Bab 51: Kredit yang Sulit untuk Ditolak
“Mengapa kamu terus saja menghindar dariku?”
Annie tidak menghindari tatapan heran para mahasiswa yang berlalu-lalang di sekitarnya.
Ia berjalan beriringan dengan Yue Youran di lintasan kampus.
Tanpa basa-basi, ia langsung mengajukan pertanyaan itu.
Pagi ini, Yue Youran hanya diwajibkan mengikuti satu kelas umum yang diampu oleh Liu Xue.
Sisa waktunya diisi dengan kelas-kelas pilihan seperti Akupunktur dan Anatomi, yang sebenarnya boleh diikuti atau tidak.
Kebetulan, Annie juga sedang tidak ada kelas pagi ini.
Karena itulah, Yue Youran pun “ditangkap” Annie untuk diajak berjalan-jalan di lapangan.
Namun, sebagai mahasiswa kedokteran yang dikenal sebagai bunga kampus kedua, Annie jarang sekali dikabarkan dekat dengan siapa pun.
Nyaris tak pernah ada yang melihatnya berjalan sedekat ini dengan seorang laki-laki di area kampus.
Tentu saja kebersamaan mereka berdua menarik perhatian banyak mahasiswa lain.
Bahkan, foto mereka yang sedang berjalan bersama di lintasan sudah tersebar luas di forum kampus.
Orang-orang memang suka membesar-besarkan.
Bermacam-macam gosip yang berkembang dari satu foto saja sudah menyebar ke mana-mana.
“Aku tidak menghindarimu, kenapa kamu berpikir begitu?” tanya Yue Youran, tak tahu-menahu soal gosip yang sedang ramai di forum kampus tentang kedekatannya dengan Annie.
Ia menatap Annie dengan bingung.
“Masih bilang tidak? Mana ponselmu? Coba tunjukkan, aku curiga sekali kamu sudah memblokir nomorku.”
Annie mendengus tak senang.
Di zaman serba digital sekarang, ponsel sudah jadi barang yang nyaris tidak terpisahkan dari kehidupan banyak orang.
Tak mungkin Yue Youran mematikan ponselnya.
Mungkin saja waktu ia menelepon kemarin, Yue Youran tidak mengangkat, lalu langsung memasukkan nomornya ke daftar blokir atau menandainya sebagai nomor spam.
Membayangkan dirinya, si bunga kampus kedua di fakultas kedokteran, dimasukkan ke daftar hitam seseorang, Annie jadi ingin memukul seseorang.
“Ehm... maaf, ponselku itu setahun sekali saja belum tentu ada yang menelepon, jadi aku tidak terbiasa mengecasnya. Sekarang pun ponselku sedang dicas di kamar asrama.”
Yue Youran menggaruk kepala, malu-malu.
Memang, ponselnya jarang sekali berbunyi.
Ayah dan ibunya yang tinggal di desa sangat berhemat dengan pulsa, sebulan sekali saja belum tentu menelepon.
Kalaupun ia yang menelepon, mereka pun membatasi pembicaraan hanya beberapa kalimat lalu buru-buru menutup.
Katanya, supaya bisa berhemat.
Selain kedua orang tuanya, dulu hanya Chen Li yang cukup sering menelepon.
Sekarang, Chen Li pun mustahil menghubunginya lagi.
Sisanya, hanya operator 10086 yang sesekali mengingatkannya.
Lagipula, Yue Youran juga tidak hobi bermain game.
Jadi, ponselnya baru dicas jika benar-benar sudah mati total.
Tiga hari sejak awal masuk kuliah, ia belum sempat mengecas ponsel sama sekali.
Akhirnya, semalam ponselnya benar-benar tewas kehabisan daya.
“Benar begitu?” Annie tampak belum sepenuhnya percaya.
“Tentu saja benar. Mana mungkin aku berbohong padamu?” jawab Yue Youran dengan tenang.
Baginya, Annie memang menyenangkan.
Bukan hanya karena Annie cantik.
Lebih dari itu, saat Liu Xue mempersulitnya, Annie datang menolong bak seorang malaikat.
Kebaikan itu tentu tak akan ia lupakan.
Selama tidak terpaksa, ia tidak akan pernah menipunya.
“Baiklah, aku percaya untuk sementara,” kata Annie sambil tersenyum manis.
Asal bukan karena ia sengaja dihindari, itu sudah cukup.
Namun, Annie segera mengalihkan topik, “Kalau memang kamu tidak menghindariku, aku resmi memberitahumu, besok akhir pekan kita tidak ada kelas. Besok pagi kamu wajib datang ke klub seni. Kita harus mulai latihan untuk acara perayaan ulang tahun kampus.”
“Besok? Latihan? Latihan apa?” Yue Youran terkejut.
Sebenarnya ia ingin bilang, apa hubungannya latihan acara ulang tahun kampus dengan dirinya?
“Perayaan ulang tahun sudah kurang dari sebulan lagi. Apa kamu masih mau seperti waktu itu, naik panggung secara mendadak?” kata Annie dengan nada serius.
“Aku ingatkan, kali ini berbeda. Ini perayaan emas, lima puluh tahun berdirinya kampus. Sekolah sangat menaruh perhatian. Setiap pertunjukan harus melewati seleksi dan latihan ketat dariku sebelum bisa tampil di panggung...”
Annie berbicara sangat lancar.
Sebagai pembawa acara, kemampuan bicara Annie memang luar biasa.
Ia terus-menerus menekankan betapa pentingnya perayaan kali ini pada Yue Youran.
Tak boleh ada yang mendapat perlakuan khusus, setiap orang harus ikut latihan.
Yue Youran pun jadi pusing.
“Tunggu, Annie, kapan aku pernah setuju tampil di panggung?” Yue Youran akhirnya memotong penjelasan Annie yang kian serius.
Di perayaan kampus nanti, ia justru punya peran yang lebih penting: mengikuti lomba debat pengobatan tradisional.
Mana mungkin ia punya waktu ikut pertunjukan?
Kalaupun ada waktu, ia pun tak berminat.
Lomba debat pengobatan tradisional itu adalah batu loncatan untuk melepaskan diri dari kehidupan biasa-biasa saja.
Itu juga kesempatan emas untuk mulai dikenal.
“Kamu sendiri yang sudah setuju gabung dengan klub seni. Mau menentang perintah ketua klub?” Annie pura-pura marah.
“Kapan aku bilang mau gabung klub seni?” Yue Youran makin heran.
“Di depan Direktur Liu Xue, aku sudah bilang kamu anggota klub seni. Kamu juga bilang akan mempertimbangkan untuk bergabung. Masak seorang laki-laki sejati ingkar janji?” Annie melotot pada Yue Youran, seolah Yue Youran benar-benar penipu besar.
“Aku memang bilang akan mempertimbangkan, tapi tidak berarti aku setuju,” jawab Yue Youran sambil tersenyum pahit.
Saat ini, ia hanya ingin menghasilkan uang, berlatih, mengangkat derajat keluarga, dan membahagiakan orang tua.
Itu saja sudah cukup membuatnya kelabakan.
Bahkan demi latihan, ia sudah beberapa malam tidak tidur.
Mana mungkin masih sempat ikut klub seni?
“Pokoknya, kamu tetap harus masuk klub seni. Mau atau tidak, tetap harus ikut. Kalau kamu menolakku, aku akan langsung melapor ke pimpinan kampus dengan statusku sebagai wakil ketua BEM. Biar pimpinan yang langsung meminta wali kelasmu untuk mengutusmu. Aku tidak percaya kamu berani menolak perintah pimpinan.”
Annie berkata dengan penuh keyakinan.
Saat itu, ia bukan lagi bunga kampus yang jadi idola banyak orang.
Ia sudah seperti preman wanita.
Bahkan preman yang sangat sewenang-wenang.
Dan ternyata, Annie punya banyak sekali jabatan.
Ternyata ia juga wakil ketua BEM.
Yue Youran benar-benar tidak tahu soal ini.
“Nona Annie, kamu kira kalau cantik bisa semena-mena? Aku, Yue Youran, tidak akan pernah...” Yue Youran berusaha menolak dengan tegas.
Namun sebelum kalimatnya selesai, Annie segera membujuk, “Ada bonus kredit mata kuliah, lho! Selama kamu gabung klub seni dan tampil memukau di perayaan kampus, aku bisa jamin kamu dapat minimal dua puluh SKS tambahan.”
“Ehem...” Mendengar ada penawaran SKS, mata Yue Youran langsung berbinar.
Semester lalu saja ia gagal di dua mata kuliah.
Dua puluh SKS sangat berharga dan sulit ia tolak.
“...Masuk klub seni bukan tidak mungkin, tapi besok satu kelas kami akan pergi piknik. Latihan terpaksa diundur hingga minggu depan.”