Bab Seratus Sebelas: Bawa Aku Pergi
"Wahai anak muda, kau benar-benar berhasil keluar?" Saat melihat Yang Feng, Macan Tutul Iblis Nether tak kuasa menahan rasa terkejutnya hingga mulutnya menganga lebar. Baginya, siapa pun yang masuk ke tempat itu pasti tidak akan bisa kembali. Ia sungguh tidak menyangka Yang Feng dapat selamat. Alasan yang ia berikan kepada Yang Feng sebelumnya hanyalah dalih semata; ada pihak yang memaksanya membawa orang ke sana. Mengenai urusan mencari harta karun, itu hanyalah bualan belaka, sebab memasuki tempat itu sama saja dengan menjemput ajal. Mencari harta karun? Itu lebih mirip mencari mati.
Andai tidak dipaksa, ia tidak akan pernah membiarkan siapa pun masuk ke sana. Dulu, pernah ada seorang Guru Jiwa tingkat tinggi yang datang kemari. Mereka harus mengerahkan beberapa makhluk buas jiwa sekaligus untuk menundukkannya dan memaksanya masuk ke dalam, namun ia pun tak pernah kembali. Padahal, ia adalah seorang Guru Jiwa tingkat tinggi, sosok luar biasa yang jarang ditemui di antara manusia. Jika tokoh sehebat itu saja tewas di sana, apalagi Yang Feng yang kekuatannya jauh di bawahnya. Bagi Macan Tutul Iblis Nether, Yang Feng hanyalah seorang Guru Jiwa tingkat rendah yang bisa ia lenyapkan hanya dengan sekali embusan napas.
"Tentu saja," jawab Yang Feng sambil tersenyum menatap Macan Tutul Iblis Nether itu.
"Apakah kau melihat Teratai Hijau Sepuluh Ribu Tahun itu?" tanya Macan Tutul Iblis Nether itu dengan tergesa-gesa.
"Sudah. Namun, kekuatannya sangat luar biasa," ujar Yang Feng sambil tersenyum. Sosok bayangan yang ia temui memanglah Teratai Hijau Sepuluh Ribu Tahun.
"Bagaimana sikapnya terhadapmu?" tanya Macan Tutul Iblis Nether itu lagi.
"Cukup baik. Dia bilang jika aku membutuhkan sesuatu, aku bisa mencarinya," tutur Yang Feng santai. Dari perkataan Macan Tutul Iblis Nether tersebut, Yang Feng sudah bisa menyimpulkan situasinya. Makhluk itu sangat segan terhadap Teratai Hijau Sepuluh Ribu Tahun. Mungkin saja memang sang teratai itulah yang memerintahkan macan tutul ini untuk membawa orang ke gua tersebut guna menjalani ujian. Menurut Yang Feng, kemungkinan itu tidak hanya ada, tetapi juga cukup besar.
"Benarkah?" Wajah Macan Tutul Iblis Nether itu seketika berubah drastis.
"Tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa keluar hidup-hidup dan merasa sebahagia ini?" Yang Feng tertawa. "Awalnya aku benar-benar mengira bisa memetiknya, tapi setelah sampai di sana, baru kusadari ia adalah entitas yang sangat kuat. Untung saja aku tidak gegabah, kalau tidak, habislah aku."
"Jadi, tugas yang kuberikan padamu tidak kau selesaikan?" Macan Tutul Iblis Nether berpura-pura kesal.
"Tidak mungkin bisa kuselesaikan. Bagaimana kalau aku masuk kembali dan bicara pada Teratai Hijau Sepuluh Ribu Tahun itu untuk menanyakan pendapatnya?" sahut Yang Feng dengan nada datar. Macan Tutul ini masih ingin memanipulasinya? Apakah dia pikir Yang Feng semudah itu untuk ditipu?
"Jangan!" seru Macan Tutul Iblis Nether dengan panik. Ia sangat tahu betapa mengerikannya Teratai Hijau Sepuluh Ribu Tahun itu; makhluk itu bisa melenyapkannya hanya dengan lambaian tangan. Ia sama sekali tidak ingin berurusan dengan sang teratai, itu sama saja dengan bunuh diri.
"Lalu, apa yang harus dilakukan?" Yang Feng menatap macan tutul itu dengan geli, penasaran bagaimana makhluk itu akan menjawab.
"Begini saja, kita anggap masalah ini selesai. Aku tidak akan menuntutmu lagi. Karena kau bilang Teratai Hijau Sepuluh Ribu Tahun itu sangat kuat, maka aku akan percaya padamu kali ini. Anggap saja kali ini bukan tanggung jawabmu," ujar Macan Tutul Iblis Nether setelah berpikir sejenak. Tempat ini terlalu dekat dengan mulut gua, ia benar-benar tidak berani berbuat macam-macam pada Yang Feng. Jika sampai Teratai Hijau Sepuluh Ribu Tahun itu turun tangan, riwayatnya akan tamat. Ia tahu betul bahwa bahkan di seluruh wilayah kekuasaannya, sang teratai bisa membunuhnya dengan sangat mudah kapan pun ia mau.
"Jadi begitu saja?" Bola mata Yang Feng berputar, ia tersenyum menatap sang macan tutul. Jika makhluk itu ingin menganggapnya selesai, Yang Feng justru memiliki rencananya sendiri.
"Lantas kau mau bagaimana? Kalau tidak selesai, kau ingin apa?" Macan Tutul Iblis Nether menatap Yang Feng dengan tajam. Ia tidak takut pada anak muda itu; baginya Yang Feng hanyalah sosok lemah yang bisa ia bunuh dengan bersin. Satu-satunya alasan ia bersikap sopan hanyalah karena khawatir akan hubungan Yang Feng dengan Teratai Hijau Sepuluh Ribu Tahun.
"Antarkan aku keluar dari sini, itu saja," jawab Yang Feng sambil tersenyum. "Kurasa kau pasti punya kemampuan untuk itu."
Yang Feng punya pertimbangannya sendiri. Tempat ini penuh dengan makhluk buas jiwa tingkat tinggi. Jika ia harus menerobos keluar sendirian, risikonya terlalu besar. Namun, jika ia dikawal oleh Macan Tutul Iblis Nether ini, segalanya akan menjadi jauh lebih mudah.
Di mana tidak ada peluang, ciptakanlah peluang dan manfaatkanlah. Itulah prinsip Yang Feng, dan itulah yang sedang ia lakukan.
"Sesederhana itu? Anak muda, mari kita bicara jujur. Jika hubunganmu dengan Teratai Hijau Sepuluh Ribu Tahun begitu baik, siapa yang berani mengusikmu di wilayah ini? Apakah kau perlu memanfaatkanku untuk keluar? Sekarang aku sadar kau hanya membual. Hmph, kau benar-benar sedang mencari mati!" Setelah mendengar perkataan Yang Feng, raut wajah Macan Tutul Iblis Nether berubah drastis. Ia memiliki kecerdasan yang cukup tinggi untuk menganalisis situasi.
"Antarkan dia keluar," tiba-tiba sebuah suara yang penuh wibawa bergema di dalam benak Macan Tutul Iblis Nether.
"Baik," jawab Macan Tutul Iblis Nether dengan gemetar. Ia tahu Teratai Hijau Sepuluh Ribu Tahun baru saja memerintahkannya secara langsung. Tubuhnya tak kuasa menahan getaran.
Suara itu hanya terdengar oleh sang macan tutul, tidak oleh Yang Feng.
Melihat keraguan sang macan tutul, Yang Feng pun bersiap-siap. Jika keadaan memburuk, ia akan menggunakan serangan yang ditinggalkan oleh Naga Emas.