Bab 17: Niat Membunuh yang Muncul
“Kak Huang, lihat baik-baik, katanya mahasiswa baru tahun ini kualitasnya lumayan,” ucap Liu Haichuan dengan senyum menjilat, tatapan matanya penuh isyarat yang hanya mereka pahami, namun dalam hati justru mengumpat: Sialan, cuma gara-gara punya ayah pejabat, aku harus setiap hari seperti anak buah mengikutimu. Tapi mau bagaimana lagi, bisnis keluargaku butuh dukunganmu. Untung saja kelebihanmu ini ada masa berlakunya, tidak seperti aku yang bisa santai seumur hidup berkat aset keluarga. Begitulah aku menenangkan diri.
“Hmm,” Huang Qitian mengangguk dengan gaya sok penting, lalu menatap sekeliling ruangan layaknya pejabat sedang inspeksi.
“Eh…” Ada yang istimewa, malah tiga orang sekaligus. Lalu matanya mengecil, kenapa dia bersama mereka? Ini agak merepotkan.
Liu Haichuan yang peka segera mengikuti arah pandangannya, lalu terkejut juga. Benar-benar kebetulan, bisa-bisanya bertemu mereka di sini.
“Gimana, Kak Huang? Aku nggak bohong, kan?”
“Yang cewek dingin itu aku pun tak berani ganggu. Jangan salahkan aku kalau tidak memperingatkanmu. Tolong cari tahu identitas dua gadis di sebelahnya.”
“Siapa mereka, sampai-sampai Kak Huang pun tak punya kuasa?”
“Identitasnya tidak bisa aku sebutkan, yang penting jangan cari gara-gara dengan dia,” jawab Huang Qitian dengan raut tidak senang. Liu Haichuan ini kadang peka, kadang juga tidak tahu situasi. Sudah dibilang jangan ganggu, masih bertanya lagi, mau mempermalukan aku?
Liu Haichuan pun sadar ucapannya barusan agak berlebihan, segera bersikap serius dan berkata, “Yang satu guru bahasa Rusia di kampus, yang satu lagi mahasiswa baru jurusan bahasa asing, keduanya pindahan setelah tahun ajaran baru. Latar belakang belum aku dapat, logatnya kayak dari kota BJ.”
“Kamu kenal mereka?” tanya Huang Qitian dengan tatapan tajam. Kalau anak ini sudah mendekati mereka, daya tariknya jadi berkurang, meski untuk iseng tetap lumayan, apalagi memang kelas atas.
“Kak Huang terlalu jauh berpikir. Beberapa hari lalu sempat ada masalah kecil di warung mie depan kampus, makanya aku suruh orang cari info,” jawab Liu Haichuan buru-buru.
“Dengan gadis dingin itu di sana, aku tak bisa langsung mendekat. Ada cara lain supaya aku bisa—”
Mata Liu Haichuan berputar, melirik kelompok Xia Feng yang berdiri tak jauh, lalu segera berkata, “Tenang Kak Huang, aku atur supaya si Rambut Hijau bawa orang ke sini, sekalian bantu aku balas dendam. Nanti Kakak bisa tampil jadi pahlawan penyelamat, selanjutnya… hehe.”
“Bagus, memang beda kalau keluarganya pengusaha, otaknya lebih jalan dari aku,” kata Huang Qitian, membuat Liu Haichuan kesal. Sialan, sengaja kamu pakai mulutku buat bicara. Pejabat kalau berbuat jahat memang selalu hati-hati, kamu benar-benar paham mainnya. Kapan pengusaha bisa ngalahin pejabat, cara begini sungguh menyebalkan.
Tapi meski kesal, Liu Haichuan tak berani menunda. Lagipula, memang dia sudah lama ingin balas dendam soal kejadian di warung mie waktu itu. Sekarang bisa sekalian, bahkan tiga tujuan sekaligus. Kenapa tiga? Jelas! Dua di antaranya kan gadis cantik, siapa tahu aku juga kebagian.
“Rambut Hijau, kamu di mana?”
“Lagi minum, berhenti sekarang juga, secepatnya ke Universitas ZZ, bantu Kak Huang, tahu siapa dia? Kalian…”
Sepuluh menit kemudian, masuklah delapan sembilan pemuda dengan penampilan nyeleneh, jelas bukan anak baik-baik. Anak baru yang pengalaman hidupnya minim, rata-rata belum dua puluh, jadi pada ciut dan menyingkir.
Pemimpin mereka berambut warna hijau, setelah melirik ke sekitar dan bertemu pandang dengan Liu Haichuan, dia mengikuti isyarat mata Liu Haichuan.
Astaga, cewek secantik itu jarang di TV. Jadi penjahat di depan dia pun tak masalah.
Si Rambut Hijau dan rombongannya melangkah menuju ketiga gadis itu. Menyadari suasana aneh, Xia Feng dan kawan-kawan menoleh, si Gongzi menatap tajam, buru-buru berkata, “Ada masalah, kita ke sana!”
Rombongan Rambut Hijau sudah dekat, lalu tiba-tiba dia jatuh tersungkur dan mengumpat, “Sial, kamu cewek aneh, sengaja ngulurin kaki buat njatuhin aku!”
Xiaoxue yang duduk di depan bengong, apa-apaan orang ini, jelas-jelas masih dua meter jauhnya, fitnah banget. Dua gadis di sampingnya pun mengernyit.
“Jarak sejauh ini, wasit paling bodoh pun tahu kamu pura-pura jatuh. Sekarang aku paham kenapa sepak bola kita nggak pernah maju,” ejek gadis kecil itu tanpa ampun.
“Hahaha…” entah siapa yang tak tahan tertawa mengejek.
“Sialan, mulutmu kurang ajar, ngomong apa barusan!” Rambut Hijau naik pitam, mabuknya makin menjadi, langsung mengayunkan tangan ke wajah gadis kecil itu—
“Sial, Haichuan, gimana sih aturannya, kenapa malah main tangan!” omel Huang Qitian.
Beberapa meter jauhnya, Gongzi dan kawan-kawan melihat tangan terayun itu, wajah mereka panik. Gongzi spontan berteriak, “Berhenti!”
Xia Feng yang sudah sangat marah, berlari menerobos, bayangan tubuhnya melesat dan tiba-tiba sudah berdiri di depan gadis kecil itu, lalu mengayun kaki menendang.
Dengan suara keras, tubuh Rambut Hijau membentuk huruf ‘C’ besar, terlempar di udara, orang-orang di sekitar buru-buru menghindar. Setelah melayang enam tujuh meter, dia jatuh dan langsung pingsan.
Anak-anak nakal lain tertegun, sementara aura mengerikan Xia Feng membuat semua orang sesak napas, dia mengatur napas berat, memandang marah ke arah para preman itu.
Berani-beraninya mereka ingin menyakiti gadis kecil itu. Setiap hari beradu mulut membuat gadis kecil itu sudah membekas di hati Xia Feng, walau dia sendiri tak sadar. Yang jelas, saat ini dia sangat marah, bahkan ingin membunuh.
Nishang segera merasa emosi Xia Feng mengamuk, menahan perasaan tak nyaman, dia melangkah maju, meraih pundaknya.
Xia Feng refleks menahan pergelangan tangan Nishang, sakitnya membuat alis Nishang mengerut dan mendesah pelan. Xia Feng tersadar, segera melepaskan, melihat memar di pergelangan tangan Nishang, hatinya perih, lalu kembali menatap para preman dengan kedua tangan mengepal, semua gara-gara bajingan-bajingan ini—
Nishang segera kembali menepuk pundaknya, menatap Xia Feng yang masih marah dengan lembut dan menggelengkan kepala.
“Bang Feng,” Gongzi dan tiga temannya mendekat.
Merasakan ketenangan dari Nishang, aura mengamuk Xia Feng perlahan surut. Saat ia menoleh ke arah Gongzi dan kawan-kawan, sorot matanya sudah kembali jernih.
“Hulu, kamu bisa urus mereka sendiri?”
“Bisa,” Hulu menatap Xia Feng berbinar, gerakannya barusan membuat Hulu kagum. Hulu yakin kemampuan Xia Feng memang patut dikagumi.
“Kalau begitu, jangan biarkan satupun dari mereka berdiri,” Xia Feng tak berani turun tangan sendiri, takut tak bisa mengendalikan emosi.
“Siap,” jawab Hulu, dan secepat kilat menghantam para preman yang masih syok.
“Aduh!” Terdengar jeritan bersahut-sahutan, semua preman tumbang dipukul Hulu.
Dasar Hulu, biasanya diam saja, ternyata segarang ini? Tikus dan Si Bodoh terkejut.
“Biasanya preman jalanan tak seberani ini masuk kampus, pasti ada yang menyuruh,” Gongzi berbisik ke telinga Xia Feng.
“Sejak kapan preman berani bikin keributan di kampus? Haichuan, segera telepon polisi, bawa mereka, harus dihukum tegas,” suara tegas menggema, Liu Haichuan menemanai Huang Qitian berjalan ke sana. Huang Qitian berpura-pura peduli pada gadis kecil itu, bertanya lembut, “Takut, adik? Jangan khawatir, aku pastikan kamu dapat keadilan.”
Gadis kecil itu masih terpaku, bukan karena takut pada Rambut Hijau, tapi karena bayangan Xia Feng yang berdiri melindunginya tadi masih membekas kuat di benaknya.
Xia Feng melangkah mendekati Rambut Hijau, menginjak tangan kirinya. Sakitnya membuat Rambut Hijau terbangun dan mengerang, “Katakan! Siapa yang menyuruhmu?” suara Xia Feng dingin membeku.
“Aduh… sakit, ampuni aku…” Rambut Hijau merengek, tapi tak menjawab.
“Adik, serahkan ke polisi saja, kita mahasiswa, tak perlu cari masalah,” Huang Qitian buru-buru maju. Dia benar-benar takut kalau Rambut Hijau bicara sembarangan. Biarlah mereka masuk kantor polisi, besok tinggal diurus keluar, dia yakin bisa.
Xia Feng menatapnya dingin, tanpa berkata apa-apa, hanya menambah tekanan kakinya.
“Aduh, tanganku! Sudah, sudah, aku ngaku! Liu Haichuan yang suruh kami, mereka mau jadi pahlawan penyelamat!” Akhirnya Rambut Hijau, yang cuma preman kecil, tak sanggup menahan sakit.
“Sialan, kamu fitnah!” Liu Haichuan marah, hendak menendang si Rambut Hijau.
“Coba maju selangkah lagi, kamu akan kujatuhkan bersama mereka,” suara dingin Xia Feng membuat Liu Haichuan terhenti, walau mulutnya masih membantah.
“Mau apa? Aku bukan preman, kamu mau pukul aku juga?”
“Minggat! Lain kali aku takkan ampun. Aku tak butuh bukti untuk apa yang sudah kupastikan,” bentak Xia Feng pada Liu Haichuan dan Huang Qitian.
Wajah Huang Qitian memerah, menatap marah Xia Feng, namun akhirnya dia melirik sekilas pada Shang Chan yang sejak tadi diam, lalu melangkah ke pintu. “Haichuan, kita pergi. Tak perlu berurusan dengan orang tak tahu aturan begini.”
Liu Haichuan bergegas mengikuti, sambil berteriak dari pintu, “Ingat peristiwa hari ini, kita belum selesai!”
Dua dosen bersama beberapa satpam akhirnya datang, setelah menanyakan kejadian, mereka membawa para preman ke kantor polisi terdekat. Rambut Hijau yang dipapah terus mengaduh, “Aduh, sakit, aku tak kuat, tolong bawa ke rumah sakit!”
“Dia tak apa-apa, kan?” Gongzi bertanya pelan pada Xia Feng.
“Aku tahu batas, dia tak akan mati, cuma patah tiga tulang rusuk,” jawab Xia Feng santai.
“Semua bubar, acara perkenalan mahasiswa baru hari ini selesai lebih awal,” teriak seorang dosen.
Semua mahasiswa keluar ruangan.
“Kalian pulang dulu, kami antar Shang Chan ke gerbang kampus,” kata Nishang.
Gongzi dan yang lain pergi, hanya Hulu yang menatap Xia Feng dengan enggan.
“Tak perlu, kampus ini aman,” Shang Chan buru-buru menolak, tapi dalam hati justru penasaran pada Xia Feng: Saat dia marah dan melindungi Xiaoxue, aura perlindungannya begitu kuat. Tampaknya dia pria dengan kisah tersendiri…
“Tak apa, masih sore,” Nishang menggandeng gadis kecil itu, berjalan pergi, memaksa Shang Chan menerima kebaikan mereka.