Bab 7 Guru Cantik Digoda
Empat saudara sekamar yang telah lama berpisah akhirnya bertemu kembali. Kebetulan, Ye Youran baru saja putus cinta. Setelah mereka bercanda dan tertawa, Lu Xuan mengusulkan agar mereka pergi minum-minum dan menikmati sate bersama.
Keluarga Lu Xuan memang berkecukupan, dan itu sudah bukan rahasia lagi. Menghadapi kesempatan untuk "menyantap rejeki anak orang kaya" seperti ini, tentu saja tak ada yang menolak, termasuk Ye Youran. Dulu, Ye Youran jarang ikut makan bersama Lu Xuan dan yang lain, karena ia merasa tidak enak selalu memanfaatkan orang lain sementara dirinya sendiri tak mampu mentraktir. Menurutnya, itu perbuatan yang tak bermoral.
Namun, hari ini berbeda. Sikap Ye Youran sudah berubah. Jika tak ada halangan, ia tak akan lagi menjadi pria lemah yang hanya bisa diam. Bila nanti ia sudah mampu, barulah ia akan membalas budi itu.
Dipandu oleh Lu Xuan, mereka berempat menuju sebuah restoran yang cukup mewah. Suasananya nyaman dan bersih. Tempat seperti ini biasanya hanya dikunjungi orang-orang sukses, sesuatu yang dahulu tak pernah berani dimasuki oleh Ye Youran. Ini juga membuktikan bahwa kondisi keluarga Lu Xuan mungkin lebih baik dari yang Ye Youran kira.
Mereka memesan satu peti bir dan beberapa piring makanan pendamping. Keempatnya pun berpesta pora, makan dan minum tanpa henti. Dulu, Ye Youran sama sekali tidak minum alkohol. Namun kali ini, karena urusan Chen Li, ia membuat pengecualian, makan daging dan minum bir dalam jumlah besar.
Anehnya, Ye Youran mendapati dirinya tak juga mabuk, sebaliknya, ketiga temannya, Lu Xuan, Jia Yu, dan Qin Sheng, matanya sudah mulai sayu.
“Hei, kalian sudah dengar belum? Katanya wali kelas kita diganti,” ujar Qin Sheng dengan suara keras karena pengaruh alkohol.
“Apa? Ganti wali kelas? Kita kan sudah semester dua tingkat tiga, kenapa baru diganti sekarang? Sekolah nggak waras apa?” Jia Yu langsung curiga.
Semester ini usai, mereka sudah memasuki tingkat empat. Sesuai aturan di Universitas Kedokteran, mahasiswa tingkat empat harus keluar untuk magang. Magang adalah titik balik besar dalam hidup mahasiswa. Wali kelas akan menilai dan memberi komentar berdasarkan perilaku dan prestasi tiap mahasiswa. Apalagi, sebagai mahasiswa kedokteran, tempat magang pasti di rumah sakit. Nilai dan komentar guru sangat berpengaruh pada tempat magang mahasiswa.
Mengganti wali kelas di saat genting begini, bukankah itu konyol? Bagaimana nanti nilai mereka?
“Kalian belum tahu? Kemarin di forum kampus gosipnya sudah ramai. Katanya wali kelas baru itu wanita cantik!” Qin Sheng berkata dengan wajah penuh nafsu.
Qin Sheng memang mengaku sebagai jagoan cinta, biasanya ia tampak sopan, tapi begitu minum, sifat aslinya langsung muncul. Mendengar kata “wali kelas cantik”, matanya berbinar penuh harapan.
“Serius? Haha... Mungkin ini hadiah dari langit buatku yang tiga tahun jadi jomblo, dikirimkan malaikat untuk menyelamatkanku!” Lu Xuan yang mendengar wali kelas baru itu cantik langsung tak bisa duduk tenang. Ia mulai berandai-andai, siapa tahu ia bisa menjalin cinta terlarang antara guru dan murid, menjadi cerita indah dalam sejarah kampus.
“Halah, kamu kan dewa onani, buat apa punya cewek?” Jia Yu, si sulung, langsung menimpali dengan nada menyindir, “Lagi pula, dari kita berempat, cuma si Xiao Ye yang paling ganteng. Lihat kulitnya, lihat... Eh, ada apa ini? Xiao Ye, baru sebulan tak bertemu, kenapa kamu jadi makin ganteng?”
Jia Yu, yang sudah mabuk, awalnya hanya ingin menyemangati Ye Youran yang baru putus cinta, tapi setelah diperhatikan, pujiannya ternyata tidak berlebihan. Kulit Ye Youran bahkan bisa membuat wanita iri dibuatnya.
Belum lagi wajahnya yang tegas. Memang sedikit kurus, tapi bentuk wajahnya seperti dipahat, makin dilihat makin menawan. Dulu, Ye Youran termasuk tipe yang butuh waktu untuk disukai. Dalam keramaian, orang sulit mengenalinya sekali lihat. Tapi kini, ia memberi kesan yang sulit diungkapkan. Meski belum sampai mencolok di antara orang banyak, tapi sekali diperhatikan, pasti akan selalu diingat, bahkan menimbulkan kesan baik.
“Sebulan di rumah tidak kena matahari, makannya juga makanan segar dari desa, jadi wajar wajahku lebih cerah. Sudahlah, jangan dibahas lagi, ayo minum!” Ye Youran buru-buru mencari alasan, mengangkat botol bir untuk mengalihkan pembicaraan.
Suasana kembali ramai dengan suara botol beradu. Mereka minum dari pagi hingga siang, menghabiskan tiga peti bir. Jia Yu, Lu Xuan, dan Qin Sheng sudah tumbang tak sadarkan diri. Ye Youran hanya bau alkohol, tapi tetap segar seperti biasa. Hanya ia sendiri yang tahu, semua ini berkat aliran energi obat di tubuhnya.
Namun, pesta pun harus diakhiri.
“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!”
Saat Ye Youran bangkit, memikirkan cara membawa pulang ketiga temannya ke kampus, terdengar suara wanita lantang menarik perhatiannya.
Tak jauh dari tempatnya, seorang pria bersetelan jas dan seorang wanita berbaju ketat kulit hitam sedang duduk berhadapan. Wanita itu membelakangi Ye Youran, wajahnya tak terlihat, tapi suaranya merdu, sedikit seperti suara anak kecil. Meski hanya tampak punggungnya, jelas badannya sangat indah.
Sayangnya, di samping wanita itu, tiga pria bertubuh besar dan tampak mabuk sedang menggodanya. Sementara pria berjas yang duduk di hadapannya tampak ketakutan. Kekasihnya digoda, tapi ia sama sekali tak berani melawan. Meski dari jauh, Ye Youran bisa melihat tato di tubuh ketiga pria itu. Jelas mereka preman.
Banyak pengunjung lain di sekitar, tapi kebanyakan pura-pura tidak melihat. Bahkan dua meja di dekat mereka buru-buru membayar dan pergi. Mungkin takut terkena masalah.
Suara wanita itu tadi berasal dari wanita berpakaian seksi tersebut.
“Kami cuma ingin mengajakmu minum, Nona,” salah satu preman berkepala plontos berkata dengan nada mesum.
“Kakak, dia tidak bisa minum, biar aku saja yang minum...” Pria berjas itu akhirnya memberanikan diri berdiri, mengangkat gelas sambil tersenyum kecut.
Tapi belum sempat ia lanjutkan kalimatnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
“Dasar pengecut! Kau harus bersyukur wanita secantik dia mau sama kamu. Kalau tidak mau mati, minggir sana!” Preman berkepala plontos itu membentak garang.
Yang membuat Ye Youran tercengang, pria berjas itu benar-benar menurut, berdiri di samping tanpa berani berkata apa-apa.
Pengecut, pikir Ye Youran dalam hati. Dulu ia juga pengecut, tapi masih punya batas. Kalau dirinya sendiri yang di-bully, ia bisa diam. Tapi kalau Chen Li, kekasihnya dulu, diganggu, ia pasti akan melawan mati-matian.
Seorang pria boleh saja tak punya kekuatan melindungi wanita, tapi ia tak boleh kehilangan keberanian untuk melindungi. Pria berjas itu penampilannya rapi, tapi ternyata ia tak punya kekuatan, keberanian pun tidak.
“Li Ran, sungguh aku salah menilaimu. Mulai hari ini, kita putus!” Wanita seksi yang membelakangi Ye Youran itu memarahi Li Ran dengan nada marah dan kecewa. Kekasih digoda tapi tidak berani melawan, pria seperti itu bahkan kalah dari timun.
“Akhirnya kau mengatakannya juga. Pantas saja belakangan ini kau dingin padaku. Memang kau sudah ingin putus dari dulu, kan?” balas Li Ran dengan suara lantang, seolah-olah ia yang jadi korban.
Melihat tingkah Li Ran yang tak tahu malu ini, Ye Youran semakin tak simpati padanya.
“Li Ran, dasar tak tahu malu!” wanita yang dipanggil Wang Yan itu berseru dengan suara bergetar.
“Aku tak tahu malu? Baik, akan aku buktikan!” Li Ran menuding Wang Yan, lalu menoleh pada tiga preman itu dengan nada menjilat, “Bang, kami sudah putus. Jadi urusan dia bukan urusanku lagi. Aku boleh pergi, kan?”
Sehina-hinanya orang, Li Ran ini benar-benar juara. Bahkan para tamu yang tadinya takut pun kini berbisik-bisik menyorakinya.
“Haha, pergi sana! Pria macam kamu, tampan doang, tak guna! Nona, bagaimana kalau kamu ikut sama aku saja? Aku jamin kamu bakal hidup enak!” Preman berkepala plontos itu langsung mengulurkan tangan ke wajah Wang Yan, gerakannya sangat menjijikkan.
Sementara Li Ran pun pergi tanpa menoleh sedikit pun.
“Apa yang kau lakukan? Aku ini dosen di Universitas Kedokteran. Kalau kau teruskan, akan kulaporkan ke polisi!” Wang Yan menepis tangan sang preman.
Mendengar kata “Universitas Kedokteran”, jantung Ye Youran langsung berdebar. Ia bukan tipe yang suka cari masalah, tapi bagaimanapun ia adalah mahasiswa di sana. Jika dosennya diganggu dan ia hanya diam, pantaskah itu?
Namun, seingat Ye Youran, tak pernah ada dosen muda bernama Wang Yan yang seksi di kampusnya.
Saat Ye Youran masih ragu, suara jeritan membuatnya tersadar. Preman plontos itu sudah memegang tangan Wang Yan dan berusaha memaksanya mendekat untuk mencium. Wang Yan panik dan berusaha keras melepaskan diri, namun sebagai wanita lemah, mana mampu melawan preman bertubuh besar?
Entah karena pengaruh alkohol atau tidak, melihat kejadian itu, Ye Youran tak sempat berpikir panjang. Ia langsung mengambil botol bir kosong di depannya dan melemparkannya.
“Brak!”
Botol bir itu melayang dalam busur sempurna, mendarat tepat di kepala plontos itu. Botol hijau itu pecah dan darah pun langsung mengalir di kepala preman itu.