jing Changyou mampu membacanya tanpa terhenti.
Zhen Qing ternganga. Inikah yang disebut jenius?
Orang lain butuh waktu bertahun-tahun untuk mempelajarinya, dia hanya butuh lima hari?
Saat itu juga, kecurigaan Zhen Qing kembali muncul. Apakah Jing Changyou benar-benar orang dari masa lampau?
“Bagaimana cara menggunakan ini?” Jing Changyou menunjuk ke arah kompor gas.
Zhen Qing masuk ke dapur, memperagakan sekali cara menggunakannya. Melihat Jing Changyou sedang memegang daging ular, ia refleks mundur dua langkah.
“Kalau kau takut, lebih baik tunggu di luar saja.”
Zhen Qing merengut, lalu duduk di sofa kecil di ruang tamu, memandangi punggung Jing Changyou dengan pikiran yang bercampur aduk.
Tak lama kemudian, aroma harum tercium dari dapur. Jing Changyou keluar membawa daging ular, juga memanaskan semangkuk mi yang tadi, menambah sedikit lagi mi, lalu membaginya ke dalam dua mangkuk.
“Coba rasakan, bagaimana rasanya?”
Zhen Qing hanya bisa melirik kesal, orang ini benar-benar lihai membalikkan keadaan.
Persediaan mi-nya tinggal sedikit, dan orang ini menghabiskan semuanya. Berarti besok ia harus makan mi instan lagi.
Mengingat beberapa hari ini Jing Changyou hidup dan makan di luar, ia jadi penasaran. “Beberapa hari ini kau makan apa? Tinggal di mana?”
Jing Changyou mengambil sesuap mi, lalu menjawab, “Pernah beli mi instan, lalu Pak Satpam suka membawakan makanan, malam hari aku menunggu di depan pintu, menantimu.” Sambil berkata, ia mengambilkan sepotong daging ular untuk Zhen Qing, tapi Zhen Qing tidak menyadarinya.
Zhen Qing diam saja, ada sedikit rasa bersalah di hatinya, lalu mulai makan tanpa bicara.
Tiba-tiba, ia merasakan rasa amis di mulutnya. Yang tertelan bukan mi, ia pun langsung mengernyit, “Barusan aku makan apa?”
“Daging ular,” jawab Jing Changyou dengan santai.
Mata Zhen Qing membelalak, perutnya langsung terasa mual. Ia memang tidak bisa menerima makan ular, bahkan dari dalam hati.
Zhen Qing merasa semua yang ia makan hari itu seolah mau keluar lagi, kepalanya pun terasa pusing. Selesai dari kamar mandi, ia berkata lemah, “Malam ini kau tidur di sofa, besok pagi jam tujuh harus pergi, jangan sampai bertemu Niuni.”
“Kau tidak enak badan?” Jing Changyou menatapnya dengan sedikit kekhawatiran.
“Siapa yang bisa nyaman setelah makan daging ular buatanmu?” Zhen Qing menatap Jing Changyou dengan kesal.
Ia benar-benar curiga, jangan-jangan orang ini sengaja. Sekarang ia merasa seluruh tubuh tidak enak, apalagi hatinya, benar-benar ingin muntah.
“Tenang saja, setelah aku belajar beberapa hari lagi, aku akan mencari kerja, menghasilkan uang untuk membayarmu!” Tatapan Jing Changyou penuh keyakinan.
Zhen Qing merasa kepalanya semakin berat, ia berkata setengah bernapas, “Kita lihat saja nanti.”
Seorang pangeran dari masa lampau yang hidup serba nyaman, di abad dua puluh satu ini bisa melakukan apa? Berburu? Ia sama sekali tidak berharap banyak.
Jing Changyou menatap Zhen Qing yang masuk ke kamar, matanya sedikit bergetar. Semua yang ia katakan memang benar.
Ia akan berusaha secepat mungkin menyesuaikan diri dengan dunia ini, untuk menebus semuanya pada Zhen Qing.
Ada dorongan kuat dalam dirinya, ingin memberikan segalanya yang terbaik di dunia ini untuk Zhen Qing.
Menatap sofa sempit di sampingnya, bibir Jing Changyou melengkung tipis, sorot matanya menyiratkan kelembutan yang nyaris tak terlihat.
Inikah yang disebut dengan rasa rumah?
Zhen Qing berbaring di tempat tidur, kepalanya berat. Malam ini benar-benar melelahkan baginya, dan tak lama ia pun terlelap.
Jing Changyou sama sekali tidak mengantuk. Ia bahkan menahan napas, mendengarkan suara kendaraan di luar jendela. Tubuhnya yang tinggi besar terasa begitu kontras dengan sofa kecil itu.
(Sahabat, jangan lupa vote ya!)