Bab 162 Dua Pertanyaan
"Sudah begitu lama di luar, apa kalian tidak berniat masuk?" Yang Feng, yang sedang minum bersama tetua kedua, tiba-tiba membuka suara dan berbicara ke arah luar pintu.
"Bocah, kau ternyata bisa merasakan keberadaannya?" Seketika, sebuah suara lain terdengar. Jelas sekali bahwa suara itu dipenuhi dengan keterkejutan.
"Bukankah ini hal yang normal?" kata Yang Feng dengan senyum tipis.
"Pintu gerbangmu dipasangi segel mantra, jika tidak, aku sudah lama masuk," ucap suara tersebut. Maksudnya sangat jelas: bukannya aku tidak mau masuk, melainkan kau yang menghalangiku untuk masuk.
"Hih, jika ingin mencari masalah denganku, tunjukkan sedikit kemampuan. Masuk lewat gerbang saja tidak bisa, lalu apa gunanya dirimu? Kenapa tidak segera enyah?" kata Yang Feng dengan senyuman tipis.
"Bocah, kau mencari mati." Perkataan Yang Feng membuatnya sangat murka. Orang ini benar-benar memiliki lidah yang tajam, dalam sekejap saja berhasil membuatnya tersulut emosi.
"Jika punya kemampuan, masuklah. Kalau tidak punya kemampuan, jangan banyak omong kosong," balas Yang Feng datar.
"Kau." Satu kalimat dari Yang Feng membuatnya terdiam seribu bahasa. Jika dia tidak membalas, rasa di dalam hatinya benar-benar sangat tersiksa. Tidak diragukan lagi, perkataan Yang Feng membuatnya sangat geram. Namun, jika dia terus melanjutkan perkataannya, maka itu sama saja dengan omong kosong seperti yang dikatakan Yang Feng. Bayangkan betapa tidak keruan rasanya di dalam dada. Apa itu penderitaan? Itulah yang dirasakannya saat ini.
Dia sama sekali tidak menyangka akan menghadapi situasi seperti ini.
"Bocah, jika hanya mengandalkan segel mantra semacam ini, kemampuan apa yang bisa kau banggakan? Itu hanya membuat orang meremehkanmu saja," ucap orang itu setelah berpikir cukup lama. Dia sudah berada di luar sangat lama; jika dia bisa masuk, dia pasti sudah masuk sejak tadi untuk langsung menghabisi Yang Feng. Apakah perlu berdiri di sini dan membuang-buang waktu mengobrol dengan bocah ini?
"Jawab dua pertanyaanku, dan aku akan segera mencabut segel mantra ini agar kau bisa masuk. Aku memiliki keberanian sebesar itu, kuncinya adalah, apakah kau punya keberanian untuk menjawab pertanyaannya? Pertanyaanku sangat sederhana, kau pasti mengetahuinya," kata Yang Feng sambil tersenyum.
Yang Feng tahu bahwa orang ini mungkin adalah dalang di balik keluarga Fang, dan Yang Feng harus menemui orang ini cepat atau lambat.
"Tanyakanlah," ucap orang itu kemudian.
"Siapa kau?" Yang Feng bertanya.
"Aku tidak mengubah nama saat bepergian dan tidak menyembunyikan marga saat duduk. Namaku Yang Tianshui," jawab orang itu seketika, tampak sangat bangga saat menyebutkan namanya sendiri.
"Yang Tianshui." Yang Feng sontak tertegun. Jelas sekali jawaban ini sedikit di luar dugaannya. Menurut perkiraannya, orang ini paling mungkin bermarga Fang, mengingat mereka membantu keluarga Fang. Tak disangka, orang ini ternyata bermarga Yang.
Orang yang bermarga Yang justru ingin memusnahkan keluarga Yang! Ini sungguh sebuah ironi yang besar. Jangan-jangan mereka bahkan berasal dari leluhur yang sama.
"Lalu, untuk apa kau membantu keluarga Fang memusnahkan keluarga kami?" Yang Feng melanjutkan pertanyaannya. Dia sangat ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan ini.
"Sangat sederhana, karena kalian tidak layak bermarga Yang. Kalian adalah noda bagi keluarga Yang. Tanpa sengaja, seorang tetua di dalam keluarga mendapati bahwa orang-orang dari garis keturunan kalian ini ternyata masih hidup, jadi dia menyuruhku datang untuk melenyapkan kalian tanpa suara, agar kalian tidak mencoreng nama baik keluarga Yang kami," jawab Yang Tianshui sambil tersenyum tipis. "Sekarang, segel mantranya sudah bisa dilepas, kan? Aku sudah mengatakan semuanya."
"Ha-ha-ha-ha!"
"Ha-ha-ha-ha!" Tiba-tiba, Yang Feng tertawa terbahak-bahak.
Dia telah memikirkan berbagai kemungkinan yang tak terhitung jumlahnya, tetapi dia benar-benar tidak menyangka akan mendapati kemungkinan seperti ini.
"Bocah, apa yang kau tertawakan? Kau tidak berniat untuk mengingkari janji, kan?" ucap Yang Tianshui dengan suara dingin, merasa seolah dirinya telah ditipu. Perasaan semacam itu membuatnya sangat tidak nyaman.
"Kriek." Suara pintu terbuka terdengar.
"Bocah, kau benar-benar berani melepaskan segel mantra itu?" Yang Tianshui dengan cepat melangkah masuk ke dalam halaman rumah Yang Feng, menatap Yang Feng dengan tatapan tidak percaya. Bagaimanapun juga, di matanya, tindakan Yang Feng ini murni mencari kematian.
"Menghadapi seseorang yang sudah mati, apa yang harus ku takutkan?" ucap Yang Feng datar.
"Yang Feng." Tetua kedua juga menatap Yang Feng dengan penuh ketegangan. Dia bisa merasakan bahwa pemuda bernama Yang Tianshui ini memancarkan aura yang sangat berbahaya. Apa artinya ini? Ini berarti pemuda tersebut memiliki kekuatan yang sangat besar, jauh lebih kuat darinya. Jika tidak, pemuda itu tidak akan mampu memberinya kesan seperti itu bahkan sebelum pertarungan dimulai.
"Paman Kedua tenang saja, dia hanya seekor serangga, sangat mudah untuk diatasi," kata Yang Feng sambil tersenyum ringan, sama sekali tidak memasukkan Yang Tianshui ke dalam pandangannya.
"Bocah, siapa yang kau sebut serangga?" Mendengar perkataan Yang Feng, Yang Tianshui sontak murka. Seseorang berani memanggilnya serangga; ini adalah hal yang tidak bisa dimaafkan.
"Kau bukan hanya seekor serangga, bahkan tingkat kecerdasanmu pun sangat bermasalah. Apa yang kukatakan sudah sangat jelas, tetapi kau masih belum bisa mendengarnya. Menjadikan seorang penderita keterbelakangan mental sebagai lawan, bahkan jika aku menang, aku sama sekali tidak merasakan kepuasan sedikit pun. Sungguh menyedihkan." Sambil berkata demikian, Yang Feng menggelengkan kepalanya perlahan.
"Keparat, aku akan membunuhmu! Akan ku tunjukkan siapa yang sebenarnya serangga, kau, kailah yang benar-benar serangga!" teriak Yang Tianshui seraya langsung melancarkan serangan ke arah Yang Feng. Amarahnya benar-benar sudah mencapai puncaknya.