Bab Delapan Puluh Sembilan: Pemandangan yang Menyilaukan Mata
“Aku ajari kamu bermain piano, mau?” Setelah makan sedikit, Han Cheng menatap Zhen Qing dengan penuh harap.
Sejak awal melihat piano itu, tatapan penuh keinginan di mata Zhen Qing tak luput dari perhatiannya.
“Ha?” Zhen Qing tertegun, lalu berkata malu-malu, “Aku tidak bisa, lho!”
Ia belum pernah belajar sama sekali, bahkan dasar-dasarnya pun tidak tahu. Itu hanya impian masa kecilnya saja.
“Aku ajari kamu, ayo…” Han Cheng menarik tangan Zhen Qing dengan paksa, mendudukkannya di samping piano.
“Pianonya cantik sekali!” Zhen Qing menatap piano putih bersih dan mengilap di hadapannya, tak tahan untuk menyentuhnya. Begitu jarinya menekan tuts dengan lembut, suara pun bergema.
“Sini, aku ajari caranya…” Han Cheng membimbing Zhen Qing dengan telaten dan lembut, hatinya dipenuhi kebahagiaan, seolah berharap momen itu bisa abadi selamanya…
Sementara itu, Jing Changyou menunggu Zhen Qing di perpustakaan. Namun hingga malam tiba, Zhen Qing tak juga muncul. Ia menelpon ponsel Zhen Qing, tapi tak ada jawaban. Saat ia mulai cemas apakah sesuatu terjadi pada Zhen Qing, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
Begitu dibuka, matanya yang gelap langsung dipenuhi hawa dingin. Ia menatap foto Zhen Qing dan Han Cheng yang tampak bahagia bersama, urat-urat di tangannya menonjol, seakan hendak meremukkan ponsel itu.
Pemandangan itu sangat menusuk baginya.
Ia telah menunggunya di sini, namun Zhen Qing justru bersama pria lain. Apakah Zhen Qing sudah melupakan kata-katanya pagi tadi? Melihat kantong plastik di tangannya, matanya memancarkan ejekan.
Saat Jing Changyou hendak pergi, ponselnya kembali berbunyi, kali ini sebuah pesan singkat.
“Ia ada di sana… Jika tak ingin menyesal seumur hidup, segeralah ke sini.” Pesan itu juga mencantumkan sebuah alamat.
Tatapan Jing Changyou seketika menjadi sedingin neraka, bibirnya terkatup rapat seperti garis beku. Ia segera naik taksi menuju alamat yang tertera.
Han Cheng mengajari Zhen Qing dengan sepenuh hati, seolah ingin menuangkan seluruh isi kepalanya ke dalam benak Zhen Qing.
Semakin lama Zhen Qing bermain piano, kepalanya terasa semakin pusing. Ia bahkan menguap, merasa sangat mengantuk. Apa mungkin karena terlalu lelah?
Han Cheng menyadari keanehan Zhen Qing, mengerutkan keningnya. “Kamu mengantuk?”
“Sedikit,” jawab Zhen Qing, juga tak tahu kenapa tiba-tiba begitu mengantuk.
“Kalau begitu, aku bantu kamu naik ke atas untuk istirahat.” Han Cheng melihat Zhen Qing berusaha menahan kantuk.
“Tak usah, aku pulang saja dulu,” Zhen Qing tiba-tiba teringat janjinya pada Jing Changyou.
Namun belum sempat melangkah jauh, kepalanya makin berat, tubuhnya limbung, bahkan matanya hampir tak kuat terbuka.
Han Cheng cepat-cepat menopang tubuh Zhen Qing, panik. “Kamu kenapa?”
Apa Zhen Qing terlalu lelah akibat bekerja setiap hari?
Zhen Qing berusaha tetap sadar, namun matanya tak mau diajak kompromi, bergumam, “Aku ingin tidur…”
Kini, seluruh tubuh Zhen Qing hanya dipenuhi satu keinginan: tidur dengan nyenyak.
“Baiklah, aku antar kamu ke atas untuk tidur,” Han Cheng mengangkat Zhen Qing ke pelukannya, membawanya ke lantai atas.
Hua Qiao’er bersembunyi di sudut, diam-diam memotret dengan ponselnya, di wajahnya terpampang senyum licik. Ia kembali mengirimkan foto itu pada Jing Changyou.
Tatapannya penuh kebencian. Zhen Qing, kau menolak meminjamkan uang padaku, mengira bisa memaksaku pulang begitu saja? Mimpi! Hari ini ulang tahunmu, masak aku tak mengirimkan hadiah apa pun padamu?
Han Cheng menidurkan Zhen Qing di atas ranjang dengan hati-hati, seolah menaruh barang berharga. Menatap wajah cantik Zhen Qing, Han Cheng terpesona. Ia baru menyadari bahwa perempuan bisa secantik ini. Tangan tak kuasa menahan diri, menyentuh pipi Zhen Qing dengan lembut, enggan beranjak.
Ia berbisik, “Kau benar-benar bencana cinta dalam hidupku.”
Dulu, baginya, perempuan hanya sekadar pakaian. Ia melintasi banyak wanita tanpa pernah benar-benar peduli. Tapi kini, seluruh pikiran dan hatinya hanya terisi oleh satu wanita—wanita yang kini terbaring di hadapannya.
Melihat Zhen Qing mengerutkan kening, ia buru-buru menarik tangannya. Teringat masih ada sisa kue di wajah, Han Cheng pun pergi mandi.
Jing Changyou duduk di taksi, menatap foto di ponselnya. Mata penuh badai, wajah membeku, rasa sakit yang tak bisa diungkapkan mencengkeram hatinya, atmosfer di sekitarnya berubah mencekam.
“Krakk…” Ponsel di tangannya diremukkan, pecahan layar menusuk kulitnya hingga berdarah, namun ia sama sekali tak merasakan sakit.
Sopir taksi mengintip lewat kaca spion, suasana di dalam mobil sedingin musim dingin. Ia sampai menggigil ketakutan, apalagi melihat darah menetes dari tangan Jing Changyou. Wajahnya pucat pasi. Jangan-jangan hari ini ia mengangkut orang gila?
“Percepat mobilnya, secepat mungkin!” Jing Changyou menggeram layaknya seekor macan.
“Baik…baik… Saya tambah cepat…” Awalnya sopir ingin bilang kecepatannya sudah cukup, tapi melihat sorot mata Jing Changyou yang sedingin es, ia langsung menginjak gas, melaju kencang.
Bahkan kalau polisi datang, ia tetap tak mau mengurangi kecepatan. Yang penting, segera menurunkan ‘dewa malapetaka’ ini, dan ia bersyukur masih selamat.
Menyeramkan sekali, belakang kepalanya terasa dingin seperti ditempel ujung pistol.
Jing Changyou melemparkan selembar uang seratus ke sopir, lalu menghilang secepat angin.
Sopir itu gemetar saat mengambil uang, menyeka keringat di dahinya, lalu mengeluh, “Cari uang sekarang benar-benar berat!”
Andai Jing Changyou belum turun dari mobil, mungkin dia sudah pingsan saking takutnya. Sungguh, memalukan sekali bila dipikir-pikir.
Begitu masuk, Jing Changyou menarik seorang pelayan dan bertanya dengan suara sedingin es, “Di mana Zhen Qing dan Han Cheng?”
“Si…siapa itu Zhen Qing?” Pelayan yang tiba-tiba ditarik sampai rohnya serasa melayang saking takutnya.
“Mereka di atas, kamar 358!” Untung ada rekannya yang sigap memberi jawaban.
Melihat Jing Changyou melesat pergi, kedua pelayan itu baru bisa memegang dada, seperti baru lolos dari maut.
Han Cheng selesai mandi, keluar dengan hanya mengenakan handuk. Ia melihat Zhen Qing di atas ranjang, tanpa sadar tersenyum. Betapa bahagianya bisa memandang orang yang ia sukai.
Han Cheng menatap Zhen Qing, bahkan tak ingin mengedip. Akhirnya ia tak tahan, membungkuk dan mengecup kening Zhen Qing, enggan menjauh.
Tiba-tiba, “Braaak!” Pintu kamar terbuka.
Adegan Han Cheng mengecup Zhen Qing terpampang jelas di mata Jing Changyou.
“Kau ngapain di sini?” Han Cheng terkejut melihat Jing Changyou.
“Apa yang sudah kau lakukan padanya?” Jing Changyou melihat Han Cheng hanya mengenakan handuk dan Zhen Qing di atas ranjang, matanya menyipit, hawa dingin memancar menakutkan.
“Tak melakukan apa-apa!” Han Cheng tidak mengerti kenapa Jing Changyou tampak begitu marah.
“Hmm…” Zhen Qing di atas ranjang perlahan siuman, memandang sekeliling yang asing, lalu sontak duduk, “Kenapa aku bisa tertidur?”
Ia baru merasa lega setelah memastikan bajunya masih utuh. Suasana kamar terasa sangat dingin, membuatnya menoleh ke arah pintu.
“Jing Changyou?”
Aneh, mengapa dia ada di sini?
Tatapan Jing Changyou tersirat luka. Hatinya bagai dicabik-cabik, hingga sulit bernapas. Ia membuka mulut, menatap Zhen Qing dalam-dalam, lalu berbalik dan pergi.
“Hei? Jing Changyou, tunggu aku!” Zhen Qing tidak mengerti apa yang terjadi. Naluri pertamanya ingin mengejar, namun Han Cheng menahannya.
Ia belum pernah melihat Jing Changyou seperti itu—seolah baru saja terluka sangat dalam. Hatinya pun terasa nyeri.