Bab 135: Permintaan Bantuan Lewat Pesan Singkat
Pang Qiusheng dulunya sangat meremehkan fakta bahwa ia memiliki tunangan yang belum pernah ia temui. Berbekal keunggulan latar belakang keluarganya, hidupnya terasa begitu nyaman dengan bergonta-ganti pacar setiap sepuluh atau lima belas hari. Baginya, ia punya segalanya untuk bersenang-senang, jadi untuk apa seorang tunangan?
Banyak model kecil dan artis pendatang baru yang haus akan ketenaran dengan sukarela menyerahkan diri ke tempat tidurnya. Hidup ini terasa seperti surga, jadi buat apa memiliki istri yang membosankan? Ia masih ingin menikmati kebebasan selama beberapa tahun lagi.
Ayahnya, Pang Tiande, tidak setuju untuk membatalkan pertunangan itu karena ia tahu putranya hanyalah orang yang tidak berguna. Pacar-pacar yang dibanggakan putranya itu hanyalah pajangan belaka, tidak ada satu pun yang bisa ia andalkan untuk meneruskan bisnis keluarga.
Namun, putri keluarga Huang, Huang Meiting, berbeda. Ia tidak hanya memiliki paras yang cantik dan kepribadian yang luar biasa, tetapi juga memiliki visi yang tajam. Setelah lulus universitas, ia merintis bisnis sendiri dan mengelolanya dengan sangat sukses. Dengan sedikit bimbingan, ia pasti mampu memikul tanggung jawab bisnis keluarga.
Akan tetapi, keluarga Huang kini justru ingin menarik kembali janji tersebut. Pang Tiande tentu tidak akan setuju, namun terus mengulur waktu bukanlah solusi. Maka, ia secara khusus memanggil putranya, meletakkan foto Huang Meiting di hadapannya, dan berkata dengan tegas, "Ini tunanganmu. Aku tidak peduli kau ingin bersenang-senang di luar sana, tapi aku hanya butuh kau melakukan satu hal: taklukkan tunanganmu. Begitu kau menikahinya, kau akan bisa hidup nyaman seumur hidupmu."
Pang Qiusheng melirik foto itu dengan acuh tak acuh, namun matanya tiba-tiba terpaku. Ia segera mengambil foto itu. Sial, wanita ini benar-benar sempurna. Sepertinya menikahinya bukanlah ide yang buruk. Dengan senyum licik, ia berjanji pada ayahnya akan menaklukkan wanita itu. Ia pun mengubah penampilannya, menjabat sebagai wakil manajer bisnis di Perusahaan Perhiasan Pang, dan akhirnya berhasil menemui Huang Meiting dengan alasan membahas urusan iklan.
Paras yang sempurna dan pembawaan Huang Meiting yang jauh berbeda dari pacar-pacarnya yang lain langsung memikat hatinya. Terutama lekuk tubuhnya yang memukau, membuat hormonnya melonjak drastis. Ia segera bertekad untuk menaklukkannya. Wanita selevel ini, bahkan jika ayahnya tidak memerintahkannya, ia pun tidak akan melewatkannya. Namun, pertemuan pertama itu membuatnya sadar bahwa akan sangat sulit untuk memenangkan hati sang wanita.
Ia yakin bahwa untuk bisa meniduri wanita ini, mungkin ia harus menunggu hingga malam pengantin. Namun, ia bukanlah tipe orang yang sabar, sehingga ia memiliki caranya sendiri. Itulah sebabnya mereka makan malam bersama malam ini.
Tukar pandang antara Huang Meiting dan sekretarisnya tidak luput dari perhatiannya. Namun, itu saja tidak cukup. Selama wanita itu meminum anggur di gelasnya, ia bisa melakukan apa saja bahkan di dalam ruang pribadi ini. Pang Qiusheng tersenyum licik dan mengangkat gelasnya, "Untuk merayakan kerja sama kita yang berjalan lancar, mari kita bersulang."
"Maaf, karena alergi, saya tidak pernah minum alkohol," tolak Huang Meiting dingin. Ia tidak mudah tertipu. Dalam urusan bisnis, ia tidak pernah minum, itu adalah prinsipnya.
"Sebenarnya saya juga tidak suka perjodohan ini. Zaman sudah modern, masih ada hal seperti ini? Jadi saya ingin berdiskusi denganmu, apakah ada cara untuk membujuk orang tua kita agar membatalkan pertunangan. Tapi dengan sikapmu ini, kita tidak bisa bicara," ujar Pang Qiusheng dengan ekspresi kesal.
Huang Meiting terdiam sejenak. Hatinya mulai goyah. Lagi pula, mereka berada di hotel dan sekretarisnya menunggu di luar, seharusnya tidak akan terjadi apa-apa. Dengan ragu, ia mengangkat gelasnya dan berkata dengan tenang, "Kalau begitu, kita minum sedikit saja. Saya benar-benar tidak bisa minum banyak."
"Nah, begitu dong. Setidaknya itu menunjukkan rasa hormat kita satu sama lain. Soal pembatalan pertunangan, kita bisa mendiskusikannya baik-baik," kata Pang Qiusheng sambil tersenyum lebar dan menggoda. Ia mengangkat gelasnya