Bab 153 Kak!
Zhan Yu tidak berani gegabah. Ia terus menatap Yu Chi tanpa berani berkedip terlalu lama, hingga efek obat penenang memudar dan Yu Chi akhirnya sadar kembali.
Zhan Yu duduk di tepi ranjang, dengan tekanan yang pas memijat pelipis Yu Chi. Yu Chi menggenggam tangan Zhan Yu.
"Apa kau mengingat sesuatu?" Zhan Yu bertanya, dan Yu Chi bisa merasakan suara pria itu sedikit bergetar.
Yu Chi mengangguk. Tiba-tiba, tubuhnya ditarik ke dalam deapan erat Zhan Yu. "Aku yang salah padamu, aku yang membuatmu menjadi seperti ini. Aku lebih rela orang yang menjadi seperti ini adalah aku..."
Yu Chi memeluk kepala Zhan Yu, memejamkan mata, dan dengan tenang mengelus punggung pria itu. Dalam hatinya, ia merasa bahwa dirinya di masa lalu pasti sangat mencintai pria ini. Pantas saja saat pertama kali sadar dan melihat Ying Zisha, ia langsung merasa begitu akrab dan dekat. Sebagian besar alasannya tentu karena Ying Zisha memiliki wajah yang persis sama dengan Zhan Yu.
Di sisi lain, Ying Zisha yang telah diantar kembali ke vila pedesaan perlahan sadar setelah efek obat bius menghilang. Ada sayatan pisau di bawah bahunya, luka yang cukup dalam hingga harus dijahit delapan belas jahitan. Terhadap keluarga yang satu itu, ia memang telah lengah.
Ying Zisha bangkit mendadak, melihat ke arah barisan orang yang berjaga di kamarnya, lalu bertanya, "Apakah semua perintah untuk menutup berita sudah kalian laksanakan?"
"Ketua, semua berita telah ditutup rapat. Tetapi, mengenai Nyonya... apakah sebaiknya kita membiarkan beliau tahu tentang hal ini?" seorang anggota keluarga meminta petunjuk.
Pandangan mata Ying Zisha menjadi dalam. "Tidak, membiarkan beliau tahu pun tidak akan menyelesaikan masalah. Meskipun masalah ini cukup rumit, aku akan mencari jalan keluarnya..."
"Itu... Ketua, masalahnya sudah terselesaikan," lapor seorang anggota keluarga kepada Ying Zisha.
Tatapan Ying Zisha menajam. "Apa? Bagaimana bisa selesai?"
"Orang-orang yang tadinya membuat keributan dan menuntut ganti rugi semuanya sudah bubar. Entah siapa yang membantu, dan kabarnya ada seorang pengacara yang maju untuk menyelesaikan masalah ini. Selain itu... Tuan Muda Kedua dari keluarga bangsawan lain yang melukai Anda setelah kejadian itu, kabarnya tangan kanannya telah dipotong."
Mendengar itu, Ying Zisha tertegun. Ia telah menutup rapat informasi tersebut sejak detik pertama. Jika ada orang yang mampu menyelidikinya, itu pasti Zhan Yu atau Zhan Lin, tidak mungkin orang lain.
Zhan Yu... apakah itu Zhan Yu?
Yu Chi sekarang bersama Zhan Yu, mereka pasti akan aman. Mendengar bahwa masalah telah selesai, Ying Zisha merasa sedikit lega. Barulah saat itu ia merasakan nyeri yang mulai berdenyut dari lukanya seiring memudarnya pengaruh obat bius. Ia berbaring kembali di atas ranjang, meletakkan sebelah lengannya di atas dahi, lalu memberi perintah, "Selidiki siapa orang yang diam-diam menyelesaikan masalah ini di belakang layar, dan cari tahu siapa pengacara itu."
"Baik, Ketua!" Anggota keluarga itu langsung mengangguk dan pergi setelah menerima perintah.
Ying Zisha memejamkan mata, tiba-tiba merasa bersyukur entah mengapa karena Tong Mo telah meninggalkannya. Kalau tidak, seandainya tadi ia tidak sengaja melukai pria itu, apa yang harus ia lakukan?
Bolak-balik membalikkan badan, Ying Zisha sama sekali tidak bisa tidur. Bayangan demi bayangan yang melintas di benaknya semuanya berkaitan dengan Tong Mo. Apakah karena Yu Chi tidak ada, ia merasa terlalu kesepian hingga terus-menerus memikirkan Tong Mo?
Dengan perasaan kesal, Ying Zisha meninju ranjang, lalu menelepon Tong Mo, namun ia hanya mendengarkan suara wanita tanpa emosi dari seberang telepon: Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif...
"Sialan!" Ying Zisha melemparkan ponselnya ke samping, semakin tidak bisa tidur. Setelah bertahan hingga fajar dan memastikan waktu berkali-kali, ia dengan perasaan muram menelepon Ying Wei.
Ying Wei merasa sangat terkejut karena Ying Zisha menelepon begitu pagi, tetapi ia berhasil ditenangkan oleh penjelasan kaku dari Ying Zisha. Setelah mengobrol sejenak dengan Ying Wei, Ying Zisha merasa suasananya sedikit membaik.
Begitu panggilan ditutup, seorang anggota keluarga melapor kepada Ying Zisha, "Ketua, setelah diselidiki, pengacara yang membantu kita bernama Yu Zi. Dan, orang yang diam-diam membantu kita menyelesaikan seluruh masalah ini adalah..."
"Zhan Yu," ucap Ying Zisha penuh keyakinan.
Anggota keluarga itu mengangguk. "Benar."
Ying Zisha bangkit berdiri, menggertakkan gigi sembari mengenakan pakaiannya, lalu menelepon Zhan Yu untuk mengajaknya bertemu.
Zhan Yu langsung menyetujuinya tanpa banyak bicara. Ying Zisha tidak perlu menunggu lama sebelum mendengar suara mesin kendaraan dari luar. Zhan Yu memarkirkan mobilnya lalu turun, dan pintu pun terbuka tepat saat ia tiba di ambang pintu.
"Masuklah," ucap Ying Zisha dengan nada datar.
Zhan Yu berdiri di luar pintu. "Jika bukan karena urusan Yu Chi, kita tidak punya hal untuk dibicarakan."
Ying Zisha mengerutkan kening. "Jadi, kau mau membicarakan urusan Yu Chi sambil berdiri di luar pintu?"
Zhan Yu mendengkus dingin, melangkah masuk melalui gerbang vila, mengedarkan pandangan sejenak sebelum berjalan ke ruang tamu, lalu duduk dengan santai di atas sofa yang luas. "Katakan apa yang ingin kaukatakan dengan cepat. Yu Chi sudah berangkat kerja, dan aku juga harus segera menyusulnya."
"Kau boleh membawa Yu Chi pergi, tapi penuhi dulu dua syarat dariku," kata Ying Zisha dengan tenang penuh percaya diri.
Zhan Yu mengangkat sebelah alisnya. "Katakan. Selama aku bisa melakukannya, seratus atau seribu syarat pun akan kuikuti."
"Pertama, utamakan kehendak Yu Chi. Jika dia tidak mau pergi bersamamu, kau tidak boleh memaksanya; dia harus melakukannya dengan sepenuh hati dan sukarela." Ketika Ying Zisha mendengar dari Zhan Lin bahwa semua orang mengira Yu Chi sudah mati di masa lalu dan Zhan Yu bahkan sempat memiliki niat untuk bunuh diri, saat itulah Ying Zisha tahu bahwa Zhan Yu sebenarnya sangat mencintai Yu Chi. Hanya saja, karena berbagai alasan di masa lalu, ia terlambat untuk menghargainya. Oleh karena itu, setelah berpikir panjang dan matang, ia memutuskan untuk memberi Zhan Yu sebuah kesempatan.
Ying Zisha sebenarnya tidak pernah berniat untuk terus menghalangi di antara Zhan Yu dan Yu Chi. Niat awalnya hanyalah ingin memberi pelajaran kepada Zhan Yu demi Yu Chi. Sekarang, penderitaan yang dialami Zhan Yu demi Yu Chi sudah lebih dari cukup, dan ia juga bisa merasakan bahwa di lubuk hati Yu Chi, pria itu masih menyimpan perasaan untuk Zhan Yu, terlepas dari ada atau tidaknya kenangan tentang Zhan Yu di dalam ingatan Yu Chi.
Apa yang seharusnya dilakukan sudah dilakukan. Jika terus memperpanjang kekacauan ini, situasinya benar-benar akan menjadi tidak terkendali seperti yang dikatakan oleh Zhan Lin. Sifat keras dan tanpa ampun Zhan Yu sudah terkenal di dunia hitam.
"Tentu saja. Selama dia belum mau pergi bersamaku, aku akan terus tinggal di sini menemaninya, selama dia bahagia," jawab Zhan Yu dengan nada wajar seraya mengangguk. Jika ia ingin memaksa Yu Chi pergi, ia sama sekali tidak perlu bersabar menghadapi sikap Ying Zisha begitu lama.
"Kedua, selama bertahun-tahun ini, ibuku selalu merasa bersalah karena tidak bisa berada di sisimu dan mendampingimu. Aku harap kau bisa meluangkan waktu untuk pulang bersamaku dan menemaninya makan malam, bahkan jika itu hanya sekali. Anggap saja itu untuk mewujudkan impiannya. Ini juga janji yang sudah kubuat padanya," ucap Ying Zisha perlahan menyampaikan syarat kedua.
Zhan Yu terdiam sejenak, lalu balas bertanya, "Jika itu kau, apakah kau bersedia datang ke rumah kami untuk makan malam?"
Ying Zisha tertegun. Meskipun Zhan Lin juga pernah berkata menyambutnya untuk datang ke rumah mereka, ia tidak menyangka Zhan Yu akan mengatakan hal yang sama.
"Kenapa tidak?" Ying Zisha merentangkan kedua tangannya dengan santai.
Zhan Yu menyalakan sebatang rokok. "Kalau begitu, syaratmu yang satu itu sama sekali bukan syarat."
Ying Zisha tahu bahwa maksud Zhan Yu adalah menyetujuinya, tetapi pria itu sengaja tidak mau mengatakannya secara langsung—dasar pria dewasa yang gengsian dan suka berputar-putar.
Sebuah kilasan melintas di benak Ying Zisha, dan ia tiba-tiba tersenyum penuh arti. "Sudah kubilang tadi, ada dua syarat. Karena kau bilang yang ini bukan syarat, kalau begitu aku ganti saja."
Zhan Yu meliriknya sekilas, malas ambil pusing. Pada saat itu, ia memang terlihat sedikit seperti seorang kakak yang memanjakan adiknya.
"Keluarga Ying, kau yang ambil alih," kata Ying Zisha ringkas dan padat.
Rokok di tangan Zhan Yu terjatuh dan hampir membakar karpet. Beruntung Zhan Yu segera menginjak puntung rokok itu hingga padam, kalau tidak akibatnya bisa sangat gawat.
"Aku kan tidak bermarga Ying," dengus Zhan Yu dingin.
Ying Zisha ikut mendengus. "Kalau kau tidak mau menyetujuinya, pergilah sana."
"Kau—" Zhan Yu hendak meledak, tetapi ia teringat pada Yu Chi. Ying Zisha sudah bersusah payah mengambil satu langkah mundur dan tidak lagi mencampuri urusannya dengan Yu Chi. Sudahlah, sudahlah...
Dengan menahan diri, Zhan Yu berkata, "Aku bisa membantumu mengelolanya dari jarak jauh dan menjadi pelindung bagi Keluarga Ying, tetapi rapat-rapat dan urusan jamuan yang seharusnya menjadi bagianmu, selesaikan semuanya sendiri!"
"Deal," Ying Zisha bangkit berdiri dengan puas.
Zhan Yu mengutuk, "Keparat cilik," seraya melayangkan pukulan ringan ke arah bagian bawah bahu Ying Zisha.
Itu sebenarnya adalah gerakan refleks antarsaudara tanpa niat buruk, tetapi ia lupa bahwa Ying Zisha sedang terluka. Bagi Zhan Yu, itu adalah pukulan yang sangat ringan, namun hantaman itu membuat Ying Zisha meringis kesakitan. "Benar-benar tidak berguna," cibir Zhan Yu meremehkan.
Ying Zisha mengerucutkan bibirnya. Melihat Zhan Yu bersiap untuk pergi, ia tiba-tiba berseru, "Kak."
Zhan Yu tertegun. Kedua kakinya terpaku di tempat. Cukup lama ia terdiam sebelum akhirnya berbalik, menatap wajah Ying Zisha yang persis sama dengan wajahnya sendiri, lalu menjawab dengan tenang, "Hm."
Tidak lama kemudian, memanfaatkan hari libur di Inggris, Ying Zisha membawa Zhan Yu kembali ke vila Ying Wei untuk makan malam. Ia telah memesan menu kepada koki dan menata segala hidangannya terlebih dahulu, sengaja tanpa memberitahu Ying Wei bahwa Zhan Yu akan datang.
Saat Zhan Yu muncul di ruang makan vila tersebut, Ying Wei hampir menitikkan air mata. Ia terpaku cukup lama sebelum meminta Zhan Yu duduk di sampingnya.
Zhan Yu mengerutkan kening tanpa kentara. Di dalam dunianya, sangat jarang ada wanita, yang membuat dirinya sama sekali tidak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan makhluk bernama wanita. Meskipun orang ini adalah ibu kandungnya sendiri, apa bedanya dengan orang asing? Jika dihitung hari ini, ini baru pertemuan kedua mereka.
Mungkin karena perbedaan kepribadian, saat Ying Zisha pulang bersama Zhan Yu, ia bisa bergaul dengan sangat baik bersama Zhan Lin dan Yu Zi. Yu Zi bahkan sangat menyukai Ying Zisha karena pria itu humoris, menarik, dan pandai membuat orang lain senang. Sementara Zhan Yu memiliki kepribadian yang mirip dengan Zhan Lin—tidak pandai berbicara, hanya pandai bertindak.
"Kenapa Ibu melamun? Ini kan hari libur, ayo kita bersulang untuk Ibu," ucap Ying Zisha sambil mengangkat gelas angurnya.
Ying Wei menyeka air matanya, mengangguk berulang kali, lalu bersulang dengan Ying Zisha dan Zhan Yu. Pada akhirnya, ia meneguk habis anggur merah di dalam gelasnya dalam sekali teguk.
Zhan Yu jarang berbicara, namun Ying Wei sama sekali tidak keberatan. Sebaliknya, ia mencari berbagai cara untuk bertanya bagaimana kehidupan putranya selama bertahun-tahun ini. Dalam suasana seperti itu, Zhan Yu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.
Waktu makan malam berlalu dengan cepat. Ying Wei telah meminum cukup banyak anggur dan mulai mabuk. Ying Zisha meminta pelayan untuk memaparkan Ying Wei ke kamar agar bisa beristirahat. Ying Wei bahkan sempat menggenggam tangan Zhan Yu, memintanya untuk sering-sering datang berkunjung. Hanya setelah melihat Zhan Yu mengangguk, barulah Ying Wei membiarkan pelayan membawanya pergi...