Bab 153: Pengamat Lebih Jelas Melihat
Tetapi, Penatua Kedua mendukungnya dengan segenap tenaga. Hal ini, hah." Pada saat ini, Penatua Pertama menghela napas panjang.
"Penatua Kedua sedang kebingungan."
"Bagaimana mungkin Penatua Kedua bersikap seperti itu."
"Penatua Pertama, bagaimana mungkin kami membiarkan Penatua Kedua bertindak semaunya. Penatua Pertama, cukup katakan sepatah kata. Kami akan pergi bersama Anda untuk meminta penjelasan dari Penatua Kedua. Jika Penatua Kedua bersikap tidak masuk akal, jangan salahkan kami jika bertindak kasar." Mendengar perkataan Penatua Pertama, para tetua lainnya mau tidak mau mulai berbicara.
Jelas sekali, para tetua ini sangat marah karena Penatua Kedua begitu tidak masuk akal.
Yang Feng adalah aib keluarga, tetapi Penatua Kedua justru menyetujui Yang Feng untuk menjadi kepala keluarga. Ini benar-benar membuat mereka sangat marah.
"Kalau begitu, kita pergi bersama untuk mencari Penatua Kedua," kata Penatua Pertama Yang Ling sambil tersenyum lebar. Ia tidak berani menunggu; jika ia menunggu luka Penatua Kedua sembuh, ia tidak akan memiliki cara sama sekali untuk menghadapi Penatua Kedua. Pada saat itu, akan sulit untuk mengatakan apakah masih ada orang yang mau mengikutinya.
Para tetua ini berani meluapkan kemarahan mereka terhadap Penatua Kedua karena mereka tahu bahwa Penatua Kedua sedang terluka.
"Baiklah, kita pergi bersama-sama untuk mencari Penatua Kedua," kata para tetua itu satu demi satu.
Di bawah pimpinan Penatua Pertama, para tetua itu mendatangi kediaman Penatua Kedua, tetapi mereka tidak menemukan siapapun di sana. Segera setelah itu, mereka menerima kabar bahwa Penatua Kedua dan Yang Feng berada di kediaman Yang Feng. Tanpa buang waktu, mereka terburu-buru mendatangi kediaman Yang Feng.
"Yang Feng, keluar dan temui kami!"
"Yang Feng, cepat keluar!" para tetua itu berteriak dengan suara nyaring. Pada saat ini, amarah mereka sedang meluap-luap, kalau tidak, para tetua ini tidak akan berteriak-teriak seperti itu.
Yang Feng dan Penatua Kedua sedang berbincang ketika mereka mendengar suara-suara tersebut.
"Orang-orang ini benar-benar keterlaluan. Saat mereka harus maju, tidak ada satupun yang berani. Sekarang, mereka justru berteriak-teriak seperti ini. Apakah mereka masih pantas disebut sebagai tetua?" Penatua Kedua berkata dengan sangat marah.
"Jangan hiraukan mereka. Semakin kita menghiraukan orang-orang semacam ini, mereka akan semakin bertindak gila," kata Yang Feng sambil tersenyum tipis.
"Tetapi, mereka semua ada di luar. Bukankah tidak baik jika kita tidak menemui mereka?" Penatua Kedua tidak dapat menahan diri untuk berkata, "Bagaimanapun juga, orang-orang ini adalah para tetua di dalam keluarga. Mereka memiliki pengaruh yang besar terhadap keluarga."
"Tidak ada pengaruh baik, yang ada hanyalah pengaruh buruk. Untuk apa dihiraukan," kata Yang Feng dengan senyuman ringan.
"Benar, Yang Feng, pandanganmu memang sangat jernih. Kenapa aku tidak memikirkannya ya? Orang-orang ini benar-benar tidak memberikan pengaruh yang baik bagi keluarga, mereka hanya tahu cara mengikuti Penatua Kedua membuat keributan," Penatua Kedua mengangguk.
Dulu, ia merasa harus mengandalkan orang-orang ini, tetapi sekarang ia mengerti bahwa orang-orang ini sama sekali tidak bisa diandalkan. Orang-orang ini sama sekali tidak berguna saat dibutuhkan, tetapi di waktu biasa selalu saja mencari masalah. Sama seperti sekarang, mereka bahkan ingin mencari masalah dengan Yang Feng, yang membuatnya sangat marah.
"Paman Kedua, aku hanya melihatnya dengan kepala dingin. Sebenarnya, mendengarkan mereka mengamuk seperti itu juga tidak terlalu buruk," kata Yang Feng sambil tersenyam tipis.
"Benar, haha. Kalau begitu biarkan saja mereka berteriak. Namun, aku perkirakan tidak lama lagi mereka akan mendobrak pintu ini," Penatua Kedua mengangguk sambil tersenyum.
"Paman Kedua tenang saja, pintu di sini tidak akan bisa mereka dobrak. Guru pernah memperkuatnya," kata Yang Feng sambil tersenyum.
"Jika begitu, maka kita akan menonton pertunjukan yang bagus. Diperkirakan orang-orang itu pasti akan mati karena marah," Penatua Kedua tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Yang Feng.
"Bukankah itu efek yang kita inginkan?" ucap Yang Feng tenang.
"Benar, tepat sekali, itulah efek yang aku inginkan. Aku ingin melihat seberapa putus asahnya orang-orang ini nanti," Penatua Kedua juga mengangguk. Pada saat ini, ia sudah tidak memiliki kesan yang baik terhadap para tetua di dalam keluarga. Ia masih mengingat jelas adegan yang terjadi belum lama ini; menghadapi Keluarga Fang, demi menyelamatkan nyawa mereka sendiri, para anggota keluarga ini justru bersikap bersujud dan merendahkan diri, benar-benar membuang seluruh martabat keluarga.
Orang-orang ini bahkan tidak berpikir, jika Keluarga Yang benar-benar musnah, apakah Keluarga Fang akan benar-benar mengampuni nyawa mereka?
Mereka mungkin mengetahuinya, tetapi mereka hanya ingin mempertahankan secercah harapan. Setidaknya untuk saat ini Keluarga Fang memperlakukan mereka dengan cukup baik dan belum mengambil tindakan terhadap mereka.
"Yang Feng, buka pintunya! Jika kamu tidak membukanya, kami akan mendobraknya. Jangan salahkan kami jika bertindak kasar nanti!" seseorang berteriak dari luar.
Yang Feng sama sekali tidak memedulikannya. Meladeni orang-orang seperti itu hanya akan menurunkan harga dirinya sendiri.
Orang-orang ini jelas tahu bahwa Yang Feng dan Penatua Kedua sama-sama berada di dalam, tetapi yang mereka panggil hanyalah Yang Feng seorang. Ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar berniat mendobrak pintu, dan ketika mereka melihat Penatua Kedua nanti, mereka bisa beralasan tidak tahu bahwa Penatua Kedua ada di sini. Seandainya mereka memanggil Penatua Kedua sejak awal, situasi setelah pintu didobrak akan menjadi canggung. Bagaimanapun juga, mereka semua tidak ingin benar-benar merusak hubungan dengan Penatua Kedua secara terang-terangan.
"Bum! Bum!"
Tanpa mendapatkan tanggapan dari Yang Feng, orang-orang itu mulai langsung mendobrak pintu.
"Aduh!"
"Aduh!"
Tidak butuh waktu lama, suara jeritan kesakitan pun bergema.