Bab 40: Hidup Sungguh Sangat Pahit
Han Qing bangkit, menepuk-nepuk debu di celananya. "Orang dewasa selalu punya cara yang lebih baik daripada anak-anak, aku tidak akan kelaparan."
Han Qing masuk ke dalam, mencari selembar kertas minyak, lalu membungkus enam buah papao.
Begitu keluar, ia menyerahkan bungkusan itu kepada Ermao.
"Cepat bawa pulang dan makan bersama nenekmu. Lain kali aku melihatmu, kuharap wajah dan tubuhmu sudah bersih."
Ermao mengatupkan bibirnya, menerima bungkusan kertas minyak itu dalam diam, dan air matanya langsung mengalir deras.
Melihat anak itu hendak menangis, Han Qing berpura-pura mengeluh dengan nada kesal.
"Begitu cengeng, entah bagaimana caranya kau bisa menaklukkan anak-anak nakal itu."
"Mereka menggangguku, jadi aku pukul mereka. Kalau mereka masih menggangguku, aku pukul sampai menangis. Hanya dengan mengalahkan dan membuat mereka menangis, mereka baru tidak berani menggangguku lagi."
Ucapan itu terdengar masuk akal.
Di sepanjang jalan pertumbuhan, tak seorang pun memayunginya, jadi ia hanya bisa melindungi dirinya sendiri.
Usai berkata demikian, Ermao terisak pelan. "Terima kasih, Kakak Sulung."
Ia menunduk dan berbalik hendak pergi, tetapi dipanggil lagi oleh Han Qing.
"Hei, aku juga tidak punya ibu sejak kecil. Anak laki-laki harus lebih kuat, sekarang kau sudah menjadi anak yang mandiri."
Ermao menoleh menatap Han Qing sekilas, dengan tegar menyeka air matanya, lalu berbalik dan berlari pergi.
Han Qing menarik napas dalam-dalam.
Hidup ini sungguh amat pahit.
Orang-orang yang berjuang untuk tetap hidup adalah mereka yang mencari sebutir gula di tengah pecahan kaca.
Han Qing masuk kembali, papao buatan Zhang Aiqin sudah habis.
Zhang Aiqin tahu Han Qing belum kenyang, sehingga ia memberikan bagiannya kepada Ermao.
Zhang Aiqin berkata, "Aku akan memasak semangkuk mi untukmu."
Han Qing berbaring di atas ranjang dengan kaki disilangkan.
"Tidak perlu, aku sudah kenyang."
Bukannya kenyang, hatinya terasa begitu berat dan sesak, seketika membuat selera makannya hilang sama sekali.
Ia ingin membantu banyak orang, tetapi dirinya sendiri saja belum cukup kuat, bagaimana ia bisa membantu orang lain?
Sementara itu di tempat Zhu Dali, Hu Wenliang mengajak Xiaotuantong pergi ke hutan di dekat desa untuk mencari kayu bakar.
Mereka memanfaatkan waktu luang untuk mengumpulkan kayu bakar di hutan, kalau tidak, tidak akan ada bahan bakar yang tersisa di musim dingin.
Xiaotuantong menggendong sebuah keranjang punggung kecil yang dianyam sendiri oleh Long Jiang.
Di dalam keranjang punggung kecil itu terdapat beberapa jamur merang.
Pada musim ini, ada banyak sekali jamur tersebut di hutan. Jamur yang dikeringkan ini sangat lezat jika dijadikan bahan sup ayam.
Begitu keduanya kembali, mata Hu Wenliang langsung berbinar saat melihat papao di dalam mangkuk. Bahkan sebelum sempat mencuci tangan, ia langsung mengulurkan tangan untuk mengambil dan menggigit papao itu.
"Wah, dari mana papao ini? Kelihatannya sangat enak."
Sebelum tangan Hu Wenliang menyentuh papao tersebut, punggung tangannya langsung ditepis keras oleh Zhu Dali.
Hu Wenliang mengibaskan tangannya sambil tersenyum penuh arti. "Kurasa mereka sengaja mengantarkannya khusus untukmu."
"Peduli amat dikirim untuk siapa, tunggu saja dan makanlah."
Hu Wenliang tertawa. "Menurutku, Pemuda Terpelajar Zhang ini orangnya cukup baik. Kenapa kau tidak berusaha sedikit lagi, minta bantuan seorang mak comblang untuk melamar, siapa tahu hubungan kalian berdua benar-benar jadi. Terus terang saja, meskipun kita bekerja di area tambang sepanjang tahun, gaji kita tinggi. Kalau dia benar-benar menikah denganmu, seiring bertambahnya usia dan semakin tingginya gaji kita, ia bisa menikmati hidup mewah seumur hidupnya."
Pipi Zhu Dali langsung memerah. Ia juga berasal dari kota.
Sejujurnya, di kalangan orang-orang yang bekerja di bidang mereka, tidak satupun yang kondisi keluarganya buruk.
Namun, Zhang Aiqin cepat atau lambat pasti harus kembali ke kota.
Bahkan jika Zhu Dali bersedia membuatnya tinggal, belum tentu perempuan itu bersedia menetap di sini.
Zhu Dali masih tahu diri.
Di area tambang ini, memang sangat sulit bagi mereka untuk menemukan pasangan yang cocok.
"Berhentilah membuat rencana yang tidak-tidak, cepat cuci tangan sana, sup mi-ku sebentar lagi matang."
Hu Wenliang tahu Zhu Dali sedang menghindar, jadi ia bergumam, "Lihatlah sifatmu yang tidak punya ambisi itu, usiamu sudah dua puluh lima atau dua puluh enam tahun, tidak bisakah kau bersikap berani sekali saja demi masa depanmu sendiri?"
Zhu Dali tidak menjawab. Hu Wenliang membawa baskom cuci muka ke dekat pintu dapur untuk mencuci tangan, lalu melanjutkan, "Boss kita pergi ke ibukota provinsi kali ini cukup lama ya, sudah seminggu orangnya belum juga kembali, entah kapan dia akan pulang."
"Seharusnya sebentar lagi."
Xiaotuantong duduk dengan tenang di sudut, menyusun rapi jamur merang hasil petikannya ke dalam piring bambu, lalu meletakkannya di rak di bawah cucuran atap.
Xiaotuantong berkata, "Aku juga merindukan Ayah. Ayah Zhu, Ayah Hu, bagaimana kalau nanti Ayah pulang, kalian bertiga berunding dan menikahi Kakak Qing dan yang lainnya? Mereka juga tiga orang, kalian juga tiga orang, bukankah itu pasangan yang pas? Nanti kalau kalian sudah menikah, aku akan punya tiga ayah dan tiga ibu. Kemungkinan besar, aku juga akan punya tiga adik laki-laki atau tiga adik perempuan."
Hu Wenliang dibuat tertawa geli.
Aduh, mulut kecil gadis cilik ini benar-benar pandai merangkai kata.
Kelak jika ia menikah, ia juga ingin memiliki anak perempuan yang begitu menggemaskan.
Si Long Jiang itu, tanpa perlu bersusah payah sudah mendapatkan sumber kebahagiaan.
Zhu Dali tertawa. "Begitu ayahmu kembali, suruh dia pergi untuk menikahi Kakak Qing."
Hu Wenliang tertawa terbahak-bahak di sampingnya.
Sebenarnya Long Jiang sudah bisa pulang hari ini, tetapi setelah semua pasokan penting yang dibutuhkan area tambang dibeli secara lengkap, hari sudah menjadi sangat gelap.
Para pemimpin di ibukota provinsi mempertimbangkan faktor keamanan, sehingga secara paksa menahannya untuk menginap.
Keesokan paginya, saat ufuk timur mulai memerah, barulah Long Jiang mengendarai mobilnya untuk pulang.
Semenjak kejadian jatuh ke dalam toilet malam itu, Sun Fugui merasa trauma setiap kali melihat Han Qing. Seluruh sikapnya menjadi jauh lebih penurut dan ia tidak lagi berbicara sembarangan.
Melihat pria itu tahu diri, Han Qing berpikir dalam hati bahwa ia seharusnya bisa bersikap patuh untuk beberapa waktu ke depan.
Sejak kedatangan Sun Fugui, Han Qing melepaskan tanggung jawabnya atas urusan laboratorium.
Tanpa terasa, ia sudah berada di area pertambangan selama lebih dari dua puluh hari.
Melihat Han Qing ternyata cukup tahan banting, pandangan Wang Dajon terhadap Han Qing mulai berubah.
Mungkin, benar seperti apa yang dikatakan Long Jiang, gadis cilik ini memang punya keahlian khusus?
Setelah berpikir panjang, Wang Dajin tetap memutuskan untuk berbicara empat mata dengan Han Qing.
Pagi-pagi sekali ketika Han Qing tiba di kantor, Liu Erchui datang memanggilnya ke pintu laboratorium.
"Xiao Qing, ikuti aku sebentar, Kepala Pabrik punya hal yang ingin ditanyakan padamu."
Han Qing sedang bersiap menumbuk sampel bijih. Sampel bijih hari itu adalah hasil pengujiannya sendiri.
Berdasarkan data pengujian laboratorium, bijih-bijih tersebut sudah sangat layak untuk segera ditambang saat itu juga.
Namun, Han Qing tidak tahu apa yang masih ditunggu oleh Wang Dajin.
Han Qing bertanya, "Apakah ada suatu urusan?"
"Aku kurang jelas, yang jelas sepertinya dia sedang marah."
Marah?
Ia sama sekali tidak membuat masalah dalam beberapa hari terakhir.
Saat Han Qing melangkah keluar, Sun Fugui merasa gembira secara diam-diam.
Perempuan ini tidak boleh didekati, untuk sementara waktu ia harus menjaga jarak darinya.
Sedikit saja mendekat, rasanya benar-benar seperti terkena kutukan. Sungguh menyebalkan.
Meskipun ia tidak tahu alasan Kepala Pabrik memanggilnya, selama itu bukan karena masalah hasil laboratorium, hatinya bisa merasa tenang.
Berjalan di samping Liu Erchui, barulah pria itu berbisik pelan, "Kepala Pabrik mencarimu karena ada urusan penting. Tadi tidak nyaman bagiku untuk mengatakannya, kuharap kau bisa mengerti."
Begitu mendengarnya, Han Qing langsung paham duduk perkaranya.
Hanya saja, karena ia berada di area tambang dan orang-orang menganggapnya sebagai perempuan, mereka sama sekali tidak memandangnya sebelah mata.
Ia hanya tidak tahu masalah apa yang membuat Wang Dajin mencarinya.