Bab Seratus Dua Puluh Lima: Anak Itu Milikku
"Untuk merayakan kepindahan ke rumah baru, malam ini kalian berdua harus makan di tempat kami! Kita masak hot pot bersama!" ucap Zhen Qing sembari menatap keduanya yang tampak hendak bertengkar kembali.
"Oke! Setuju!" Xiao Yan yang perhatiannya teralihkan menjawab, "Kebetulan sekali, aku jadi bisa melihat seperti apa rumah yang dipersiapkan bos untuk menyembunyikan kekasihnya!"
Xiao Yan tahu bahwa Jing Changyou memiliki penghasilan hampir tiga ratus ribu setiap bulannya, jadi ia sama sekali tidak terkejut melihat Jing Changyou membeli rumah.
Niu Mi sempat tertegun sejenak, lalu ia tersenyum dan menyetujuinya. Sepanjang waktu ia terus melirik kesal ke arah Xiao Yan; ia heran mengapa dirinya bisa tidur dengan pria sekikir itu.
"Wah! Rumah yang sangat hangat!" seru Xiao Yan dan Niu Mi setelah sampai di sana. Mereka tidak bisa menahan kekaguman karena suasana rumah itu terasa begitu hangat.
Zhen Qing tersenyum manis menatap Jing Changyou. Ia sendiri tidak tahu harus mendeskripsikan Jing Changyou seperti apa lagi. Rumah hangat ini dulunya hanyalah imajinasinya, tetapi Jing Changyou benar-benar mewujudkannya menjadi nyata.
"Ayo! Bersulang!" Mereka berkumpul mengelilingi meja, menyantap hidangan dengan penuh sukacita.
"Aku minum minuman ringan saja," ujar Niu Mi sembari mengambil minumannya.
Zhen Qing mengangguk, ia tentu tahu alasannya.
Xiao Yan mengerutkan kening. Bukankah Niu Mi biasanya cukup tangguh dalam hal minum alkohol? Mengapa hari ini ia tiba-tiba berubah pikiran? Sejak kejadian waktu itu, pria itu memang memiliki rasa antipati yang tidak bisa dijelaskan terhadap minuman keras.
"Huek..." Niu Mi baru makan beberapa suap, namun ia merasa mual dan segera menutup mulutnya lalu berlari.
"Ada apa dengannya?" Xiao Yan merasa Niu Mi belakangan ini terlihat aneh.
"Tidak apa-apa, ayo kita makan saja!" Zhen Qing menghela napas. Karena Niu Mi sudah memutuskan, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Saat Niu Mi kembali, wajahnya tampak pucat. Ia melirik Zhen Qing tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah acara selesai, Xiao Yan mengerutkan kening melihat Niu Mi yang hampir tidak menyentuh makanannya sama sekali.
"Baiklah, kalian tidak perlu mengantar kami. Mungkin kita baru akan bertemu lagi tahun depan!" Niu Mi membatin dalam hati. Waktu setahun terasa begitu cepat, lusa sudah malam tahun baru.
"Kalau begitu baiklah! Hati-hati di jalan!" Zhen Qing melirik Niu Mi, ia tahu Niu Mi ingin bicara sesuatu dengan Xiao Yan.
"Sampai jumpa!" Xiao Yan juga merasa ada sesuatu yang janggal.
Zhen Qing menatap keduanya yang turun ke bawah, lalu menghela napas pelan.
"Itu...?" Xiao Yan menggaruk kepalanya. Ia justru merasa canggung dengan sikap Niu Mi yang begitu pendiam.
"Apa kau sangat membenciku?" Niu Mi menatap Xiao Yan dengan hati yang gelisah.
"Hah?" Xiao Yan tertegun. Sampai mati pun ia tidak menyangka Niu Mi akan menanyakan hal seperti itu. Ia menatap Niu Mi dengan canggung. Sejujurnya, ia memang tidak memiliki perasaan spesial pada Niu Mi, tetapi bukan berarti ia membencinya. Melihat Niu Mi bertanya seperti itu, hatinya merasa aneh.
"Baiklah, aku mengerti," Niu Mi menunduk, harapan kecil yang tersisa di hatinya padam seketika. Benar juga, wanita seperti dirinya, siapa yang akan menyukainya?
"Kau... kenapa?" Xiao Yan tidak terbiasa dengan Niu Mi yang seperti ini.
"Tidak apa-apa. Aku pergi dulu!" Niu Mi melangkah pergi dengan sepatu hak tingginya.
"Aduh," belum sempat melangkah jauh, tumit sepatunya tertekuk dan ia hampir terjatuh.
"Kau tidak apa-apa?" Xiao Yan segera berlari menghampirinya.
"Aku baik-baik saja!" Niu Mi secara naluriah menutupi perutnya. Sepertinya mulai sekarang ia tidak bisa memakai sepatu hak tinggi lagi.
"Sss!" Kakinya terkilir, rasa sakit langsung menjalar saat ia bergerak.
Xiao Yan melihatnya, ragu sejenak, lalu berkata, "Biar aku antar kau pulang, ya?" Bagaimana mungkin membiarkan Niu Mi pulang dalam kondisi seperti ini?
"Tidak perlu, aku bisa naik taksi sendiri!" Niu Mi bangkit berdiri dan menyetop taksi di pinggir jalan.
Begitu Niu Mi masuk ke dalam mobil, Xiao Yan ikut masuk tanpa memedulikan tatapan tajam Niu Mi. Ia menyebutkan alamat tujuan kepada sang sopir.
"Aku tidak tenang, aku akan mengantarmu sampai rumah lalu langsung pergi!" Xiao Yan memutar bola matanya ke arah Niu Mi.
"Kau..." Niu Mi merasa kesal setengah mati. Ia membentak, "Siapa yang butuh kau antar!"
Xiao Yan membuka mulutnya, namun kali ini ia tidak melanjutkan pertengkaran dengan Niu Mi.
Sesampainya di rumah, Niu Mi berniat mengusir pria itu, namun tiba-tiba perutnya terasa tidak nyaman—mungkin karena efek perjalanan tadi—ia segera berlari ke kamar mandi.
Xiao Yan bingung, apa yang terjadi dengan wanita ini? Ia berteriak, "Kau tidak apa-apa?"
Ia hendak memeriksa, namun merasa lebih baik membuatkan segelas air untuk Niu Mi. Setelah air siap, ia tidak melihat Niu Mi di sana, jadi ia masuk ke kamar wanita itu berniat meletakkan air lalu pergi. Namun, pandangannya tidak sengaja tertuju pada sebuah kertas. Matanya membelalak, wajahnya penuh dengan ketidakpercayaan.
"Kenapa kau belum pergi..." suara dingin Niu Mi terdengar.
Xiao Yan berdiri mematung, matanya tertuju tajam pada hasil USG itu, hatinya bergejolak hebat.
Niu Mi terkejut, menyadari sesuatu, ia segera berlari menghampiri dan menyembunyikan kertas itu. Ia menatap Xiao Yan dengan dingin, "Cepat pergi..." Kepanikan memenuhi hatinya.
"Kau hamil?" Xiao Yan menatap Niu Mi dengan bodoh.
"Tidak..." Niu Mi menjawab dengan panik dan marah.
"Anak ini anakku!" nada bicara Xiao Yan penuh kepastian. Sial! Bagaimana mungkin tiba-tiba ia memiliki seorang anak? Hal ini benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling.
"Pergilah..." Niu Mi merasa dunianya runtuh.
Xiao Yan terdiam. Mengingat sikap Niu Mi yang aneh belakangan ini, ia berseru, "Jangan bilang kau ingin mempertahankan anak ini!" Ya Tuhan, jangan-jangan wanita ini jatuh cinta padanya?
"Tenang saja, anak ini tidak ada hubungannya denganmu. Pergilah!" Niu Mi tiba-tiba duduk di tempat tidur dengan lemas.
"Kau..." Xiao Yan tertegun, menatap Niu Mi dengan linglung, tidak tahu harus bicara apa.
"Xiao Yan, malam itu bagi kita adalah sebuah kesalahan, tapi anak ini adalah kejutan. Jadi kau tidak perlu khawatir aku akan mengikatmu karena anak ini. Setelah ini, jika kita bertemu secara tidak sengaja, anggap saja kita tidak saling kenal. Anak ini adalah milikku seorang, anggap saja kau tidak pernah mengenal kami!" Niu Mi menatap Xiao Yan. Karena rahasianya sudah terbongkar, lebih baik ia bicara terus terang.
Xiao Yan tidak bisa tenang mendengar itu. Apa maksudnya anak itu miliknya seorang? Tanpa dirinya, mana mungkin wanita itu bisa hamil?
"Apa kau benar-benar sudah memutuskan untuk melahirkan anak itu?"
"Hm..." Niu Mi mengusap perutnya, tatapannya melembut.
"Baiklah..." Xiao Yan tertegun. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi lembut Niu Mi. Ia merasa aneh, lalu teringat sesuatu dan segera berlari pergi begitu saja.
Niu Mi terpaku, benar-benar bingung. Apa-apaan ini? Apakah dia ketakutan dan kabur? Ia lalu tersenyum getir, mungkin begini lebih baik, ia tidak perlu khawatir lagi ke depannya.
Beberapa saat kemudian, ia merasa lapar karena tadi tidak makan dengan tenang. Ia berniat memasak sesuatu. Namun, baru saja sampai di dapur, ia melihat Xiao Yan kembali sambil menenteng tas belanjaan yang besar.
Ia tertegun sejenak, tidak bisa bereaksi.
"Kau lapar?" tanya Xiao Yan saat melihat Niu Mi di dapur.
"Hm!" Niu Mi mengangguk secara naluriah.
"Kalau begitu istirahatlah! Sebentar lagi selesai!" Xiao Yan mendorong Niu Mi keluar dari dapur dan mulai sibuk memasak.
Niu Mi hanya bisa melongo melihat Xiao Yan yang sibuk di dapur. Situasi apa ini?
Hingga aroma masakan tercium dari dapur, ia baru sadar bahwa Xiao Yan sedang memasak untuknya. Saat Xiao Yan menyajikan makanan dan memintanya makan dengan riang, barulah ia sadar pria itu benar-benar memasak untuknya.
Perubahan sikap yang drastis ini membuatnya terkejut, "Kau tidak sedang merencanakan sesuatu terhadap anak ini, kan?"
"Hehe..." Xiao Yan tertawa jahil, "Menurutmu?"
Mengapa ia tidak menyadari sebelumnya bahwa wanita ini punya sisi seperti ini? Sedikit menggemaskan, bukan?