Bab 136 Polisi Menangkap Pencuri
Ye Youran tidak terlalu memahami ponsel. Dulu, dia memang tidak pernah memainkan apa pun. Baginya, ponsel tidak ada gunanya selain untuk melihat waktu dan menelepon. Sering kali, Ye Youran merasa ponsel justru menjadi beban. Banyak anak muda zaman sekarang yang merasa kehilangan jiwa jika harus berpisah dengan ponsel mereka barang sejenak. Sangat jarang ditemukan orang seperti Ye Youran yang justru merasa terbebani saat membawa ponsel. Ponsel lamanya pun dibeli dari pasar barang bekas seharga dua ratus yuan. Karena sekarang ponsel itu rusak, mau tak mau dia harus membeli yang baru. Bagaimanapun, dia bukan lagi orang yang dulu; sekarang dia sudah menjadi seorang bos. Jika tidak punya ponsel, Perawat Xiao Ling tidak akan bisa menghubunginya saat ada keadaan darurat.
Namun, saat berkeliling di pusat perbelanjaan ponsel, dia melihat begitu banyak jenis ponsel yang ditawarkan. Sayangnya, Ye Youran tidak tega membelinya. Semuanya adalah ponsel baru dan harganya sangat mahal. Harga yang ditawarkan benar-benar membuat Ye Youran merasa ingin memotong tangannya sendiri. Terutama saat melihat ponsel bermerek Apple, dia merasa ingin memaki. Ponsel itu diklaim memiliki kapasitas memori 125G, namun harganya mencapai hampir sepuluh ribu yuan. Apakah mereka sedang merampok? Di desanya, harga sebuah sepeda motor saja hanya sekitar tiga ribu yuan, sedangkan seekor sapi hanya lima atau enam ribu yuan. Sepeda motor bisa digunakan sebagai alat transportasi, dan sapi adalah makhluk hidup yang bisa membantu membajak sawah. Di kota ini, sebuah ponsel saja harganya hampir sepuluh ribu yuan. Dengan harga semahal itu, jika ponsel tersebut jatuh di jalan, Ye Youran pun malas memungutnya. Dia yakin ponsel semacam itu tidak akan laku banyak dalam setahun, karena orang kaya di dunia ini tidaklah banyak. Tentu saja, jika Lu Xuan dan teman-temannya tahu pemikiran Ye Youran, mereka pasti akan menertawakannya selama setahun penuh.
"Eh! Ponsel ini bagus, ponsel untuk lansia, harganya 388." Ye Youran tiba-tiba berhenti di depan sebuah etalase. Di dalamnya terdapat sebuah ponsel bertuliskan "ponsel lansia". Yang terpenting, harganya terjangkau. Ponsel lamanya yang bekas saja seharga dua ratus yuan, jadi ponsel baru seharga 388 yuan ini terasa sangat murah, meski di mata Ye Youran tetap sedikit mahal. Namun, ini adalah barang baru! Dilihat dari tampilannya, layar besarnya tidak jauh berbeda dengan ponsel Apple atau merek lainnya.
"Tuan, Anda ingin membelikan ponsel untuk orang tua di rumah? Anda sungguh berbakti. Ini adalah ponsel multifungsi untuk lansia keluaran terbaru dari toko kami. Kami sedang ada promo, beli satu gratis tiga." Saat Ye Youran sedang mengamati ponsel itu, seorang wanita muda yang tampak ramah menghampirinya. Wanita itu berusia sekitar tiga puluh tahunan, bertubuh berisi, dan yang terpenting, dia tidak memandang orang dengan tatapan merendahkan. Sebelumnya, di toko lain, banyak pramuniaga yang menatap Ye Youran dengan tatapan menghina.
"Beli satu gratis tiga? Beli satu dapat tiga?" Ye Youran merasa senang. Jika dengan 388 yuan bisa dapat tiga ponsel, itu jauh lebih murah daripada ponsel bekas. Kebetulan ponsel ibunya sudah hampir rusak, jadi dia bisa membelikan satu untuk ayah dan satu untuk ibunya. Namun, ucapan Ye Youran membuat senyum di wajah wanita itu kaku.
"Tuan, Anda suka bercanda. Dengan harga ponsel ini yang sudah sangat murah, keuntungannya sangat tipis. Kalau beli satu gratis tiga, kami bisa rugi besar," ujar wanita itu sembari menenangkan diri dan tetap bersikap sopan. "Maksudnya begini, setiap pembelian satu unit ponsel, kami memberikan bonus berupa earphone, kabel pengisi daya, dan kartu memori 8G. Itu yang dimaksud beli satu gratis tiga."
"Bukankah itu penipuan? Bukankah earphone dan kabel pengisi daya memang sudah termasuk paket bawaan pabrik? Itu sama saja dengan beli satu gratis satu, dan bonusnya hanya kartu memori yang tidak berguna," Ye Youran merasa tidak puas. Kartu memori itu tidak menarik baginya karena dia tidak membutuhkannya. Baginya, ponsel yang bisa dipasangi kartu SIM sudah cukup untuk memenuhi semua kebutuhannya.
Wanita itu hendak menjelaskan, namun ucapannya terputus oleh teriakan nyaring: "Berhenti! Jangan lari, polisi!" Suara nyaring itu terdengar seperti suara seorang polisi wanita. Ye Youran dan banyak orang lainnya menoleh secara bersamaan. Di lorong depan tempat Ye Youran berdiri, seorang pria berjaket kulit sedang berlari kencang ke arahnya. Di belakangnya, seorang wanita muda bertubuh tinggi dengan pakaian ketat berwarna hitam sedang mengejarnya dengan cepat. Orang-orang di lorong segera menepi, tidak ada yang berani menghalangi pria berjaket kulit itu karena dia memegang sebilah belati.
"Dia pencuri, tolong bantu saya menangkapnya!" teriak polisi wanita itu kepada kerumunan. Beberapa pria muda sempat ingin membantu, tetapi setelah melihat belati di tangan pria itu, mereka hanya menggelengkan kepala dan mundur ke sisi lorong.
Tak lama kemudian, pria berjaket kulit itu sampai di depan Ye Youran. Sebelumnya, Ye Youran berdiri di tengah lorong untuk menonton, dan kali ini dia tetap berdiri di sana tanpa beranjak seperti orang lain. "Minggir! Kalau tidak mau mati, minggir!" gertak pria berjaket kulit itu sambil mengayunkan belatinya.
"Jangan takut padanya, bantu saya menangkapnya!" teriak polisi wanita itu dari belakang, menaruh harapan pada Ye Youran. Jika Ye Youran bisa memberinya waktu sebentar saja, dia pasti bisa menangkap residivis yang sudah diincarnya selama beberapa minggu itu. Namun, tepat saat polisi wanita itu mengharapkan bantuan, Ye Youran justru melangkah mundur. Pria berjaket kulit itu menatapnya dengan remeh, sementara polisi wanita itu merasa sangat kecewa. Sepertinya gurunya benar, di masyarakat saat ini, keberanian sudah punah.
Namun, tak seorang pun menyangka, tepat saat pria berjaket kulit itu hendak melintasi Ye Youran, Ye Youran tiba-tiba menjulurkan kakinya untuk menjegal. Pria itu seketika kehilangan keseimbangan dan terpelanting. Dia tidak jatuh ke lantai, melainkan menabrak etalase ponsel tempat Ye Youran tadi melihat-lihat.
"Praang!" Kaca pecah dan ponsel-ponsel berserakan ke lantai. Diiringi jeritan wanita penjual tadi, pria berjaket kulit itu jatuh tersungkur ke dalam etalase, tergeletak seperti bangkai di samping kaki wanita tersebut.
"Lihat ke mana kau mau lari!" Polisi wanita yang mengejarnya segera berseru kegirangan. Mendengar suara itu, pria berjaket kulit yang wajahnya berlumuran darah segera bangkit. Sayangnya, dia sudah terlambat untuk melarikan diri karena polisi wanita itu sudah tepat di depannya. Dalam keputusasaan dan kemarahan, pria itu menarik wanita penjual yang ketakutan ke dalam pelukannya. Dia menempelkan belati ke leher wanita itu dan berteriak histeris: "Jangan bergerak! Kalau berani mendekat, kubunuh dia!"