Bab Delapan Puluh Dua: Pertengkaran
Yang mengejutkan semua orang, bintang terkenal Xu Meiling, terseret dalam skandal memalukan di dunia hiburan. Berbagai aibnya terbongkar, semuanya sangat kotor. Bahkan perusahaan tempatnya bernaung mengeluarkan pernyataan resmi, memutus kontrak dengannya, dan membatalkan semua karya yang baru-baru ini ia bintangi, serta menggantikan dirinya dengan aktris lain untuk pengambilan gambar ulang.
Gosip dan kabar miring membanjiri setiap sudut, seketika Xu Meiling menjadi seperti anjing kehilangan rumah, dicaci maki semua orang. Dalam semalam, ia kehilangan nama dan kekayaan, tak menyisakan apa-apa.
Inilah nasib seorang bintang: bisa saja terkenal dalam sekejap, kaya mendadak, menjadi idola yang dipuja banyak orang, namun juga dapat kehilangan segalanya dalam satu malam, bahkan lebih hina dari orang biasa.
Zhen Qing menyaksikan tayangan di berbagai media daring tanpa ada sedikit pun rasa iba. Xu Meiling telah menuai apa yang ia tanam, dan ia tahu semua ini adalah ulah Han Cheng.
Di dalam vila keluarga Han.
“Han Cheng, tindakanmu ini bukankah menghancurkan Grup Han? Meskipun kau benci Xu Meiling, paling tidak kau bisa membekukannya saja. Ada seribu satu cara untuk menyingkirkannya, kenapa memilih cara ini? Kau mengungkit semua kesalahannya di masa lalu, apa untungnya bagimu? Apa untungnya bagi Grup Han?” Wajah Tuan Tua Han memerah menahan marah.
“Kakek, bukankah perusahaan sudah kau serahkan padaku? Aku bebas melakukan apa saja. Lebih baik Kakek jaga kesehatan, nikmati masa pensiunmu saja,” jawab Han Cheng dengan nada tak senang. Ia sendiri merasa belum cukup melampiaskan amarahnya!
Ucapan itu justru menyulut kemarahan sang kakek. “Bebas melakukan apa saja? Kau berani berkata begitu?”
Selesai bicara, ia terbatuk-batuk karena marah.
Han Cheng menunduk diam, takut jika ia berbicara lebih jauh, kakeknya benar-benar akan sakit parah.
“Drama yang baru saja dimainkan Xu Meiling itu, sudah menguras banyak dana perusahaan. Sekarang kau seenaknya mengganti pemeran. Tidak bisakah menunggu hingga penayangannya selesai, baru berurusan dengannya? Apa perusahaan di matamu hanya mainan?” Tuan Tua Han mengetukkan tongkatnya ke lantai, menimbulkan suara keras.
Dari lantai bawah, Nyonya Han yang mendengar percakapan itu merasa kepalanya berdenyut. Kali ini pasti anaknya akan celaka! Begitu banyak mata mengincar posisi itu. Dulu saat pemilihan pewaris, ia tak punya harapan besar. Setelah lama menikmati hidup nyaman, kini mendadak terancam, ia benar-benar tak sanggup menerimanya!
Tidak bisa, ia harus naik ke atas.
“Kakek, wanita berwatak ular seperti itu, siapa yang mau menonton aktingnya? Lebih baik diganti saja sedini mungkin,” Han Cheng benar-benar sudah muak dengan Xu Meiling.
“Kau tahu apa!” Tuan Tua Han mengangkat tongkat, hendak memukul Han Cheng, namun Nyonya Han yang baru tiba segera menahannya.
“Ayah, bicaralah baik-baik. Aku hanya punya satu anak laki-laki, kalau dia celaka, bagaimana aku bisa hidup?” Nyonya Han menangis, melirik Han Cheng dengan kecewa.
“Kalau memang tak bisa hidup, lebih baik mati saja! Han Cheng jadi begini juga karena meniru ibunya. Lihatlah, sudah jadi seperti apa sekarang? Setiap hari hanya bersenang-senang, main wanita pun sudah biasa, sekarang malah mempermainkan perusahaan. Apa kau berniat membuatku mati karena marah?” Tuan Tua Han memegangi dadanya, napasnya memburu, matanya menatap tajam keduanya.
Nyonya Han tak berani bersuara, heran mengapa semua kesalahan dilemparkan kepadanya.
Han Cheng juga diam saja. Sejak kapan ia hidup berfoya-foya? Wanita pun sudah lama tak disentuhnya, dan bukankah perusahaan di bawah tangannya berjalan baik?
“Han Cheng, jika kau tak ingin lagi jadi pewaris, aku bisa mengambil kembali jabatan itu!” Tuan Tua Han menatap tajam, berniat menakuti Han Cheng.
Anak muda tetaplah anak muda, penuh emosi.
Nyonya Han hampir pingsan mendengarnya.
“Kakek, itu hak Kakek. Tapi, apakah Kakek yakin ada pewaris lain yang lebih cocok dariku?” Han Cheng tersenyum dingin. Tanpa jabatan itu pun, ia yakin bisa mendirikan kerajaan sendiri.
“Kau…” Tuan Tua Han menatap lekat cucunya, matanya menyipit. Sepertinya cucunya ini sudah berubah.
Nyonya Han pun terpana, seakan tak mengenali anaknya sendiri.
“Cheng, ini adalah hasil jerih payah Kakek, kau mengerti?” tiba-tiba suara Tuan Tua Han menjadi berat dan dalam.
“Kakek tenang saja, aku sangat mengerti.” Han Cheng menjawab dengan sungguh-sungguh.
Tuan Tua Han memandang Han Cheng beberapa saat, lalu menutup matanya, lelah. “Sudahlah, kalian keluar dulu!”
“Kakek, beristirahatlah. Nanti malam aku akan menjenguk Kakek lagi.” Setelah berkata demikian, Han Cheng pergi.
Nyonya Han buru-buru mengejar, “Cheng, bagaimana kau bisa bicara seperti itu pada Kakek? Tak takut dia benar-benar mencabut hak warismu, lalu para bajingan itu mengambil alih? Bagaimana nasib kita berdua nanti? Kau rela kehilangan segalanya hanya demi perempuan jalang itu?”
Han Cheng berhenti dan menatap ibunya dengan dingin, “Ibu, kalau ingin tetap menjadi orang terpandang, lebih baik jangan ikut campur urusanku. Jika tidak, jika suatu hari kita benar-benar kehilangan segalanya, jangan salahkan aku.”
Nyonya Han terbelalak, matanya perlahan memerah karena marah dan sedih. “Cheng, kau mengancam ibumu sendiri?”
“Ibu, tak usah berpura-pura lagi. Aku lelah melihatnya,” Han Cheng berkata dengan nada jengah.
Dalam keluarga ini, setelah ayahnya tiada, ia tak pernah lagi merasakan kehangatan.
“Cheng, kau masih menyalahkanku? Kematian ayahmu bukan salahku. Apa kau kira aku ingin jadi janda?” Nyonya Han menatap Han Cheng dengan pedih.
“Janda?” Han Cheng tersenyum sinis. “Jadi, begitu cara Ibu memandang diri sendiri.”
“Memang bukan? Aku pun sangat sedih atas kepergian ayahmu, tak seharusnya kau selalu menuduhku!” Nyonya Han membela diri dengan suara kesal.
“Ibu masih bisa berkata seperti itu?” Mata Han Cheng menyala penuh amarah, “Ayah punya penyakit jantung, kalau bukan karena Ibu sering membuatnya marah, lalu semua kelakuan Ibu yang buruk itu terbongkar, apakah ia akan sampai kambuh?”
“Apa yang pernah kulakukan sampai bisa membuatnya semarah itu? Kau jangan menuduhku sembarangan!” Nyonya Han bersuara lirih.
“Ibu tahu kenapa selama ini aku gonta-ganti wanita seperti ganti baju?” Wajah Han Cheng dipenuhi kepedihan.
“Kenapa?” Nyonya Han bertanya polos.
“Karena aku tak pernah percaya pada perempuan. Aku takut mereka semua seperti Ibu, genit, tak setia, sudah menikah masih mencari pria lain, dan merindukan… kekasih lama!” Suara Han Cheng penuh sindiran, menatap Nyonya Han dengan dingin. Jika bukan karena wanita itu adalah ibu kandungnya, sudah lama ia takkan mentolerir segala perbuatannya.
“Jadi, kau tahu semuanya?” Nyonya Han terpaku, merasa malu luar biasa mengetahui anaknya telah mengetahui segala keburukannya.
“Benar, aku tahu semuanya, jadi sebaiknya Ibu menurut saja. Jika masih ikut campur urusanku, atau diam-diam berbuat licik di belakangku, aku takkan pernah memaafkanmu!” Han Cheng memejamkan mata sesaat lalu pergi. Sebenarnya ia tak ingin membeberkan semuanya, tapi mengapa mereka memaksanya.
Selama ini ia menipu diri sendiri, membohongi hatinya sendiri, dan pada akhirnya menyadari betapa konyolnya keluarga yang ia miliki.
Nyonya Han hanya bisa memandang kepergian Han Cheng dengan melongo, tak mampu berkata sepatah kata pun. Mana ada anak yang berbicara begitu pada ibunya? Hampir saja ia muntah darah karena marah.
Begitu terlintas kemungkinan bahwa semuanya gara-gara Zhen Qing, hatinya dipenuhi dendam dan kebencian yang mendalam, sampai giginya gemeretak menahan amarah.